Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
“Insya Allah jikalau hidup kita penuh manfaat dengan tulus ikhlas, maka kebahagiaan dalam bergaul dengan siapapun akan terasa nikmat, karena tidak mengharapkan sesuatu dari orang lain melainkan kenikmatan kita adalah melakukan sesuatu untuk orang lain. Semata karena Allah SWT.”(AA Gym)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Bebas
03 Januari 2003 - 16:07
Cerpen : Sebuah Harapan Bagian 2       
Oleh : Sholihin
 

Lanjutan…

My Diary. Akhir Nopember. Hari ini aku baru saja menjelaskan sama papa dan mama soal hubunganku selama ini dengan Mas Rahadi. Seperti biasa mereka nggak terlalu antusias menanggapi. Aku bingung. Aku jadi salah tingkah. Konsentrasiku buyar, hingga membuat aku selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu dalam setiap pekerjaanku. Papa selalu diam kalau aku tanya kenapa papa mempersulit aku untuk menikah dengan Mas Rahadi. Dengan memasang target yang menurutku tak masuk akal. Bayangkan, tiga tahun. Sekuat-kuatnya keimanan seseorang, aku khawatir goyah juga. Apalagi jaman sekarang, dimana informasi begituan bisa dengan mudah diakses lewat internet atau majalah-majalah. Ditambah dengan kehidupan sosial yang amburadul seperti sekarang ini. Pendek kata, godaan ke arah sana semakin berbahaya.

Papa selalu beralasan soal mengenal pribadi. Padahal aku sudah kenal. Aku sudah yakin kalau Mas Rahadi adalah pilihanku. Dari informasi-informasi yang sampai kepadaku soal Mas Rahadi hampir seluruhnya adalah informasi yang baik. Tentang dakwahnya, tentang akhlaknya, tentang tanggung jawabnya, tentang kepribadiannya. Segalanya deh. Insya Allah Mas Rahadi telah jadi pilihanku. Lalu, alasan primadona yang sering dilontarkan papa adalah bahwa untuk sampai ke pernikahan, butuh banyak biaya.

Aduh, diary. Aku harus bilang apa lagi. Aku sudah katakan sama papa bahwa yang penting dari pernikahan itu adalah akadnya. Bukan rame-ramenya. Buat apa nabung uang berjuta-juta hanya dihabiskan dalam waktu sehari, dan hanya untuk sebuah alasan klise; prestis? Betapa naifnya. Lagi pula papa mestinya ngerti ya, diary. bahwa memasuki dunia baru lewat pintu gerbang pernikahan itu bukan berarti harus selalu sudah siap segalanya. Sudah punya rumah, punya pekerjaan yang benar-benar mapan dengan gaji gede, punya kendaraan yang lux, memiliki status sosial yang gemerlap dan aksesoris-aksesoris duniawi lainnya, sementara mengesampingkan aspek akhlak, keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Menurutku, pernikahan adalah gerbang menuju kehidupan baru yang akan dibangun bersama-sama. Membangun dari nol. Dengan suka dan duka. Dijalani bersama. Tentu itu akan lebih menambah nilai ibdah. Karena nikah termasuk salah satu ibadah kepada Allah Swt. Ya, itulah pendapatku. Nggak salah kan diary-ku?

Namun, apa reaksi papa, diary. Papa hanya diam seribu bahasa. Yang aku khawatirkan diamnya papa adalah diamnya gunung berapi. Diam, tapi suatu saat akan memuntahkan lahar panas yang mematikan. Mungkin papa mau mengekpresikan kasih sayang kepada anaknya, tapi menurutku itu tak pada tempatnya. Penyataan yang salah pada waktu yang salah. Karena standar penilaiannya berbeda jauh dengan nila-nilai Islam. Ah, entahlah diary, aku nggak ngerti sampai sekarang.

***

Diary-ku sayang.  Jam tujuh pagi, awal Desember. Ria, sohibku yang paling setia baru saja mengabarkan via telepon bahwa Mas Rahadi bakal ngirim surat sore nanti. Terus terang aku deg-degan nggak karuan. Bagaimana tidak, aku merasa ada yang salah setelah peristiwa beberapa waktu lalu, ketika Mas Rahadi selalu bertanya kepadaku soal apakah aku masih tetap mencintainya, apakah aku masih tetap menyukainya, aku selalu tak bisa berterus terang. Maklumlah aku ini kan perempuan yang masih menyimpan rasa malu ketika harus berhadapan dengan sebuah pertanyaan tentang keterus-terangan dalam urusan yang sensitif seperti itu. Padahal, aku benar-benar menyukainya, aku sungguh-sungguh mencintainya. Meski ketika itu aku diam saja.

Masih kuingat komentar Ria kemarin sore. "Nuri, kamu ini kok kayaknya aneh banget, deh. Katakan terus terang dong. Jangan membuatnya selalu was-was. Tahu, nggak, Mas Rahadi itu butuh support dari kamu. Ia akan lebih merasa senang ketika kamu terus terang mengatakan cinta atau suka kepadanya. Kamu kan suka baca buku-buku psikologi. Masak belum ngerti juga? Tahu nggak, ini waktu yang tepat!" begitu kata Ria penuh semangat dan membuat aku terpojok dan tak mampu berkata-kata banyak.

Diary, jarum jam sepertinya malas untuk berputar. Kamar ini terasa dingin membeku. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Aku sudah nggak sabar lagi menerima surat dari Mas Rahadi yang tentunya rada-rada spesial. Maklumlah, selama ini aku nggak pernah menerima surat dari laki-laki. Khususnya, yang telah mengkhitbahku. Kira-kira apa yang bakal dibahas dalam suratnya yang selalu bertabur kata-kata indah. Paling tidak itu menurutku. Ya, kita tunggu aja yuk?

Bersambung…

 
 
(Dibaca: 12712 kali | Dikirim: 8 kali | Print: 244 kali | Nilai: 9.00/2 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha