Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada sosokmu dan hartamu, tetapi Dia akan melihat kepada hatimu dan amalanmu." (HR. Muslim)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Bebas
29 Maret 2006 - 16:40
Pak Ketuí       
 

“Ass, ukh besok rapat ba’da dzuhur di masjid. Agenda: penyambutan maba, presentasi dan tugas masing-masing divisi. Tolong sebarkan ke yang lain.” Kira-kira begitu sms dari pak ketu’.

Yah rapat lagi deh. Ups jangan mengeluh ah. Semangat, semangat, Allahuakbar!

Aku mengirim sms kepada beberapa ukhti yang lain.

Setelah keesokan harinya, “Assalamualaikum ……….” Terdengar suara pemimpin rapat membuka acara. Lagi-lagi rapat dipimpin oleh sekjen. Kemana pak ketu nya? Bukannya dia tuh yang nyebarin sms? Emang susah punya ketua yang aktif di BEM, apalagi dia juga aktif di luar kampus.

Ih, udah lah. Kembali fokus ke rapat aja.

OSPEK kali ini bakal beda banget, karena banyak anggota LDK yang menjadi panitia OSPEK, mulai dari sie.acara sampai sie.konsumsi. Malah Ketua Pelaksananya ya.. Ketua LDK kita. So, pasti nggak pake kostum yang macem-macem deh yang nggak mendidik gitu dan acaranya insya Allah bermanfaat.

“Untuk pamflet tentang seluk beluk LDK disebarkan saat kita presentasi, dan untuk menyambut MABA akan diadakan acara Star Night, 2 minggu setelah ospek.” Seru pemimpin rapat itu membuyarkan lamunanku.

Afwan, apa tidak terpecah konsentrasi MABA apabila pamflet disebarkan ketika kita presentasi? Lebih baik biarkan MABA konsentrasi dengan apa yang kita presentasikan” usul dari Teh Lya yang sesepuh akhwat di kampus ini.

Yah, pokoknya terjadi perbedaan pendapat antar anggota rapat deh. Tapi tentu saja tidak sampai adu jotos lho, namanya juga rapat ya nggak? Kalo nggak gitu kan nggak seru.

Tapi akhirnya kami mencapai mufakat kok. Yang hasilnya Star Night diadakan 2 minggu setelah ospek, pamflet tentang seluk beluk LDK tetap disebarkan saat presentasi, lalu materi presentasi diserahkan semua pada ikhwan.

Kita, akhwat tau berezzz… aza. Bahasa aktivisnya mah tsiqoh deh. Hii..hi..hi…

Ospek tinggal seminggu lagi, suasana dikampus sangat sibuk sekali. Apalagi anak-anak BEM uuhh… sampai pulang malam terus, bahkan ada yang nginep. Biasa jaga barang-barang. Kacian deh kayak penjaga gudang aja ya….

Akhirnya ospek telah tiba, kami tentu saja telah bersiap siaga menyambut MABA dan bertugas menurut divisi masing-masing.

Wahh… memang capek dan susah ya menangani banyak orang itu. Kebetulan aku bertugas menjadi pendamping kelompok.

Macam-macam deh sifat orang itu, ada yang bisa diatur, ada yang cuek dan ada juga yang susah diatur. Subhanallah!

“Teh, pulpen yang bisa terbang itu apa ya?” tanya salah satu anggota kelompokku itu.

Aduh, apa ya…. Tapi apa boleh, aku membantu mereka? Ah, nggak apa-apa lah, aku kan pendamping kelompok, so memang harus membantu mereka kan.

“Apa ya… coba kalian selidiki apa saja merek pulpen yang ada atau iklan-iklan tentang pulpen.” Jawabku, padahal sich aku juga nggak tahu. Aneh-aneh aja sich permintaan sie.acara itu.

"Tuh kan teteh aja nggak tau, apalagi kita. Ya nggak temen-temen?” salah  satu MABA di kelompokku itu mencoba memprovokatori. Kalo tidak salah namanya Rido.

“Yes, aku tahu. Pasti pulpen Pilot. Pesawat kan nggak bisa terbang tanpa pilot.” Celetuk ketua kelompok

“Oia bener!!!” jawab anggota kelompok yang lain kompak.

Aku hanya senyam-senyum saja, iya sich bener juga. Nggak salah dong dia jadi ketua kelompok.

Malamnya, setelah ospek hari pertama BEM plus seluruh panitia ospek mengadakan LPJ(tau kan kepanjangan dari LPJ, iya Laporan Pertanggungjawaban) kepada MPM alias Majelis Perwakilan Mahasiswa. Maksudnya sich supaya hari esok lebih baik dari hari ini.(Ciyyeeee. …..kayak judul lagu Shaffix aza ya.)

Baru juga LPJ dimulai lima menit yang lalu, tapi suasana sudah kian memanas. MPM terlalu teoritis dan terus menuntut idealis sedangkan BEM plus panitia ospek menganut fakta dan keadaan di lapangan. So pasti lah nggak bakal akur. Sebenarnya, aku perhatikan antara MPM dan BEM plus panita ospek itu nggak ada yang salah semuanya benar, hanya saja butuh pengertian dari pihak MPM untuk memaklumi kinerja BEM plus panitia ospek yang nggak mungkin sempurna dan pengakuan BEM plus panitia ospek atas kinerja yang kurang optimal dikarenakan beberapa faktor yang memang tidak bisa dikendalikan.

Eh, tapi lihat tuh ketua pelaksananya aja diam aja lho. Kenapa ya?

“Maaf, yang tadi itu pembicaranya terjebak macet, jadi kita majukan acara yang selanjutnya. Kita tidak bisa kan mengendalikan macet di kota ini?!” bantahnya dengan singkat dan jelas sekaligus mematahkan argumen dari salah satu anggota MPM yang sedari tadi memprotes soal acara yang tidak match dengan waktu yang telah direncanakan.

Wuiiiihhhh… dia nggak banyak bicara, tapi dengan yang sedikit itu dapat menyelesaikan cekcok  argumen yang sedari tadi tak kunjung usai.

Memang sich Pak Ketu’ yang sekarang dikenal cool(ciyyye… jangan GR dech!), terus agak pemalu, cuex, dan jarang mengucapkan salam beda banget sama Pak Ketu’ angkatan yang lalu. Itu sich kata kebanyakan anggota LDK, terutama yang akhwat. Mungkin itu mah bagian yang jarang ditegur kali yee… Kacian dech! Tapi lain lagi kalo kata Teh Sasa teman sekelasnya, Pak Ketu’  itu, orangnya malah lucu banget, suka ngabodor dan yang pasti hyperaktif. Ah nggak tau dech, entah tingkatan humor yang berbeda atau memang Pak Ketu’ mempunyai karakter double ya?

Walaupun begitu, Pak Ketu’ itu ada juga lho yang ngefans. Teman sekelasku, namanya Ina. Dia sich kenal dengan pak Ketu’ waktu ikut suatu Pelatihan, kebetulan aku juga ikut. Dia sich nanya, siapa nama dan tingkat berapa. Yah, aku kasih tau aja.

Beberapa minggu setelah Pelatihan, Ina bilang, “Eh, aku ngefans nih sama si akang itu. Nih, aku sms-an sama dia. Aku ngucapin selamat Ulang Tahun.”

“Apa, sms-an? Met Ultah? Darimana kamu tau no.hp dan tanggal lahirnya?” tanyaku terkejut. Aku aja yang sudah satu tahun satu organisasi dengan dia nggak tau tanggal lahirnya.

“Dia sendiri yang ngasih kartu namanya, dan di dalam kartu namanya itu tertera tanggal lahirnya.”jawab Ina senyam-senyum, dia masih happy baca-baca sms dari Pak Ketu’

“Coba aku lihat dong, smsnya.”sambungku sambil merebut hp Ina yang sedang dipegangnya.

Haaahh….disana hanya tertulis dua kata yakni TERIMA KASIH. Ngapain lagi ucapan terima kasih diliatin sampe gitu-gitu amat. Ina….Ina…..

