| Bagi yang bergelar ABRI, alias Anak Buah Rhoma Irama, kayaknya apal betul dengan
lagu beliau yang berjudul Emansipasi Wanita. Ayo tunjuk jari bagi kamu yang
merasa fans berat Soneta (he..he..he..). Iya, Wak Haji ini pernah bikin lagu
yang menjadi soundtrack film Pengabdian yang dibintanginya sendiri
bersama Ricca Rachim. Yang menarik adalah syair lagunya. “Wanita laksana
tiangnya negara/ Tanpa tiang coba Anda bayangkan/ Kalau semua maju ke garis
depan/ Tentunya lemah di garis belakang/ Kalau wanita juga sibuk bekerja/ Rumah
tangga kehilangan ratunya/ Kalau wanita juga sibuk bekerja/ Anak-anak kehilangan
pembina/ Bukan salah remaja kalau mereka binal/ Bukan salah mereka kalau tidak
bermoral/ Bukan hanya makanan, bukan hanya pakaian/ Yang lebih dibutuhkan cinta
dan kasih sayang”
Sobat muda muslim, kampanye emansipasi wanita saat ini masih anget untuk dibicarakan.
Soalnya, masih banyak juga yang keukeuh mengamalkan ide itu. Para aktivis
feminisme tentunya paling getol dong ngomongin dan ngamalin paham ini. Mereka,
rajin banget ngomporin kaum Hawa untuk terjun di luar rumah dengan lebih banyak
waktu. Sementara di rumah, cukup malam hari saja. Walah?
Teman-teman remaja puteri pun udah lama kenal lho dengan ajaran ini. Maklumlah,
sejak kita diajarin, “Ini Budi, Ini Ibu Budi” udah dikenalkan tokoh
pergerakan wanita, namanya RA Kartini. Kata bapak dan ibu guru waktu SD itu,
ibu Kartini adalah salah satu tokoh pembebasan kaum wanita. Wanita yang tadinya
cuma ngurusin ‘dapur-sumur-kasur’, tapi diperjuangkan hak-haknya
untuk mendapatkan pendidikan dan kegiatan lainnya yang selama ini hanya bisa
dilakukan kaum pria.
Sayangnya, cita-cita RA Kartini kemudian ‘dimodifikasi’ pihak-pihak
tertentu menjadi lebih luas dan lebih liar. Gimana nggak, wong kemudian cita-cita
Kartini ini sempat dihubungkan dengan perjuangan feminisme. Bahkan dianggap
sebagai peletak dasar perjuangan hak-hak kaum feminim di negeri ini. Waduh,
emang tergantung siapa yang bikin sejarahnya sih. Kasihan sekalee. Lebih kasihan
lagi yang ngikutin seruan kaum feminis saat ini. Hih, kasihan deh lu..! ?
Sobat muda muslim, jaman kiwari bisa kita saksikan maraknya kiprah kaum wanita
di luar rumah. Kalo sekadar mendapatkan pendidikan, kita pikir nggak masalah
ya. Sebab, pendidikan bukan monopoli anak cowok aja. Anak puteri juga berhak
untuk mendapatkannya. Setinggi apa pun. Tapi, kalo udah memasuki kehidupan umum
lebih jauh lagi, bahkan sampe tega mengorbankan harga diri, nah itu yang malah
berbahaya.
Nggak percaya? Lihat aja gimana teman-teman remaja puteri (seleb) yang kemudian
'ikhlas' terjun di dunia film, iklan, sinetron, dan model. Tapi sejujurnya dan
sejatinya, teman-teman puteri itu sedang ditipu. Lho kok bisa? Maklum saja,
dalam masyarakat kapitalis seperti sekarang ini, wanita telah menjadi komoditas
alias barang yang diperjual-belikan. Mereka dijadikan sumber tenaga kerja yang
murah atau dieksploitasi untuk menjual barang. Barang jenis industri mutakhir
seperti mode, kosmetik dan hiburan, hampir sepenuhnya memanfaatkan 'jasa' wanita.
Pendidikan dan media-massa menampilkan citra wanita yang penuh glamour—sensual
dan fisikal. Dengan kata lain, penuh sensasi, dan tentu nggak ketinggalan, bodi!
Wuih, kasihan banget deh.
Sobat muda muslim, pada masyarakat bebas kayak begini, wanita dididik untuk
melepaskan segala ikatan normatif, kecuali kepentingan industri. Bener lho,
nggak boong. Lihat aja, tubuh mereka dipertunjukkan untuk menarik selera konsumen.
Bayangin aja betapa konyolnya, iklan mobil mewah rasanya belum lengkap kalau
tak hadir di sampingnya gadis berbodi aduhai. Permen rasanya belum manis kalau
tak menyertakan penampilan gadis dengan bibir sensual mengunyah permen. Inul,
yang memakai kaos dan celana jeans ketat—di-shot kamera—memperlihatkan
keampuhan minuman berenergi, Sakatonik Greng. Lha ini maksudnya promosi
minuman atau promosi Inul “ngebor” Daratista? Tulalit banget deh!
Sayang, kaum wanita banyak yang nggak ngeh dengan masalah ini. Bahkan parahnya,
banyak pula yang menikmatinya. Itu artinya pula, emansipasi yang kebablasan
ini adalah racun bagi kehidupan kaum wanita. Celaka dua belas. Ati-ati deh!
Habis gelap terbitlah terang?
Semboyan Door Duisternis tot Licht alias Habis Gelap Terbitlah Terang
menjadi begitu bergema bagi kalangan perempuan di negeri ini. Simbol semangat
dari perjuangan pembebasan kaum wanita. Katanya sih begitu.
Sobat muda muslim, dengan semboyan seperti ini—maklum yang nerjemahinnya
orang Nasrani (Armijn Pane), artinya jadi bias banget. Perjuangan Kartini untuk
mengajak kaumnya bangkit, masih ada kemungkinan untuk ‘dimodifikasi’
sesuai keinginan si penulis sejarah. Akhirnya ya seperti sekarang, ‘Kartini-Kartini’
kontemporer menyerap makna perjuangan RA. Kartini sebatas perjuangan hak-hak
wanita. Karena, waktu itu wanita ‘dijajah’ pria. Dalam masalah pendidikan,
misalnya, RA Kartini jelas banget memperjuangkan agar wanita bisa mendapat hak
yang sama dengan laki-laki. Sayangnya, jaman kiwari cita-cita perjuangan Kartini
akhirnya diperluas dengan peran wanita yang lebih bebas dan luas di luar rumah.
Bahkan, katanya atas nama emansipasi, kian getol mengambil ‘jatah’
peran kaum pria. Ada lho, wanita yang jadi hansip, satpam, bahkan polisi. Kita
nggak tahu, penjahatnya nanti galak apa malah ngerayu…. ?
Sedikit tentang perjuangan RA Kartini, Prof. Ahmad Mansur Suryanegara, dalam
bukunya Menemukan Sejarah (hlm. 183), menuliskan komentar Kartini, “Sekarang
ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang seteguh-teguhnya
di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun (jahiliyah. red.) menjadi terang (cahaya
iman Islam. red.), dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi.” Dijelaskan
pula bahwa kata-kata Habis Gelap Terbitlah Terang terpengaruh cahaya al-Quran
yang menerangi lubuk hatinya; Minazh zhulumati ilan nur (dari kegelapan jahiliyah
kepada cahaya Islam).
Nah, itu terjadi saat beliau mengalami kebingungan setelah melakukan korespondensi
dengan sahabat-sahabatnya di luar negeri (Belanda). Bercerita tentang apa saja.
Termasuk tentang agama. Jadi, bukan cuma bicara tentang ‘emansipasi’
doang euy.
Tuh, ternyata kalo dipiki-piki, perjuangan RA Kartini, paling nggak menurut
pengarang buku Menemukan Sejarah, masih ada kaitannya dengan pergerakan kebangkitan,
yang bernuansa Islam. Kamu kudu ngeh lho soal itu. But, bukan kesimpulan akhir
memang. Sebab, Kartini juga konon kabarnya baru sebatas proses berpikir ke arah
Islam. Itu juga kudu diakui sebagai prestasi tersendiri bagi seorang wanita
yang hidup di tengah kehidupan bangsawan dan di masa penjajahan. Sayang, Kartini
keburu meninggal di usia muda, 25 tahun.
Nah, jadi tentu sangat tidak adil dong kalo kamu selalu menghubungkan perjuangan
RA Kartini sebatas emansipasi wanita doang. Sebab, banyak sisi kehidupan beragama
beliau yang nggak tergali (atau sengaja nggak digali?) oleh para penulis sejarah
pada umumnya. Bahkan kesannya maksain banget kalo semboyan Door Duisternis tot
Licht cuma dihubungkan dengan pembebasan kaum wanita dari ‘penjajajan’
kaum pria.
Jangan mau jadi korban!
Sobat muda muslim, khususnya anak puteri, jangan mau deh jadi korban gaya hidup
sekarang. Maklumlah, kehidupan sekarang ini banyak godaannya. Keikutsertaan
perempuan dalam proses kehidupan di luar rumah dengan jumlah waktu yang lebih
banyak, justru akan menjadi blunder, alias bumerang. Gimana nggak, kalo semua
perempuan bekerja di luar rumah dengan semboyan P4 (pergi pagi pulang petang),
maka dengan siapa anak-anak akan belajar tentang kehidupan? Lha, pas pergi anak
masih tidur. Eh, pas dateng anak udah tidur. Gimana menyalurkan kasih sayang
dan perhatiannya? Sebab, duit nggak selalu menjadi yang terpenting untuk menenangkan
anak. Justru perhatian dan penanaman nilai agama adalah hal yang paling utama.
