Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Ketahuilah bahwa sabar, jika dipandang dalam permasalahan seseorang adalah ibarat kepala dari suatu tubuh. Jika kepalanya hilang maka keseluruhan tubuh itu akan membusuk. Sama halnya, jika kesabaran hilang, maka seluruh permasalahan akan rusak".(Ali bin Abi Thalib)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
18 Juli 2008 - 01:32
MOS Tanpa Plonco? Bisa Kok!    
gaulislam edisi 039/tahun I (18 Rajab 1429 H/21 Juli 2008)
 

Tahun ajaran baru gini, biasanya musim apaan sih? Yup, pasti musim MOS alias Masa Orientasi Siswa. Hari-hari perdana para pelajar memasuki sebuah lingkungan sekolah baru (SMP dan SMA) diharuskan mengikuti program MOS yang biasanya di-handle ama kakak kelasnya. Berbagai peraturan pun diterapkan, mulai dari membawa tas dari karung beras atau kantung kresek ukuran jumbo, rambut dikucir sejumlah tanggal lahir (bagi cewek) dengan pita warna-warni, pakai sabuk dari tali plastik, sampai kertas dikalungkan bertuliskan nama-nama aneh yang harus diikat di leher sampai kegiatan MOS selesai. Itu adalah sebagian gambaran umum MOS yang berlaku di sekolah-sekolah, termasuk di kampus-kampus perguruan tinggi dengan nama OSPEK. Malah, sangat boleh jadi lebih keras dan lebih sadis, gitu lho. Gawat!

Jaman dulu lebih “error”
Dulu, kegiatan MOS ini dibungkus oleh kegiatan wajib yang bernama Penataran P4 yang booming banget di masa orde baru. Di dalam kelas para siswa dan mahasiswa dicekokin tentang Pancasila, di luar ruangan mereka dikerjain para senior, dari perlakuan biasa sampe yang membahayakan nyawa. Gimana nggak, kalo ternyata para yunior ini ada yang menemui ajal karena dikerjain senior untuk meminum air aki (beeuh, error abis tuh!). Hal ini beneran terjadi di era tahun 80-an. Yup, kalo sekadar bonyok-bonyok karena dipukuli senior, itu hal yang lumrah banget.

Terus di tahun 90-an, MOS dengan selubung penataran P4 udah mulai agak manusiawi. Hukuman fisik sudah mulai dilarang di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Hal ini tidak terlepas dari peran media massa yang banyak memberitakan tentang kekejaman MOS. Sedikit bisa bernafas lega bagi mereka yang masuk tahun ajaran di era akhir 90-an meski belum benar-benar hilang budaya kekerasan ini. Memang sih nggak sampai main pukul ke yunior, tapi hukuman semisal push-up, dan lari-lari keliling lapangan masih kental terasa. Apalagi yang namanya bentakan, masih ada kok.

Aksesoris lain yang menyertai MOS biasanya disuruh pake tas yang nyeleneh. Mulai dari yang berbahan karung goni yang biasa untuk menampung beras hingga karung kain yang biasa dipake tepung terigu. Rambut juga nggak boleh dibiarkan nganggur alias diberi rumbai-rumbai atau pita warna-warni. Persis deh kayak pasien kabur dari RSJ hehehe...

Oya, ada lagi persyaratan tambahan semisal hari pertama bawa coklat dua batang, hari kedua bawa soft drink. Nggak jarang ada yang disuruh bawa lembaran koran/surat kabar dan beberapa ons bawang putih. Alasannya sih untuk dijual kembali dan digunakan bakti sosial. Tapi kalo cokelat dan minuman kaleng, so pasti masuk perut kakak senior dong. Curang yah?

MOS, ajang kenalan dan disiplin?
Banyak yang berdalih bahwa ajang orientasi semacam ini adalah momen perkenalan antara senior dengan yunior, dan begitu sebaliknya. Dengan kekerasan dan tindakan-tindakan ‘kejam’ diharapkan si yunior mudah hapal dan kenal dengan kakak senior. Kenal sih kenal tapi apa asyiknya dikenal seseorang karena kekejamannya? Trus masa’ iya sih, ajang perkenalan harus pake hukuman dan bentakan? Apa nggak ada cara lain yang lebih tepat dan manusiawi?

Saya ingat sebuah sekolah (nggak usah disebutin namanya ye) yang di saat sekolah-sekolah lain masih menerapkan orientasi ala barbar, sekolah ini udah menerapkan MOS yang beda. Pembuatan makalah secara berkelompok, kuis pengasah otak, dan beberapa permainan mendidik menjadi alternatif untuk mengenal sekolah dan seniornya. Tak ada suara bentakan, hukuman fisik atau teriakan kasar senior ke yunior. Keren kan?

Cara di atas jauh lebih efektif dan sesuai dengan tujuan pendidikan daripada sebuah ajang kekerasan di dalam institusi sekolah maupun kampus. MOS dengan kekerasan hanya akan melestarikan budaya kekerasan dari generasi ke generasi. Sang yunior yang dibentak-bentak dan diberi hukuman fisik, pastilah menyimpan sebuah dendam di hati yang itu nantinya akan dilampiaskan ke yunior tahun berikutnya. Selalu seperti ini berulang terus tiap tahunnya. Masih ingat kan kasus IPDN? Lalu yang masih anget adalah kasus kekerasan di dalam kampus STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran).

Oya, alasan tentang perlunya kekerasan dalam MOS sebagai ajang perkenalan, nggak masuk akal. Dalih kedua adalah demi menegakkan disiplin. Apa iya disiplin bisa diterapkan dengan cacian dan makian? Naif banget alasan itu.

Mengapa ini terjadi?
Budaya kekerasan dalam dunia pendidikan adalah hal yang aneh dan tak masuk akal bagi mereka yang masih berakal sehat. Lha wong pendidikan itu gunanya untuk mengubah perilaku dari yang semula tidak terdidik menjadi generasi yang terdidik. Pernah dengar istilah ‘kayak orang nggak berpendidikan aja’ bila ada seseorang atau oknum terdidik tapi melakukan tindakan-tindakan yang nggak semestinya? Itu artinya, tujuan pendidikan memang seharusnya melahirkan orang-orang dengan perilaku selayaknya orang terdidik. Nah, kalo ada orang-orang yang berpendidikan tinggi namun masih menerapkan sikap dan perilaku kayak orang nggak berpendidikan, siapa yang salah?

Coba kita telusuri satu per satu adanya kekerasan di dunia pendidikan. Nggak peduli level SMP, SMA, perguruan tinggi negeri maupun swasta bahkan sekolah tinggi milik negara, semua aktivitas yang terjadi di dalamnya termasuk kegiatan MOS pastilah atas sepengetahuan dan izin atasan. Bo’ong banget kalo ada pimpinan sekolah, kampus, atau institusi yang mengatakan nggak tahu adanya budaya kekerasan di dalam wilayah yang dipimpinnya. Toh nyatanya bila sang pemimpin tegas dengan ancaman pemberian sanksi bagi yang masih melanggar, maka angka kekerasan di dunia pendidikan bisa juga ditekan.

Masalahnya, nggak semua orang yang punya kedudukan sebagai pemimpin punya ketegasan sikap. Banyak dari mereka yang seolah-olah nggak peduli adanya penyimpangan dalam lembaga yang dipimpinnya. Ini semua hal yang lumrah banget terjadi akibat kebingungan pihak pemerintah sendiri dalam merumuskan tujuan pendidikan. Aduh, kacau banget kan? Ya, memang menyedihkan.

Solusinya, gimana dong?
Maksud awal masa orientasi itu sesungguhnya positif yaitu untuk pengenalan lingkungan sekolah atau kampus kepada calon penghuni baru termasuk para senior. Masa orientasi ini jadi negatif ketika disalah-gunakan dengan kekerasan meski dalihnya demi kedisiplinan. Kedisiplinan nggak mungkin bisa ditegakkan dengan bentakan, cacian bahkan tonjokan. Bila pun ada yang terlihat disiplin akibat diterapkannya sistem ala preman ini, bisa dipastikan itu hanya semu belaka.

Saya dulu punya teman yang disiplin banget dengan diterapkannya MOS dengan bentakan, cacian dan hukuman fisik. Tapi apa yang terjadi ketika waktu sholat tiba? Ia santai aja tuh, nggak tergerak untuk segera ambil wudhu dan menunaikan sholat. Kalo benar kedisiplinan ada pada dirinya sebagaimana dia tunduk di depan senior, maka seharusnya ia lebih tunduk dong di hadapan Sang Mahakuasa (karena pasti di atas segalanya). See, ternyata kedisiplinan dengan kekerasan hanya menghasilkan hal yang palsu saja. Bahkan banyak terjadi, yunior bersikap sok menantang senior bila ia semakin ditekan untuk tunduk dengan kekerasan.

MOS yang santun bisa diterapkan kok di tengah budaya teriakan dan hukuman fisik. Saya dulu pernah mencobanya ketika SMA jadi senior, dengan menerapkan hukuman yang berbeda ketika ada yunior yang melanggar peraturan. Suruh aja tuh yunior menghapal ayat Qursy atau surat-surat pendek lainnya. Terus ajak dialog tentang motivasi dia melanggar dan apa penyebabnya. Dijamin deh, selain muka kakak senior nggak perlu harus kayak Nenek Lampir dan Si Gerandong karena teriak-teriak biar kelihatan sok jahat, sikap ini jauh lebih terlihat bijak dan manjur menekan angka pelanggaran. Dengan cara ini, saya dulu jadi spesialis menangani yunior-yunior bengal yang sulit diatur (ciee… kagak maksud nyombong lho…)

Intinya, para yunior itu adalah manusia yang punya akal dan hati. Sentuhlah kedua hal ini (akal dan perasaannya), maka sebengal apa pun karakter manusia, insya Allah bisa disembuhkan kok. Selain tidak menimbulkan dendam, cara elegan ini bisa membuat seseorang mendapat hidayah dengan semakin tebalnya iman dan keyakinannya terhadap keindahan Islam yang penuh dengan kelembutan.

“Sekolah/kampus saya bukan sekolah/kampus Islam”, mungkin di antara kamu ada yang berdalih. Harap tahu saja, saya pun tak pernah bersekolah atau masuk kampus Islam. Tapi bisa tuh cara di atas diterapkan. Buang pikiran kamu yang terkotak-kotak antara sekolah/kampus Islam dan umum. Pola pikir kayak gini khas banget milik para sekuleris alias mereka yang suka memisahkan agama dengan kehidupan. Padahal kalo Islam, nggak berlaku tuh yang namanya sekularisme. Munculnya carut-marut pendidikan termasuk penyelenggaraan MOS ini, yang pasti adalah karena dihilangkannya unsur keimanan dan ketakwaan dalam kurikulum. Ada sih, tapi secuil dan banyak guru yang nggak bisa cara ngajarinnya, karena antara ilmu dan amal nggak nyambung.

Sudah saatnya kita semua, tidak peduli sekolah/kampus Islam atau umum, balik ke sistem pendidikan Islam yang bertujuan menciptakan generasi berkepribadian Islam juga. Yang namanya kepribadian Islam, standarnya dalam berbuat pasti Islam juga dong. Jadi, nggak perlu tuh pemerintah teriak-teriak melarang perpeloncoan berkedok MOS. Sudah otomatis orang yang punya kepribadian Islam nggak akan melakukan sesuatu yang melanggar syariat Islam, termasuk penggunaan kekerasan dalam area pendidikan.

Jadi ternyata, Islam itu solutif banget yah. Bahkan dalam penyelenggaraan MOS pun, bila acuannya Islam maka tak perlu ada masalah kayak gini. Jadi udah saatnya deh negeri ini menoleh ke Islam bila menginginkan kehidupan generasi yang lebih baik. Supaya fenomena kekerasan ala IPDN, STIP atau genk motor dan Gank Nero bisa diberantas tuntas bila pihak yang berwenang menghendaki kebaikan bagi para siswanya.

Oya, buat kamu-kamu yang kebetulan jadi panitia MOS atau OSPEK, jangan takut untuk memberikan nafas segar bagi dunia pendidikan kita dimulai dari keberanian kamu menawarkan konsep Islam yang indah ini. Mau kan kamu jadi agent of change ini? Harus dong, karena imbalannya nggak main-main, yaitu berupa kemuliaan di dunia dan pahala di akhirat kelak. Asyik kan? [ria: riafariana@yahoo.com]

 
 
(Dibaca: 6783 kali | Dikirim: 0 kali | Print: 0 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2014, Dudung Abdussomad Toha