“Memang kenapa sich kamu suka sama akang itu?”tanyaku penasaran

“Aku suka karena dia itu pendiam, cuex jadi terkesan cool gitu. Bikin aku penasaran.”jawab Ina dengan semangat empat limanya

Aku sich manggut-manggut aja, mengiyakan.

“Tau nggak, kenapa aku di kasih kartu namanya?” Ina balik tanya

“Nggak.”jawabku

“Aku tuh ngajak dia kenalan, bayangin aku udah mengulurkan tanganku. Eh, dia tidak membalasnya malah ngasih kartu namanya itu.”lanjut Ina

Lagian, ikhwan diajak salaman, kataku dalam hati. Ina aneh-aneh aja.

“Terus aku juga sms dia ngucapin met Ultah, sampe tiga sms karena aku ngirim gambar. Eh, dia Cuma jawab dengan kata terima kasih tok. Gimana aku nggak penasaran coba?” sambung Ina

Kasihan ya…. Pak Ketu’ dia bersikap tegas seperti itu malah ada yang ngefans, ngebuat Ina penasaran. Tapi kalo dia nggak tegas malah tambah berbahaya. Jadi bagaimana seharusnya sikap ikhwan itu ya? Ah, nggak tau dech. Cari aja sendiri dibuku!

Malam ini kami mabit(eit.. tapi bukan makan, bincang-bincang, tidur ya… Insya Allah) di masjid, memang mabit adalah program kerja divisi Pendidikan dan Kaderisasi setiap sebulan sekali. Tapi kali ini mabit khusus pengurus jadi anak tingkat satu alias anggota tidak diikutsertakan.

Acaranya malam ini adalah evaluasi kerja setiap divisi, karena memang sebentar lagi kepengurusan LDK akan regenerasi.

Yang pertama presentasi divisi dakwah dan syiar, divisiku! Sang koordinator dengan lancar mempresentasikan program rutin divisi kami. Tapi setelah sampai pada program insidental yang nggak lain nggak bukan adalah program kerja yang aku tangani beliau terbata-bata dan melimpahkan padaku untuk mempresentasikan program tersebut.

Aduh, mati aku! Memang aku belum menjalankan program itu, karena beberapa hal.

“Assalamualaikum, afwan memang program ini belum bisa dilaksanakan karena proposal belum sampai ke atas. Tapi proposal sudah ana serahkan ke Kang Putra(Pak Ketu’) hanya saja beliau belum sempat mengajukannya ke atas. Entah kenapa ana juga tidak tahu. Apakah ada Kang Putra?” tanyaku kepada anggota syuro yang ikhwan.

“Tidak ada, katanya beliau sedang ke luar kota.” Jawab koordinator divisiku.

Apa ke luar kota? Kok gitu sih! Aku disini sedang susah-susah eh dia malah lagi keluar kota. Masalahnya tuh proposalku itu ada di dia. Yah dia malah pergi. Ahh… aku pusing!

“Lalu bagaimana tentang dana yang dianggarkan di proposal? Katanya sudah sampai di ukhti.”tanya Kang Rahmat yang koordinator divisi Dakwah dan Syiar itu.

Deg jantungku hampir copot. Wah, ditanya tentang uang. Uang umat lagi!

“Iya betul, dana itu sudah ada di ana. Begini, sebenarnya program itu sudah hampir selesai dan itu sudah mengeluarkan banyak biaya. Tapi masih menggunakan dana ana pribadi. Lalu, Kang Putra menggantinya dengan menggunakan uang dari DKM dulu. Jadi, apabila proposal itu sudah di acc, maka dananya akan diberikan ke DKM untuk menggantikan uang yang kemarin itu.” Jawabku dengan hati-hati.

“Afwan, bukannya kami tidak percaya dengan ukhti. Hanya saja lebih baik kalau masalah dana butuh transparansi yang jelas.” Sambung Kang Rahmat.

“Iya.” Lanjutku singkat

“Afwan, berhubung sebentar lagi masa kepengurusan akan berakhir, bagaimana kalau program ini ditunda sampai kepengurusan baru saja.” Usul dari Nugi.

Apa, ditunda? Yah, aku sudah menyusun program dengan sedemikian rupa. Kok ditunda sich?

