Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Amal apakah yg paling dicintai Allah?" Rasulullah berkata,"yg dikerjakan secara tetap walaupun sedikit." Sabdanya lagi,"Lakukanlah amal perbuatan yang sanggup kamu lakukan" (HR. Bukhori)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
02 Januari 2002 - 10:53
BAITI, JANNATI' DI TAHUN 2002 RUMAH SIAPA?       
Oleh : Syaifoel hardy
 

Pagi tadi saya kedatangan pasien Mohammad Nasser, mengeluh sakit di bahu kirinya sejak 2 hari terakhir karena 3 hari yang lalu dia, yang bekerja di Store, sempat memindahkan batterey sebanyak 10 buah, masing-masing beratnya sekitar 20 kg. Jangankan dia yang berperawakan kurus. Saya saja, yang 6 kg berat badan diatas dia barangkali tidak sanggup melakukan hal serupa. Saat memasuki klinik, kebetulan saya sedang membaca ayat suci Al Quran, sebuah kebiasaan yang saya lakukan pada pagi hari ketika memulai pekerjaan di kantor. Hal itu saya lakukan karena memang pada pagi-pagi sekali hanya satu-dua pasien yang datang, sebagian waktu sesudah membikin journal pasien hari kemarin, saya manfaatkan waktunya untuk membacanya. Alhamdulillah. Saya syukuri hal ini karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, meski hanya 10 menit.

Ketika Nasser mengetahui apa yang saya lakukan, dia sepertinya mau urungkan niatnya melangkahkan kakinya ke klinik. Saya bilang tidak apa-apa, karena melayani pasien adalah kewajiban dan tanggungjawab saya, bukan membaca Al Quran didalam dinas. Saya dibayar untuk melayani pasien, bukan untuk membaca Kitab Suci tersebut. Untuk sementara saya tutup Kitab Suci tersebut.

Saat saya tanya apakah dia sering membaca Al Quran, dia jawab kadang- kadang. Istilah 'kadang-kadang' amat umum kita gunakan, sebagai suatu jawaban yang 'defensif' guna menutupi kekurangan kita. Itu lebih baik dari pada jawaban 'tidak pernah sama sekali' kan?

Membaca Al Quran ibarat membangun sebuah rumah, bukanlah ada pada fondasi rumah, pula bukan dinding, tiang rumah, bahkan atap rumah. Konstruksi dasar rumah jika dikaitkan dengan agama adalah rukun Islam. Lima dasar tersebut, syahadah, shalat, zakat, puasa dan haji, adalah pilar dalam pembangunan rumah. Islam belum sempurna apabila kelima dasar tersebut tidak terpenuhi. Belum bisa dikatakan kokoh apabila fondasi, dinding, atap, tiang-tiang, serta genting tidak ada. Satu unsur aja diantara kelima elemen ini tidak terpenuhi, rumah tidak bakal berdiri. Bayangkan jika rumah tanpa atap? Sama hanya rukun iman tanpa zakat. Belum lengkap.

Membaca Al Quran adalah dalam upaya memperindah bangunan rumah apabila sudah berdiri. Agar nampak indah, bangunan rumah tersebut bisa saja dindingnya perlu dicat warna Krem. Sejumlah perkakas rumah tangga, kulkas, mesin cuci, hiasan dinding, korden, meja kursi, tempat tidur, bahkan menanam bunga di halaman perlu dipikirkan agar rumah tersebut bukan hanya nyaman ditempati, namun indah dipandang.

Tidak jarang  si pemilik rumah sudah puas dengan berdirinya rumah saja. Barangkali dia tidak perlu meja kursi meski yang namanya tamu akan sering datang. Jika tamu datang, bukankah tuang rumah akan kerepotan? Mereka tidak membutuhkan almari makan karena sekali masak langsung dihabiskan. Jika saja ada sisa makanan akan disimpan sembarangan tempat. Kalau kondisi didalam rumah tidak mendapatkan perhatian yang cukup, apalagi keadaan halaman. Jangankan menanam bunga, membersihkannya saja barangkali jarang dilakukan.

Demikian pula halnya agama. Menjalankan kewajiban yang ada dalam rukun Islam saja belum cukup. Kita diajak untuk membangun silaturahmi, menyebarkan salam, berbuat baik pada tetangga dan sanak keluarga, berbelas kasih kepada anak yatim dan orang miskin, membantu teman yang membutuhkan, menggali dan menularkan ilmu dan ketrampilan yang kita punya, berdakwa, atau membaca Al Quran, hingga mencuci pakaian dan membersihkan rumah.

Aspek-aspek diatas jika mendapatkan cukup perhatian akan nampak keharmonian kehidupan muslim ditengah-tengah masyarakat, sebagaimana indahnya rumah ditengah lingkungannya. Orang-orang yang berlalu- lalang di sekitar rumah akan mengagumi keindahannya. Walupun bukan kekaguman itu tujuan membangun rumah. Tujuan membangun Islam juga bukan untuk dikagumi.

Kebanyakan diantara kita menganggap bahwa toh kita sudah melaksanakan shalat, zakat, puasa, atau haji. Misalnya, shalat berjamaahpun tidak mendapatkan tekanan yang cukup. Akibatnya, jika shalat identik dengan tiang rumah, maka bangunan rumah tersebut rapuh. Bila ada 100 rumah dalam satu kampung, kenyataannya tidak ada satupun yang kokoh. Sebaliknya rumah-rumah tersebut ternyata rawan keropos. Demikian halnya dengan kondisi kita umat Islam saat ini, sudah kondisinya kurang solid, ditambah lagi mudah dirongrong dari luar. Diperlukan integrasi yang paripurna agar nampak bahwa pengikutnya menjadi suatu komunitas yang kokoh, dalam arti tidak hanya menyangkut praktek ubudiah, namun juga amalia.

Membaca Al Quran saja, memang belum cukup. Sama halnya mengecat sebuah rumah. Rumah tidak akan nampak cantik hanya karena warna catnya. Islam belum akan nampak indah hanya karena umatnya membaca ayat-ayat suci Al Quran. Islam lebih bersifat praktis. Apa yang diajarkan, wajib dipraktekan. Akan terdapat ketimpangan jika di sekolah kita mendapatkan teori, namun disaat kerja kita ternyata tidak pernah mepraktekan teori tersebut. Disaat shalat kita membaca salam (usai membaca takhiyat akhir, ditutup dengan 'Assalamu'alaikum warahmatullah ', dua kali, sambil menoleh arah kanan kemudian ke kiri). Ironisnya selesai shalat, kita tidak pernah tahu siapa yang ada di samping kiri dan kanan kita. Apalagi yang namanya memberi salam. Kita tidak pernah tahu siapa tetangga disebelah rumah kita, apalagi yang namanya menawarkan bantuan. Meski shalat 5 waktu, puasa, zakat, dan haji kita lakukan, ternyata kita juga membuang sampah sembarangan.  Jika kondisinya sudah demikian, itu berarti bahwa kitalah yang 'menginjak-injak' ajaran praktis Islam.

Lantas kenapa disaat orang lain pada berbondong-bondong menghina Islam,  kita kemudian bereaksi keras? Sementara kita dari dalam sudah melakukan 'penggerogotan' sejak awal?

Tahun 2002 ini, kita tidak tahu apakah Islam akan memasuki babak baru yang lebih cerah atau tidak. Permasalahannya memang sudah kronis. Dari dalam kita seharusnya melakukan pembenahan, menghiasi rumah dengan segala perabotan yang perlu disiapkan, bukan hanya demi kepentingan kita sendiri, tapi jaga-jaga andai saja ada tamu yang menginap. Seandainya ada halaman, ada baiknya kita manfaatkan agar lingkungan nampak hijau. Asal saja jangan berlebihan, melebihi anjuran konstruksi bangunan itu sendiri. Lihat perabotan orang-orang Amerika Serikat yang amat konsumtif! Barang-barang yang mestinya tidak perlu ditumpuk di rumah. Kulkas saja misalnya, ditempeli banyak gambar-gambar hingga tidak kelihatan 'bentuk' kulkas aslinya, bahkan catnya pun diganti. Dalam ajaran Islam, itu berarti mengadakan hal- hal baru yang tidak diajarkan oleh Quran dan Rasulullah Muhammad SAW. Bid'ah! 'Baiti, jannati', demikian Rasulullah SAW menggambarkan kesempurnaan sebuah rumah keluarga.

Betapa indahnya kehidupan Islam ini apabila kita isi dengan segala 'perabotan' yang diperlukan didalamnya. Kenyaman ini tidak hanya akan dinikmati oleh umat Islam sendiri, akan tetapi juga oleh  orang-orang Yahudi, Budha, juga Nasrani, karena keindahan yang dipancarkan bukan sebatas dalam masjid saja, namun juga keluar. The universal and practical religion! Namun kapan impian ini terwujud?  Bilamana tidak ada kesadaran mempraktekan misi Islam dalam kehidupan sehari-hari bukan tidak mungkin umat Islam akan tetap mengalami nasib yang serupa dari tahun ke tahun, termasuk tahun 2002 ini. Menginjak-injak dari dalam, dan mendapatkan cemoohan dari luar. Jika sudah demikian kondisi sebuah rumah, jangankan mau beli,  kontrakpun barangkali enggan. Astaghfirullah hal adzim!

 
 
(Dibaca: 14377 kali | Dikirim: 4 kali | Print: 203 kali | Nilai: 7.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha