| Lanjutan…
Jam lima sore. Diary, ia benar-benar memenuhi janjinya. Ia datang di saat aku
membutuhkannya. Tepat. Senyum khas yang selalu menghias bibirnya kembali hadir
di hadapanku. Deg-degan juga. Ah, betapa kuatnya energi cinta seorang yang
sedang kasmaran. Amplop biru muda berisi lipatan-lipatan kertas yang telah
ditulisi sekarang ada dalam genggamanku. Selalu singkat pertemuan itu. Ia segera
menghilang dalam pandanganku dan meninggalkan rasa senang yang hebat. Tak sabar
aku ingin melihat isi tulisan yang bermuatan kata-katanya yang khas. Oh,
ternyata dilengkapi sebuah pita kaset The Beatles. Ah, eksentrik memang. Aku
buru-buru membacanya dengan debaran jantung yang tak karuan.
Ba’da tahmid dan salam. Dik, Nuri. Gimana kabarnya? Semoga tetap
dalam keadaan sehat dan senantiasa dalam lindungan-Nya, serta tetap beraktivitas
dalam dakwah. Semoga kita tetap bisa menjaga batas-batas kesucian. Kita berharap
semoga Allah memberkahi kita semua.
Dik Nuri. Langsung saja. Mas Rahadi minta maaf bila selama ini selalu
bertanya soal kesetiaan dan keteguhan hati Dik Nuri dalam mencintai Mas Rahadi.
Sekali lagi, mohon maaf. Dik, jangan kaget kalau surat Mas Rahadi, kali ini agak
aneh dan mungkin terkesan “nakal” dengan menyisipkan kaset. Nggak ada maksud
apa-apa selain ingin membuat adik bahagia. Ya, barangkali hal yang mubah ini
bisa menjadi sarana kebahagiaan adik. Bisa jadi, ini adalah wujud ekspresi dari
rasa kasih sayang Mas Rahadi sama adik. Khusnudzan saja, ya? Sebagian jawaban
dari rasa penasaran adik terhadap pertanyaan Mas Rahadi, mungkin ada dalam salah
satu judul lagu The Beatles tersebut. Yang jelas, Mas Rahadi hanya berusaha
untuk meyakinkan saja dengan apa yang selama ini Mas Rahadi harapkan.
Dik Nuri, Mas Rahadi sangat kagum dengan apa yang adik katakan beberapa
waktu lalu bahwa adik rela dibawa sama Mas Rahadi dalam kondisi apa pun, selama
masih dalam naungan Islam. Mas Rahadi pikir, itu adalah jawaban bijaksana dan
dewasa. Karena belum pernah mendengar sebelumnya dari seorang wanita. Terus
terang itu menambah point tersendiri bagi Mas Rahadi.
Dik, kayaknya sekarang singkat saja ya, suratnya. Soalnya masih banyak
persoalan lain yang harus Mas selesaikan. Dik, tolong putar lagu Jealous Guy,
ya! Eh, kok malah ngasih bocoran, ya? Afwan. Syukron.
Salam Rahadi
Aku segera melipat kembali kertas wangi berwarna hijau muda tadi. Kemudian
kumasukkan kembali ke amplop. Ah, memang eksentrik makhluk satu ini. Kaset The
Beatles segera kuputar. Dan sesuai dengan pesanan dalam surat, aku lebih dulu
memutar lagu Jealous Guy. Diary. aku perhatikan bait demi bait dalam syair lagu
itu , sampai pada kata-kata begini.: I did’nt mean to hurt you, I’m sorry that I
made you cry. I did’nt want to hurt you, I’m just a jealous guy.
Diary, akhirnya aku ketawa sendiri dengar lagu itu. Ternyata Mas Rahadi itu
jealousy juga orangnya, ya? Ah, ada-ada saja. Tapi benar juga sih. Kadang kala
aku pun berpikir hal yang sama (hi..hi..hi..).
Aduh, diary. Aku kembali “perang” dengan mama dan papa. Hal yang selama ini
tak pernah kuinginkan itu terjadi lagi. Sebenarnya, papa sangat menyayangi aku.
Malah perhatiannya itu boleh dikatakan sangat berbeda bila dibandingkan dengan
sikapnya kepada kakak-kakak dan adikku. Aneh memang. Tapi itulah faktanya.
Sehingga membuat aku selalu tak pernah ingin menyakiti hatinya. Pernah suatu
ketika aku minta sama papa supaya beliau membiaya kuliahku. Ia manut saja,
bahkan bersedia mengeluarkan biaya berapapun. Tapi, karena berbagai alasan,
akhirnya terpaksa mengubur keinginanku untuk kuliah. Karena aku pikir kondisi
keuangan keluarga tak memungkinkan. Meski papa tetap semangat.
Seminggu menjelang Idul Fitri. Diary, aku baru saja
bilang sama papa, bahwa hubunganku dengan Mas Rahadi nggak mungkin kalau harus
kandas begitu saja. Jangan sampai cinta suciku terganjal sebuah keinginan orang
tua yang senantiasa mengusung prestise. Aku malu. Betul-betul aku malu, diary.
Gimana nggak, itu kan hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi pada sebuah
keluarga aktivis sepertiku. Aku hampir saja putus asa, bahkan patah arang, kalau
saja aku tak punya keimanan. Untung Mas Rahadi selalu membantuku menyelesaikan
masalah-masalah yang aku hadapi. Aku terkesan dengan omongannya, bahwa manusia
hidup itu senantiasa memiliki masalah. Meski dalam kadar yang berbeda tiap
individu tersebut.
Diary, tahu nggak yang aku bilang sama papa? Kata-kataku itu membuat papa
mengamuk hebat dan bahkan memaki-maki aku. Habisnya aku kesal. Papa selalu
berlindung di balik pernyataan sayang. Dia bilang, aku adalah anak yang paling
disayanginya. Tapi faktanya, ternyata aku malah menderita dengan sikapnya yang
sebenarnya menurutku egois. Papa hanya mencintai dirinya sendiri. Terbukti
ketika aku memohon untuk meluluskan permintaanku untuk menikah dengan Mas
Rahadi, beliau menolaknya dengan berbagai alasan. Saking kesalnya, aku bilang
begini sama papa, “Pa, Nuri tahu kalau Papa memang sangat menyayangi Nuri.
Menyayangi lebih dari saudara yang lain. Entah atas dasar apa papa menyayangi
Nuri. Apa karena Nuri anak baik-baik? Nuri masih meragukan.”
Diary, Papa begitu marah. Terlihat wajahnya merah menyala. Tapi ia hanya
diam. Diam menahan amarah. Mungkin juga dilematis, karena ternyata justru anak
kesayangannya yang berkata seperti itu. Kata-kata yang sepertinya menikam tepat
di nyawanya.
Aku bilang lagi, “Kalau memang Papa benar-benar menyayangi Nuri, coba
tunjukkan rasa kasih sayang itu dengan nyata. Papa sedih nggak kalau Nuri
menderita? Pasti sedih kan, kalau memang benar-benar menyayangi. Nah, Papa harus
tahu, justru Nuri sedih dengan sikap Papa seperti itu. Nuri menderita.
Sepertinya Papa sayang sama Nuri hanya sebagai lipstik saja karena sebenarnya
Papa lebih cinta pada diri papa sendiri. Papa lebih sayang sama diri Papa
sendiri. Mungkin Papa takut kehilangan muka bila Nuri harus menjadi pendamping
Mas Rahadi. Iya, Pa? Iya kan Pa? Atau.. karena Papa terlalu sayang sama Nuri,
sehingga Papa khawatir bila ada orang lain yang mau menyayangi Nuri, mau
membimbing Nuri merebut hak Papa dalam menyayangi Nuri? Benar nggak, Pa? Bila
demikian, Nuri sama sekali nggak nyangka kalau ternyata di jaman yang serba
modern ini masih hidup orang-orang kuno seperti Papa. Dan....”
“Diam!” suara Papa menghentikan ocehanku, diary. Aku takut melihat mata Papa
yang melotot ke arahku.
“Pa..” aku mencoba meneruskan meski agak takut.
“Plak!’ pukulan tangan kanan Papa tepat mengenai pipi kiriku, diary. Diary.
aku meringis dan menangis. Menangis karena ternyata yang memukul adalah papaku
sendiri, yang katanya sangat menyayangi. Aku jadi nggak percaya sama papa.
Diary, aku berlari menuju kamarku. Aku tahu papa kelihatannya menyesal. Namun
aku berusaha untuk tetap mengunci diri di kamar. Diary, papa mengetuk-ngetuk
pintu sambil memohon maaf. Tapi aku tetap tak mau membuka pintu. Bahkan semakin
membenamkan mukaku ke bantal. Kutumpahkan semua kekecewaan ini. Pokoknya kecewa
berat.
Bersambung…
|