| Bagi kebanyakan remaja sekarang, nggak afdhol dan kagak seru rasanya kalo acara
perpisahan sekolah cuma diisi dengan manyun doang. Jaman sudah berubah dan gaya
hidup pun pastinya ikut berubah. Hajatan anak muda ini nggak kalah mewah dengan
pesta glamour para ortu mereka. Tentu, dari kalangan berkantong tebel dong.
Itu sebabnya, nggak heran kalo farewell party bertajuk Prom Night digeber habis-habisan.
Sobat muda muslim, untuk acara ini, anak putri ternyata paling heboh lho. Bener.
Celakanya lagi, para ibu mereka banyak yang mendukung acara tersebut. Anaknya
yang mau pesta, ibunya yang udah wara-wiri ke sana kemari. Utamanya memilihkan
gaun khusus yang akan dipakai anaknya ke pesta. Itu sebabnya, nggak aneh dan
jangan heran kalo para desainer kondang negeri ini diburu para remaja dan ibunya
yang memesan rancangan khusus untuk promnite itu. So pasti, angka yang tertulis
di atas kertas kwitansi itu berjumlah jutaan perak untuk menebus gaun itu. Tapi
nggak jadi soal buat mereka, nyang penting aktualisasi diri dulu. Pendek kata,
biar tekor asalah nyohor (eh, orang kaya mah nggak tekor kali yee..?). Biar
orang tahu siapa dia dan anak siapa dia. Intinya mah begitu. Gedubrak!
Itu sebabnya, acara ini jadi ajang pamer diri. Maklumlah biayanya aja selangit.
Bisa tembus jutaan rupiah seorang lho hanya untuk urusan busana dan aksesoris
yang menempel di sekujur tubuhnya. Kalo ditambah dengan patungan alias udunan
untuk biaya sewa gedung, para ortu mereka kudu merogoh saku celananya dalam-dalam.
Sekali lagi nggak jadi soal. Beginikah remaja kota besar berpesta?
Ah, kadang anak seumuran begitu cuma mikirin urusan gaya alias penampilan.
Dasar modis! (baca: modal display alias modal tampilan doang he..he..he..).
Kadang pula doi nggak merasa pede sebagai manusia. Bener lho, ada anak wanita
yang masih bingung dengan jati dirinya. Meski di big party ini saatnya tampil
all out, tapi pada saat yang bersamaan masih gamang dengan jati dirinya. Kalo
gitu nggak salah-salah amat Britney Spears bilang, " I'm Not a Girl, Not
Yet a Woman" Gejlig!
Urusan tampil habis-habisan, tapi dengan kegamangan itulah yang membuat penampilan
jadi sangat penting dan kadang-kadang seperti mengada-ada. Perancang busana
Edward Hutabarat yang biasa dipanggil Edo mengatakan, pernah juga mendapat banyak
telepon dari ibu-ibu pelanggannya yang minta dibuatkan gaun pesta untuk putri-putri
mereka. Padahal, Edo sudah bertahun-tahun hanya membuat kebaya, itu pun mayoritas
untuk ibu-ibu.
"Heboh sekali. Mereka datang membawa gambarnya Nicole Kidman dan Halle
Berry pada saat malam Oscar. Minta dibuatkan baju seperti itu," tutur Edo.
Asal tahu saja, gaun malam panjang Kidman buatan Chanel, sementara Berry memakai
ballgown warna coklat anggur dengan bagian atas tembus pandang kecuali bagian
depan dada ditutup sulaman motif bunga, dan roknya berbahan satin yang mengembang
(Kompas, 19 Mei 2002).
Idih, syerem amat sampe nggak yakin dengan penampilan dan jati dirinya sehingga
merasa kudu tampil all out dengan tebusan jutaan perak. Pantesan aja bisanya
cuma ikut-ikutan doang. Sedih banget deh kita. Suer. Kasihan sama kamu-kamu
yang masih memandang dunia ini sebagai tempat bersenang-senang belaka tanpa
diikat aturan yang benar dalam hidup ini.
Sobat muda muslim, apa boleh buat pesta besar remaja kota besar udah siap-siap
digelar. Pesta yang tentunya bakalan memberikan imej kalo kita-kita ternyata
masih banyak yang bergaya hidup borju. Masih suka hura-hura dan tentunya doyan
kegiatan miskin manfaat. Lagian, apa iya kalo udah pesta promnite dengan mewah
bakalan mempengaruhi jalan hidup kamu jadi baik? Nggak lha yauw!
Buat kamu yang belum ngelaksanain pesta ini, beware, jangan sampe ikut-ikutan
senewen ya? Apa nggak ada cara lain untuk menumpahkan rasa syukur kita? Hmm…
kata Bang Rhoma juga pesta pasti berakhir. Bener, lagian dunia ini juga cuma
panggung sandiwara kata Bang Ahmad Albar. Akan ada akhirnya. Apalagi kamu masih
punya kesempatan untuk berpikir panjang membuat rencana masa depan hidup kamu.
