Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut"(Umar bin Khattab)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Bebas
29 Agustus 2001 - 15:59
Demam Teletubbies, Masyarakat labil    
 

Siang itu sebetulnya Erna agak kesal. Niatnya untuk memiliki boneka Teletubbies tidak kesampaian. Ia terpaksa meredam nafsunya untuk memiliki si merah Po, salah satu dari 4 karakter teletubbies yang masing-masing bernama si ungu, Tinky Winky, si hijau, Dipsy dan si kuning Laa Laa.

Aneh memang. Kok bisa-bisanya seorang remaja siswa kelas III SMU demen dengan tokoh film seri yang diputar stasiun televisi Indosiar setiap jam 10.00, setiap harinya itu. Tapi itulah fenomena.

"Awalnya aku nggak gitu senang sama Teletubbies. Tapi, waktu keponakan yang tinggal di rumah hobinya nonton Teletubbies, eh .. lama-lama seneng juga," urai gadis berusia 17 tahun , siswa kelas III jurusan IPA SMU Negeri 12 Medan, kepada komat-kamit.com. Gadis manis ini "terjaring" komatkamit.com saat sedang sibuk memilih-milih merchandise Teletubbies di salah satu outlet di Medan Baru Plaza, Jumát pekan lalu. Untuk satu boneka itu Erna harus merogoh koceknya senilai Rp 30 ribu.

Demam Teletubbies mengepidemi di Medan. Tak hanya anak-anak, remaja pun menggilainya. Hanya, mungkin jumlahnya lebih kecil di-bandingkan penggemar Shinchan

Dengarlah penuturan Evi. Menurut ibu rumah tangga ini, putranya yang berusia 13 bulan senang menonton serial yang diputar stasiun Indosiar setiap jam 10.00 WIB itu. "Kalau nonton, dia sampai ikut-ikutan teriak sambil menunjuk televisi," tukas Evi.

Awalnya memang tidak sengaja. Apalagi Evi tidak suka membiasakan anaknya menonton televisi. Tapi sekali waktu, ia meninggalkan Reza -begitu anaknya kerap dipanggil- di depan televisi yang menayang-kan serial Teletubbies. Waktu kembali, ia melihat Reza senang sekali . Sejak itu, Reza yang mengarahkannya menonton Teletubbies.

Lain lagi kisah Lely dan Syahrial. Suami istri warga jalan Krakatau Medan itu merasa senang dengan pemutaran serial tersebut. Pasalnya, serial itu mereka anggap baik untuk psiko-logi anaknya. Se-perti musik yang lembut dan alur cerita yang penuh pembelajaran. Serial tersebut, kata Lely, mengajar-kan anak tentang hal-hal baru dise-kelilingnya.

Selain itu warna-warna boneka yang polos rupa-nya diminati anak-anak. "Biasanya warna boneka ja-rang yang polos dan ukurannya pun kecil. Kalau saya lihat, empat karak-ter warna itu mem-bantu anak me-ngenal warna," be-gitu tutur Syahrial saat membelikan merchandise Laa Laa (kuning) untuk anaknya.

Demam Teletubbies memang berbeda dengan demam Shin-chan (2000), Smack Down maupun tontonan lainnya. Bayangkan, menurut Manager Art Station, Ahmad, merchandise Teletubbies ini harus di-pesan 10 ribu buah perbulannya ke PT Santa Indah Indonesia, Bogor, sejak Maret hingga Mei ini. "Peminatnya lebih banyak dari peminat Sihnchan," begitu sebut Ahmad sambil mengata-kan harga per paket (4 merchandise) senilai Rp 120 ribu.

Mengapa merchandise ini begitu diidolakan? Ternyata serial ini terkesan sederhana, polos, tapi penuh pembelajaran. Setidak-nya itu yang ditangkap pemirsa-nya.

Namun, psikolog dari Universitas Medan Area (UMA) Azhar Azis, S Psi tidak sepakat. Menurutnya ada tiga faktor yang melatari trend Teletubbies. Pertama, pelaku bisnis hiburan di Indonesia kurang bervariasi menawarkan hiburan anak-anak. Selain orang tua sibuk bekerja, maka sarana bermain anak adalah televisi. Sementara Teletubbies adalah acara baru -diputar sejak 29 November 2000-, tak heran bila sam-butannya semeriah ini.

Kedua, anak-anak cenderung mencari tokoh. Dan ini mem-pengaruhi perilakunya. Ketiga, agresivitas anak-anak sekarang lebih tinggi. Artinya, mereka lebih labil. "Terangsang" sedikit saja bakal agresif.

Sebenarnya serial Si Unyil -tayangan TVRI pertengahan 1980-an- masih baik bagi pedidikan dan pengembangan psikologi anak. Unyil, dianggap Azis lebih nyata dan budayanya meng-Indonesia. Dengan sarung dan pecinya atau keinginannya menolong sesama teman menjadi pesan moral bagi anak.

Makanya, Pembantu Dekan I Fak. Psikologi UMA Medan ini menilai serial Teletubbies kurang baik bagi psikologi anak-anak. Apalagi untuk usia 2 tahun ke bawah. "Logikanya begini, televisi itu 'kan gambarnya bergerak. Nah, balita sebenar-nya belum bisa memahaminya. Mereka hanya melihat warna dan mendengarkan musik. Tapi karena sering melihat yang bergerak, akhirnya mereka sulit berkonsentrasi. Dan bila diberi tontonan televisi dan mainan boneka semata, anak tak akan mengalami perkembangan," ungkap lelaki berusia 32 tahun, sarjana Psikologi Universitas Indonesia itu.

Sebaiknya, saran Azis, anak usia balita diberi buku bacaan. Meskipun tidak mengerti, tapi mereka bisa belajar dari gam-bar. Selain itu, anak diajarkan mencintai buku sejak kecil. "Jadi, berikan permainan yang sesuai perkembangan fisik dan panca indera anak. Misalnya permainan anak-anak 0 - 3 tahun itu berlari, mendengar dan sebagainya. Permainan manipulatif juga baik, lho. Seperti puzzle dan logo. Nah, boneka pun sebetulnya bisa membangun kreatifitas dan merangsang daya pikir, ter-gantung bagaimana orang tua mengarahkannya," tandasnya.

Budaya trend juga terjadi di kalangan remaja. Kondisi ini menyebabkan remaja dewasa secara fisik, tapi mentalnya kanak-kanak. Istilahnya regresi alias kemunduran mental. Sing-katnya, situasi ini terjadi pada remaja berlatar keluarga ma-pan. Soalnya, mereka terbiasa dimanjakan. "Dampaknya, me-reka akan menghindar saat mendapat masalah dan tak siap jadi dewasa," tegas ayah seorang putra berusia 6 tahun itu. Nah, sekarang, sayang anak atau mau nge-trend?
 
 
(Dibaca: 10778 kali | Dikirim: 1 kali | Print: 274 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha