Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Jangan memandang kecilnya suatu kemaksiatan, tapi lihatlah kepada kebesaran zat yang engkau lakukan kemaksiatan terhadap-Nya." (Bilal bin Rabbah ra)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
04 Agustus 2003 - 10:27
Rumahku, Surgaku...    
Edisi 156/Tahun ke-4 (4 Agustus 2003)
 

Kamu pernah ngeliat film lawas Little House on the Prairie? Yup, film yang dibintangi sekaligus disutradarai oleh Michael Landon ini ngetop banget di tahun 70-an ampe 80-an. Waktu saya kecil, suka banget film ini. Abisnya, ini kayaknya film keluarga yang setidaknya memberikan kesejukan justru di tengah film Amrik yang bertabur kekerasan waktu itu. Meski setting ceritanya nggak islami, tapi dari segi nilai memang mengajarkan hal-hal yang baik bagi sebuah keluarga. Keharmonisan, perjuangan, pengorbanan, kesetiaan, perhatian, dan kepedulian ditanamkan dalam keluarga yang punya rumah kecil di padang rumput yang luas itu.

Masih di tahun 80-an, selain film asing itu, TVRI juga rajin menayangkan film Rumah Masa Depan, yang dibintangi Bang Septian Dwicahyo waktu masih ABG. Doi berperan sebagai Bayu, anak SMP yang digambarkan baik hati, suka menolong, setiakawan, dan juga cukup berprestasi di sekolah. Kehidupan keluarganya yang tinggal di desa selain sederhana juga harmonis. Punya ayah yang bertanggung jawab, punya ibu yang penuh perhatian. Bayu juga memiliki nenek yang baik hati meski sedikit bawel, kakeknya juga digambarkan sayang ama cucu. Bagusnya, film ini juga ngasih solusi ketika terjadi ‘gesekan’ di antara mereka dan kehidupan di sekitarnya. Wah, pokoknya menarik deh. Waktu itu, film keluarga ini jadi favorit bagi kami, yang kebetulan juga tinggal di desa. ?

Tahun 90-an, sinetron Keluarga Cemara yang pernah tayang di RCTI juga lumayan bagus. Sayangnya, film ini kalah bersaing dalam mencari iklan dengan sinetron lainnya yang bertabur bintang ngetop dan dipajang di prime time alias waktu utama, dimana orang pada nonton televisi, sekitar pukul 19.00 ampe 21.00 WIB. Sementara Keluarga Cemara, ditayangkan pukul lima sore, malah pernah pukul satu siang. Yang mau nonton jadi sedikit atuh!

Sekali lagi, kisah ini pun sebetulnya diangkat dari buku cerita degan judul sama, karya Bang Arswendo Atmowiloto. Kalo di bukunya, sama sekali nggak ada nilai islamnya. Bahkan kentel banget dengan nuansa kristiani. Maklum, sang penulis penganut Kristen. Nah, pas diangkat ke sinetron, ceritanya jadi berlatar Islam, bahkan hampir semua pemainnya muslim kecuali Adi Kurdi yang jadi si Abah.

Oke deh, terlepas dari pemeran dan latar belakang cerita itu, tapi yang pasti Keluarga Cemara mengajarkan nilai kebaikan, bahkan menggambarkan realitas umum masyarakat kita. Bagi sebuah keluarga, apalagi dengan kondisi kehidupan yang amburadul begini, boleh dibilang bisa membantu untuk mengajarkan nilai moral. Minimal lho. Soalnya sekarang, banyak keluarga muslim yang dari sikap moralnya aja payah banget, apalagi nilai-nilai Islam.

Nah, kalo tadi film keluarga yang ‘baik-baik’, ternyata ada juga film yang justru menggambarkan kehidupan keluarga yang amburadul macam Malcom in the Middle yang pernah tayang di TransTV. Dibuat berdasarkan pengalaman kreatornya, Linwood Boomer--juga kreator 3rd Rock from the Sun dan pemeran Adam Kendall dalam Little House on the Prairie. Perjalanan hidup Boomer nyaris sama dengan Malcolm. Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini harus masuk kelas berbakat gara-gara punya skor IQ mencapai 165. Bukannya bangga, dia justru merasa aneh dan terasing. "Sebagai anak kecil yang masuk kelas istimewa, justru itu menjadi saat terburuk dalam hidup," kenang Boomer.

Di film itu, sang ayah yang kadang kelihatan tak bertanggung jawab, sang ibu yang sangat keras dan menerapkan hukuman sekenanya. Keduanya bertindak seenaknya di dalam rumah. Bayangin aje, mereka berdua berkeliaran dalam rumah dengan hanya memakai, maaf, pakaian dalam!

Tokoh Francis yang dianggap paling normal di keluarga Malcolm, malah ‘dibuang’ ke sekolah militer. Jadilah Malcolm anak tengah di antara Reese dan Dewey. Perpaduan yang menarik kalau mengingat karakternya.
Oke deh, dari sekian banyak film, yang juga sangat boleh jadi terinspirasi dari kehidupan nyata, setidaknya ingin memberikan suasana sejuk di tengah keluarga pemirsanya, meski selalu saja ada bias yang membuat kita sebagai penonton kesulitan untuk mewujudkan pesan yang ditawarkan itu.

Tapi kita yakin kok, bahwa banyak orang berharap tercipta suasana yang akrab di tengah keluarga. Jalinan komunikasi di antara mereka terus dikembangkan. Seluruh anggota keluarga pasti mendambakan kondisi yang harmonis. Tul nggak? Misalnya aja hubungan antara ortu dengan anak-anaknya, juga hubungan antara ayah dengan ibu kita sebagai ortu yang bisa mengarahkan dan membimbing kita. Pendek kata, semua orang menginginkan saat-saat indah bersama keluarga.

Sobat muda muslim, kita tentunya nggak berharap suasana di rumah itu berantakan, komunikasi antar anggota keluarganya juga payah. Misalnya aja, ayah dan ibu kita malah terus dalam posisi berhadapan kayak di ring tinju. Lebih tragis lagi kalo kita sebagai anaknya cuma sanggup nonton dan ngasih komentar nyelekit, “Emak apa bapak dulu neh yang ngejoprak?” Hih, emangnya mereka lagi nimbrung di acara Duel, Smackdown, atau UFC?

Gimana kalo nggak ideal?
Sobat muda muslim, hidup ini nggak selamanya bisa memilih. Kadangkala harus menerima realitas. Termasuk kalo kudu punya keluarga yang kebetulan belum ideal seperti yang kita harapkan. Sementara nikmati aja dulu sambil berusaha untuk membangun keluarga yang ideal.

Kalo bisa milih, tentu enak banget ya? Pasti kita bakalan minta yang enak-enak aja. Nah, jika keluarga kita ternyata nggak seideal kehidupan keluarga Rasul, atau paling banter tidak seideal seperti yang digambarkan dalam sinetron atau film, jangan putus asa. Insya Allah masih ada hari esok bagi kita untuk berusaha memperbaikinya.

Emang sih, punya keluarga yang ideal nggak musti diukur dengan memiliki banyak harta. Tapi ditentukan dari terciptanya komunikasi yang sehat di antara anggota keluarga. Dalam kebanyakan keluarga muslim sekarang memang udah dikondisikan bahwa keluarga cuma sebatas status aja. Jadi jangan heran kalo kehidupan di dalam rumah yang kadang bak istana malah nggak bikin tenteram penghuninya.

Ayahnya sering keluar kota karena tugas kantor. Sehari-harinya juga pergi pagi pulang petang. Sang ibu, juga adalah wanita karir. Sementara anaknya banyak yang dibiarkan diasuh oleh babby sitter. Sebagian malah diasuh penuh sama neneknya. Emang sih dari segi kebutuhan jasmani, boleh jadi sudah terpenuhi. Tapi kasih sayang? Itu sulit diraih.

Seorang guru di sebuah sekolah swasta terkenal di Bogor ini pernah cerita kepada saya, bahwa ia suatu ketika bertanya kepada salah seorang anak didiknya yang masih betah main di sebuah warung di sekitar sekolah, “Kenapa kamu belum pulang?” Ternyata jawaban yang keluar dari mulut remaja pria itu cukup membuat kita tercengang. “Buat apa pulang? Di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Nggak ada orang yang bisa diajak berbagi cerita. Di sini banyak kawan saya”. Duh, perih nian…

Perlu diketahui sobat, anak itu punya ortu yang keduanya bekerja, meski rumahnya dipenuhi dengan barang-barang berharga, tapi tidak memberikan kebahagiaan bagi si anak. Maklum, karena kebahagiaan tidak selalu berarti banyaknya harta. Justru tanggung jawab dan perhatian dari kedua orang tua, seringkali menjadi energi yang tanpa batas bagi anak.

