| TENTANG alam semesta, sungguh terdapat sifat-sifat yang ekstrem. Mahaluas
sekaligus mahakosong. Ada juga yang mahamampat, mahadingin, dan
mahapanas.
Bagaimana tidak kosong kalau untuk ukuran luas ia hanya terisi sedikit
sekali materi, menghasilkan kerapatan materi 5x10 pangkat minus 30 gram/cm
kubik, atau lima per juta-trilyun-trilyun gram per cm kubik. Adakah
kehampaan seekstrem itu? (Kerapatan air 1 gram/cm kubik).
Sebaliknya, ada obyek di alam semesta yang kerapatannya di ekstrem lain,
yakni yang super-superpadat. Inilah yang disebut black
hole, lubang hitam, atau bintang hantu. Di alam semesta dikenal
dua jenis bintang hantu, yaitu yang lahir sebagai sisa bintang raksasa
biru yang meledak dan yang ada di dekat pusat-pusat galaksi.
Untuk jenis pertama, massanya berkisar 10 kali massa Matahari, atau 10x10
pangkat 33 gram atau 10 juta-trilyun-trilyun ton. Untuk jenis kedua,
massanya bisa jutaan atau milyaran kalinya. Menempati ruang sempit, bisa
dibayangkan kerapatan massa bintang hantu.
Perbandingan populernya adalah kalau saja orang bisa mengambil materi
sebuah bintang hantu, maka berat sesendok teh bintang hantu sama dengan
seluruh Kota New York dengan seluruh pencakar langitnya.
Obyek super-superpadat ini menimbulkan gravitasi yang mahakuat sehingga
apa saja bisa ditarik dan ditelannya, termasuk cahaya. Kalau cahaya
saja ia telan, bagaimana ia bisa terlihat?
Bintang hantu dibuktikan eksistensinya di alam dengan mendeteksi pancaran
sinar-X yang amat kuat dari materi dan gas yang sedang ditelannya, sesaat
sebelum lenyap dari pandangan. Dalam bahasa astronominya, sebelum
ia melewati "horizon peristiwa".
DI satu sudut langit, terdapatlah galaksi
MCG-6-30-15 yang berjarak 130 juta tahun cahaya dari Bumi (1 tahun cahaya =
9.500 milyar km). Di galaksi
ini pengamat melihat satu daerah seukuran orbit planet Mars, kira-kira
lingkaran bergaris tengah 460 juta km yang tampak hitam, kosong.
Ke lubang itulah bintang-bintang dan material bintang selalu jatuh lenyap.
Yang sudah tertelan ditaksir setara dengan seratus juta Matahari. Tak ada
yang dapat meloloskan diri, termasuk cahaya. Ia sepenuhnya hitam, bak
mulut terowongan panjang.
Kalau saja ada yang bisa ke sana dengan wahana antariksa, maka begitu
dekat dengan lubang itu-bahkan sebelum pesawat memulai final descent
menuju kegelapan-pilotnya sudah kehilangan kontrol. Ia akan disapu
oleh arus tak tertahankan, bukan oleh gas atau debu bintang yang
berpusing, tetapi oleh ruang-waktu itu sendiri.
Itulah pandangan baru mengenai bintang hantu, bahwa hendaknya ia tidak
saja dilihat sebagai tempat di mana gravitasi demikian kuat, tetapi juga
sebagai tempat di mana tatanan (fabric) ruang-waktu terus-menerus disedot
ke dalam lubang.
Bintang hantu MCG-6-30-15 adalah bintang yang berputar (spinning) dan
seiring dengan putarannya ia menarik ruang-waktu
sekelilingnya. Kedahsyatan sekaligus kepelikan bintang hantu
ini belakangan memang menjadi sorotan ahli fisika. Majalah Discover Juli
2002 menurunkan laporan utama berjudul Surprising New Physics: Black
Holes-Weirder and more powerful than we ever imagined.
Heboh bintang hantu yang terakhir muncul awal pekan ini adalah laporan
para ahli tentang dua bintang hantu yang sedang mengarah menuju tabrakan
superdahsyat jutaan tahun mendatang. Kedua bintang hantu ditemukan di
pusat sebuah galaksi hasil penggabungan dua galaksi lebih kecil.
