Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu kebahagiaan yg lain akan terbuka. tetapi acapkali kita hanya terpaku terutama pada pintu yg tertutup sehingga kita tidak melihat pintu lain yg dibukakan untuk kita".(Anonymous)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Bebas
20 November 2001 - 13:15
Yang Mampu dan Punya Motif Serangan    
Oleh : Dedi Junaedi
 

"Aksi teror 11 September merupakan serangan yang luar biasa. Aksi itu dirancang amat canggih oleh jaringan yang terkoordinasi rapi," kata Direktur FBI Robert Mueller.

Kehebatan aksi itu pun diakui banyak pihak. Satu tim gabungan dari berbagai disiplin ilmu --termasuk para pilot pesawat komersial dan para jagoan penerbang tempur-- sampai merasa perlu menggelar rapat maraton 72 jam penuh.

Salah satu hasil diskusi itu menyimpulkan bahwa operasi itu hanya mungkin dilakukan oleh organisasi yang berkemampuan luar biasa dalam komando, komunikasi, dan kontrol sistem militer. Aksi itu membutuhkan ketepatan waktu, pilihan pesawat yang pas dan digunakan sebagai rudal jelajah, koordinasi luar biasa rapi dan efektif dalam memilih target, serta kemampuan teknis melumpuhkan sistem radar dan surveillance pesawat.

Dari perspektif aksi 'militer' taktis dan pilihan target yang strategis, serangan itu setara dengan serangan Jepang yang mengejutkan Pearl Harbor 7 Desember 1941. Sejarah mencatat, serangan Pearl Harbor itulah yang kemudian memicu berkobarnya Perang Dunia II. "Serangan itu hanya mungkin dilakukan oleh kekuatan luar biasa canggih dan terorganisasi rapi," kata Donn de Grand Pre, pilot veteran perang dan penulis buku Confessions of an Arms Peddler and Windows on America.

Siapa pelaku sesungguhnya? "Teror 11 September itu diorganisasikan oleh AS. Usamah bin Ladin tidak melakukan apa pun," ucap Vladimir Zhirinovsky, vokalis Parlemen Rusia, seperti dikutip Annanova <9/10/01>.

Dalam konferensi parlemen NATO di Otawa, Kanada, dia menegaskan teror itu sengaja dibikin untuk memelihara dominasi AS dalam konteks politik dan ekonomi global. "Setelah komunisme dan fascisme tak ada, kini AS mencari musuh baru dengan simbol terorisme."

Dalam wawancara dengan majalah Lebanon Al Hawadith <25/10/01>, Presiden Mesir Husni Mubarak meragukan akurasi daftar tersangka aksi 11 September yang dibuat FBI. "Serangan itu hanya mungkin dilakukan oleh pilot amat profesional dan punya akses terhadap sistem navigasi penerbangan. Tak mungkin dilakukan oleh yang yang baru belajar terbang," tegas mantan pilot pesawat tempur ini.

Tim independen yang menamakan diri sebagai American Patriot Friends Network juga tak percaya bila Usamah dan orang-orang Al Qaida mampu melakukannya. "Yang harus dicurigai pertama-tama tentu adalah mereka yang punya motif dan kemampuan," kata Dick Eastman dkk dari APFN.

Menurut analisa APFN sedikitnya ada empat kelompok yang punya motif untuk melakukan serangan terhadap WTC/Pentagon:

1. Pihak-pihak yang berkepentingan dengan perdagangan opium di Aliansi Utara serta kepentingan money laundering melalui saluran investasi global, termasuk di dalamnya bisnis opium, heroin, dan turunannya.

2. Kalangan yang berniat memperebutkan kekayaan migas senilai 6 triliun dolar di Asia Tengah.

3. Kalangan yang ingin mengembalikan dukungan terhadap kebijakan Sharon di Israel yang mulai dinilai tidak populer.

4. Kalangan yang berkepentingan menentukan harga emas, perebutan bisnis minyak ilegal antara Kazakhstan dan Iran, dan terlibat penyuapan beberapa kasus yang dokumennya tersimpan dalam file dan bank data FBI di menara kembar WTC.

