| Alkisah di sebuah istana, Putri Murasaki sedang sakit
berat, karena itu Ratu Akashi pun berkenan
mengunjunginya. Selama mereka berbincang-bincang,
angin musim gugur bertiup, daun semanggi pun
berayun-ayun, indah berkilauan diterpa matahari senja.
Tak lama Pangeran Genji datang menghampiri, ia melihat
sang putri sedang bangun dan menatapi taman. Pangeran
terkejut, dan bertanya, "Duhai Putri apakah engkau
baik-baik saja? Senang-kah engkau berbincang dengan
sang Ratu?" Putri Murasaki pun tersentuh hatinya
karena ucapan sang Pangeran yang penuh kasih. Ia pun
membuat sebuah puisi yang menggambarkan dirinya yang
tak dapat hidup lebih lama lagi, laksana embun di daun
semanggi yang cepat menghilang.
Seraya memandangi pohon semanggi yang berayun-ayun,
seperti akan menjatuhkan embun-embunnya, Pangeran
Genji membuat balasan untuk puisi itu sambil
menitikkan air matanya. Dengan tangan digenggam oleh
Ratu, Putri Murasaki mengakhiri hidupnya yang singkat
seperti embun menjelang fajar.
Ikhwah fillah rahimakumullah,
Kisah diatas adalah sebuah Genji monogatari* dari
Jepang. Sebuah kisah yang menggambarkan sosok Putri
Murasaki yang usianya begitu singkat, laksana
embun-embun di daun semanggi. Di dunia ini bukankah
kehidupan kita pun bagaikan embun, ia menghilang
ketika fajar menjelang, tidaklah mungkin untuk merubah
takdir siapa yang mendahului dan siapa yang
ditinggalkan, karena itu semua telah ditakdirkan
oleh-Nya.
Dulu (atau sekarang masih?) kalau kita ikut ceramah di
masjid-masjid, lalu ustadznya ngomong masalah kematian
kadang kita ngedumel, "Nih ustadz, ceramahnya mati
melulu, lha masih muda kok diingetin mati sih. Belum
nikah bo!!!" Lebih-lebih lagi kalo ustadznya udah
nakutin-nakutin, "Ntar kalo mati itu kasurnya tanah,
temannya ulat, sendirian, gelap gulita,
bla...bla...bla...," pokoknya yang serem-serem, jadi
tambah gondok. Dalam hati langsung berkata, "Ih...nih
ustadz, reseh banget, pake' nakut-nakutin lagi. Auk ah
gelap!!!" Biasanya ustadz-ustadz yang suka ngomongin
masalah kematian 'peminatnya' dikit, coba kalo tema
ceramahnya tentang pernikahan, cinta, dan yang
'sebangsa' bisa melimpah ruah hingga emperan gedung
:-)
Walaupun pernikahan merupakan salah satu sunnah
Rasulullah SAW, namun dalam Islam kita juga diingatkan
untuk selalu banyak-banyak mengingat kematian, karena
orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan
dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.
Mati itu juga bukan haknya orangtua aja kan, tapi ia
bisa terjadi pada siapa saja, baik ia orangtua, yang
masih muda, bahkan anak-anak kita. Ia bisa terjadi
kepada orang miskin papa, pengemis yang selalu
menengadahkan tangan mengharap belas kasihan, orang
yang kaya raya hingga 7 turunan, presiden, raja
(termasuk Raja Chatting), hingga pengangguran.
Kematian bisa juga menyergap seorang Putri Murasaki,
bahkan Putri-nya Ramli, si Raja Chatting :D (baca
tausyiah sebelumnya, Ramli Si Raja Chatting).
Dan kematian bukanlah sesuatu yang harus kita benci,
karena kematian adalah bagaikan jalan pertemuan dengan
Allah, dan barang siapa yang membenci pertemuan
dengan-Nya, maka Allah pun membenci pertemuan
dengannya [Bukhari dan Muslim]. Kita harus selalu siap
saat kematian itu menyergap kita, dan selalu
mempersiapkan diri ini dalam keadaan yang
diridhoi-Nya.
Menurut Said Hawwa dalam bukunya Mensucikan Jiwa, cara
untuk mengingat kematian adalah dengan mengosongkah
hati ini dari segala sesuatu kecuali dzikrul maut, dan
caranya adalah dengan mengingat saudara-saudaranya
yang telah mendahului. Bukankah orang yang paling
berbahagia adalah orang yang dapat mengambil pelajaran
dari orang lain? Bahkan Umar bin Abdul Aziz pernah
berkata, "Tidakkah kalian melihat bahwa kalian setiap
hari menyiapkan orang yang pergi dan pulang kepada
Allah, kalian meletakkannya di atas tanah dan
membantalkan tanah dengan meninggalkan para kekasih
dan terputus segala upaya."
Dengan terus menerus menghadirkan pikiran-pikiran
tersebut, mengunjungi orang-orang yang sakit dan
menghadiri upacara penguburan, itu merupakan salah
satu jalan dzikrul maut. Bahkan, Ar-Rabi' bin Kha
Khaitsam menggali kuburan di rumahnya dan setiap hari
ia tidur di dalamnya beberapa kali untuk senantiasa
mengingat kematian. Bahkan ia berkata, "Seandainya
mengingat kematian berpisah dari hatiku sesaat saja,
niscaya hatiku rusak."
Emang sih dunia ini diciptakan indah dalam pandangan
mata. Dihiasi taman-taman bunga yang indah, anak-anak
sebagai penghibur diri, istri yang cantik, suami yang
ganteng, makanan yang beraneka rupa, harta, tahta,
dll. Namun semua itu pada akhirnya juga akan kita
tinggalkan, tak ada yang terbawa ke alam kubur kecuali
hanya kain kafan untuk membungkus diri ini.
Kematian memang mestinya tak perlu menjadi sesuatu yang ditakuti,
karena niscaya ia akan datang menghampiri pada waktunya nanti. Dan sesungguhnya
yang terpenting adalah mempersiapkan diri ini hingga kelak kematian itu menjadi
indah. Isy kariman aw mut syahidan, hidup mulia atau mati syahid, demikian
pesan Sayyid Qutb!
Selamat berjuang untuk hidup secara mulia di dunia ini
ya akhi wa ukhti fillah, mulia dipandangan manusia
terlebih lagi mulia dipandangan Allah SWT, hingga
kematian syahid menemui kita.
Wallahu a'lam bishshawab.
*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,
Abu Aufa
|