Penemuan itu juga menjadi bukti pertama definitif bahwa dua bintang hantu
supermasif bisa eksis dalam sebuah galaksi.
*** YANG berjasa dalam penemuan itu adalah tim peneliti dibantu
Observatorium Sinar-X Chandra yang mengorbit di antariksa. Melalui pengamatan
Chandra, tampak dua bintang hantu saling mengitari satu sama lain
bak menari walsa Mephisto (Mephisto Waltz adalah judul karya piano Franz
Liszt, juga judul film horor yang dibintangi Jacqueline Bisset yang deal
dengan setan, semacam Dr Faust).
Dansa kedua bintang hantu akan diikuti penyatuan, yang ditaksir terjadi
beberapa ratus juta tahun dari sekarang. Para astronom memperkirakan,
penyatuan akan diikuti dengan pelepasan gelombang gravitasi dan radiasi
sangat monumental, yang akan bergerak ke wilayah alam semesta lain.
"Pada saatnya nanti, riak gelombang gravitasi itu akan mencapai galaksi
yang dihuni Bumi," ujar Gunther Hasinger, anggota tim peneliti dalam jumpa
pers yang diadakan NASA di Washington, Selasa (19/11) lalu. Riak tersebut,
meski tak akan dirasakan manusia, akan menggoyang semua materi.
Hasinger sendiri, seperti dilaporkan Warren E Leary di International
Herald Tribune (21/11), adalah ahli astrofisika di Institut Max Plack untuk
Fisika Ekstraterestrial, Jerman. Ia menambahkan, pengamatan semula
terhadap galaksi NGC 6240 - galaksi yang memiliki dua bintang hantu masif
tadi dan berjarak 400 juta tahun cahaya-hanya mendeteksi dua kawasan
pusat yang terang.
Namun, kemampuan Observatorium Chandra mengamati emisi sinar-X beresolusi
tinggi berhasil mengidentifikasi sumber pancaran radiasi bintang-bintang
hantu.
Stefanie Komosa, astronom di Max Planck yang juga salah satu penulis
makalah temuan ini-akan dimuat di Astrophysical Journal Letters-menyatakan,
itulah untuk pertama kalinya peneliti bisa mengidentifikasi bintang hantu
ganda. Ia juga menyebut obyek itu merupakan produk tubrukan dua galaksi di
masa lalu.
Para astronom masih akan menugaskan Chandra untuk memastikan, manakah dari
kedua titik terang (dalam sinar-X) itu yang merupakan bintang hantu
supermasif.
Dari pengamatan Chandra juga diketahui masing-masing bintang hantu di NGC
6240 berukuran sekitar orbit Mars, satu mengelilingi yang lain dengan jarak
3.000 tahun cahaya atau 28,5 ribu-trilyun km.
*** MELIHAT dinamika alam semesta yang amat tinggi, maka apa yang
terjadi di galaksi NGC 6240 bisa saja terjadi di galaksi Bima Sakti atau
galaksi Jalan Susu (Milky Way): galaksi beranggotakan 100 milyar bintang
yang salah satu di antaranya adalah Matahari kita.
Penemuan bintang hantu di NGC 6240 juga menguatkan keyakinan bahwa di
pusat-pusat galaksi terdapat bintang hantu raksasa, dengan massa jutaan
bintang. Dengan fakta itu pula, kini muncul taksiran bahwa dalam tempo
empat milyar tahun lagi Bima Sakti akan bertabrakan dengan galaksi tetangga
Andromeda. Keduanya akan menyatu, meleburkan bintang-bintang hantu
masing-masing jadi satu.
Dengan kata lain, melihat fenomena alam di NGC 6240, "Kita sedang melihat
masa depan kita sendiri," ujar Steinn Sigurdsson, astronom dari Pennsylvania
State University yang ikut hadir pada temu wartawan, Selasa lalu.
Namun, manusia di Bumi tidak perlu khawatir. Menurut Hasinger, selain
kejadiannya masih sangat lama-empat milyar tahun-Matahari sendiri sudah
diperkirakan akan meledak menjadi sebuah nova dalam tempo tiga
milyar tahun mendatang, lalu menjadi bintang katai putih yang seterusnya
akan padam. (nin) |