Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
''Wahai para sahabat-sahabatku, maukah aku beri tahukan kepada kalian suatu bentuk amal yang paling baik, paling diridlai Tuhan kalian, paling tinggi nilainya, paling baik dibanding ketika kalian memberikan emas atau perak kepada orang lain, dan paling baik ketimbang ketika kalian bertemu dengan musuh-musuh kalian dalam perang yang konsekuensinya membunuh atau terbunuh musuh?'' Dengan serentak, para sahabat menjawab, ''Baik ya Rasulullah.'' Setelah diam sebentar, Nabi SAW berkata, ''Dzikrullah (mengingat Allah)''. (HR Ibnu Majah dari Abu al-Darda)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Bebas
02 Januari 2007 - 00:48
EMPAT RATUS RUPIAH       
Oleh : Andysa
 

Minggu pagi yang cerah.Hari ini aku berniat memasak buat suami dan anakku,mumpung hari libur.Maklum,tidak setiap hari aku sempat memasak karena aku juga bekerja.Setelah mandi dan berganti baju akupun berpamitan pada suamiku.

”Hati-hati,jalanan ramai…o,ya jangan lupa belikan telur puyuh buat Naufal” pesannya seraya mengeluarkan motor yang akan kupakai.Aku mengangguk mengiyakan.Kulihat dikamar Naufal anakku semata wayang masih tertidur pulas.Mungkin dia kelelahan karena semalam kuajak silaturahmi ke rumah famili hingga larut malam.Segera kupacu motor menuju pasar tradisional yang berjarak 2 km dari rumahku.

Tiba disana ternyata pasar telah ramai pengunjung,padahal hari belum terlalu siang. Aku segera memarkir motorku,kulihat area parkir telah terisi separuhnya.Di dalam pasar suasana hiruk pikuk pedagang dan pengunjung bercampur menjadi satu.Saling tawar menawar harga,dan sesekali juga terdengar suara tangis anak-anak entah berasal dari sebelah mana.Aku mulai memilih sayuran yang akan kumasak nanti.

”Masak sup ayam aja,dikasih telur puyuh Naufal pasti suka” usul suamiku waktu kutawarkan mau masak apa hari ini.Ya,Naufal memang paling suka telur puyuh.Terbayang betapa lahapnya nanti saat dia menyantap masakan yang kubuatkan.

*****

Tak terasa hampir setengah jam aku berada didalam pasar,tas belanjaku juga hampir penuh.Rasanya sudah cukup,sayur-sayuran sudah terbeli semua,buah jeruk kesukaan suamiku juga sudah kubeli.Aku memutuskan untuk segera pulang,apalagi Naufal tidak kuajak,jika dia bangun pasti mencariku.Bergegas aku menuju tempat parkir mengambil motorku.Sedang sibuk aku menata barang belanjaku,kudengar suara seseorang memanggil.

“Mbak…!” teriaknya sambil berjalan kearahku.Aku mengerutkan keningku,wanita itu sepertinya aku tadi melihatnya,tapi siapa ya?aku sibuk mengira-ngira.Sementara dia telah tiba didepanku dengan nafas yang masih sedikit terengah-engah.

”Mbak,tadi uang kembaliannya belum” katanya sambil mengulurkan empat keping ratusan rupiah.
Aku jadi ingat,wanita setengah baya didepanku ini adalah penjual sayuran yang aku beli tadi.Karena buru-buru aku lupa menerima uang kembalian darinya.

Jika kuingat-ingat,cukup lama jarak waktu antara aku membeli sayurannya dengan dia memberikan uang kembalian itu.Mungkin selama itu pula dia berkeliling pasar mencariku hingga akhirnya menemukan aku di tempat parkir ini.Mungkin juga dagangannya dia tinggalkan begitu saja yang berarti diapun kehilangan beberapa orang pembeli karena dia tidak ada ditempatnya.

.Aku jadi merasa bersalah.

”Maaf Bu,saya telah merepotkan.Sebenarnya ibu tidak perlu mencari saya,uang itu bisa ibu ambil buat ibu” kataku akhirnya.

”Nggak Mbak,ini uang mbak…..saya wajib mengembalikannya” katanya sambil menyelipkan uang itu dalam genggamanku.

”Sudah Mbak,saya mau jualan lagi…” pamitnya seraya buru-buru melangkahkan kaki menuju ke dalam pasar.

Sebentar kemudian wanita itu telah hilang dari pandanganku,menyelinap diantara orang-orang yang berada didalam pasar.Tinggallah aku termangu memandangi uang yang ada dalam genggaman tanganku.

Ya,empat ratus rupiah…hanya senilai itu.Tapi dengan tulusnya dia rela bersusah payah mencariku,dia juga rela kehilangan pembeli,hanya untuk mengembalikan sesuatu yang ia merasa bukan haknya untuk memilikinya.Padahal jika tidak dikembalikan akupun mengikhlaskannya.

Aku membayangkan,seandainya aku menjadi ibu itu apakah aku mau bersusah payah dan rela kehilangan pembeli hanya untuk mengembalikan uang sebesar empat ratus rupiah.Belum tentu aku mau melakukannya,mungkin aku masih perlu berpikir lama untuk melakukannya.

Bukan nilai uang itu yang menjadi perhatianku,tapi niat baik yang dimiliki ibu itu.Apalah arti empat ratus rupiah,untuk membayar uang parkirpun masih kurang seratus rupiah.Tapi kejujuran dan ketulusan yang dimilikinya menjadi sebuah pelajaran berarti bagiku.Bahwa sekecil apapun nilainya jika memang bukan milik kita,sudah seharusnya kita kembalikan kepada yang memilikinya.

Duh ibu…betapa mulia hatimu,aku salut dan terharu dengan kejujuranmu.Semoga Allah senantiasa melapangkan rizkimu,melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepadamu.Dan semoga pula aku bisa menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada buah hati kecilku kelak.Amiin…

* * * * *

 
 
(Dibaca: 17879 kali | Dikirim: 28 kali | Print: 0 kali | Nilai: 8.75/4 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2014, Dudung Abdussomad Toha