| Lanjutan…
My Diary. Akhir Nopember. Hari ini aku baru saja menjelaskan sama papa dan
mama soal hubunganku selama ini dengan Mas Rahadi. Seperti biasa mereka nggak
terlalu antusias menanggapi. Aku bingung. Aku jadi salah tingkah. Konsentrasiku
buyar, hingga membuat aku selalu melakukan kesalahan-kesalahan yang tak perlu
dalam setiap pekerjaanku. Papa selalu diam kalau aku tanya kenapa papa
mempersulit aku untuk menikah dengan Mas Rahadi. Dengan memasang target yang
menurutku tak masuk akal. Bayangkan, tiga tahun. Sekuat-kuatnya keimanan
seseorang, aku khawatir goyah juga. Apalagi jaman sekarang, dimana informasi
begituan bisa dengan mudah diakses lewat internet atau majalah-majalah. Ditambah
dengan kehidupan sosial yang amburadul seperti sekarang ini. Pendek kata, godaan
ke arah sana semakin berbahaya.
Papa selalu beralasan soal mengenal pribadi. Padahal aku sudah kenal. Aku
sudah yakin kalau Mas Rahadi adalah pilihanku. Dari informasi-informasi yang
sampai kepadaku soal Mas Rahadi hampir seluruhnya adalah informasi yang baik.
Tentang dakwahnya, tentang akhlaknya, tentang tanggung jawabnya, tentang
kepribadiannya. Segalanya deh. Insya Allah Mas Rahadi telah jadi pilihanku.
Lalu, alasan primadona yang sering dilontarkan papa adalah bahwa untuk sampai ke
pernikahan, butuh banyak biaya.
Aduh, diary. Aku harus bilang apa lagi. Aku sudah katakan sama papa bahwa
yang penting dari pernikahan itu adalah akadnya. Bukan rame-ramenya. Buat apa
nabung uang berjuta-juta hanya dihabiskan dalam waktu sehari, dan hanya untuk
sebuah alasan klise; prestis? Betapa naifnya. Lagi pula papa mestinya ngerti ya,
diary. bahwa memasuki dunia baru lewat pintu gerbang pernikahan itu bukan
berarti harus selalu sudah siap segalanya. Sudah punya rumah, punya pekerjaan
yang benar-benar mapan dengan gaji gede, punya kendaraan yang lux, memiliki
status sosial yang gemerlap dan aksesoris-aksesoris duniawi lainnya, sementara
mengesampingkan aspek akhlak, keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Menurutku, pernikahan adalah gerbang menuju kehidupan baru yang akan dibangun
bersama-sama. Membangun dari nol. Dengan suka dan duka. Dijalani bersama. Tentu
itu akan lebih menambah nilai ibdah. Karena nikah termasuk salah satu ibadah
kepada Allah Swt. Ya, itulah pendapatku. Nggak salah kan diary-ku?
Namun, apa reaksi papa, diary. Papa hanya diam seribu bahasa. Yang aku
khawatirkan diamnya papa adalah diamnya gunung berapi. Diam, tapi suatu saat
akan memuntahkan lahar panas yang mematikan. Mungkin papa mau mengekpresikan
kasih sayang kepada anaknya, tapi menurutku itu tak pada tempatnya. Penyataan
yang salah pada waktu yang salah. Karena standar penilaiannya berbeda jauh
dengan nila-nilai Islam. Ah, entahlah diary, aku nggak ngerti sampai
sekarang.
***
Diary-ku sayang. Jam tujuh pagi, awal Desember. Ria, sohibku yang
paling setia baru saja mengabarkan via telepon bahwa Mas Rahadi bakal ngirim
surat sore nanti. Terus terang aku deg-degan nggak karuan. Bagaimana tidak, aku
merasa ada yang salah setelah peristiwa beberapa waktu lalu, ketika Mas Rahadi
selalu bertanya kepadaku soal apakah aku masih tetap mencintainya, apakah aku
masih tetap menyukainya, aku selalu tak bisa berterus terang. Maklumlah aku ini
kan perempuan yang masih menyimpan rasa malu ketika harus berhadapan dengan
sebuah pertanyaan tentang keterus-terangan dalam urusan yang sensitif seperti
itu. Padahal, aku benar-benar menyukainya, aku sungguh-sungguh mencintainya.
Meski ketika itu aku diam saja.
Masih kuingat komentar Ria kemarin sore. "Nuri, kamu ini kok kayaknya aneh
banget, deh. Katakan terus terang dong. Jangan membuatnya selalu was-was. Tahu,
nggak, Mas Rahadi itu butuh support dari kamu. Ia akan lebih merasa senang
ketika kamu terus terang mengatakan cinta atau suka kepadanya. Kamu kan suka
baca buku-buku psikologi. Masak belum ngerti juga? Tahu nggak, ini waktu yang
tepat!" begitu kata Ria penuh semangat dan membuat aku terpojok dan tak mampu
berkata-kata banyak.
Diary, jarum jam sepertinya malas untuk berputar. Kamar ini terasa dingin
membeku. Waktu terasa begitu lambat berjalan. Aku sudah nggak sabar lagi
menerima surat dari Mas Rahadi yang tentunya rada-rada spesial. Maklumlah,
selama ini aku nggak pernah menerima surat dari laki-laki. Khususnya, yang telah
mengkhitbahku. Kira-kira apa yang bakal dibahas dalam suratnya yang selalu
bertabur kata-kata indah. Paling tidak itu menurutku. Ya, kita tunggu aja
yuk?
Bersambung… |