“Assalamualaikum, ana rasa masih ada waktu untuk meluncurkan program ini. Afwan memang ana yang  salah. Ana menunda mengajukan proposal ini karena baru seminggu yang lalu kita mengajukan permohonan dana untuk mengirim perwakilan ke FSLDK seBandung Raya. Kan tidak enak baru juga mengajukan permohonan dana eh… seminggu kemudian mengajukan proposal lagi. Lalu, karena ditunda seminggu, proposal itu sudah rusak. Maklum ana menyimpannya sembarangan. Jadi, ana ketik ulang dengan dibantu oleh Kang Isa.” Sela Pak Ketu’  yang tiba-tiba datang mengejutkan.

Seneng sich dibelain tapi sebel juga kenapa proposalku disimpan ditempat sembarangan. Dasar ikhwan!

“Ana minta maaf kepada ukhti Sarah dan juga kepada antum semua. Tapi proposal besok sudah bisa diajukan kok. “ sambung Pak Ketu’

Uufffhh… programku yang paling lama dan paling rumit dibahas, tapi akhirnya selesai juga evaluasi dari divisi Dakwah dan Syiar, kemudian dilanjutkan dengan divisi Pendidikan dan kaderisasi dan Keputrian.

Kami tingkat dua diperkenankan untuk istirahat duluan. Sedangkan pengurus yang tingkat tiga masih melanjutkan rapat untuk membahas interview dan LDK(Latihan Dasar Kepemimpinan) untuk calon pengurus yang baru termasuk tingkat dua. Padahal sudah jam dua belas lho.

Alhasil kami semua(tingkat dua apalagi tingkat tiga) kesiangan. Kami bangun pukul setengah empat jadi shalat tahajjudnya tidak berjamaah. Padahal rencananya mau mengundang ustadz untuk mengimami shalat tahajjud dan muhasabah pukul dua malam.

Aduh benar-benar sejarah dech, mabit kesiangan. Mabit pengurus gitu loh. Untung anak tingkat satu nggak ada, kan malu! Eh, mabit ini bertepatan dengan hari ulang tahunku lho. Klop dech pengalaman ulang tahunku tahun ini.

Setelah dua minggu dari pengajuan proposal barulah programku bisa diluncurkan. Aku ucapkan terimakasih banget sama kang Rahmat yang telah membantu dari mulai sampai selesai. Ah, akhirnya tanggungjawab ini tertunaikan sudah.

Hari ini kami para calon pengurus mengikuti acara Latihan Dasar Kepemimpinan. Di belakang, aku dengar panitia meributkan tentang berapa isi filmnya. Memang yang mengisi kamera itu, aku. Yah, walaupun panitianya tingkat tiga semua, tapi aku ikut bantu aja.

“Sa, berapa isi film ini?” tanya Pak Ketu’ pada Teh Sasa yang ketua Keputrian itu.

“Ana nggak tau, Put.”jawab Teh Sasa

Ya jelas teh Sasa nggak tau karena aku yang membeli film itu.

“Gi, berapa isi film ini?”tanya pak Ketu’ kembali pada Nugi

“Nggak tau, Kang. Kemarin Sarah yang beli. Tanya aja ke Sarah.”jawab Nugi.

“Sa, kamu aja lah yang tanyain ke Sarah.”pinta Pak Ketu’

“Sarah, anti yang beli film ini? Terus berapa isinya?”tanya teh Sasa

“Oh iya teh, isinya yang tiga puluh enam.”jawabku

Kenapa nggak Pak Ketu’ aja yang nanya sendiri ya. Pemalu kali. Atau mejaga hijab kali.

Akhirnya tiba saatnya suksesi LDK! Biasa mabit malam minggu lagi. Soalnya nggak mungkin me-match-kan jadwal kosong kami selain malam minggu plus hari minggu.

Acara baru di mulai ba’da Isya, kami digiring ke ruang 206 untuk pembacaan LPJ oleh Pak Ketu’.

Pertama, pemilihan pemimpin sidang beserta atributnya. Barulah sidang dimulai. Tau nggak pemimpin sidang siapa? Kang Isa! Yang terkenal ikhwan paling tegas di kampus ini. Dan wakilnya Kang Rahmat.

