| ANTARA TEORI DAN FAKTA
Hampir selama seminggu ini, bangsa Indonesia dibombardir oleh
informasi yang telah diolah,oleh sebagian besar media massa asing dan domestik,
sehingga dipahami seolah sebagai fakta. Ledakan bom -beserta ratusan korbannya-
di Legian, Kuta, Bali pada tanggal 12 Oktober 2002 yang lalu adalah fakta, sementara
"serangan teror" hanyalah teori-lebih tepat disebut hipotesis- yang
dibangun di atas fakta itu. Dalam hujan informasi tersebut,timbul kesan luas,
bahwa teror -yang sebenarnya hanya teori itu menjadi fakta.
Penting untuk dipahami -mengikuti metoda ilmiah yang ketat-,
bahwa atas fakta yang sama, kita dapat menyusun teori alternatif yang berbeda
: "Indonesia diserang". Teori ini telah dipakai oleh
Amerika Serikat sewaktu menghadapi fakta keruntuhan 2 menara kembar World Trade
Centre di New York 11 September 2001yang lalu. Beberapa jam setelah peristiwa
itu,GW. Bush, dan juga koran Amerika Serikat mengatakan bahwa :"USA under
attack !", kemudian segera mencari kambing hitam di luar USA : Osamah bin
Laden dengan jaringan Al Qaedah-nya.
Bangsa Indonesia tidak menyadari, bahwa kini USA menerapkan teori
yang sama untuk lokasi lain, yaitu tanah air mereka sendiri : Indonesia. Faktanya
adalah bahwa di Indonesia (Bali) telah terjadi serangkaian ledakan bom yang
telah menewaskan ratusan orang (sebagian besar orang asing), dan ratusan lainnya
luka-luka. Dengan teori "serangan teroris" itu, kini USA menuding
tersangka yang sama (al qaedah), dengan kombinasi lokal (Jamaah islamiah), padahal
yang dirugikan adalah Indonesia !. Bagi USA, ledakan bom di Bali itu adalah
bukti bahwa teroris ada di Indonesia sebagaimana yang telah di "teorikannya"
selama ini.
Liputan media juga amat tidak seimbang. Respons cepat sebagian
penduduk Denpasar seperti para relawan muslim PAN Bali untuk melakukan pertolongan
atas ratusan korban bom di Legian -kurang dari 2 jam setelah ledakan-
juga sama sekali tidak diliput oleh media massa. Namun justru kegiatan aparat
dan orang-orang sebuah organisasi yang datang terlambat, baru dibentuk, justru
diliput habis-habisan oleh media massa. Sebagian orang Indonesia, dan juga orang
asing yang pro kampanye anti-teror Amerika, tentu mengira bahwa disinformasi
ini menguntungkan mereka, padahal tidak. Setiap disinformasi akan diikuti oleh
disinformasi berikutnya yang tidak akan sustainable.
TEORI SERANGAN TERORIS
Beberapa hal berikut merupakan "tindaklanjut" dari
teori ini. Bisa dipastikan, para penyelidik gabungan internasional (dibantu
FBI USA dan AFP Australia) yang sekalipun dipimpin POLRI, akan bertindak diatas
pijakan hipotesis "serangan teroris"ini. Bisa diperkirakan bahwa para
penyelidik akan dengan mudah menemukan "bukti-bukti" melalui serangkaian
penangkapan para "teroris" -lebih tepat diteorikan sebagai teroris-
tersebut di berbagai daerah di Indonesia. Di tingkat ini, banyak penyelidik
POLRI -bahan Menteri Pertahanan dan Menko Polkam -yang kurang menyadari bahaya
dari teori "serangan teroris"ini bagi bangsa Indonesia. Karena kalau
teori "serangan teroris"ini diikuti terus, akan banyak lagi "bukti-bukti
serangan teroris" yang sengaja dibuat oleh pihak-pihak yang tidak menghendaki
Indonesia sebagai negeri yang kuat, dan bangsa Indonesia akan terpecah belah,
dan hancur infrastruktur sosio-ekonominya.
Bahkan pimpinan POLRI tidak menyadari "jebakan metoda
ilmiah" ini yang
tampaknya tidak dikuasai oleh banyak aparat hukum
Indonesia (menurut
catatan Saya, berbeda dengan di USA, di Indonesia, lulusan
SMU yang pintar
sedikit yang mau masuk fakultas hukum,dan akademi
kepolisian. Mereka yang
pintar berjuang untuk diterima di fakultas teknik dan
kedokteran.
Kelucuan-kelucuan dunia peradilan dan hukum di Indonesia
akhir-akhir ini
sebagian besar disebabkan oleh karena mereka yang masuk
fakultas hukum
bukan dari mereka yang terbaik).
"Tindak lanjut" berikutnya adalah kemarahan orang Australia,
dan kepergian orang-orang asing dari Indonesia akibat dianjurkan pergi meninggalkan
Indonesia karena Indonesia dianggap merupakan sarang teroris. Bila ada bom-bom
berikutnya, itu daftar bukti tambahan bahwa memang banyak teroris berkeliaran
di Indonesia. "Serangan-serangan teroris"lain bakal akan terjadi di
sarana transportasi, perdagangan, dan wisata, dan Indonesia justru kembali sebagai
tertuduh.
Sabtu ini kita mendengar bahwa Ustadz Abu Bakar Baasyir -orang
yang dikenal konsisten dengan "garis keras"nya (inipun mengikuti teori
ini)- dinyatakan sebagai tersangka, walaupun bukan untuk kasus Bom Bali,
tapi berdasarkan pengakuan UmarAl Faruq (who the hell is this guy, after
all?) ke FBI/CIA mengenai beberapakasus pemboman di Jakarta dan rencana
pembunuhan Presiden Megawati. Bila USA lebih percaya pada omongan Umar Al Faruq
daripada ustadz Baasyir tentu dapat dipahami,tapi bila orang Indonesia yang
waras juga lebih percaya pada Al Faruq si Mr. X daripada ustadz Baasyir,ini
sudah kegilaan. Sulit dipahami bahwa orang sekaliber Susilo Bambang Yudhoyono
lebih percaya Pada Mr.X Al Faruq ini.
TEORI ALTERNATIF : INDONESIA DISERANG
Perspektif luas yang kini dibangun oleh media massa ini merupakan
Keanehan yang luar biasa, untuk tidak mengatakan kebodohan -bahkan pembodohan-
bangsa Indonesia. Seharusnya, kitalah yang menggunakan teori itu : Indonesia
diserang (Indonesia under attack)!. Bila teori ini yang kita pakai,
maka yang paling masuk akal adalah "menuduh orang lain (orang asing) yang
melakukannya, bukan malah menuduh orang Indonesia sendiri ! Di atas teori ini,
kita dapat mencari "bukti-bukti"yang diperlukan, dan mengambil langkah-langkah
mandiri, misalnya memeriksa secara ketat wisatawan asing, terutama para agen-agen
asing, juga memeriksa seluruh kapal-kapal dagang dan kapal perang asing yang
masuk ke wilayah Indonesia.
Kitalah yang sepatutnya marah karena industri pariwisata
kita hancur
(bukannya menjadi sasaran kemarahan rakyat Australia),dan
kantor-kantor
konsulat asing yang kita curigai seharusnya diminta untuk
ditutup (bukan
mereka tutup sendiri karena adanya ancaman teroris).
Dari sudut pandang apapun, hampir-hampir tidak ada orang Indonesia
yang diuntungkan -termasuk jaringan Jamaah Islamiah berbasis Indonesia-
dari peledakan bom tersebut, dan tewasnya ratusan turis. Sasaran-sasaran yang
mustinya diserang oleh Al Qaedah adalah sasaran-sasaran kepentingan Amerika
Serikat di Indonesia seperti Exxon di Aceh, Freeport di Papua , dsb., bukannya
Bali dan turis-turis Australia. Setidaknya, Al Qaedah tidak menuduh orang lain
atas beberapa tindakannya selama ini -ini yang menyebabkan Osamah bin Laden
tampak lebih gentleman dari GW Bush.
Dengan mengatakan bahawa "Indonesia di serang",
seluruh unsur bangsa ini niscaya akan merapatkan barisan (seperti yang dilakukan
oleh bangsa AS menghadapi kambing hitam Al qaedah), tidak justru berpecah belah.
Bahkan, kini saatnya seluruh komponen bangsa melupakan perbedaaan-perbedaan
mereka untuk bersatu menyelamatkan bangsa ini dari proses balkanisasi melalui
permusuhan antar suku, antar kelompok, sipil melawan militer, bahkan antar agama.
PENUTUP
Kejadian ratusan korban tewas dan luka-luka akibat bom di Legian,
Kuta patut disesalkan, dikutuk, dan dihentikan. Persoalannya adalah : kita -termasuk
elite negeri ini - mau memilih teori "serangan teroris",
atau "Indonesia diserang!". Pilihan teori "serangan
teroris" yang kini menjadi main stream akan -dari sudut manapun-
tidak menguntungkan Indonesia, dan berpotensi untuk menjadikan Indonesia sebagai
Jugoslavia jilid berikutnya kehancuran infrastruktur sosio-ekonominya, terpecah-belah
dan hilang dari peta dunia. Yang perlu dicamkan seluruh masyarakat Indonesia
adalah bahwa Jamaah Islamiah, Ustadz Baasyir, ummat Islam, bahkan bangsa Indonesia
seluruhnya (tidak peduli agama mereka), dan juga para backpackers bersandal
jepit di Kuta yang tewas akibat Bom Legian tersebut bagi master mind perang
persepsi ini adalah besaran yang disposable (tidak berarti untuk dimusnahkan),
dibandingkan kepentingan mereka untuk menghancurkan bangsa ini.
Yang menjadi persoalan tambahan adalah bahwa "ruang publik"
pada halaman-halaman koran dan monitor TV kita dihujani oleh pilihan teori "serangan
teroris" ini, sedangkan alternatif teori "Indonesia diserang"
tidak memperoleh liputan yang cukup.
Pilihan yang tepat adalah pilihan teori "Indonesia
di serang". Dengan teori ini, bangsa Indonesia dari seluruh lapisan,
kelompok, suku dan agama, sipil dan militer akan merapatkan barisan untuk mempertahankan
diri melawan "musuh bersama" yang hendak memecah-belah bangsa ini.
Kita tidak hanya akan menolak tuduhan Indonesia sebagai bangsa Teroris, tapi
kita akan menolak penghancuran infrastruktur sosio-ekonomi kita. Kiranya Tuhan
memberi kesanggupan bangsa ini untuk memilih teori yang tepat.
____________________________
INDONESIA DISERANG !
D. Mohammad Rosyid
Pembantu Rektor IV ITS Surabaya
Telp./fax 031-5923411, e-mail : pr_4_its@its.ac.id
|