| Judi! Menjanjikan kemenangan/Judi! Menjanjikan kekayaan/Bohong! Bila engkau
menang, itu awal dari kekalahan/Bohong! Bila engkau kaya itu awal dari kemiskinan.....Apa
pun nama dan bentuk judi/Semuanya perbuatan keji/Judi....
Hmm.. petikan lagu karya Bang Rhoma Irama ini kayaknya pas sekali dengan kasus
judi togel yang marak banget belakangan ini. Gimana nggak, yang namanya judi
togel, nggak di kampung, nggak di kota. Dari mulai abang tukang becak, abang
tukang bakso, abang sopir, penjual sayur, ibu rumah tangga, petani, sampe pelajar,
mahasiswa dan bahkan pekerja kantoran. Wuih, pokoknya mereka tumblek-blek menyatukan
perasaan dan pikirannya dengan judi togel alias toto gelap. Hanya dengan rumus
“suka-suka” utak-atik angka, keluar tuh angka hoki yang kalo dipasang
dan menang bakal bikin tajir mendadak. Setidaknya itulah anggapan mereka.Naudzubillahi
min dzalik.
Suatu hari seorang teman cerita kalo doi nggak habis pikir dengan ulah beberapa
mahasiswa yang nggak malu dan ragu lagi untuk main togel. Saat itu, sang teman
cerita kalo di sebuah universitas di Bogor, teman-teman mahasiswa harapan bangsa
ini sedang sibuk mengutak-atik angka yang akan dipasangnya lewat permainan togel.
Sang mahasiswa, dengan semangat meramu angka-angka itu bak seorang pakar matematika
untuk menurunkan rumus “suka-suka”. Hasilnya adalah angka yang bakal
dipasangnya malam itu. Walah? Padahal, kalo disuruh ngerjain soal kalkulus mah,
maaf, begonya setengah hidup. Ih, amit-amit deh.
Sobat muda muslim, kita prihatin banget. Terus terang, apa yang mau diandalkan
untuk kemajuan negeri ini di masa mendatang, kalo sekarang generasi ini jadi
cikal-bakal generasi biang togel. Teman mahasiswa selain sibuk memfotocopy diktat
kuliah, juga sibuk mengisi kupon togel. Malah boleh jadi ngisi kupon togel adalah
kebiasaan rutin yang bisa mengalahkan urusan kuliah. Aduh biyuuuunggg.
Wah, wah, wah, togel emang bikin orang jadi bertingkah nggak normal. Tepatnya
kudu dirujuk ke RSJ (Rumah Sakit Jiwa). Gimana nggak, contohnya, ada yang nyari
angka keberuntungan itu lewat mimpi. Hebatnya lagi, mereka punya kitab tafsir
mimpi segala. Caranya dengan mencocokkan mimpi yang dialaminya lalu dicari padanannya
di kitab tafsir mimpi. Soalnya di situ udah ada angka-angkanya. Selanjutnya?
Masang angka itu lewat permainan judi togel. Ada juga yang rela nanya sama orang
gila (lho, ini yang gila siapa?), malah ada yang nggak takut lagi ngedatangin
kuburan dan nginep di sana, dengan harapan dapat wangsit untuk nomor hoki, termasuk
kalo harus melototin plat nomor mobil yang kebetulan ngelewat di jalan. Celakanya
lagi, malah ada yang percaya dengan ucapan anak-anak segala, dengan anggapan
bahwa ucapan anak adalah omongan malaikat. Walah, untuk urusan judi sampe bawa-bawa
malaikat, gimana nggak parah kan? Udah gitu kadang ngomongnya enteng banget,
kayak yang nggak takut dosa, gitu lho. Naudzubillah min dzalik. Dunia...dunia...
Ah, maaf saja, kayaknya emang udah pada nggak waras. Nggak heran dulu ada juga
jenis judi dengan nama PORKAS yang kemudian diplesetkan jadi Putar Otak Rencana
Kaya, Akhirnya Sinting. Kalo TOGEL? Bisa jadi, maaf saja, Tolol dan Gelo (baca:
gila). Ih?
Mengkhawatirkan
Sobat muda muslim, kalo lihat faktanya, batasan antara iseng dan nyandu jadi
tipis banget. Ada yang ngakunya iseng, tapi masangya hampir tiap hari putaran.
Biasanya seminggu bisa sampe lima kali, dengan beragam jenis kupon togel; ada
Singapura, Malaysia, Pek Kong, Tokam, Sampurna, dan Kim. Bayangin, kalo masang
semua jenis kupon itu, udah berapa duit bisa menguap? Itu mah nyandu dong, bukan
lagi iseng.
Pesona togel emang bikin kita miris. Masyarakat jadi pemalas dan dibuai mimpi.
Melihat faktanya, pemasang yang ngejagoin dua nomor hokinya, hanya cukup membayar
seribu perak saja. Dan kalo tembus, sang pengepul (koordinator pengecer) kudu
membayar pemasang tersebut 60 ribu rupiah. Wah, bagi orang yang malas usaha
dan lemah iman, pasti deh tergiur ikutan masang.
Sobat muda muslim, togel udah kayak semut, ada di mana-mana dan kian mengkha-watirkan.
Celakanya lagi, para pejudi adalah kalangan rakyat jelata, yang rela ngeluarin
uangnya demi mewujudkan mimpi menjadi miliuner dadakan.
Ada fakta menarik tapi sekaligus bikin miris, sebuah penelitian menyebutkan
kalangan miskin perkotaan di Jakarta kini mencapai enam juta orang. Dengan perhitungan
minimal, kalau separuhnya (tiga juta orang) terlibat dalam perilaku judi togel
ini dan mengeluarkan uang bervariasi mulai dari Rp 3.000 - Rp 10.000 per harinya,
akan diperoleh 3 juta X Rp 5 ribu (ambil angka rata-rata per orang) sebesar
Rp 15 miliar sehari. (Media Indonesia, 7 Maret 2002)
Judi, apapun namanya kerap memun-culkan penyakit sosial yang super kompleks
(ciee.. ngomongnya serius banget..he..he..he..). Bener, kalo kamu perhatiin
masyarakat miskin ibu kota, mereka terus menerus membeli togel dengan harapan
jadi jutawan mendadak. Bisa dibayangkan, mereka yang menghuni rumah-rumah kumuh
di bantaran kali, di pinggir rel kereta api, hidup susah sebagai pemulung, penghasilan
pas-pasan dari usahanya yang seringnya seret dan cemas dikejar-kejar tibum.
Eh, ternyata uang yang didapat dari kerja susah payah itu harus dikeluarin untuk
beli togel. Harapannya hanya satu, kaya mendadak. Atau paling nggak, bisa mendapat
uang banyak untuk menutupi ‘lubang-lubang’ kehidupannya yang biasa
‘gali lubang tutup lubang’ itu. Di kalangan masyarakat menengah ke
bawah, berlaku hukum, bila lupa membeli togel, berarti janganlah bermimpi kaya
mendadak. Tapi, itu hanya mimpi. Ketika 'terbangun', kepahitan hidup menderanya
kembali.
Sobat muda muslim, kekhawatiran ini semakin menjadi-jadi. Gimana nggak, para
pejudi yang mayoritas rakyat miskin yang terbuai mimpi, tetap dalam penderitaannya,
sementara para bandar hidup senang dan foya-foya mandi duit. Misalnya, satu
bandar di Jakarta beromzet Rp 300 juta hingga Rp1 miliar per malam (Media Indonesia,
7 Maret 2002).
Tentu ini pemandangan yang kontras banget. Perihnya lagi, para aparat dan pejabat
yang seharusnya menjebloskan para bandar itu ke bui, malah rela mengais rejeki
haram dengan mengamankan usaha mereka. Untuk “jasanya” itu, bapak-bapak
oknum aparat dan oknum pejabat bakal menerima uang setoran dari para raja judi.
Bagi yang setorannya ‘kenceng’, dijamin aman usahanya. Kalo nggak
nyetor, itu sih alamat bakal dikarungin! Meski akhirnya dilepas juga kalo udah
ngasih sogokan. Ambil contoh, pekan lalu seorang bandar togel di Cimanggis,
berinisial PA, ditangkap oleh Polda Metro karena bandar ini terkenal 'bandel',
menolak memberikan setoran ke institusi keamanan Ibu Kota ini. Kecuali kepada
keamanan setempat, seperti koramil, polsek, dan Babinsa. Namun, setelah membayar
tebusan Rp 40 juta, bandar ini akhirnya dilepas. (Media Indonesia, 7 Maret 2002)
Coba, gimana nggak mengkhawatirkan kondisi ini. Tapi anehnya, meski udah banyak
yang jadi korban togel, pemerintah milih adem-ayem aja. Sebagian masyarakat
yang teriak protes keras supaya pemerintah menutup bisnis haram ini, tapi rupanya
protes itu dikacangin alias didiemin ama bapak-bapak pejabat dan aparat kita.
Walah?
Sobat muda muslim, kita pantas untuk khawatir dan sekaligus kecewa. Khawatir,
karena kondisi ini bisa tambah parah dan runyam. Bisa menyeret semua orang masuk
ke dalam lingkarannya. Semua bisa jadi nyandu judi togel. Kita kecewa, karena
bapak-bapak pejabat dan bapak-bapak aparat yang harusnya menegakkan hukum, malah
kompakan mengamankan usaha para bandar judi. Teman, inilah salah satu
produk dari sistem kapitalisme. Sistem yang bertentangan dengan Islam.
Haram berjudi
Kondisi masyarakat yang kian jauh dari Islam ini telah membuat mereka hidup
dengan motto “semau gue”. Padahal bagi seorang muslim, hidup di dunia
ini nggak bisa dengan aturan “suka-suka” sesuai selera masing-masing.
Tapi semuanya kudu tunduk pada aturan Allah dan Rasul-Nya. Termasuk dalam urusan
permainan togel ini. Togel termasuk judi, dan jelas hukumnya haram. Firman Allah
Swt.:
Mereka bertanya kepadamu tentang khamar
dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan
beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari
manfaatnya".
(TQS al-Baqarah [2]: 219)
Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah
perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu
agar kamu mendapat keberuntungan
. (TQS al-Mâidah [5]: 90)
Sobat muda muslim, nampaknya nggak banyak masyarakat ngeh soal hukum berjudi.
Atau kalo pun tahu bahwa itu dilarang dalam Islam, alasannya suka ada aja. Tepatnya
“ngeles”. Pura-pura nggak tahu atau nggak mau tahu? Para pejudi bisa
bebas main togel tanpa diusik aparat. Mungkin inipula yang membuat mereka berani
berbuat dosa. Selain yang nekat seperti itu, ada juga yang masih “malu”.
Misalnya, mereka acapkali ngakalin, bahwa ini bukan judi, tapi sekadar permainan
aja. Udah gitu suka ada aja yang bilang cuma iseng. Wah, kamu bisa bilang sama
teman kamu itu, walaupun alasannya cuma iseng, tapi bukan berarti judi jadi
boleh. Tetep aja perbuatan itu haram dan pelakunya akan diganjar hukuman. Dalam
Islam, kasus perjudian ini masuk dalam pembahasan ta’zîr. Artinya,
sanksi untuk kasus ini akan ditentukan oleh seorang hakim (qadly). (Abdurrahman
al-Maliki, Nidzamul ‘Uqubat, Bab Ta’zir, hlm. 203)
Nah, nanti bergantung keputusan hakim, pejudi bisa dicambuk bisa juga dipenjara.
Wah?
Tanggung jawab bersama
Ngeliat faktanya yang makin nggak karuan, tentunya ini kudu segera diselesaikan.
Kalo nggak, kita udah bisa ngebayangin gimana nasib masa depan negeri ini. Ancor
pesena telor, kata Yus Yunus mah. Akibat judi, yang kaya aja bisa jatuh bangkrut,
apalagi yang miskin? Tambah kelelep aja. Yang ada di awang-awang, cuma mimpinya
doang. Dirinya, tetap bergelut dengan kemiskinan. Orang yang begitu, kata Pak
Zainuddin MZ mah ibarat orang makan roti tapi ngimpi. Ya, nggak nikmat dong.
Lebih-lebih bagi teman mahasiswa dan pelajar, kamu adalah masa depan kemajuan
negeri ini. Pelajar dan mahasiswa Islam apalagi, punya tanggung jawab yang besar
untuk memajukan Islam. Gimana jadinya kalo kamu cuma sibuk ngurusin kupon-kupon
togel dengan harapan tajir mendadak. Kata Bang Rhoma, Kalo pun menang adalah
awal dari kekalahan.
Sobat muda muslim, ini tanggung jawab bersama; Individu (termasuk di dalamnya
keluarga), masyarakat, dan juga negara. Semuanya kudu kompakan memberantas togel.
Sebab, inilah tiga pilar penegakan hukum. Kalolah kejadian bahwa ada individu
dan masyarakat yang kebetulan senewen, namun bila penguasanya tegas, maka insya
Allah bisa aman. Karena hukum ditegakkan. Tapi kalo semua pilar penegakkan hukum
roboh, apalagi yang mau diharapkan? Jadi deh, generasi biang togel makin berbiak.
Naudzubillah min dzalik!
__________________________________
Edisi 089/Tahun ke-3 (18 Maret 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|