| Bocah 4 tahun bernama Ferhat Altinbas itu bergegas menuju balkon apartemennya.
Televisi yang saban hari menemaninya masih menyala, ditinggal begitu saja.
Dalam benak terbayang, sebentar lagi akan jadi monster hebat seperti Pikachu
yang bisa melayang. Begitu sampai di bibir balkon, tanpa ba..bi..bu.. bocah
lelaki ini melompat. Hiyaaaatt!
Hasilnya? Bukan monster yang hebat, tapi Ferhat masuk rumah sakit di
Mersin, Turki Selatan. Kakinya patah, beberapa bagian tubuhnya luka cukup
parah. Ketika ditanya dokter perihal perbuatannya yang nekad itu, si kecil
Ferhat menjawab enteng, "Saya Pokemon, dan saya melayang seperti dia."
Peristiwa yang dilansir harian Radikal Daily Turki edisi 30 Oktober
2000 itu hanyalah salah satu contoh, betapa besar pengaruh tayangan televisi
terhadap anak-anak. Ferhat ingin seperti Pikachu, tokoh serial Pokemon
(Pocket Monster), idolanya. Pikachu adalah monster kucing imut-imut
berwarna kuning yang sakti dan selalu menang dalam pertarungan. "Anak-anak
memang banyak meniru tokoh yang dianggapnya sebagai panutan, baik itu orang
tua, guru, ustadz, atau tokoh film yang disenanginya," ujar psikolog Elzim
Kosyiyati.
Konsekuensinya, kalau tokoh yang dicontoh adalah figur yang baik, niscaya
anak-anak akan berlaku baik pula. Begitu pula sebaliknya. Nah, kalau idolanya
adalah Pikachu atau Tinky-Winky, perilaku tokoh itulah yang terekam di
benak anak-anak. Dan tokoh-tokoh semacam inilah yang sekarang banyak diidolakan.
Ajaran Kekerasan dan Syirik
Di mata anak-anak, tokoh-tokoh dalam Pokemon sama tenarnya dengan
Teletubbies. Tayangan animasi dari Jepang ini mulai populer di Indonesia
akhir 1990-an, ditandai dengan munculnya barang-barang memakai bentuk Pikachu.
Tas punggung, peralatan tulis, sapu tangan, lampu meja, sampai ikat rambut
menggunakan tokoh Pikachu. Tak lama kemudian Pokemon menjamur dalam
bentuk VCD, dan akhirnya tersaji dalam siaran televisi.
Di negeri asalnya, film ini sempat memicu protes keras. Sebabnya, sebanyak
1523 anak di berbagai kota di Jepang dilaporkan telah terserang mual-mual,
muntah, pusing, dan matanya perih akibat nonton Pokemon episode
Computer Warrior Porigon (1997). Sebanyak 650 anak di antaranya
harus masuk rumah sakit. Menurut analisis medis, itu terjadi akibat pancaran
sinar merah menyilaukan selama 650 kali selama 5 detik dari mata tokoh
Pikachu. Sinar itu menyebabkan gangguan syaraf dan ritme otak.
Di Inggris juga menimbulkan kontroversi. Dua orang anak berusia 11 tahun
tega menodong anak usia 8 tahun demi mendapatkan kartu Pokemon.
Persatuan Nasional Guru Inggris menilai tontonan ini menjadi penyulut kekerasan
pada anak-anak (Reuters, 4/2000).
Adegan dalam film karangan Satoshi Tajiri ini memang didominasi kekerasan,
tema yang tidak sehat bagi perkembangan jiwa anak. "Dalam psikologi pendidikan,
tayangan semacam itu dapat merusak citra diri anak yang pada fitrahnya
tidak menyukai kekerasan, tapi mendambakan kasih sayang," ujar Elzim Kosyiyati.
Sedangkan Ron Solby dari Universitas Harvard secara terinci menjelaskan,
ada empat macam dampak kekerasan dalam televisi terhadap perkembangan kepribadian
anak. Pertama, dampak agresor di mana sifat jahat dari anak semakin
meningkat. Kedua, dampak korban di mana anak menjadi penakut dan
semakin sulit mempercayai orang lain. Ketiga, dampak pemerhati,
di sini anak menjadi makin kurang peduli terhadap kesulitan orang lain.