Pak Ketu’ membacakan LPJnya mulai dari pendahuluan sampai penutupan. Dan tibalah masa yang ditunggu-tunggu. Ya, tanya jawab!

Kang  Aries menyatakan menolak LPJ tersebut. Karena terlalu banyak program yang belum terlaksana dan banyak terjadi kesalahan pengetikan pada keuangan.

“Yah, afwan memang ana kurang teliti dalam pengetikan itu. Karena terlalu banyak data jadi ana nggak sempet teliti satu-satu anggaran per kegiatan.” Teh Lya mencoba mengklarifikasi

“Nah, maka dari itu LPJ ini tidak bisa diterima kan?”sambung Kang Aries.

“Tapi apa tidak bisa dipertimbangkan kembali, hanya karena salah pengetikan LPJ harus ditolak. Apa tidak bisa dilihat dari segi pandang yang lain.”bantah Teh Lya lagi

“Oh, kita nggak bisa dong, menganggap kecil hal yang kecil. Apalagi masalah anggaran.”lanjut Kang Aries.

Aduh, aku pusing kalau sudah begini. Suasana menjadi sangat memanas. Parahnya anggaran yang salah itu adalah anggaran programku! Iya, aku selalu saja ceroboh, aku selalu saja salah. Kasihan Teh Lya, beliau selaku bendahara umum memang berat. Bayangkan saja beliau harus me-list anggaran plus pengeluaran kegiatan LDK selama setahun!

“Sebetulnya, Kang Aries itu bagus lho. Dia memancing agar suasana disini hidup. Memacu kita agar semuanya aktif.”opini ukhti Ati berbisik padaku.

Bagus sih bagus tapi dia nggak ngasih solusinya tuh. Uuufffhh….

Eh lihat tuh Pak Ketu’ hanya diam saja. Kenapa ya? Sariawan? He..he..he…

“Begini, memang LPJ ini ada salahnya tapi apakah kita tidak bisa melihat kelebihan yang telah dilakukan oleh kepengurusan Kang Putra. Jadi ya, mungkin bisa diterima tapi……….”saran seorang ikhwan tingkat satu yang masih terpotong.

“Lho, nggak bisa dong.”sahut Kang Aries cepat

“Afwan, Kang Aries jangan memotong pendapat anggota rapat yang lain.”seru Kang Rahmat yang membuat suasana semakian riuh.

“Oh, iya afwan. Silahkan lanjutkan.”jawab Kang Aries.

“Iya, maksudnya diterima dengan syarat. Soalnya nggak mungkin kalau diulang dari awal.”lanjut ikhwan tadi.

“Kenapa nggak ada waktu. Kalau memang banyak yang salah harus dibenarkan bukan?” sambung Kang Aries.

“Afwan, ana akan menerima keputusan apapun yang disetujui oleh forum. Kalau memang harus direvisi dari awal, insyaAllah kami siap.”seru Pak Ketu’ yang membuat suasana menjadi hening sejenak.

“Iya, ana kan termasuk dalam forum ini juga kan? Ana hanya menyampaikan pendapat ana saja.”jawab Kang Aries yang mungkin tersinggung atas pendapat Pak Ketu’

“Islam kan mengajarkan kita agar saling memaafkan. Bagaimana kalau kita memaafkan saja pengurus LDK ini.”saran salah satu ikhwan yang sempat mengundang tawa sehinggga suasana agak cair.

“Masalahnya bukan maaf memaafkan, tapi ini masalah tanggung jawab. Tanggung jawab kepada umat terutama tanggung jawab kepada Allah” Bantah Kang Aries lagi.

“Ana harap keputusan tetap ada di pimpinan sidang!”sela Pak Ketu’

“Baik, kita break lima menit.”seru Kang Isa selaku pemimpin sidang.

“Kami memutuskan voting dengan pilihan, diterima, diterima dengan syarat atau ditolak.”keputusan dari pemimpin sidang itu.

