Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Sebaik-baik pemimpinmu ialah mereka yang kamu kasihi dan mereka mengasihimu. Kamu mendoakan mereka dan mereka mendoakanmu. Dan sejahat-jahat pemimpinmu ialah kamu membenci mereka dan mereka membencimu. Kamu mengutuk mereka dan mereka mengutuk mu. Sahabat-sahabat berkata: "Bolehkah kami menentang mereka?" Jawab Nabi: "Tidak, selama mereka tetap menegakkan sembahyang." (HR. Muslim)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
03 Januari 2002 - 12:03
"Babak Baru NU-Muhammadiyah"    
 

TIDAK semuanya menjadi kelabu di awal tahun ini. Setidaknya, masih ada pihak-pihak yang berusaha menyalakan obor untuk menerangi perjalanan bangsa ini agar tidak terjungkal ke dalam jurang. Adalah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang telah 'menyalakan obor' itu, kemarin.

Dua organisasi Islam terbesar di Indonesia itu bersepakat untuk bersatu menyamakan konsepsi dan pandangan bagaimana secara bersama-sama ikut menyelamatkan Republik ini. NU dan Muhammadiyah juga satu nada untuk lebih memunculkan Islam yang lebih sejuk dan bersahabat. Kedua organisasi itu, yang masing-masing diwakili KH Hasyim Muzadi dari NU dan Syafii Maarif dari Muhammadiyah, akan mengadakan pertemuan-pertemuan yang dimulai dengan halalbihalal bersama.

NU-Muhammadiyah bersepakat untuk membuat gerakan Islam independen yang tidak bisa dibedakan lagi mana Muhammadiyah dan mana NU. "Ini akan menghindari adanya konflik-konflik yang sifatnya kecil dan sangat politis. NU-Muhammadiyah akan tetap bergerak dalam moral keagamaan dan tidak terseret dalam wilayah politik," jelas Hasyim Muzadi.

Sebuah peneguhan yang sejuk dan amat simpatik. Politik memang telah membuat hubungan antara NU dan Muhammadiyah meregang dan menegang. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memang bukan sepenuhnya representasi warga NU dan Partai Amanat Nasional (PAN) bukan sepenuhnya mewakili warga Muhammadiyah. Tetapi, tak bisa dimungkiri, perseteruan politik kedua partai tersebut selama ini telah menyeret warga NU dan Muhammadiyah dalam jurang perbedaan yang semakin menjauhkan.

Kita masih ingat bulan madu yang hanya sebentar antara Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Amien Rais menjelang hari-hari terakhir pemerintahan BJ Habibie. Amien menyebut Gus Dur my old brother dan Gus Dur menitipkan warga NU pada Amien.

Sayang, waktu bulan madu kedua tokoh itu hanya berlangsung singkat. Keduanya pun kemudian berseberangan jalan. NU dan Muhammadiyah pun seperti kembali pada pola hubungan yang stereotipe: saling berjauhan. Harapan masyarakat akan persatuan pun sirna.

Kini persatuan itu diteguhkan kembali setelah dikoyak berbagai turbulensi politik yang menegangkan antara NU dan Muhmmadiyah. Baik Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi maupun Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif bukanlah orang-orang politik seperti Amien Rais dan Gus Dur, dulu. Oleh sebab itu, bobot dari ikrar persatuan NU-Muhammadiyah itu akan lebih genuine, lebih murni.

Indonesia memang bukan hanya milik NU dan Muhammadiyah. Tetapi, sebagai organisasi besar berbasis Islam, keduanya adalah lokomotif untuk merekatkan persatuan di Republik ini. Jika kedua lokomotif ini berhenti, semua gerbong juga akan berhenti.

Itulah sebabnya, sebagai lokomotif, NU dan Muhammaduyah harus benar-benar menyadari peranan mereka. Meregang dan merekatnya bangsa ini sangat tergantung dari bagaimana dua organisasi besar itu memberi contoh dan inspirasi. Maka, kita berharap ikrar persatuan NU-Muhammadiyah bernilai abadi.

 
 
(Dibaca: 10573 kali | Dikirim: 2 kali | Print: 194 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2013, Dudung Abdussomad Toha