| TIDAK
semuanya menjadi kelabu di awal tahun ini. Setidaknya, masih ada pihak-pihak
yang berusaha menyalakan obor untuk menerangi perjalanan bangsa ini agar
tidak terjungkal ke dalam jurang. Adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan
Muhammadiyah yang telah 'menyalakan obor' itu, kemarin. Dua organisasi
Islam terbesar di Indonesia itu bersepakat untuk bersatu menyamakan konsepsi
dan pandangan bagaimana secara bersama-sama ikut menyelamatkan Republik
ini. NU dan Muhammadiyah juga satu nada untuk lebih memunculkan Islam yang
lebih sejuk dan bersahabat. Kedua organisasi itu, yang masing-masing
diwakili KH Hasyim Muzadi dari NU dan Syafii Maarif dari Muhammadiyah,
akan mengadakan pertemuan-pertemuan yang dimulai dengan halalbihalal
bersama. NU-Muhammadiyah bersepakat untuk membuat gerakan
Islam independen yang tidak bisa dibedakan lagi mana Muhammadiyah dan mana
NU. "Ini akan menghindari adanya konflik-konflik yang sifatnya kecil dan
sangat politis. NU-Muhammadiyah akan tetap bergerak dalam moral keagamaan
dan tidak terseret dalam wilayah politik," jelas Hasyim Muzadi. Sebuah
peneguhan yang sejuk dan amat simpatik. Politik memang telah membuat hubungan
antara NU dan Muhammadiyah meregang dan menegang. Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB) memang bukan sepenuhnya representasi warga NU dan
Partai Amanat Nasional (PAN) bukan sepenuhnya mewakili warga Muhammadiyah.
Tetapi, tak bisa dimungkiri, perseteruan politik kedua partai tersebut
selama ini telah menyeret warga NU dan Muhammadiyah dalam jurang perbedaan
yang semakin menjauhkan. Kita masih ingat bulan madu yang hanya
sebentar antara Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Amien Rais
menjelang hari-hari terakhir pemerintahan BJ Habibie. Amien menyebut Gus
Dur my old brother dan Gus Dur menitipkan warga NU pada Amien. Sayang,
waktu bulan madu kedua tokoh itu hanya berlangsung singkat. Keduanya pun
kemudian berseberangan jalan. NU dan Muhammadiyah pun seperti kembali pada
pola hubungan yang stereotipe: saling berjauhan. Harapan masyarakat akan
persatuan pun sirna. Kini persatuan itu diteguhkan kembali setelah
dikoyak berbagai turbulensi politik yang menegangkan antara NU dan
Muhmmadiyah. Baik Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi maupun Ketua Umum PP
Muhammadiyah Syafii Maarif bukanlah orang-orang politik seperti Amien Rais
dan Gus Dur, dulu. Oleh sebab itu, bobot dari ikrar persatuan
NU-Muhammadiyah itu akan lebih genuine, lebih murni. Indonesia memang
bukan hanya milik NU dan Muhammadiyah. Tetapi, sebagai organisasi
besar berbasis Islam, keduanya adalah lokomotif untuk merekatkan persatuan
di Republik ini. Jika kedua lokomotif ini berhenti, semua gerbong juga
akan berhenti. Itulah sebabnya, sebagai lokomotif, NU
dan Muhammaduyah harus benar-benar menyadari peranan mereka. Meregang dan
merekatnya bangsa ini sangat tergantung dari bagaimana dua organisasi besar
itu memberi contoh dan inspirasi. Maka, kita berharap ikrar persatuan
NU-Muhammadiyah bernilai abadi. |