Di sebuah radio yang menyiarkan program tentang keluarga pernah ada seorang ibu yang curhat, bahwa ia sangat menyesal tidak bisa memandikan anaknya yang berusia balita, karena dia sibuk bekerja. Rengekan manja si kecil yang minta dimandikan olehnya tak membuatnya luluh. Ia tetap pergi pagi untuk bekerja. Sampai suatu saat, ia bisa bisa juga memandikan anaknya, tapi ketika sang anak sudah jadi jenazah. Hmm.. sedih banget deh.

Sobat muda muslim, kita bisa upayakan untuk ngobrol dengan ortu kita bahwa kita inginkan suatu kehidupan keluarga yang harmonis. Bicarakan baik-baik bahwa kita bukan robot. Kita manusia, yang perlu disentuh juga dengan kasih sayang dan cinta. Kepedulian dan perhatian ortu adalah energi yang membuat kita percaya diri. Kita pun berusaha untuk menanamkan rasa hormat kepada kedua ortu kita.

Keluarga adalah istana paling indah
Waktu saya kecil inget banget, meski awalnya nggak paham kenapa orang tua saya cerewet banget melarang saya berantem dengan kawan main, melarang saya supaya jangan masuk rumah orang sembarangan tanpa diizinkan pemiliknya, menganjurkan saya untuk sopan santun kalo bermain, seringkali amat bawel dengan meminta supaya saya hormat sama orang yang lebih tua, supaya meminta maaf kalo memang saya bersalah. Wah, banyak banget deh aturannya. Saya sih nurut aja, meski nggak tahu ‘hikmah’ apa di balik semua larangan dan perintahnya. Saya berusaha untuk merealisasikan pesan tersebut tanpa pernah ngerti rencananya. Polos abis, nggak tahu apa-apa.

Nah, waktu besar dan udah bisa ngaji, karena suka ikut ke surau bareng anak-anak yang lain, pak ustadz ngasih penjelasan tentang banyak hal dari semua yang diajarkan orang tua saya di rumah. Ya, entah orang tua saya nggak mau ngejelasin karena mungkin percuma karena saya masih kecil, atau bisa juga kesulitan menterjemahkannya. Tapi yang pasti, sampe sekarang pelajaran itu amat berkesan bagi saya.

Nah, udah gedean dikit (baca: baligh), baru tahu bahwa memang sopan santun, berbuat baik sama keluarga dan juga kepada teman, menolong orang lain, menghargai dan menghormati sesama bukan semata sikap moral, tapi memang adalah hukum syara, alias memang ada dasar hukumnya yang diajarkan dalam Islam. Begitu kata pak ustadz suatu saat. Aduh, nambah neh wawasan.

Kita semua mendambakan keluarga yang baik-baik. Ayah bertanggung jawab, ibu perhatian, kakak penyayang, adik juga penurut. Nenek dan kakek menikmati masa tuanya dengan melihat perkembangan pribadi anak dan cucunya dengan baik. Keluarga penuh ceria, saling mengingatkan, mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan penuh ketaatan. Duh, indah banget deh. Pantes aja kalo Rasulullah mengilustrasikan kehidupan keluarga beliau yang penuh dengan keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan, sakinah, mawaddah, dan rahmah dengan ungkapan Baitiy jannatiy alias rumahku, surgaku.

Bersama keluargalah kita lebih banyak berinteraksi, bersama keluarga pula kita lebih banyak punya waktu untuk belajar tentang makna hidup. Kayaknya masih pada inget deh penggalan OST-nya Keluarga Cemara. Yup, “Keluarga adalah harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.”

Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS an-Nisâ’ [4]: 9).

Kita semua berharap punya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kalo ada konflik, kita selesaikan baik-baik. Jangan hawa nafsu yang jadi panglima, tapi keikhlasan kita yang dikedepankan. Konflik bukan berarti bencana, tapi kerikil kecil yang bisa mendewasakan kita semua. Tapi yang pasti, taburkan ajaran Islam di dalam keluarga kita, insya Allah berkah. Yuk, kita bangun istana paling indah dalam hidup ini. Syukur-syukur bisa dengan lega menyebut: rumahku, surgaku. ?

 
 
(Dibaca: 10544 kali | Dikirim: 6 kali | Print: 265 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2014, Dudung Abdussomad Toha