Tul nggak?
Oke deh, kalo pun kudu bekerja (karena memang bekerja bagi wanita adalah mubah),
mbok ya kerjaannya jangan yang menyita perhatian dan menyita waktu dong. Nanti
nggak bisa ngurus suami dan memperhatikan anak-anak. Betul?
Bang Rhoma juga ‘ngingetin’ lho dalam penggalan lain dari lagu Emansipasi
Wanita, “Majulah wanita, giatlah bekerja/ Namun jangan lupa tugasmu
utama/ Apa pun dirimu/ Namun kau adalah ibu rumah tangga”
Anna Rued yang menulis dalam sebuah bukunya—Eastern Mail, ia menyebutkan
bahwa "Kita harus iri kepada bangsa-bangsa Arab yang telah mendudukkan
wanita pada tempatnya yang aman. Dimana hal itu jauh berbeda dengan keadaan
di negeri ini (Inggris) yang membiarkan para gadisnya bekerja bersama laki-laki
di kilang-kilang minyak—yang tidak saja menyalahi kodrat—tetapi
bisa menghancurkan kehormatannya."
Sobat puteri, jangan bingung dulu. Meski peran kamu di luar rumah dibatasi,
bukan berarti nggak boleh keluar sama sekali dari rumah. Kamu masih boleh (mubah)
untuk bekerja di luar rumah. Dengan catatan, jenis pekerejaannya nggak menyita
perhatian dan mengambil jatah waktu yang banyak. Bahkan di masa Rasulullah juga
banyak wanita yang terjun di medan jihad sebagai perawat prajurit Islam yang
luka. Pada jaman setelahnya, banyak pula wanita yang berpendidikan tinggi dan
tetap mampu menjaga tugas utamanya sebagai pengatur rumah tangga.
Nah, itu artinya kamu kudu ngeh soal prioritas amal. Mendahulukan yang wajib
ketimbang yang sunnah, apalagi mubah. Mengurus suami dan anak-anak, adalah wajib,
sementara bagi wanita bekerja hukumnya mubah. Jangan sampe suami dan anak-anak
nggak diperhatikan, karena sibuk bekerja di luar rumah.
Abu Hurairah ra. menuturkan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sebaik-baik
wanita yang menunggang unta adalah wanita Quraisy; ia sangat menyayangi anaknya
ketika kecil dan sangat memperhatikan suaminya ketika ada di sisinya”
(HR Muslim)
Nah, bagaimana dengan aktivitas di luar rumahnya adalah berdakwah untuk menyerukan
kebangkitan Islam dan umatnya? Begini, dalam Islam yang termasuk fardhu (wajib)
yang dari segi pelaksanaannya dibagi ke dalam dua jenis; fardlu al-muwassa’
(yang leluasa waktu pelaksanaannya) dan fardlu al-mudhayyaq (kewajiban
yang waktu pelaksanaannya amat sempit, sehingga harus segera dilaksanakan).
Intinya, fardlu al-mudhayyaq kudu didahulukan ketimbang fardlu
al-muwassa’. Contohnya, panggilan suami (bagi istri) untuk berada
di rumah lebih didahulukan daripada aktivitas berdakwah (keluar rumah). Sebab,
aktivitas dakwah seorang wanita dapat dilakukan kapan saja (sehingga tergolong
fardlu al-muwassa’). Sementara panggilan suaminya saat itu, yang mengharuskannya
berada dalam rumah, tidak dapat ditunda. Begitu Non.
Jadi, jangan sampe deh kamu (pas berkeluarga nanti) mendahulukan urusan dakwah
di luar rumah (apalagi sampe berhari-hari keluar kota misalnya), hingga membuat
kamu menelantarkan anak dan suami. Hih, istri macam apa itu? Sori lha yauw,
walaupun itu urusan dakwah, tapi kalo menelantarkan suami dan anak-anak, dosa
juga euy! Meskipun suaminya ikhlas diperlakukan begitu, jangan anteng dulu Non.
Bukankah menelantarkan urusan rumah tangga adalah dosa? Bukankah itu artinya
pula mempraktikkan seruan kaum feminis? Catet yo..
Oke deh, tetap getol mengkaji Islam, dan giatlah berjuang untuk Islam, tapi
peranmu nanti sebagai ibu rumah tangga kudu jadi prioritas. Tetep semangat!
?
|