“Tapi kan sebaik-baik keputusan yang melalui musyawarah.”protes Kang Aries

“Bukannya sedari tadi kita sudah bermusyawarah?”tanya Pak Ketu’

“Lho bukan dong, tadi itu kan hanya tanggapan saja.”jawab Kang Aries

“Afwan, masalahnya dari tadi kita tidak pernah sepakat sedangkan waktu terus berjalan kian larut.”jawab Kang Isya

“Begini saja, kita voting siapa yang ingin voting dan siapa yang ingin musyawarah.”saran Kang Rahmat

“Oh, jadi voting untuk voting?”tanya salah satu ikhwan

“Iya”jawab Kang Rahmat

Anggota rapat diam. Mungkin tanda setuju kali ya.

Ternyata setelah divoting lebih banyak suara yang memilih voting.

“Tapi, ana harap para pengurus tidak dikutsertakan dalam voting LPJ ini.”usul kang Aries.

“Iya, tentu.”jawab Kang Isa

“Diharapkan para pengurus dipersilahkan keluar selama diadakan voting.”seru Kang Isa

Kami para pengurus kumpul di ruang 205. Kami semua terdiam dan merenung. Kami siap apabila harus merevisi dari awal.

“Salahnya kenapa ketua LDK masuk dewan syuro sehingga mengakibatkan LPJ tidak diperiksa lagi. Itu yang menjadi bomerang untuk kita sendiri. Biarlah biar menjadi catatan untuk kepengurusan berikutnya.”Pak Ketu’ memecah keheningan

“Afwan, LPJ itu cacat di keuangan”tambah Teh Lya

“Bukan cacat, hanya saja masih kurang teliti.”jawab Pak Ketu’

Subhanallah bijaksana banget ya…

”Ana betul-betul minta maaf kepada semua pengurus, baik tingkat tiga maupun tingkat dua. Ana akui, ana kurang komunikasi dengan tingkat dua terutama yang akhwat. Mungkin karena segan, malu dsb. Sekali lagi ana minta maaf.” Aduh, kita semua jadi terharu.

Aduh aku jadi sedih nich. Aku juga banyak dosa sama Pak Ketu’. Suka su’udzon kepada beliau. Maafin aku ya Pak Ketu'.

“Kenapa tadi ana banyak diam, karena ana tahu ana memang salah. Rasanya aneh kalau memang salah tapi tetap membela diri. Itu sama saja  merendahkan diri sendiri.”sambungnya lagi

Aduh aku jadi tambah kagum nich dengan pak Ketu’ kita ini.

Setelah voting selesai dilaksanakan, kami pengurus dipanggil kembali ke ruang 206. Dan hasilnya adalah diterima dengan syarat dan diberi waktu revisi selama seminggu dari sekarang.

Dengan keluarnya keputusan itu, maka berakhirlah sidang malam itu. Dilanjutkan dengan istirahat.

Pukul tiga pagi kami bangun untuk menunaikan shalat tahajjud, lalu dilanjutkan dengan shalat Subuh.

Berhubung ustadz pengisi kuliah subuh tidak datang maka acara suksesi LDK dimajukan. Tapi sebelumnya Pak Ketu’ memberikan wejangan kepada calon amir LDK yang akan terpilih.

“Ciri Amir yang baik yaitu memiliki sikap takwa, hayya’(malu), sabar dan syukur.”

Setelah memberikan wejangan, lalu beliau pun menyebutkan kandidat amir LDK.

“Setelah dewan syuro’ melakukan musyawarah, maka kami memilih kandidat amir LDK yakni akhi Rizky, akhi Nugi dan akhi Aman. Kepada yang disebutkan namanya harap maju ke depan” pernyataan pak Ketu’ itu disambut dengan suara riuh dari anggota syuro’ yang terkejut mendengarkan nama para kandidat.

“Ukh, kok bisa-bisanya sih akh Rizky jadi kandidatnya. Beliau kan sudah menjadi Ketua HIMATIF (kepanjangan dari Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika)” keluhku pada ukhti Sofi.

“Iya yah, khawatir konsentrasi beliau akan terpecah.”jawab ukhti Sofi

Yah memang LDK tahun ini, khususnya angkatanku kekurangan ikhwan. Ikhwan 2003 yang aktif hanya tiga orang. Itupun yang satu tidak hadir hari ini. Maka dari itu akhi Aman yang tingkat satu dipilih jadi kandidat.

Setelah para kandidat itu maju ke depan, pak Ketu’ memberikan aturan bahwa semua anggota syuro’ boleh bertanya kepada para kandidat mengenai hal apa saja baik organisasi, ilmu keislaman ataupun yang lainnya.

Alhasil banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari peserta syuro’.

Aku pun sulit mendapatkan kesempatan bertanya karena terlalu banyak pertanyaan dari peserta yang lain.

Tapi akhirnya aku mendapatkan kesempatan itu.

“Afwan, pertanyaan ini ana tujukan untuk akhi Rizky,antum kan telah diamanahi menjadi ketua HIMATIF, lalu seandainya hari ini antum terpilih menjadi amir LDK. Manakah yang antum prioritaskan? Apakah tidak khawatir konsentrasi antum akan terbagi?”tanyaku

“Iya, itulah pertanyaan yang sedari tadi saya tunggu-tunggu” Pak ketu’ berkomentar kebetulan memang pak Ketu’ yang memimpin syuro’

“Insya Allah ana akan tetap memprioritaskan LDK. Untuk Konsentrasi yang khawatir akan terbagi ana akan berusaha untuk memanejemen waktu dengan sebaik-baiknya”jawab Rizky singkat dan tegas

“Alangkah baiknya apabila antum memilih salah satu dari amanah ini. Agar amanah yang antum pegang berjalan lebih optimal.” Saran Kang Aries

“Baiklah kalau begitu ana memilih amanah Ketua HIMATIF, karena ana telah diberi tanggung jawab dan kepercayaan oleh Ketua Jurusan.” Jawab Rizky

“Tadi antum bilang lebih memprioritaskan LDK lalu kenapa antum tidak memilih amir LDK?” Tanya Kang Isa

“Afwan tapi ana sudah terlanjur diamanahi menjadi Ketua HIMATIF dan Ketua Jurusan pun sudah memberi tanggung jawab itu pada ana, kalau ana melepaskan amanah itu khawatir memberi image buruk tentang LDK. Sudah diberi tanggung jawab tapi mengundurkan diri. Untuk LDK walaupun ana di HIMATIF insya Allah ana tetap memprioritaskan LDK, ana tetap akan berjuang bersama-sama di LDK. Jadi ana mengundurkan diri dari kandidat amir LDK ini.”jawab Rizky yang sempat membuat suasana menjadi hening

Pemilihan amir LDK dilakukan dengan cara voting, dan hasilnya adalah akhi Nugi yang terpilih menjadi amir LDK yang baru.

Sudah sebulan Nugi menjabat amir LDK baru. Selama sebulan itu aku jarang bahkan tidak pernah melihat mantan pak Ketu’ berkeliaran dikampus.

Malah dengar-dengar beliau tidak lagi membawa sepeda motor ke kampus. Kembali seperti sebelum beliau menjadi pak Ketu’. Selama beliau menjadi pak ketu’ motornya sering dipakai mulai dari kepentingan dakwah sampai kepentingan pribadi para anggota LDK.

Sampai terdengar kabar bahwa adiknya Pak Ketu’ meninggal dunia dan rumahnya terkena bencana banjir.

Tiga hari setelah mendengar kabar itu aku melihat Pak Ketu’ sedang bercanda dengan teman-temannya.

Lho kok beliau ada dikampus. Bukannya beliau baru ditimpa musibah. Kalo aku yang mengalami cobaan itu, mungkin aku nggak akan rela meninggalkan rumah dan mungkin masih menangisi adik yang telah pergi.

Melihat sikap Pak Ketu’ seperti itu aku jadi ingat seuntai kalimat yang tertulis di majalah kesayanganku,” Seorang mukmin itu apabila bahagia maka kebahagiaannya akan terpancar diwajahnya apabila dia sedih maka disimpannya didalam hati”

Sikapnya itu menambah satu lagi point kagum di hatiku

-----------
zayyana
{sweetroom_on10June2005}

 
 
(Dibaca: 18140 kali | Dikirim: 30 kali | Print: 195 kali | Nilai: 8.25/4 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha