| Film "Ada Apa Dengan Cinta?" alias A2DC sebenarnya dari segi
tema nggak jauh dengan cerita garapan para sutradara di masa kejayaan film Indonesia
dulu. Kelebihannya, kalo boleh dikatakan kelebihan, formulanya yang rada-rada
Hollywood. Meski menurut sutradaranya tidak ada maksud bikin kayak film Hollywood.
"Dari awal saya tidak pernah meniatkan untuk meniru formula film Hollywood
atau pun terpengaruh. Cuma, selama ini saya memang hanya melihat film-film Hollywood
karena memang tidak ada film Indonesia. Kalau itu lantas tercermin dalam film
ini, ya itu bukan unsur kesengajaan," tutur Rudi Sudjarwo sang sutradara
(detik.com, 30 Januari 2002).
Dalam pemutaran perdananya, pada 30 Januari 2002 lalu di Plaza
Senayan 21 Jakarta, film ini mendapat sambutan luar biasa. Selain dihadiri
produser, sutradara, dan kru yang terlibat dalam pembuatan film tersebut, juga
dihadiri kalangan pers.
Film ini menceritakan kisah cinta anak SMU. Kita nggak nonton lho, tapi dapat
bocorannya dari berita di internet. Dari segi tema, A2DC memang cukup sederhana,
dengan alur penceritaan yang tidak njelimet. Ini kisah cinta anak SMU yang mengingatkan
kita pada film-film serupa yang banyak digarap di era kejayaan film Indonesia
dahulu. Kelebihan A2DC terletak pada casting dan penokohannya yang sangat kuat.
Tokoh Rangga yang diperankan Nicholas adalah seorang yang sinis dan pesimis
memandang hidup. Ia menempuh jalannya sendiri yang sunyi, di tengah riuh pergaulan
sekolah yang penuh dinamika. Ia berkawan dengan puisi dan buku-buku serius yang
langka.
Suatu ketika, kepala sekolah mengumum-kan namanya sebagai pemenang lomba puisi
tahun ini. Hal itu membuat Cinta (diperankan Dian Sastro) merasa tersinggung.
Sebagai pengelola majalah dinding (mading) sekolah, Cinta merasa geram, mengapa
kalau memang pandai menulis, Rangga tak pernah mengirimkan karyanya untuk dipajang
di mading sekolah? Cinta merasa, mading yang dikelolanya dipandang sebelah mata
oleh Rangga. Keke-salan Cinta makin memuncak ketika Rangga, sebagai pemenang
lomba puisi, menolak diwawancarai untuk ditampilkan profilnya di mading. Rangga
bahkan mengaku tidak pernah mengirimkan puisinya ke perlom-baan itu.
Dengan bintang sekelas Dian Sastro, yang oleh sebuah majalah remaja ibukota
disebut-sebut sebagai The Most Wanted Girl yang dipasangkan dengan Nicholas
Saputra, yang tampangnya mirip Brad Renfro, aktor muda Hollywood berbakat yang
terlilit masalah pencurian. Maka nggak heran kalo film ini katanya bakalan bikin
heboh dunia remaja.
Tapi sobat muda muslim, sebenarnya film ini sama saja dengan film-film remaja
sebelumnya. Yang bikin heboh hanyalah soal promosinya. Dari segi cerita nggak
ada sesuatu yang baru. Maksud dari "sesuatu yang baru" itu adalah
menawarkan solusi jitu tentang urusan cinta. Seperti yang udah-udah, tiap film,
novel, atawa sinetron yang ada polanya begitu-begitu aja. Nggak menuntun kita
ke arah yang benar. Tepatnya, tidak mengajarkan untuk berlaku bijak dalam menghadapi
urusan cinta. Itulah kenapa kita sebut sama saja dengan cerita sebelumnya. Malah
sebetulnya semakin menambah daftar panjang urusan cinta yang tak pernah bisa
diselesaikan dengan benar dan baik. Buktinya, waktu pemutaran filmnya aja dihubung-hubungkan
dengan Valentine's Day. Wuah, gimana nggak rancu. Tul nggak?
Oke deh, kita nggak bermaksud ngobrolin film ini atawa film yang lain yang
bertemakan cinta secara panjang lebar, tapi ini sekadar entry point alias "cantolan"
aja bagi pembahasan kita kali ini.
Bila jatuh cinta
Ajaib. Bener. Jatuh cinta bisa menyulap orang jadi berubah 180 derajat dalam
sekejap. Mereka yang tadinya okem, ngedadak jadi pendiem. Anak cewek yang tadinya
ceriwis, berubah jadi ganteng. Ada pula yang kemarin-kemarin masih cuek bebek,
sekarang jadi seneng dandan. Reugreug alias tentrem banget kalo pas liat si
dia atau deket si dia. Hmm, makanya dalam salah satu tulisan di sebuah majalah
remaja, disebutkan bahwa cinta jadi mirip-mirip sama Jelangkung: datang nggak
dijemput, pulang nggak diantar, diusir pun susah! :)
Sobat muda muslim, kalo cinta udah mendekam dalam pikiran dan jiwa kita, rasanya
sulit banget untuk dihilangkan. Semakin diusik, malah kian menusuk ke dalam
jiwa. Maka wajar saja kalo orang begitu kelimpungan dan tergila-gila bila sedang
dilanda asmara. Suka maupun duka, cinta tetap memberi pesona. Sebagian teman
remaja barangkali pusing tujuh keliling kalo sedang dilanda cinta. Dan tentunya
bagi sebagian teman yang lain merasa berbunga-bunga. Inilah uniknya rasa cinta.
Cinta adalah perwujudan dari naluri mempertahankan jenis. Itu sebabnya, rasa
cinta ini nggak mungkin bisa dihilangkan. Tetap ada selama darah masih mengalir
dalam tubuh ini. Dan tentunya selama nyawa kita masih menyatu dengan jasad ini.
Saking kuatnya energi cinta, sebagian teman remaja merasa bahwa cinta harus
diekspresikan. Yup, cinta harus diaktualisasikan dalam bentuk yang lain. Itu
sebabnya, banyak sudah teman remaja yang kemudian "jadian" ama lawan
jenisnya. Paling nggak menurutnya, cinta harus disambut dan dijalani apa adanya.
Sayangnya, cinta yang tumbuh itu tidak disikapi dengan bijak. Tapi dibiarkan
tumbuh, meski kudu merampas kehormatan dan kesucian dirinya.
Sobat muda muslim, saat jatuh cinta adalah momen yang sangat mendebarkan. Kebayang
nggak sih, kalo tiba-tiba ada lawan jenis yang berani menyampaikan rasa cintanya
kepada kita? Wuah, ngagebray! What is the meaning "ngagebray"?
Hohohoh, itu artinya dunia terasa begitu terang. Pikiran yang tadinya sumpek,
mendadak lapang. Seperti ketika sudah berjalan sekian lama dalam terowongan
yang gelap, kemudian menemukan setitik cahaya. Ada harapan di depan sana. Hmm..,
begitulah bila jatuh cinta.
Cinta putih kita...
Mencintai dan dicintai adalah fitrah manusia. Siapa sih yang nggak suka dicintai?
Dan siapa sih yang nggak ingin mencintai? Rasanya, manusia yang normal pasti
menginginkan dua hal itu. Persoalannya seka-rang, bagaimana mengendalikan rasa
cinta? Sebab, nggak semua teman remaja bisa berpikir bijak dalam menyikapi rasa
cinta. Adakalanya malah ditaklukan oleh cinta.
Sobat muda muslim, urusan cinta ini nggak melulu hubungan antara lelaki dan
wanita. Sebab, rasa cinta bisa beragam aplikasinya. Seperti, cinta kamu sama
ortu, cinta kita kepada adik, cinta kepada sahabat, termasuk di dalamnya cinta
kita kepada Allah dan Rasul-Nya. Itu semua adalah tentang cinta.
Oya, di antara kita kadang suka ngomongin istilah cinta putih, cinta sejati,
cinta murni. Meski tentu saja dengan beragam pengertian pula. Banyak yang bilang,
cinta itu ibarat warna putih. Mungkin karena ia ingin menjelaskan kalo cinta
itu suci. Maka suka meluncur tuh istilah begitu dari mulut remaja kalo lagi
ngerayu kecengannya. Sebagai tanda cintanya yang amat dalam.
Tapi aneh bin ajaib, istilah itu nggak match dengan praktiknya. Seringkali malah
berubah menjadi cinta murahan, bahkan sampah. Kotor dong? Nggak hanya kotor,
tapi sekaligus, maaf, najis. Walah?