Keempat kelompok itu, menurut analisis APFN, mempunyai saluran komunikasi rahasia, melalui jaringan bank dan kekuatan politik terintegrasi, serta koneksi dengan CIA dan Mossad. Jika ada satu dari empat kelompok itu terlibat, maka tiga yang lainnya juga tersangkut.

Mossad dan CIA selama ini terlibat lalu lintas perdagangan opium-heroin dan turunannya. Dalam operasinya mereka juga mendapat backing investasi dari elite keuangan Amerika dan Inggris.

Aliansi Utara Afghan sejauh ini dipercaya berperan menumbuhkan 70-90 persen perdagangan opium dunia. Jalur distribusi yang paling banyak dipakai adalah lewat perbatasan Cina-Afghan. Mereka beroperasi dengan bantuan dan proteksi dari tentara Cina: People's Liberation Army .

Bisnis opium ini kemudian terhambat ketika Afghan dipimpin Taliban. Produksi opium dunia konon menurun sampai 92 persen, tulis Robert Fisk dalam The Guardian. Proses money laundering melalui pendirian bank dan investor global juga terganggu.

Kondisi 'krisis opium' inilah yang kemudian menjadi motivasi awal dari sekelompok pembelot CIA dan Mossad untuk mencari cara meruntuhkan pemerintah Taliban di Afghan. Kemudian, mafia Rusia dan Kazakh dikabarkan mempunyai untaian kriminal dengan eksekutif AS James Giffen di Kazakhstan. Giffen sendiri termasuk orang bermasalah dan terlibat kasus sengketa bisnis minyak di Kazakhstan dan Iran yang tengah ditangani Dewan Yury New York dalam beberapa bulan sebelum 11 September.

Dokumen hasil investigasi kasus James Giffen, menurut Seymore Hershe di New Yorker 9 Agustus, tersimpan di kantor FBI yang berlokasi di lantai 20-25 WTC. Disebutkan, James Giffen termasuk orang kunci yang membuat persetujuan bisnis minyak senilai triliunan dolar dengan Kazakhstan, termasuk rencana pipanisasi migas Trans-Afghan senilai 6 miliar dolar.

Selain mempunyai kedekatan dengan agen-agen pembelot CIA, Giffen juga mempunyai koneksi khusus dengan faksi "dark side" Mossad. Dalam merekayasa bisnisnya, Goffen juga dekat dengan elite ekonomi AS seperti Allan Greespan , Goldman Sachs, Morgan & Co, serta beberapa figur dan lembaga berpengaruh lain di AS. Termasuk di dalamnya dengan kekuatan lobi Yahudi yang dipimpin Paul Wolfowitz.

Giffen tentu saja setuju dan senang --kalau bukan ini ide orisinilnya-- untuk mengoperasikan serangan dengan target merusak kantor FBI di WTC, berikut bukti-bukti dokumen investigasi yang akan menjeratnya ke pengadilan. Dalam operasinya, tidak mustahil sengaja melibatkan aktivis muslim radikal. Dengan cara ini, dia berharap Aghanistan diserang dan Pemerintah Taliban jatuh. Aliansi Utara yang pro-komunis diharapkan akan berkuasa dan selanjutnya melapangkan binis minyak di kawasan Caspian Ring, Asia Tengah itu.

Setelah mengurai siapa yang punya motif, APFN kemudian menganalisis siapa yang punya kemampuan melakukan serangan seperti aksi 11 September. Pelaku aksi 11 September, menurut Donn de Grand, adalah mereka yang berkemampuan teknis menguasai teknologi melumpuhkan radar dan mempunyai akses ke sistem surveillance penerbangan sipil dan militer. Secara sederhana mereka dapat diidentifikasi berasal dari negara-negara yang mempunyai pesawat AWACS atau yang setara. Jumlahnya tidak banyak, mereka adalah AS, Cina, Rusia, Saudi, Israel, dan negara-negara anggota NATO.