Oke?
Provokasi media
Informasi memang bagai pisau bermata dua. Ketajamannya bisa dipakai untuk memotong
kue, juga bisa sebagai alat memotong urat nadi. Semuanya bergantung kepada niat
dan tujuan si pembawa pesan. Kalo yang bawain pesan itu 'ngomporin' untuk berbuat
benar dan baik, hasilnya insya Allah benar dan baik pula. Lha, kalo yang disampaikan
bejat? Itu artinya seperti memberi sampah kepada pembaca. Padahal, persoalannya
bukan melulu menjual dan membeli, lho. Tapi kudu dipertimbangkan dampaknya.
Baik atau buruk buat masyarakat. Tul nggak?
Nah, sayangnya kini media massa getol banget ngomporin untuk berbuat yang nggak-nggak.
Coba tengok media remaja saat ini menjelang acara perpisahan sekolah, digeber
abis-abisan tuh laporan seputar persiapan pesta promnite. Lengkap dengan trik
dating bareng lawan jenis, tips memilih gaun, sampe kendaraan apa yang bakalan
ditunggangin ke pesta. Bila perlu nyewa tunggangan mewah untuk jaga gengsi.
Watau!
Sobat muda muslim, itu sebabnya kita 'nyalahin' media massa. Kenapa? Karena
media posisinya lebih tinggi ketimbang pembaca or pemirsanya. Itu sebabnya kenapa
media massa sering disebut sebagai agent of change alias agen pengubah. Kamu
bisa bayangin sendiri gimana jadinya kalo yang keluar dari media massa itu sampah
dan racun? Emang sih nggak dengan tegas ditampilkan apa adanya, tapi udah dikemas
sedemikian rupa sehingga nggak nampak lagi sebagai sebuah barang berbahaya.
Tapi sebaliknya, laku dijual dan bisa manjain nafsu rendahan masyarakat. Betul?
Nah, itulah kenapa kita tunjuk hidung media massa bermasalah sebagai komponen
yang ikut andil dalam merusak kepribadian anak bangsa. Ciloko tenan rek!
Puas bisa ngedugem?
Harap kamu tahu, bahwa dalam diri manusia itu bercokol salah satu naluri yang
perwujudannya berupa pamer diri alias aktualisasi diri. Semua orang punya lho
naluri ini. Yup, namanya gharizatul baqa' alias naluri mempertahankan diri.
Nah, banyak banget yang merasa bisa eksis jika punya harta. Itu sebabnya, kamu
jangan kaget apalagi puyeng jika di sekolahmu dapetin anak yang suka pamer baju
baru atau gaulnya dengan kalangan tertentu yang so pasti the have punya. Itu
namanya doi sedang memperagakan kepada khalayak bahwa doi statusnya udah "khos".
Tujuan mulianya, biar orang bisa menghargai eksistensi dirinya yang berstatus
level tertentu.
Mungkin di antara kamu ada yang protes, apa kita nggak boleh mengaktualisasikan
diri, itu kan wajar? He.he.. jangan keburu nepsong begitu dong. Kamu boleh menunjukkan
siapa kamu. Kamu bisa memberikan kesan kepada orang bahwa kamu adalah si A yang
punya ini dan itu. Kegiatannya juga seperti ini dan seperti itu. Agar, tentu,
orang tahu dan mengenal kamu. Begitu kan?
Hmm… boleh-boleh aja sih. But, kudu dijaga jangan sampe kebablasan. Nah,
dalam kasus ini, teman remaja yang keburu kecebur di arena pesta prom night,
itu artinya mewujudkan naluri mempertahankan dirinya kebablasan. Iya dong, sampe
kudu ngedugem segala. Tahu dugem kan? Yang jelas bukan dunia gembel, tapi dunia
gemerlap. Padahal, bukankah kita diajarkan untuk tawadhu dan qonaah?
Suatu ketika Khalifah Harun al-Rasyid bertanya kepada Manshur bin Amman: “Siapakah
orang yang paling berakal (pintar), paling bodoh, paling kaya, dan paling perkasa
di antara manusia?
Manshur bin Amman berkata: “Orang yang paling pintar adalah orang
yang berbuat baik, tetapi takut akan adzab Allah. Yang paling bodoh ialah yang
berbuat kejahatan (kesalahan), tetapi mereka (merasa) aman dari adzab Allah,
dan yang paling kaya dari mereka adalah orang yang paling qana’ah (selalu
merasa cukup dengan pemberian Allah, baik sedikit maupun banyak)." Sedangkan
orang yang paling perkasa adalah orang yang (paling) takwa.
Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik keislaman seorang muslim adalah
meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” Hadis ini mengingatkan
kita, remaja Islam, untuk menjauhkan diri dari perilaku-perilaku yang tidak
bermanfaat. Termasuk memberikan peringatan kepada kita untuk hemat dan tepat
guna dalam mempergunakan uang. Dan perlu dicatet – kalau perlu pake tinta
merah – setiap amal dan harta yang kita pergunakan itu akan diminta pertanggungjawabannya
di hadapan Allah kelak. So, gaya hidup konsumtif sudah harus dibuang jauh-jauh.
Bila perlu buang ke laut deh sekalian.
Juga jangan lagi berpikir soal gengsi di depan teman-teman. Mahluk yang bernama
gengsi itu bila dituruti maunya, ibarat kanker ganas yang bercokol dalam tubuh
yang terus menerus menggerogoti hidup kita. Nggak ada matinya! Begitulah gengsi,
tidak pernah ada kata berhenti, kecuali kita sendiri yang mau melakukannya.
Lagi pula, sebenarnya orang lain akan menghargai kepribadian kita pada tingkah
laku dan cara berpikir, bukan pada penampilan. Memang sih lazimnya manusia,
akan mengukur pribadi orang dari penampilan. But, percaya saja kalau kemudian
orang akan terpesona pada cara bersikap dan cara berpikir kamu. Jadi, nggak
puas kan dengan ngedugem? Nggak rugi kalo nggak ngedugem kok. Bener.
Kikis hura-hura!
Anak-anak yang animal party memang kerap bikin kita-kita nggak habis pikir.
Hura-hura seolah menjadi ‘ideologinya’. Makanya nggak heran di mana
ada pesta di situ ada dirinya. Sepertinya nggak bisa lepas dari urusan pesta
dan hura-hura.
Sobat muda, bila melihat gaya hidup Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang
mulia, kita bakal malu. Rasulullah termasuk orang yang paling sederhana. Bayangkan,
sebagai nabi dan rasul, juga sebagai Khalifah (pemimpin negara), beliau cuma
tidur di ‘kasur’ dari jerami. Belum lagi kesederhanaan Umar bin
Khaththab r.a. yang jauh berbeda dengan kita. Sebagai khalifah, Umar cuma memiliki
dua stel baju. Sampai-sampai para sahabat yang lain mengusulkan untuk memberikan
tunjangan kepada khalifah Umar. Namun usulan tersebut ditolak mentah-mentah,
dengan alasan beliau ingin mengikuti kesederhanaan Rasulullah saw.
Salman al-Farisi pun tercatat sebagai orang yang sederhana. Penggagas strategi
membuat parit dalam perang Khandaq ini sampai meninggalnya cuma memiliki sebuah
rumah yang ukurannya benar-benar pas-pasan. Maksudnya, tingginya pas dengan
tinggi tubuhnya, begitu pun bila ia tidur, panjang ‘rumahnya’ hampir
sama dengan panjang tubuhnya. Sikap hidup beliau itu lebih dikarenakan ingin
tampil sederhana. Ingin tawadhu dan qonaah. Subhanallah...
Bagaimana dengan kita? Ya, kita juga bisa mencontoh mereka, kawan. Suer, mereka
semua adalah teladan yang baik buat kita. Malah bila kita mau peduli dengan
keadaan saudara kita, ada kisah yang juga menarik. Kamu tahu kan putri Rasullah
yang menikah dengan Ali r.a.? Yes, Fatimah az-Zahra! Putri nabi ini, pernah
memberikan kalung emas yang ia miliki kepada seorang pengemis yang kelaparan
untuk dijual kembali dan uangnya bisa untuk makan pengemis tersebut. Padahal
Non, Fatimah saat itu sedang berada dalam kesulitan juga. Coba sudahkah kita
seperti itu? Kita upayakan yuk!
Sobat muda muslim, hidup ini bukan sekadar untuk main-main. Hidup adalah perjuangan,
dan itu butuh pengorbanan dari kita. Apalagi untuk urusan masa depan kita. Jangan
sampe berani mengorbankan masa depan, hanya untuk setitik kenikmatan semu saat
ini.
Jadi hindari pesta prom nigth, kikis hura-hura, dan jadikan gaya hidup sederhana
sebagai ‘model’ hidup kita. Dan, masyarakat juga kudu memberikan
perhatian bagi remaja. Paling nggak, ikut membina remaja dengan hal yang baik.
Jangan malah menambah masalah!
Lagipula apa pantas kita bermewah-mewah, sementara di kanan-kiri, bahkan mungkin
depan-belakang kita menjerit-jerit kelaparan. Apa iya kamu tega? ?
|