| Dodi, sebutlah begitu, seorang manajer sebuah perusahaan asing di
bilangan Sunter, Jakarta, dengan cermat menyimak perolehan suara pada
poling SMS yang dilakukan sebuah televisi swasta. "Masih unggul,"
gumamnya lega setelah melihat deretan angka-angka pada scrolling text
yang memperlihatkan keunggulan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) atas
partai-partai lain. Meski bukan anggota partai, namun Dodi giat
menggalang teman-teman dan bawahannya untuk mengirim SMS dukungan pada
PKS.
Tak cuma Dodi yang rajin "memobilisasi" teman-teman dan bawahannnya
untuk memenangkan PKS dalam poling itu, sejumlah eksekutif berdasi juga
diam-diam menaruh simpati dan dukungan pada partai kamu muda itu.
Fenomena ini diakui oleh oleh Presdien Direktur Water Priwe House, Kemal
Stemboel, pada SAKSI. Menurut Kemal, kalangan kelas menengah merasa
cukup nyaman dengan PKS.
"Kita ini membutuhkan adanya stabilitas, baik kemamanan, ekonomi, maupun
sosial. Artinya, berikanlah kita suatu ruang dimana kita bisa nyaman,
dan ruang itu dikelola oleh pejabat pemerintah yang mereka itu mengerti
akan good governance, bebas korupsi, aturan ekonomi yang benar, dan
menjalankan hukum yang adil. Berikanlah kita ruangan yang stabil untuk
itu," ujar Kemal yang mengaku mendukung PKS.
Tampilan PKS yang santun dan jauh dari interest pribadi itu memberikan
kesan tersendiri bagi kalangan eksekutif semacam Kemal. Meski belum
terbukti, namun ada harapan dari apa yang telah ditampilkan selama ini.
"Ini kita anggap sebagai suatu gerakan baru," tandas Kemal. Mungkinkah
dukungan kelas menengah pada PKS dalam poling itu sebagai bentuk
perlawanan kelompok itu pada kondisi status quo seperti saat ini? Kemal
enggan menyebut fenomena itu sebagai perlawanan. "Bukan perlawanan, tapi
pergeseran dukungan," jelas Kemal.
Pergeseran dukungan yang disebut Kemal adalah bentuk penolakan terhadap
partai-partai maupun tokoh-tokoh yang dianggap penyebab berbagai
kesulitan bangsa yang terjadi sekarang. Bagaimana dengan Amien Rais yang
kadung disebut bapak reformasi? "Saya pikir dia sebagai tokoh, tapi
sudah banyak pandangannya yang berubah sehingga tidak selamanya dia
dianggap reformis. Justru, dia menjadi bagian dari kesulitan-kesulitan
yang kita punyai sekarang," tegas Kemal.
Hasil poling yang dilakukan Liputan 6 SCTV memang spektakuler. PKS
muncul sebagai "partai yang disukai pemirsa" dengan 45,16% dari
keseluruhan pemilih, jauh mengungguli PDIP (6,47%) dan Golkar (5,59).
Sementara Ketua Umum PKS Dr. Hidayat Nur Wahid, sebagai calon presiden
pilihan responden terbanyak, hingga tulisan ini naik cetak, mendapatkan
119.145 suara (30,79%), mengalahkan Ketua Umum PAN Prof. Dr. Amien Rais
(23,63%) dan Ketua Umum PDIP Megawati Taufik Kiemas (3,76%).
Meski diragukan tingkat validitasnya, namun hasil itu, karena disiarkan
terus menerus, tak urung mempengaruhi peta dukungan masyarakat terhadap
PKS. PKS dan Hidayat menjadi pembicaraan dimana-mana. Tak cuma di
kota-kota besar, juga di desa-desa. Sebuah radio swasta terkemuka di
Jakarta saat membincangkan "kemenangan " PKS dan Hidayat mendapatkan
indformasi dari seorang pendengar yang tinggal jauh di pinggiran kota
bahwa PKS dan Hidayat menjadi buah bibir di kampungnya. Dan sehari
setelah SCTV menayangkan keunggulan PKS, sekelompok pelajar SLTA yang
merupakan pemilih pemula mendatangi kantor DPP PKS untuk menggali
informasi ihwal partai yang jadi pilihan pemirsa itu.
Poling SMS itu sendiri menimbulkan pro dan kontra. Lemahnya metodologi
pada poling SMS di televisi itu tak urung menuai kritik dan kecaman.
Dalam hal ini suara keras datang Direktur Eksekutif Lembaga Survei
Indonesia (LSI) Dr. Denny JA. Menurut Denny, hasil poling itu tak bisa
dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan menyesatkan masyarakat. Denny
menekankan agar pihak media yang mengadakan poling semacam itu
memberikan keterangan yang "menyolok mata" bahwa itu hiburan belaka.
Pendapat itu diperkuat oleh kolega Denny JA di LSI, Muhammad Qodari,
yang menjabat Direktrur Riset LSI. Menurut Qodari, poling yang dilakukan
SCTV itu jenis manggo, ada yang lewat telefon dan SMS. "Kalau mengutip
ahli poling, itu sebetulnya poling palsu. Mengapa poling palsu? Karena
tidak berlaku hukum probabiltas. Responden mencalonkan dirinya sendiri,
maka kemudian terjadi mobilisasi di situ," tukas Qodari pada Abdul Hakim
dari SAKSI.
Meski diakui poling SMS itu mengandung kelemahan metodologi, namun tak
sedikit yang memandang positif dan mendukung program itu. Menurut Dosen
Komunikasi Massa FISIP UI, Ibnu Hammad, hendaknya poling itu jangan
melulu dilihat dari aspek metodologi. "Dari sudut pandang komunikasi
massa, dikaitkan dengan demokratisasi, program itu positif," kata Ibnu.
Media menjadi mediasi artikulasi kepentingan dan suara publik yang
selama ini hanya mengikuti agenda media.
Hal senada diungkap penagamat media massa, Ade Armando. Ade menolak
anggapan bahwa poling SMS itu menyesatkan masyarakat. Menurut Ade, hanya
karena metodologinya punya keterbatasan tidak berarti bahwa hasilnya
tidak berguna. "Bagi saya poling itu dari dulu punya keterbatasan. Kita
harus sadar poling itu dilakukan tidak sepenuhnya hasilnya
representatif, tapi, pada saat yang sama data yang menujukkan bahwa PKS
dan Hidayat itu nomor satu tidak berarti bohong, tidak berarti
menyesatkan," ujar Ade pada Jumari dari SAKSI.
Ihwal "poling menyesatkan" yang di lontarkan Denny JA juga mendapat
tanggapan serius dari praktisi media. Wartawan Tempo, Farid Gaban, dalam
diskusi terbatas di internet menyorot tudingan pedas Denny JA itu. Farid
menulis, "Kemenangan" Hidayat Nur Wahid dalam polling SMS tidak hanya
ada di SCTV, tapi juga di Koran Tempo. Meski begitu, siapapun tampaknya
akan setuju bahwa metodologi polling via SMS dan internet/online sangat
lemah. Denny JA benar ketika mengkritik metodologi itu. Hasil polling
itu tidak bisa mendukung kesimpulan bahwa Hidayat Nur Wahid adalah calon
presiden paling populer.
Lebih jauh Farid menyatakan, motif utama baik koran maupun TV membuat
polling ini adalah uang, itupun sudah jelas. (Mereka berharap menarik
sebagian uang dari setiap SMS yang terkirim). Namun, menurut saya, hasil
itu menunjukkan sesuatu yang penting juga: bahwa Partai Keadilan
Sejahtera (PKS-nya Hidayat Nur Wahid) adalah partai yang paling
well-organized; para anggotanya sangat peduli pada partai dan rela untuk
berkorban (termasuk berkorban mengirim SMS).
"Saya yakin bahwa jumlah pemilik telpon seluler di kalangan Golkar dan
PDI Perjuangan jauh lebih besar dari pemilik HP di lingkungan PKS. Tapi,
kenapa kedua partai besar itu tidak bisa memobilisasi anggotanya untuk
memilih para ketuanya, meski itu hanya di level SMS? Tidak hanya dalam
soal SMS, partai ini dikenal sangat rapi dalam mobilisasi demonstrasi
yang umumnya sangat besar, tapi damai. Para anggota dan simpatisannya
datang dengan uang pribadi, membawa serta keluarga," papar Farid yang
terkenal dengan kolom Solilokui di harian Republika.
Itu semua menunjukkan adanya ikatan kuat antara partai dengan anggotanya
di lingkungan PKS, bukan sekadar hubungan oportunistik. Lepas dari latar
belakang ideologinya, jika kita mau fair, PKS adalah partai paling
modern dan relatif paling bersih dalam peta politik Indonesia sekarang.
"Akan halnya kredibilitas Denny JA? Anda tak perlu kenal dengan Denny JA
untuk mengetahui pikirannya. Dia salah seorang penulis yang paling
produktif: opininya tersebar di Koran Tempo, Suara Pembaruan, Kompas dan
situs Islam Liberal. Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dipimpin Denny
JA belum lama ini membuat "survey" yang hasilnya menjagokan antara lain
Megawati Soekarnoputri sebagai presiden mendatang. Secara kebetulan,
Denny JA sendiri adalah calon legislatif dari PDI Perjuangan," tulis
Farid.
Hasil poling itu sendiri, terlepas dari aspek metodologi, memang
memberikan alternatif lain pilihan partai dan calon presiden untuk
Pemilu 2004. Partai-partai yang selalu muncul di setiap pemberitaan
media maupun hasil riset adalah kekuatan-kekuatan lama, seperti Golkar
dan PDIP. Begitu pula dalam hal calon presiden, kisaran tak jauh dari
Megawati atau Amien Rais. "Coba lihat sekarang dengan poling itu
akhirnya muncul berbagai nama hingga 40-an," tukas Ibnu Hammad.
Padahal, sebagaimana diungkap Denny JA dalam tulisannya (Media
Indonesia, 29 September 2003) bahwa dalam enam bulan terakhir ini ada
beberapa survei yang dilakukan beberapa lembaga (IRI, IFES, LP3ES, dan
LSI) yang hasilnya serupa. Yakni, Golkar dan kekuatan lama akan kembali
ke panggung politik. Para calon presiden pun tak beranjak dari Megawati,
Amien Rais, Susilo Bambang Yudhoyono, Sri Sultan Hamengku Buwono X dan
Jusuf Kalla. Hampir tak ada tokoh alternatif yang muncul di sana.
Bisakah survei-survei itu dipercaya sebagai cermin aspirasi rakyat
Indonesia? Sulit dipastikan. Pasalnya, survei-survei itu pun tak lepas
dari bias kepentingan orang-orang di belakangnya. Jadi, kita lihat saja
faktanya pada Pemilu 2004 nanti.
--------
sumber : SAKSI
|