Keempat, dampak nafsu dengan meningkatnya keinginan anak untuk melihat
atau melakukan kekerasan dalam mengatasi setiap persoalan.
Di Amerika Serikat, hal tersebut memang terbukti. Sebuah penelitian
yang dilakukan Leonard Eron dan Rowell Huesman menyebutkan, tontonan kekerasan
yang dinikmati pada usia 8 tahun akan mendorong tindak kriminalitas pada
usia 30 tahun (Kompas, 5/2000).
Sedangkan penelitian yang dilakukan Yale Family Television menyebutkan
anak-anak yang menyaksikan program fantasi kekerasan cenderung kurang kooperatif,
kurang baik dalam bergaul, kurang gembira, kurang imajinatif, serta angka
IQ-nya rendah. Pecandu televisi juga pada umumnya sering gelisah dan memperlihatkan
masalah di sekolah.
Ajaran kekerasan tak hanya disosialisasikan Pokemon. Lainnya masih banyak,
di antaranya yang ditayangkan RCTI seperti P-Man, Kobo Chan, dan Panji
Millenium, juga SCTV seperti Samurai X, Kungfu Kids. Di TPI
ada Tazmanian Devil dan Power Rangers in Space, Indosiar menyajikan
Power Rangers Turbo, Ultraman, Dragon Ball, Ninja Hattori, dan sebagainya.
Termasuk tontonan untuk orang dewasa yang akrab dengan anak-anak seperti
Smackdown. Masing-masing mempunyai tokoh utama, dan masing-masing
mempunyai penggemar fanatik.
"Ayo, Smack Down!", kata Zulfikri (5 th) pada adiknya, Amar. Kontan
saja sang adik terjungkal dengan kepala menyentuh lantai. Amar yang masih
berumur 2,5 tahun itu dibanting dengan gaya menirukan acara Smack Down.
Tentu saja sang adik berteriak menangis. Menurut ibunya, Siti Aminah (32),
Zulfi sudah ketiga kalinya ini membanting sang adik menirukan pertarungan
bohong-bohongan yang sering diputar RCTI tersebut. "Ini sudah ketiga kali
lho, kalau diulangi lagi saya hukum kamu," kata sang ibu menasehati Zulfi.
Menurut sang ibu, Zulfi kerap menonton acara gulat tersebut di TV tetangga
pada hari minggu. "Padahal saya juga nggak punya TV", kata ibunya. Sejak
ketiga kali kasus membanting sang adik, Zulfi memang sudah jarang mengulangi
'smack down' pada Amar. Tapi diam-diam, masih sering mempraktekkannya dengan
teman sebayanya bila datang bermain ke rumahnya.
Yang lebih berbahaya, tontonan kekerasan kebanyakan bersinergi dengan
ajaran syirik dan klenik. Di mata da'i Khairu Ummah Ustadz Ihsan Tandjung,
figur-figur Pokemon layaknya representasi dunia jin yang mempengaruhi
anak kita. "Fenomena semacam itu adalah perbuatan syirik, dosa besar mempersekutukan
Allah Swt yang tak terampuni," ujar mubaligh yang kerap muncul di layar
kaca ini.
Ihsan menunjuk beberapa slogan yang kuasa membuat anak 'menuhankan'.
Misalnya 'Selamat datang di dunia Pokemon, dunia khusus di mana orang seperti
Anda dapat dilatih menjadi Master Pokemon nomor wahid di dunia.' Atau,
'Bawalah Pokemonmu dalam saku dan kau siap untuk apa saja. Kau punya kekuatan
dalam genggamanmu, gunakanlah!'
Jangan heran bila Komite Tertinggi Riset Ilmiah dan Hukum Islam Arab
Saudi mengeluarkan fatwa haram, Maret lalu. Alasannya, Pokemon telah
berubah menjadi 'tuhan' yang membuat anak-anak lupa mengerjakan shalat.
Selain itu juga mensosialisasikan Teori Evolusi Darwin, mengusung gambar
bintang Daud segi lima yang menjadi simbol zionisme, dan mendorong perjudian.
Fatwa haram ini akhirnya juga berlaku di semua negeri Timur Tengah. "Semua
produknya, baik VCD maupun asesorisnya, dimusnahkan dan dibakar ramai-ramai,"
ujar Burhanudin Malik, warga Bogor yang kini tinggal di Kuwait.
Pemerintah Turki juga melarang penayangan film animasi yang pernah memakan
korban ini. Begitu pula Amerika Serikat, Inggris, dan Slovakia. Sebuah
gereja Kristen di Meksiko bahkan menyebut permainan Pokemon sebagai
iblis.
Di negeri yang bernama Indonesia, justru sedang berkibar-kibar. "Saat
ini Pokemon dan Doraemon paling laris," tutur Hadi, karyawan
Gramedia Matraman, Jakarta. Di toko ini, buku dan komik terjemahan dari
Jepang yang didominasi kekerasan dan syirik rata-rata terjual 1.250 buku
per hari.
Film dan sinetron berbau klenik juga eksis di televisi. Misalnya Doraemon,
Magic Girls, Mak Lampir, Tuyul dan Mbak Yul, Jin dan Jun, Bidadari,
dan banyak lagi. "Tayangan yang penuh takhyul dan khurafat leluasa masuk
ke dalam pikiran anak-anak kita," ujar Ihsan Tanjung.
Zina dan Durhaka
Berbicara tentang tontonan untuk anak, tentu tak lengkap tanpa menyinggung
Crayon Shinchan. Film animasi yang diputar RCTI ini begitu dikenal
anak-anak. Ratingnya cukup tinggi, yakni 9 hingga 11. Artinya, ditonton
sembilan hingga sebelas persen dari setiap 100 penonton. Namun seperti
halnya tayangan lain, efek negatiflah yang lebih mengemuka. "Film itu jorok,
tak bagus ditonton anak-anak," ujar Slamet, warga Cibubur yang juga ayah
2 anak.
Mau tahu contohnya? Dalam versi komik volume 1, digambarkan orang tua
Shinchan sedang (maaf) menyalurkan hubungan biologis tanpa mengunci pintu
kamar. Shinchan yang terbangun mau buang air kecil, tanpa sengaja masuk
ke kamar orang tuanya dan melihat adegan itu. "Main gulat diam-diam saja,
saya juga mau," kata anak yang konon berusia 5 tahun ini. "Iya, ini main
gulat," sang ibu terpaksa membohongi anaknya demi menghindari malu.
Shinchan juga sering berkomentar seputar pantat, dada, dan bahkan kemaluan
(diri dan orang lain). Hal-hal semacam itu tersaji sebab sebenarnya Crayon
Shinchan memang untuk konsumsi orang dewasa. Pertama kali film animasi
karangan Yoshita Usui ini dipublikasikan dalam Shukan Manga Action (Agustus
1992), majalah komik untuk orang dewasa. Namun karena berupa kartun, anak-anak
pun akhirnya suka. Orang tua terkecoh. Kenapa? Menurut pengamatan psikolog
Seto Mulyadi, orang tua sering keliru menganggap bahwa film kartun hanya
untuk konsumsi anak-anak. "Padahal tidak selalu demikian," ujarnya seperti
dikutip sebuah mingguan ibukota.
Tontonan televisi untuk orang dewasa namun ditayangkan pada jam anak-anak,
cukup banyak. Tayangan ini didominasi oleh sinetron dan telenovela. Karena
tersaji di depan mata, anak-anak pun begitu lahap mengkonsumsinya. Tahun
lalu Kompas pernah melakukan survei tentang hal ini. Hasilnya, 77%
anak suka mengobrolkan acara televisi, 40% di antaranya adalah film orang
dewasa yang menyajikan kekerasan, intrik rumah tangga, serta pelecehan
seksual.
Pada kesempatan lain, survei membuktikan bahwa anak-anak dalam seminggu
menghabiskan waktunya sekitar 68 jam untuk menonton televisi. Padahal program
anak yang tersedia di televisi hanya 32 jam. Artinya, setiap anak Indonesia
menghabiskan waktu 36 jam untuk menonton tayangan televisi yang dipersembahkan
bagi orang dewasa.
Shinchan tak hanya mengajarkan pornografi, tapi juga kebandelan dan
berani kepada orang tua. Tujuh tahun lalu, ibu-ibu rumah tangga di Jepang
ramai-ramai protes. Alasannya, di samping tolol dan menjengkelkan, Shinchan
juga sering menjadikan ibunya sebagai sasaran kebandelan. Dia tak segan
menyebut ibunya dengan istilah 'nenek kejam' atau melecehkannya dengan
kata-kata yang tak pantas diucapkan anak-anak kepada orang tua. Misalnya,
"Mama cantik, kulitnya kasar seperti kulit ikan hiu."
Kendali Orang Tua
Psikolog Jane Healey dalam buku Endangered Minds secara tegas
mengatakan bahwa televisi adalah perusak pikiran anak-anak. Sementara Mary
Winn menyamakan televisi dengan obat bius dan alkohol yang bisa menyebabkan
orang ketagihan. Neil Postman, profesor psikologi dari Universitas New
York, dalam Amusing Ourselves to Death membuat pernyataan lebih
ekstrim, yakni kecanduan itu akan berujung pada kematian.
Bila kita merujuk pada berbagai kasus yang ada, pernyataan di atas tak
salah. Namun, begitu burukkah tayangan televisi untuk anak-anak? Tentu
saja tidak. Banyak yang cukup baik. Menurut pengamatan Elzim Kosyiyati,
film seperti Teletubbies, di samping mengusung nilai negatif, sebenarnya
mampu membimbing anak dalam hal pengenalan warna, menghitung, dan menyayangi
alam.
Elzim juga menunjuk sinetron Keluarga Cemara sebagai tayangan
yang mendidik. "Anak-anak diajak melihat realitas, kerja keras, menghormati
orang tua, dan kasih sayang di antara anggota keluarga. Fitrah anak-anak
memang kasih sayang," ujarnya.
Bagaimana dengan berbagai pengaruh negatif di atas? Ibu dua anak ini
mengajak orang tua untuk terus mendampingi anak-anak dalam menonton. Televisi
adalah realitas sehari-hari anak masa kini, sehingga tak mungkin anak-anak
dilarang agar tidak menonton sama sekali. Yang perlu dilakukan adalah memberi
penjelasan tentang berbagai adegan yang tersaji di layar kaca. "Beri pengarahan
saat itu juga, jangan tunda-tunda sampai hari esok. Apa yang dilihat anak-anak
akan sangat melekat dalam pikirannya."
Tips untuk menghadapi teve
Majalah Intisari menurunkan tips untuk menjaga anak dari pengaruh
buruk televisi. Pertama, sebaiknya orang tua lebih dulu membuat
batasan pada dirinya sebelum menentukan batasan bagi anak-anaknya. Biasanya,
di kala lelah atau bosan dengan kegiatan rumah, orang tua suka menonton
televisi. Tetapi kalau itu tidak dilakukan dengan rutin artinya orang tua
bisa melakukan kegiatan lain kalau sedang jenuh anak akan tahu ada banyak
cara beraktivitas selain menonton televisi.
Kedua, usahakan televisi hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan
hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain
bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat,
berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya, anak-anak
secara umum senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri
maupun bersama orang tuanya.
Ketiga, mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan
apa, kapan, dan seberapa banyak acara yang ditonton. Tujuannya, agar anak
menjadikan kegiatan menonton televisi hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan.
Ia menonton hanya bila perlu. Untuk itu video kaset bisa berguna, rekam
acara yang disukai lalu tonton kembali bersama-sama pada saat yang sudah
ditentukan. Cara ini akan membatasi, karena anak hanya menyaksikan apa
yang ada di rekaman itu.
Keempat, cermati jenis program yang ditonton. Ini penting, sebab
menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap
muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan
tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan
seperti pacaran, rayuan yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya
orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak dan kedewasaan
mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa
memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak-anak
tiba-tiba nyelonong adegan 'saru'. Masalah bahasa memang perlu diperhatikan
agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru.
Kelima, waktu. Kapan dan berapa lama anak boleh menonton televisi,
semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka
bersama. Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru
sore hari. Anak yang sudah bersekolah harus dibatasi, misalnya hanya boleh
menonton setelah mengerjakan semua PR. Berapa jam? Menurut Jane Murphy
dan Karen Tucker produser acara TV anak-anak dan penulis sebaiknya tidak
lebih dari dua jam sehari, itu termasuk main komputer dan video game.
Untuk anak yang belum bersekolah atau sering ditinggal orang tuanya di
rumah, porsinya mungkin bisa sedikit lebih banyak.
Sekalipun anak-anak cuma berjumlah 16% dari populasi dunia, tapi mereka
adalah 100% pemimpin masa depan.
|