Lalu cinta putih kita itu harusnya seperti apa? Sobat muda muslim, kita mo
ngingetin lagi kalo cinta itu bukan melulu urusan hubungan dengan lawan jenis,
yang ujungnya seks. Nggak, dan emang bukan hanya itu. Cinta kamu kepada sebagian
teman kamu yang lagi kesusahan karena ketiban musibah banjir misalnya, itu adalah
cinta yang mulia. Bahkan, sebenarnya, cinta kita kepada Allah dan rasul-Nya
jauh lebih bernilai ketimbang cinta kepada yang lain. Diriwayatkan dari Anas
bin Malik r.a.:
Seorang lelaki yang berasal dari pedalaman bertanya
kepada Rasulullah saw.: Bilakah berlakunya Kiamat? Rasulullah saw. bersabda:
Apakah persediaan kamu untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw. bersabda: Kamu akan tetap bersama orang
yang kamu cintai (HR. Bukhari dan Muslim)
"Cinta putih" kita adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukan
kepada yang lain. Terus gimana dengan rasa cinta kita kepada lawan jenis, tapi
karena Allah dan Rasul-Nya? Itu bagus. Artinya, kamu mencintai seseorang karena
dorongan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Misalnya, cinta yang suci itu jangan
kamu nodai dengan perbuatan yang haram. Jangan kamu racuni dengan aktivitas
yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya. Seperti apa tuh? Pacaran, gaul bebas,
atau kamu mengekspresikan dengan kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam,
seperti Valentine's Day. Nha, lho.
Sekilas tentang Valentine's Day
Kegiatan rutin tahunan Valentine's Day sudah kepalang dinobatkan sebagai hari
kasih sayang di seluruh dunia. Termasuk kita jadi latah ikut heboh setiap tanggal
14 Pebruari. Padahal Valentine's Day ternyata punya latar belakang peristiwa
yang bukan berasal dari Islam. So, dalam sebuah keterangan, disebutkan bahwa
pada awalnya orang-orang Romawi merayakan hari besar mereka yang jatuh pada
tanggal 15 Pebruari yang diberi nama Lupercalia. Peringatan ini adalah sebagai
penghormatan kepada Juno (Tuhan wanita dan perkawinan) serta Pan (Tuhan dari
alam ini) seperti apa yang mereka percayai. Acaranya? Laki dan perempuan berkumpul,
lalu saling memilih pasangannya lewat kado yang telah dikumpulkan dan diberi
tanda sebelumnya-tukar kado. Selanjutnya? Hura-hura sampai pagi!
Seiring dengan berjalannya waktu, pihak gereja-yang waktu itu agama Kristen
mulai menyebar di Romawi-memindahkan upacara penghormatan terhadap berhala itu
menjadi tanggal 14 Pebruari. Dan dibelokkan tujuannya, bukan lagi menghormati
berhala, tapi menghormati seorang pendeta Kristen yang tewas dihukum mati. Nama
acaranya pun bukan lagi Lupercalia, tapi Saint Valentine.
Wuah, kamu yang ikut-ikutan dalam hajatan Valentine's Day itu ternyata
merayakan peringatan yang bukan berasal dari Islam. Nggak tahu, apa nggak mau
tahu? Rasanya kita sekarang kudu jujur deh.
Lalu bagaimana hukumnya jika kita ikutan latah merayakannya? Rasulullah saw,
orang yang paling mulia dan kita teladani dengan tegas memperingatkan kita agar
jangan mengikuti pola hidup (budaya) kaum/bangsa lain, sebagaimana sabdanya:
"Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku menerima (mengikuti) apa-apa
yang dilakukan oleh bangsa-bangsa terdahulu (pada masa silam), selangkah demi
selangkah, sehasta demi sehasta." Di antara sahabat
ada yang bertanya: "(Ya Rasulullah) apakah yang dimaksud (di sini) seperti
bangsa Persia dan Romawi?" Rasulullah saw menjawab: "Siapa lagi (kalau
bukan mereka)" (HR. Bukhori, dari Abu Hurairah).
Sabda Rasulullah saw. yang lain: "Siapa saja yang
menyerupai suatu kaum (gaya hidup dan adat istiadatnya), maka mereka termasuk
golongan tersebut." (HR. Abu Daud dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).
Sobat muda muslim, sekaranglah saatnya bertindak tepat dalam urusan cinta.
khususnya cinta terhadap lawan jenis. Cinta itu harus dikendalikan, bukan dibiarkan
liar. Kita boleh mencintai dan dicintai, tapi syaratnya, kudu sesuai dengan
aturan Islam. Baik konsep maupun caranya. Begitu sobat.
________________ Buletin Studia Bogor Edisi 084/Tahun
ke-3
|