Kecuali Arab Saudi, negara-negara itu mampu menggunakan dan merekayasa electro-magnetic pulsing untuk melumpuhkan radar dan menjinakkan sistem kendali penerbangan dan komunikasi pesawat dan antipesawat, kemudian menerbangkannya secara otomatis dengan kendali jarak jauh .

Seorang pejabat AU, jelas Donn de Grand, pernah mengakui bahwa AS sudah mampu menerbangkan robot terbang tak berawak sebesar Boeing 737 melintas Pasifik menuju Australia. Robot terbang itu dapat diprogram dan dimonitor mobilitasnya dari sebuah stasiun kendali di luar negeri. The Economist edisi 20 September 2001 juga pernah menerbitkan komentar dari CEO British Airways, Robert Ayling, yang menyatakan bahwa satu pesawat jet komersial kini dapat dikomando dari stasiun kendali di darat maupun udara. Pesawat itu bisa dikendalikan secara remote bahkan ketika pesawat itu terbajak.

Koresponden AP <7/10/01> di Brussels pernah menurunkan laporan bahwa atas permintaan Washington, NATO akan segera mengirim pesawat surveillance untuk operasi antiteroris di AS sebagai respon atas serangan ke New York dan Washington. Pejabat NATO mengatakan sebuah kekuatan militer asing akan dipakai untuk mempertahankan tanah air AS.

AS sendiri sedikitnya mempunyai 33 pesawat AWACS. Dari jumlah itu, 27 di antaranya dalam kondisi siaga di Oklahoma. Anehnya, beberapa saat setelah aksi 11 September, ada pemintaan dari Pemerintah Bush kepada NATO untuk menerbangkan AWACS sebagai bantuan untuk memonitor pergerakan pesawat di wilayah domestik AS.

Undangan terhadap kekuatan asing itu sempat menimbulkan kecurigaan dari kalangan praktisi dan pengamat penerbangan. Mengapa AS minta bantuan AWACS? Apakah semua fasilitas milik AS rusak sebelum aksi 11 September? Kalau benar rusak, mengapa itu bisa sampai terjadi. Serentak lagi!

"Kami semua sebetulnya terlatih untuk mengatasi pembajak," kata Kent Hill, kapten pilot senior dan teman Chic Brulingame di American Airlines, yang juga mantan penerbang F-4 Phantom di Vietnam.

Ketika pesawat terancam pembajakan, jelas Hill, pilot profesional tinggal memasukan kode empat digit ke dalam transponder. Stasiun kendali penerbangan di daratan terdekat akan otomatis membaca pesan darurat "I am being hijacked". Selanjutnya pesawat akan mendarat sendiri dengan aman, tanpa campur tangan pilot. "Sungguh aneh mengapa mekanisme standar FAA ini tidak dipakai."

Faktanya, ternyata semua transponder pesawat yang dibajak mati secara virtual pada saat yang sama. Tak lama setelah lepas landas dan baru memasuki ketinggian yang aman, transponder mengalami deaktivasi. Seketika blip di layar radar hilang. Komunikasi antar pesawat dengan stasiun kendali pun terputus total. Dan, anehnya lagi, black box pesawat --yang diharap bisa membuka misteri pembajakan-- ternyata juga dilaporkan semua tidak berfungsi dan tak bisa direstorasi. Ini hanya mungkin terjadi dengan rekayasa teknologi tingkat tinggi, yang --seperti diakui Pemerintah Taliban-- tidak dimiliki oleh Usamah bin Ladin.

_____________
Sumber : Republika 18 November 2001

 
 
(Dibaca: 10438 kali | Dikirim: 7 kali | Print: 295 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha