| MELAWAN Amerika Serikat.Caranya, dengan memboikot semua produk dari
negara adidaya itu. Itulah semangat yang kini sedang menggelora di sebagian
bangsa ini. Sebuah kehendak yang emosional dan naif, tetapi sekaligus juga
patriotik. Sebuah semangat yang tidak tahu diri, tapi sekaligus sebuah cara
ampuh membangun harga diri. Jadi, tidak ada yang aneh dengan kehendak
itu. Meskipun untuk bahan makanan yang paling tradisional sekalipun seperti tahu
dan tempe, misalnya, kita masih amat bergantung pada negeri itu. Terigu juga!
Belum lagi suku cadang peralatan militer. Kalau mau konsekuen, kita juga
harus enyahkan permainan bola basket, yang kini sedang menjadi budaya anak-anak
muda kota. Ucapkan juga selamat berpisah pada produk Coca-Cola, yang kini bukan
lagi sekadar minuman, melainkan sudah menjadi gaya hidup kaum muda. Ucapkan pula
selamat tinggal pada musik rock dan jazz. Semangat `melawan` negeri
superpower itu adalah sebuah keberanian yang luar biasa. Sesuatu yang tak pernah
terlintas ketika zaman normal sekalipun. Kini kita menyatakan perlawanan
terhadap negara adikuasa itu justru ketika kita menderita panjang karena krisis.
Sudah benar, kita memulainya dengan sebuah impian. Impian untuk
`mengalahkan` yang besar dan kuat. Tetapi, tak ada bangsa yang selamanya hidup
dalam mimpi, kecuali hanya untuk mengawali sebuah cita-cita. Maka, untuk
mengalahkan Amerika tidaklah cukup dengan retorika dan pembakaran bendera.
Tetapi, harus dengan kepandaian otak. Jadi, mulai sekarang kita harus lebih
tekun belajar. Kita harus menghabiskan waktu luang tidak untuk ngegosip, tetapi
untuk lebih banyak membaca. Benahi sistem pendidikan kita agar bisa menghasilkan
pekerja-pekerja terampil dan pemikir-pemikir andal. Kita juga harus jauh
lebih bermoral, jujur, bersih (hentikan KKN yang memalukan), dan terbuka
dibandingkan bangsa Amerika. Kita harus bekerja lebih keras! Jangan masuk
politik karena ingin cepat kaya seperti yang kita saksikan sekarang. Hormati
hukum dan jangan sok jagoan seperti Rambo. Lebih dari itu, bersatulah.
Jangan main mutlak-mutlakan. Jangan merasa paling benar. Hormati dan
bertoleransilah pada yang lain. Jangan saling mengenyahkan. Nasionalisme
bukanlah sekadar teriakan, melainkan juga perilaku. Tidak ada pilihan
lain, memang. Inilah syarat utama jika kita bermimpi untuk menjadi pemenang.
Sebuah bangsa tak bisa `mengalahkan` bangsa lain hanya dengan lamunan dan
mimpi-mimpi. Dan, ini pasti~! |