ABSTRACT:
Keterusterangan memang sesuatu yang kadang menyakitkan, apalagi itu adalah sebuah
nilai kesucian. Namun, kesucian yang kini tertancap duri tajam akankah mampu menggoyahkan
sendi-sendi kebahagian? Akankah seorang lelaki bersabar dan setia menghadapi kenyataan,
bahwa sang kekasih telah tertoreh luka karena duri tajam? Sementara, sang wanita
yang telah terluka dicekam ketakutan seolah malam persembahan kesucian adalah
saat kiamat tiba.
Hidup dalam mimpi telah memperbesar khayalan, dan makhluk inilah yang menjadi
teman hidup. Terbebas atau terpenjara oleh mimpi mungkin tidak penting, karena
yang terpenting sang lelaki telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah
jiwa. Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi seiring waktu
merambat, kehadirannya justru membuat hidup menjadi berharga, setidaknya untuk
direnungkan dan digali mutiara intan berlian kekayaan batinnya.
*******************************************************************************************************
Kerinduan...selalu membuat kehagiaan. Kerinduan itu pulalah yang membuat sepasang
kaki seolah berlomba, bergerak bagai mesin bergantian. Karenanya, jantung pun
terus memompa rindu, harapan keluar masuk melalui jaringan darah, hingga sekujur
tubuh menjadi hidup dan bersemangat. Impian juga menyelimuti hati dan raga,
menggerakkan jasad untuk membangun sebuah rumah mungil yang selalu dirindukan,
menjalani hari-hari dengan khayalan, dan hidup dalam mimpi-mimpi ini seperti
hidup dalam kenyataan. Tapi khayalan pulalah yang membuat kita tenggelam, karena
terkadang tidak bisa membedakan antara khayalan dan kenyataan. Lantas, apa bedanya
khayalan dan kenyataan bila masing-masing ditanggapi dengan hati dan pikiran,
serta meninggalkan bekas dalam jiwa dan kehidupan? Apa bedanya antara mimpi
dan kenyataan, bila masing-masing merupakan khayalan yang lewat, yang memberikan
bayangannya pada jiwa, lalu beberapa saat kemudian bersembunyi dari alam indera?
Kenyataan yang ada, sang kekasih telah tergores luka tajam. Ia tertusuk, sadar
telah terbangun dan kehilangan mimpi bersama bidadari yang dituntun dengan kedua
mata terpejam menuju tempat tinggal penuh keindahan. Seorang bidadari yang sejak
perjumpaan pertama telah membuatnya terpesona dan mabuk kepayang. Karena sang
bidadari itu pulalah ia mempersiapkan raga dan seluruh perasaan demi menyongsong
hari yang dijanjikan, hidup bersamanya untuk mempersembahkan gairahnya dalam
sebuah rumah tangga yang disahkan agama.
Ia membayangkan dirinya di saat-saat tidak lagi hidup di bumi dan hanya merasa
bahwa kehidupan adalah semata-mata impian yang membahagiakan. Impian itu kadang
berupa lagu merdu yang penuh rahasia, menggemuruhkan hati, menggerakkan pikiran,
dan membangkitkan kemabukan, impian, kerinduan, dan keluluhan dalam perasaan.
Ia telah mencintai gadis itu yang selalu menyanyi dengan tangan dan hati, dengan
urat syaraf dan paras muka yang segar. Gadis itu adalah lagu itu sendiri dalam
bentuk nyata sebelum akhirnya duri-duri pun muncul mengganggu. Lagu itu pelan-pelan
merayap ke dalam dirinya dan dengan halus nada-nada lembut pun tumpah dalam
syarafnya. Diri menjadi tenang dan syarafnya lega. Ia terlena, mabuk, lalu melayang-layang
di angkasa rasa yang jernih.
Namun, kenyataan kadang terpisah dengan khayalan, tapi itu menjelma pada dalam
diri bidadarinya. Ya! Ia adalah bidadari, sekaligus ibu, ibu yang kelak dari
rahimnya terlahir si kecil dengan selimut kasih sayang. Sang bidadari kemudian
membungkuk dengan penuh kasih lalu mengangkat si kecil ke dalam dekapannya dengan
lembut, menepuk-nepuk punggungnya dan menuju ke ranjang dengan pelan. Kemudian
terpampanglah pemandangan yang mempesona yang belum pernah terlihat selama hidupnya,
kecantikan yang terpancar dalam wajah rupawan, pandangan penuh kasih dalam dua
mata penuh pesona, gerakan lemah dalam anggota tubuh yang matang, dan ciuman
panjang dari dua bibir yang menggoda. Ah...ia memang bidadari, karena hanya
bidadarilah yang memiliki sifat-sifat keibuan yang sempurna
Saat rembulan menyuguhkan hidangan malamnya, ia merasa ada semacam kesucian
pada sang gadis. Namun, saat terlontar pikiran seperti itu, terkadang kedukaan
yang begitu berat dan kebisuan menusuk-nusuk, menyedihkan. Ia lalu mematikan
lampu, dan menuju tempat tidur sambil mencoba menahan air mata sebisa mungkin.
Ketika berbaring, air mata itu bergerak, menerobos kelopak mata, menuju ke pipi,
ke bantal dan membasahi sarung bantal dan kapuk di dalamnya. Sang lelaki tegar
pun tertidur dengan tubuh lemah. Air mata menjadi bahasa sunyi dan wakil dari
perasaan duka yang dihimpit oleh nasib.
Saat ia terbangun, ia mendapati dirinya berjiwa harum. Ia bangun dengan jiwa
yang jernih, seperti kejernihan seorang sufi. Haruskah ia meninggalkan sang
gadis yang telah bergulat dengan duri-duri, dan melawan masa lalu? Bahkan, setelah
itu semua, sang gadis memberikan jiwa kepadanya, tanpa tirai atau selimut apa
pun. Kerinduan itu menusuk kembali. Perasaannya menggelora hebat dan raganya
bergetar karena cinta. Segala sesuatu yang ada pada sang gadis telah menjadi
bagian dari kecintaan, disenangi jiwanya, dan mengalirkan cinta dalam tulang
sumsumnya. Sesuatu itu diselimuti cahaya mempesona, yang memunculkan khayalan
dan mimpi indah memabukkan, hingga ia larut dalam lautan kerinduan.
Akankah sang lelaki bebas atau terpenjara oleh mimpi? Baginya, semua itu tidak
penting. Sebab ia telah tahu apa makna duri yang tersembunyi di tengah jiwa.
Duri yang ketika menancap dijiwa memang menyakitkan, tetapi lama kelamaan kehadirannya
justru membuat hidup menjadi berharga. Setidaknya untuk direnungkan dan digali
mutiara intan berlian kekayaan batinnya, juga kekayaan cinta yang sangat sulit
dirumuskan ketinggian nilainya. Ya...cinta memang telah membuat sang lelaki
merasa kaya, dan ia merasa cukup mensyukuri hal ini selama hari-hari bergerak
menuju ujung hidupnya.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa
---------------------------------
Original Title: Duri Dalam Jiwa (Asywak)
Author: Sayyid Qutb
Editor: Abu Aufa
Catatan: Ide tulisan ini adalah dari sebuah novel yang berjudul Duri Dalam Jiwa,
Penerbit Navila. Sayyid Qutb menulis novel ini pada tahun 1947, jauh sebelum
beliau bergabung dengan Ikhwanul Muslimin.
|