Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Keuntungan hakiki adalah keuntungan yang tidak hanya menguntungkan diri pribadi, tapi juga menguntungkan sebanyak mungkin hamba-hamba Allah lainnya. Usahakanlah apa yang menjadi nikmat tidak menjadi musibah bagi orang lain." (Aa Gym)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Bebas
13 Januari 2003 - 12:35
Cerpen : Sebuah Harapan Bagian 3    
Oleh : Sholihin
 

Lanjutan…

Jam lima sore. Diary, ia benar-benar memenuhi janjinya. Ia datang di saat aku membutuhkannya. Tepat. Senyum khas yang selalu menghias bibirnya kembali hadir di hadapanku. Deg-degan juga. Ah, betapa kuatnya energi cinta seorang yang sedang kasmaran. Amplop biru muda berisi lipatan-lipatan kertas yang telah ditulisi sekarang ada dalam genggamanku. Selalu singkat pertemuan itu. Ia segera menghilang dalam pandanganku dan meninggalkan rasa senang yang hebat. Tak sabar aku ingin melihat isi tulisan yang bermuatan kata-katanya yang khas. Oh, ternyata dilengkapi sebuah pita kaset The Beatles. Ah, eksentrik memang. Aku buru-buru membacanya dengan debaran jantung yang tak karuan.

Ba’da tahmid dan salam.
Dik, Nuri. Gimana kabarnya? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan senantiasa dalam lindungan-Nya, serta tetap beraktivitas dalam dakwah. Semoga kita tetap bisa menjaga batas-batas kesucian. Kita berharap semoga Allah memberkahi kita semua.

Dik Nuri. Langsung saja. Mas Rahadi minta maaf bila selama ini selalu bertanya soal kesetiaan dan keteguhan hati Dik Nuri dalam mencintai Mas Rahadi. Sekali lagi, mohon maaf. Dik, jangan kaget kalau surat Mas Rahadi, kali ini agak aneh dan mungkin terkesan “nakal” dengan menyisipkan kaset. Nggak ada maksud apa-apa selain ingin membuat adik bahagia. Ya, barangkali hal yang mubah ini bisa menjadi sarana kebahagiaan adik. Bisa jadi, ini adalah wujud ekspresi dari rasa kasih sayang Mas Rahadi sama adik. Khusnudzan saja, ya? Sebagian jawaban dari rasa penasaran adik terhadap pertanyaan Mas Rahadi, mungkin ada dalam salah satu judul lagu The Beatles tersebut. Yang jelas, Mas Rahadi hanya berusaha untuk meyakinkan saja dengan apa yang selama ini Mas Rahadi harapkan.

Dik Nuri, Mas Rahadi sangat kagum dengan apa yang adik katakan beberapa waktu lalu bahwa adik rela dibawa sama Mas Rahadi dalam kondisi apa pun, selama masih dalam naungan Islam. Mas Rahadi pikir, itu adalah jawaban bijaksana dan dewasa. Karena belum pernah mendengar sebelumnya dari seorang wanita. Terus terang itu menambah point tersendiri bagi Mas Rahadi.

Dik, kayaknya sekarang singkat saja ya, suratnya. Soalnya masih banyak persoalan lain yang harus Mas selesaikan. Dik, tolong putar lagu Jealous Guy, ya! Eh, kok malah ngasih bocoran, ya? Afwan. Syukron.

Salam
Rahadi

Aku segera melipat kembali kertas wangi berwarna hijau muda tadi. Kemudian kumasukkan kembali ke amplop. Ah, memang eksentrik makhluk satu ini. Kaset The Beatles segera kuputar. Dan sesuai dengan pesanan dalam surat, aku lebih dulu memutar lagu Jealous Guy. Diary. aku perhatikan bait demi bait dalam syair lagu itu , sampai pada kata-kata begini.: I did’nt mean to hurt you, I’m sorry that I made you cry. I did’nt want to hurt you, I’m just a jealous guy.

Diary, akhirnya aku ketawa sendiri dengar lagu itu. Ternyata Mas Rahadi itu jealousy juga orangnya, ya? Ah, ada-ada saja. Tapi benar juga sih. Kadang kala aku pun berpikir hal yang sama (hi..hi..hi..).

Aduh, diary. Aku kembali “perang” dengan mama dan papa. Hal yang selama ini tak pernah kuinginkan itu terjadi lagi. Sebenarnya, papa sangat menyayangi aku. Malah perhatiannya itu boleh dikatakan sangat berbeda bila dibandingkan dengan sikapnya kepada kakak-kakak dan adikku. Aneh memang. Tapi itulah faktanya. Sehingga membuat aku selalu tak pernah ingin menyakiti hatinya. Pernah suatu ketika aku minta sama papa supaya beliau membiaya kuliahku. Ia manut saja, bahkan bersedia mengeluarkan biaya berapapun. Tapi, karena berbagai alasan, akhirnya terpaksa mengubur keinginanku untuk kuliah. Karena aku pikir kondisi keuangan keluarga tak memungkinkan. Meski papa tetap semangat.

Seminggu menjelang Idul Fitri.
Diary, aku baru saja bilang sama papa, bahwa hubunganku dengan Mas Rahadi nggak mungkin kalau harus kandas begitu saja. Jangan sampai cinta suciku terganjal sebuah keinginan orang tua yang senantiasa mengusung prestise. Aku malu. Betul-betul aku malu, diary. Gimana nggak, itu kan hal-hal yang seharusnya tak perlu terjadi pada sebuah keluarga aktivis sepertiku. Aku hampir saja putus asa, bahkan patah arang, kalau saja aku tak punya keimanan. Untung Mas Rahadi selalu membantuku menyelesaikan masalah-masalah yang aku hadapi. Aku terkesan dengan omongannya, bahwa manusia hidup itu senantiasa memiliki masalah. Meski dalam kadar yang berbeda tiap individu tersebut.

Diary, tahu nggak yang aku bilang sama papa? Kata-kataku itu membuat papa mengamuk hebat dan bahkan memaki-maki aku. Habisnya aku kesal. Papa selalu berlindung di balik pernyataan sayang. Dia bilang, aku adalah anak yang paling disayanginya. Tapi faktanya, ternyata aku malah menderita dengan sikapnya yang sebenarnya menurutku egois. Papa hanya mencintai dirinya sendiri. Terbukti ketika aku memohon untuk meluluskan permintaanku untuk menikah dengan Mas Rahadi, beliau menolaknya dengan berbagai alasan. Saking kesalnya, aku bilang begini sama papa, “Pa, Nuri tahu kalau Papa memang sangat menyayangi Nuri. Menyayangi lebih dari saudara yang lain. Entah atas dasar apa papa menyayangi Nuri. Apa karena Nuri anak baik-baik? Nuri masih meragukan.”

Diary, Papa begitu marah. Terlihat wajahnya merah menyala. Tapi ia hanya diam. Diam menahan amarah. Mungkin juga dilematis, karena ternyata justru anak kesayangannya yang berkata seperti itu. Kata-kata yang sepertinya menikam tepat di nyawanya.

Aku bilang lagi, “Kalau memang Papa benar-benar menyayangi Nuri, coba tunjukkan rasa kasih sayang itu dengan nyata. Papa sedih nggak kalau Nuri menderita? Pasti sedih kan, kalau memang benar-benar menyayangi. Nah, Papa harus tahu, justru Nuri sedih dengan sikap Papa seperti itu. Nuri menderita. Sepertinya Papa sayang sama Nuri hanya sebagai lipstik saja karena sebenarnya Papa lebih cinta pada diri papa sendiri. Papa lebih sayang sama diri Papa sendiri. Mungkin Papa takut kehilangan muka bila Nuri harus menjadi pendamping Mas Rahadi. Iya, Pa? Iya kan Pa? Atau.. karena Papa terlalu sayang sama Nuri, sehingga Papa khawatir bila ada orang lain yang mau menyayangi Nuri, mau membimbing Nuri merebut hak Papa dalam menyayangi Nuri? Benar nggak, Pa? Bila demikian, Nuri sama sekali nggak nyangka kalau ternyata di jaman yang serba modern ini masih hidup orang-orang kuno seperti Papa. Dan....”

“Diam!” suara Papa menghentikan ocehanku, diary. Aku takut melihat mata Papa yang melotot ke arahku.

“Pa..” aku mencoba meneruskan meski agak takut.

“Plak!’ pukulan tangan kanan Papa tepat mengenai pipi kiriku, diary. Diary. aku meringis dan menangis. Menangis karena ternyata yang memukul adalah papaku sendiri, yang katanya sangat menyayangi. Aku jadi nggak percaya sama papa.

Diary, aku berlari menuju kamarku. Aku tahu papa kelihatannya menyesal. Namun aku berusaha untuk tetap mengunci diri di kamar. Diary, papa mengetuk-ngetuk pintu sambil memohon maaf. Tapi aku tetap tak mau membuka pintu. Bahkan semakin membenamkan mukaku ke bantal. Kutumpahkan semua kekecewaan ini. Pokoknya kecewa berat.

Bersambung…

 

 

 
 
(Dibaca: 13340 kali | Dikirim: 8 kali | Print: 264 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha