| "Aksi teror 11 September merupakan serangan yang luar biasa.
Aksi itu dirancang amat canggih oleh jaringan yang terkoordinasi rapi,"
kata Direktur FBI Robert Mueller. Kehebatan aksi itu pun diakui banyak
pihak. Satu tim gabungan dari berbagai disiplin ilmu --termasuk para pilot
pesawat komersial dan para jagoan penerbang tempur-- sampai merasa perlu
menggelar rapat maraton 72 jam penuh. Salah satu hasil diskusi itu
menyimpulkan bahwa operasi itu hanya mungkin dilakukan oleh organisasi yang
berkemampuan luar biasa dalam komando, komunikasi, dan kontrol sistem
militer. Aksi itu membutuhkan ketepatan waktu, pilihan pesawat yang pas dan
digunakan sebagai rudal jelajah, koordinasi luar biasa rapi dan efektif dalam
memilih target, serta kemampuan teknis melumpuhkan sistem radar dan
surveillance pesawat. Dari perspektif aksi 'militer' taktis dan
pilihan target yang strategis, serangan itu setara dengan serangan Jepang
yang mengejutkan Pearl Harbor 7 Desember 1941. Sejarah mencatat, serangan
Pearl Harbor itulah yang kemudian memicu berkobarnya Perang Dunia II.
"Serangan itu hanya mungkin dilakukan oleh kekuatan luar biasa canggih dan
terorganisasi rapi," kata Donn de Grand Pre, pilot veteran perang dan penulis
buku Confessions of an Arms Peddler and Windows on America. Siapa
pelaku sesungguhnya? "Teror 11 September itu diorganisasikan oleh AS. Usamah
bin Ladin tidak melakukan apa pun," ucap Vladimir Zhirinovsky, vokalis
Parlemen Rusia, seperti dikutip Annanova <9/10/01>. Dalam
konferensi parlemen NATO di Otawa, Kanada, dia menegaskan teror itu sengaja
dibikin untuk memelihara dominasi AS dalam konteks politik dan ekonomi
global. "Setelah komunisme dan fascisme tak ada, kini AS mencari musuh baru
dengan simbol terorisme." Dalam wawancara dengan majalah Lebanon Al
Hawadith <25/10/01>, Presiden Mesir Husni Mubarak meragukan akurasi
daftar tersangka aksi 11 September yang dibuat FBI. "Serangan itu hanya
mungkin dilakukan oleh pilot amat profesional dan punya akses terhadap sistem
navigasi penerbangan. Tak mungkin dilakukan oleh yang yang baru belajar
terbang," tegas mantan pilot pesawat tempur ini. Tim independen yang
menamakan diri sebagai American Patriot Friends Network juga tak percaya bila
Usamah dan orang-orang Al Qaida mampu melakukannya. "Yang harus dicurigai
pertama-tama tentu adalah mereka yang punya motif dan kemampuan," kata Dick
Eastman dkk dari APFN. Menurut analisa APFN sedikitnya ada empat kelompok
yang punya motif untuk melakukan serangan terhadap WTC/Pentagon: 1. Pihak-pihak yang berkepentingan
dengan perdagangan opium di Aliansi Utara serta kepentingan money laundering
melalui saluran investasi global, termasuk di dalamnya bisnis opium, heroin, dan
turunannya.
2. Kalangan yang berniat memperebutkan
kekayaan migas senilai 6 triliun dolar di Asia Tengah.
3. Kalangan yang ingin mengembalikan
dukungan terhadap kebijakan Sharon di Israel yang mulai dinilai tidak
populer.
4. Kalangan yang berkepentingan
menentukan harga emas, perebutan bisnis minyak ilegal antara Kazakhstan dan
Iran, dan terlibat penyuapan beberapa kasus yang dokumennya tersimpan dalam file
dan bank data FBI di menara kembar WTC.
Keempat
kelompok itu, menurut analisis APFN, mempunyai saluran komunikasi rahasia,
melalui jaringan bank dan kekuatan politik terintegrasi, serta koneksi dengan
CIA dan Mossad. Jika ada satu dari empat kelompok itu terlibat, maka tiga
yang lainnya juga tersangkut. Mossad dan CIA selama ini terlibat lalu
lintas perdagangan opium-heroin dan turunannya. Dalam operasinya mereka juga
mendapat backing investasi dari elite keuangan Amerika dan
Inggris. Aliansi Utara Afghan sejauh ini dipercaya berperan menumbuhkan
70-90 persen perdagangan opium dunia. Jalur distribusi yang paling
banyak dipakai adalah lewat perbatasan Cina-Afghan. Mereka beroperasi
dengan bantuan dan proteksi dari tentara Cina: People's Liberation Army
. Bisnis opium ini kemudian terhambat ketika Afghan dipimpin
Taliban. Produksi opium dunia konon menurun sampai 92 persen, tulis Robert
Fisk dalam The Guardian. Proses money laundering melalui pendirian bank
dan investor global juga terganggu. Kondisi 'krisis opium' inilah yang
kemudian menjadi motivasi awal dari sekelompok pembelot CIA dan Mossad untuk
mencari cara meruntuhkan pemerintah Taliban di Afghan. Kemudian, mafia Rusia
dan Kazakh dikabarkan mempunyai untaian kriminal dengan eksekutif AS James
Giffen di Kazakhstan. Giffen sendiri termasuk orang bermasalah dan
terlibat kasus sengketa bisnis minyak di Kazakhstan dan Iran yang
tengah ditangani Dewan Yury New York dalam beberapa bulan sebelum 11
September. Dokumen hasil investigasi kasus James Giffen, menurut Seymore
Hershe di New Yorker 9 Agustus, tersimpan di kantor FBI yang berlokasi di
lantai 20-25 WTC. Disebutkan, James Giffen termasuk orang kunci yang
membuat persetujuan bisnis minyak senilai triliunan dolar dengan
Kazakhstan, termasuk rencana pipanisasi migas Trans-Afghan senilai 6 miliar
dolar. Selain mempunyai kedekatan dengan agen-agen pembelot CIA, Giffen
juga mempunyai koneksi khusus dengan faksi "dark side" Mossad.
Dalam merekayasa bisnisnya, Goffen juga dekat dengan elite ekonomi AS
seperti Allan Greespan , Goldman Sachs, Morgan & Co, serta beberapa figur
dan lembaga berpengaruh lain di AS. Termasuk di dalamnya dengan
kekuatan lobi Yahudi yang dipimpin Paul Wolfowitz. Giffen tentu saja
setuju dan senang --kalau bukan ini ide orisinilnya-- untuk mengoperasikan
serangan dengan target merusak kantor FBI di WTC, berikut bukti-bukti dokumen
investigasi yang akan menjeratnya ke pengadilan. Dalam operasinya, tidak
mustahil sengaja melibatkan aktivis muslim radikal. Dengan cara ini, dia
berharap Aghanistan diserang dan Pemerintah Taliban jatuh. Aliansi Utara yang
pro-komunis diharapkan akan berkuasa dan selanjutnya melapangkan binis minyak
di kawasan Caspian Ring, Asia Tengah itu. Setelah mengurai siapa yang
punya motif, APFN kemudian menganalisis siapa yang punya kemampuan melakukan
serangan seperti aksi 11 September. Pelaku aksi 11 September, menurut Donn de
Grand, adalah mereka yang berkemampuan teknis menguasai teknologi melumpuhkan
radar dan mempunyai akses ke sistem surveillance penerbangan sipil dan
militer. Secara sederhana mereka dapat diidentifikasi berasal dari
negara-negara yang mempunyai pesawat AWACS atau yang setara. Jumlahnya tidak
banyak, mereka adalah AS, Cina, Rusia, Saudi, Israel, dan negara-negara
anggota NATO. Kecuali Arab Saudi, negara-negara itu mampu menggunakan dan
merekayasa electro-magnetic pulsing untuk melumpuhkan radar dan menjinakkan
sistem kendali penerbangan dan komunikasi pesawat dan antipesawat,
kemudian menerbangkannya secara otomatis dengan kendali jarak jauh
.Seorang pejabat AU, jelas Donn de Grand, pernah mengakui
bahwa AS sudah mampu menerbangkan robot terbang tak berawak sebesar Boeing
737 melintas Pasifik menuju Australia. Robot terbang itu dapat diprogram
dan dimonitor mobilitasnya dari sebuah stasiun kendali di luar negeri.
The Economist edisi 20 September 2001 juga pernah menerbitkan komentar
dari CEO British Airways, Robert Ayling, yang menyatakan bahwa satu
pesawat jet komersial kini dapat dikomando dari stasiun kendali di darat
maupun udara. Pesawat itu bisa dikendalikan secara remote bahkan ketika
pesawat itu terbajak. Koresponden AP <7/10/01> di Brussels
pernah menurunkan laporan bahwa atas permintaan Washington, NATO akan segera
mengirim pesawat surveillance untuk operasi antiteroris di AS sebagai respon
atas serangan ke New York dan Washington. Pejabat NATO mengatakan
sebuah kekuatan militer asing akan dipakai untuk mempertahankan tanah air
AS. AS sendiri sedikitnya mempunyai 33 pesawat AWACS. Dari jumlah itu, 27
di antaranya dalam kondisi siaga di Oklahoma. Anehnya, beberapa
saat setelah aksi 11 September, ada pemintaan dari Pemerintah Bush
kepada NATO untuk menerbangkan AWACS sebagai bantuan untuk memonitor
pergerakan pesawat di wilayah domestik AS. Undangan terhadap kekuatan
asing itu sempat menimbulkan kecurigaan dari kalangan praktisi dan pengamat
penerbangan. Mengapa AS minta bantuan AWACS? Apakah semua fasilitas milik AS
rusak sebelum aksi 11 September? Kalau benar rusak, mengapa itu bisa sampai
terjadi. Serentak lagi! "Kami semua sebetulnya terlatih untuk mengatasi
pembajak," kata Kent Hill, kapten pilot senior dan teman Chic Brulingame di
American Airlines, yang juga mantan penerbang F-4 Phantom di
Vietnam. Ketika pesawat terancam pembajakan, jelas Hill, pilot
profesional tinggal memasukan kode empat digit ke dalam transponder. Stasiun
kendali penerbangan di daratan terdekat akan otomatis membaca pesan darurat
"I am being hijacked". Selanjutnya pesawat akan mendarat sendiri
dengan aman, tanpa campur tangan pilot. "Sungguh aneh mengapa mekanisme
standar FAA ini tidak dipakai." Faktanya, ternyata semua transponder
pesawat yang dibajak mati secara virtual pada saat yang sama. Tak lama setelah
lepas landas dan baru memasuki ketinggian yang aman, transponder mengalami
deaktivasi. Seketika blip di layar radar hilang. Komunikasi antar pesawat dengan
stasiun kendali pun terputus total. Dan, anehnya lagi, black box pesawat --yang
diharap bisa membuka misteri pembajakan-- ternyata juga dilaporkan semua tidak
berfungsi dan tak bisa direstorasi. Ini hanya mungkin terjadi dengan rekayasa
teknologi tingkat tinggi, yang --seperti diakui Pemerintah Taliban-- tidak
dimiliki oleh Usamah bin Ladin.
_____________ Sumber : Republika 18 November
2001 |