| Maha Suci Tuhan
yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang
ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka
ketahui.
(QS. Yaasin 36:36)
***** "Ya Allah, siapakah gerangan sahabat sejati yang Engkau pilihkan
untukku?, yang mau menemaniku merenda hari-hari untuk beribadah kepada-Mu,
yang mau berbagi suka dan duka dalam mengharungi hidup ini,
yang menjadikanku kokoh kuat dalam menegakkan kalimat-Mu, agar.. diriku
lebih mensyukuri segala nikmat yang telah Engkau berikan, agar.. diriku lebih
dekat kepada-Mu.." Nisa tertegun mendengar do'a Ayuning di
keheningan malam. Sahabatnya itu memintanya untuk menemani tidur karena
orangtua Ayu ke luar kota. Do'a itupun usailah sudah, wajah Ayu bersemu merah
ketika tahu Nisa terjaga dari tidurnya. "Kamu mendengar do'aku Nisa?",
Nisa tersenyum, "Apakah do'a itu yang s'lalu Ayu panjatkan pada
Allah?", Ayuning diam, perlahan titik-titik embun jatuh dari kelopak
matanya. "Aduhai sayang.." Ujar Nisa seraya merangkul sahabatnya, perlahan ia
menyeka air mata itu, setelah agak tenang. "Ayu.., apa yang menjadi
keinginanmu adalah cita-cita seluruh wanita mukminat di dunia ini, namun
jikalau ia belum terwujud, itu adalah rahasia Allah, Yang Menciptakan
kita, bukankah Ia menciptakan makhluk-Nya menurut ukuran-ukuran yang telah
ditetapkan? kita selaku hamba-Nya hanya bisa berusaha dan ikhtiar,
dan hanya Allahlah yang menentukan. Bukankah Ayu mencintai Allah?,
rasa itu akan membuat Ayu yakin, Allah akan memilihkan yang terbaik
untukmu. Demi Allah Ayu.., Allah Maha Adil terhadap hamba-hamba-Nya,
karena itu, bersyukurlah bahwa Ia masih memberimu kesempatan untuk menjadi
wanita yang lebih baik dari sekarang. Ayu harus kuat dalam mengitari
perputaran roda kehidupan ini, karena perkitarannya semakin hari semakin
cepat. Jangan pernah berhenti sesaatpun, Ayu.. masih banyak yang perlu Ayu
perhatikan, masih banyak yang memerlukan perhatianmu. Kita datang ke alam
ini sendirian, Ayu.. dan kita juga akan pulang sendirian. Ayo.. jangan
sedih-sedih lagi, ya.. mana senyum manisnya?.." Ayu tersenyum pada Nisa, dari bibir mungil
itu keluar kata, "Tolong do'akan Ayu ya.." Nisa membalas senyuman tulus itu,
"Ia, Ayu.. Nisa do'akan" Mereka berdua sujud syukur pada Allah, melanjutkan
malam itu dengan tenggelam akan kerinduan beribadah kepada Allah. Semenjak malam
itu, Nisa lama tak bertemu Ayu, iapun maklum dengan kesibukan sahabatnya.
*****
Fikiran Ayu menerawang, matanya menatap lekat langit-langit
kamar, seketika ia terjaga saat mendengar telpon berdering, kriiing..
kriing... Samar-samar terdengar suara ibunya berbicara, "Ayu?, dari siapa
ya?, tunggu sebentar." Ibu bergegas ke kamarnya, "Ayu.., ada telpon dari
Herman." Ini sudah kesekian kali pemuda itu menelponnya, kalau sudah
di udara, melayang.. lupa segala-galanya. Entahlah iapun tidak tahu kenapa,
ada getar-getar halus yang menyusup ke relung hatinya saat
berbicara dengan sosok insan yang satu ini, hampir tak sepatah katapun
yang bernilai sia-sia. Yang mereka bicarakan seputar mencarikan jalan
agar anak-anak jalanan mampu mandiri tanpa meminta-minta, menanamkan
ajaran tauhid agar anak-anak tersebut terbentengi dari pihak-pihak yang ingin
meracuni fikiran mereka supaya berpindah agama, yach Herman punya kepekaan
sosial yang tinggi, sangat peduli terhadap nasib hamba-hamba Tuhan.
Pemuda seperti inilah yang didambakan Ayu selama ini, dan rasa itu
semakin kuat saat Herman berterus terang menyukai kelembutannya,
kecantikannya, dan betah berlama-lama berbicara dengannya, ah.. tetapi
apakah mungkin persahabatan mereka dapat berganti menjadi sebuah ikatan
perkawinan? sedangkan ia tahu kenyataannya bahwa Herman telah mempunyai
calon istri?! dan apa yang ditakutinya selama ini terbukti.. "Kamu
baik-baik saja kan, Ayu?.. bulan depan saya akan menikah. Sebenarnya.. Herman
mencintaimu Ayu, tetapi kami telah dipertemukan lebih dulu. Seandainya
saja saya lebih dulu mengenalmu.., maafkan saya, Ayu.., " Ayuning tak
sanggup mendengar kelanjutan kata-kata itu, air matanya jatuh tanpa suara, ia
berusaha keras menyembunyikan kesedihan dan kekecewaannya, karena ia sadar
semua yang terjadi adalah atas kehendak Allah, jika ia tak terima sama
artinya ia melawan takdir Allah. Ayu masih belum mampu mengendalikan
diri, tak pernah diduganya akhir hubungannya akan jadi begini.
Herman, pemuda yang disangkanya adalah sahabat sejati yang dipilihkan
Allah untuknya, ternyata.. perlahan dibukanya Diary Merah Jambu yang berisi
ungkapan rasanya dengan pemuda
itu.
*****
Dari Abu Hurairah r.a. katanya
Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman pada hari kiamat
kelak: Mana orang-orang yang saling mencinta karena Keagungan-Ku? Hari ini
Ku-naungi mereka, dimana tidak ada naungan yang lain selain
naungan-Ku. (HR. Muslim)
*****
Untukmu Sahabatku,
Sahabat, tahukah engkau?, nasihatmu
menduduki peringkat pertama di hatiku. Kemarin.. engkau mau mendengar keluhanku,
kemarin.. engkau beri jiwaku tetesan embun, dan kemudian.. kau tinggalkan
aku.
Akhirnya, diujung batas kesendirian
ini, aku temukan satu jawaban, bahwa kehidupan ini akan terasa indah, jika kita
senantiasa dekat dengan Allah, Ya Allah... Sahabat, kini kau datang lagi
menghampiriku, dan bertanya, "Bagaimana khabarku saat ini?", sambil tersenyum
aku berkata, "Alhamdulillah...", dan aku terharu saat mendengar, bahwa engkau
sayang padaku.
Wahai sahabatku, janganlah engkau
bosan untuk menasihatiku, jangan pula bosan untuk menyayangiku, bukankah
kehidupan ini akan terasa indah jika kita saling sayang?, saling cinta?,
Mencintai karena Allah. Sahabat, mencintai menjadikan kita kuat untuk tetap
berpegang pada tali Allah, dan mari kita tebarkan rasa cinta ini ke segenap
penjuru bumi, agar senantiasa damai hati insani.. Semoga Allah membalas segala
kebaikanmu padaku, Sayangku s'lalu untukmu.
Perlahan Ayu menutup Diarynya, air mata
mengucur deras dari kelopak matanya. "Ya Allah.. kenapa rasa ini harus ada?,
bagaimana mungkin aku memikirkan seseorang yang bukan Engkau takdirkan
untukku?!."
*****
Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui. (QS. Al Baqarah 2:216)
***** Dengan Nisalah Ayu selalu berbagi cerita suka dukanya, begitupun
sebaliknya. "Semua telah berakhir, Nisa!, aku harus
menerima kenyataan bahwa dia bukanlah untukku, walau terkadang aku masih
berharap Allah akan merubah segalanya, namun kecintaanku pada-Nya membuat aku
yakin, bahwa ini adalah yang terbaik yang diberikan-Nya. Sebenarnya
aku menaruh harapan besar pada hamba Allah yang sholeh itu, untuk menjadi
sahabat yang dapat kuajak bersama mengelilingi perputaran roda
ini, bagaikan Matahari dan Bulan yang silih berganti menerangi alam,
menjadi khalifah bagi insan taqwa di bumi ini. Namun sekali lagi aku
sadar, apa yang menurutku baik belum tentu baik menurut-Nya, aku tidak tahu
apa-apa, sedangkan Allah Maha Mengetahui segalanya. Yang terpenting bagiku
kini, menjalani hidup ini bagai air yang mengalir, jika tiba saatnya nanti,
insya Allah." Kata-kata mutiara itu meluncur deras dari
bibirnya, terdengar begitu tegar, "Apakah pemuda itu tahu perasaanmu,
Ayu?," tanya Nisa. Ayuning tersenyum. "Ia tahu, Nisa.., dari
perbincangan kami yang panjang, dari persahabatan kami yang cukup lama,
aku yakin ia juga merasakan hal yang sama, tapi sudahlah.. Pemuda itu lebih
dahulu mengenal wanita itu daripadaku, ia juga memutuskan untuk
menikahinya karena petunjuk Allah. Semoga Allah memberkahi pernikahannya
dan melimpahkan keberkahan atas pernikahannya." "Aamiin", ucap
Nisa. "Mungkin wanita itu lebih baik dan lebih
taqwa dariku, ya Nisa?." Sebelum sempat Nisa berkomentar, Ayu telah
meralat ucapannya. "Tapi bukankah yang berhak menilai baik dan taqwanya
seseorang hanyalah Allah?!.." "Iya, Ayu.." Nisa membenarkan ucapan sahabatnya.
"Eh, sudah jam 10, kita ke rumah Ana yuk." Kedua sahabat karib itupun pergi ke
rumah sahabatnya yang baru melahirkan. Di atas langit terlihat mendung.
***** "Subhanallah lucunya..," mata Ayu dan Nisa berbinar melihat bayi
mungil Ana, buah hati itu terlihat sehat, kulitnya putih dan rambutnya lebat
sekali. Ayu sebenarnya ingin menggendong, tapi khawatir terjadi apa-apa
karena si mungil baru berusia 5 hari, sementara di luar sana hujan turun
dengan derasnya. Ana begitu antusias menceritakan
pengalaman melahirkannya, dan Ayu begitu menikmatinya, sesekali ia tampak
merinding. Menghadapi masa-masa menstruasi saja sudah sedemikian menderita,
apalagi kalau melahirkan ya?, bathinnya. Perasaan cemas itu
semakin menjadi-jadi saat ia teringat Firman Allah yang menceritakan
betapa sakitnya Maryam melahirkan Nabi Isa, a.s. sehingga ia
berkata; "Aduhai, alangkah
baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi
dilupakan."
(QS. Maryam 19:23)
"Sebenarnya aku pingin operasi caesar, supaya nggak sakit, tapi..
mulut ini mau bicara susahnya minta ampun, akhirnya kupikir sudahlah, pasrah
saja..," Ana terlihat menarik nafas. "Melihat si mungil
lahir, Subhanallah.. rasa sakitku mendadak hilang... Maha Besar-Nya Allah,
ya.." Ungkap Ana melukiskan kebahagiaannya. Mendengar penuturan
sahabatnya, ada sesuatu yang menusuk hati Ayuning. Terkadang ia masih
dihantui rasa takut jika nanti sudah menikah. Membayangkan dirinya akan
hamil dan punya anak. Iapun menyadari kesibukannya dengan berbagai
penelitian tumbuh-tumbuhan sampai terkadang lupa waktu, mengurus diri
sendiri saja sudah kalang kabut, apalagi mengurus suami dan anak-anak?
fikirnya. Tapi rasa itu selalu ditangkisnya, bukankah
melahirkan adalah kodrat perempuan?!, bukankah anak adalah rezeki yang tak
ternilai?!, sementara banyak terjadi pasangan, akibat menunda kehamilannya di
awal pernikahan, beresiko tinggi tidak dianugerahi keturunan.
Yach.., mungkin Allah murka pada mereka. "Duhai Allah, jadikanlah aku
hamba-Mu yang bersyukur atas segala karunia-Mu," Ayu berdo'a dalam
hati. "Kok melamun sich Ayu?," tanya Ana menyadarkannya. "Eh..
bagaimana dengan pemuda itu?," Ayu sempat cerita pada Ana tentang
kedekatannya dengan Herman, mendengar pertanyaan Ana, wajah Ayu berubah
sendu, perlahan ia mulai menjelaskan, "Ternyata dia bukan jodohku
Ana, ia akan menikah bulan depan." Melihat kedukaan Ayu, Nisa
berusaha mendinginkan suasana, "Ah.. kalau ada jodoh tak akan lari
kemana..," serunya. "Hush.. aku belum siap jadi istri kedua!," sungut Ayu
pura-pura marah, diiringi tawa kedua sahabatnya. "Kalau kamu sudah punya
calon Sa?," tanya Ana hati-hati, "Nisa sich menunggu pangeran dari
langit," ucapnya ringan. Sejenak obrolan mereka terhenti melihat
kehadiran suami Ana, ia begitu perhatian sekali terhadap istri dan
anaknya. Karena tak ingin mengusik terlalu lama, iapun segera pergi.
"Punya suami itu enak lho Ayu, Nisa.. ada tempat untuk berbagi, beda
saat masih sendiri, perasaan kita selalu gelisah, ada aja yang difikirkan.
Bathin orang yang sudah menikah itu jauh lebih tenang, karena arah tujuan
hidup mereka jelas." "Ah.. Ana, kamu bisa aja!," celoteh Ayu.
"Nggak percaya?, buktikan aja sendiri!," Kata Ana meniru iklan televisi,
dengan maksud meyakinkan kedua sahabatnya. Diam-diam Ayu asyik
memperhatikan bayi mungil Ana yang tertidur lelap, ada rasa keibuan yang
mendorongnya untuk memberanikan diri menggendong bayi itu, pelan dan
sangat hati-hati. Nisa dan Ana membantu, keduanya saling berpandangan.
Saat si mungil ada dipelukannya, perasaan
Ayu berbunga, sulit diungkap dengan kata-kata, yang jelas hatinya begitu
bahagia. Pelan diciumnya lembut bayi itu. Melihat sahabatnya, Nisa tak enak hati
mengganggu, tapi mereka masih akan pergi ke beberapa tempat, sedangkan hari
sudah siang, "Yu.. kita pulang yuk?.." katanya pelan, sementara hujan di luar
sana telah reda. Merekapun pamit, "Makasih ya, Ayu.. Nisa.. hati-hati di jalan."
Ketika keduanya hampir di mulut pintu, "Sa.. nanti lihat-lihat ke atas ya.. kali
aja pangerannya nyangkut di pohon," canda Ana.
***** Pulang dari rumah Ana, mereka singgah ke masjid terdekat untuk
shalat Dzhuhur, kemudian melanjutkan perjalanan, Ayu mengajak Nisa ke
supermarket. Macam-macam yang dibelikannya untuk orangtua. Nisa sudah
sangat memahami sahabatnya itu, seperti dirinya juga, Ayu sangat
memperhatikan orangtua terutama ibunya, karena melalui perantara wanita
mulia itulah mereka mengerti betapa besar kasih sayang Allah kepadanya.
Mereka selalu ingin mensyukuri nikmat Allah dengan berbuat baik pada orangtua
yang telah mengandung, mendidik dan membesarkannya. Tiba-tiba Nisa
kehilangan sahabatnya, cukup lama juga ia mencari kesana kemari, rupanya Ayu
sedang asyik memperhatikan baju-baju hamil yang dipajang
di etalase. "Aduh Yu.. kirain hilang.. rupanya di sini, mau
beliin untuk siapa?," tanya Nisa, Ayu sedikit tersipu ditanya begitu,
malu-malu ia berkata, "Nggak untuk siapa-siapa kok Sa.. Ayu
senang aja," katanya sambil masih sibuk memperhatikan. "Sa.. Ayu kok pingin pake
baju ini ya?!", "Hah?!" Nisa kaget, "Ini kan baju hamil,"
***** Setelah memesan menu makan siang di warung langganan, kedua
gadis itu duduk tenang di bawah pepohonan rindang, tempatnya teduh jauh dari
polusi. Jam makan siang sudah lewat, warung tampak sepi, sehingga keduanya
merasa betah berlama-lama. "Ayu.. Ayu.. kok jadi aneh begini
sich?!," Nisa tersenyum seraya geleng-geleng kepala membayangkan polah
sahabatnya, Nisa jadi teringat Nini, sudah pernah diceritain belum, ya?.. "
Nini yang bernama lengkap Cahyani adalah adik Nisa yang sudah
menikah dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun. "Dia itu paling
seneng sama anak kecil, lho Yu.., entah apa penyebabnya suatu ketika ia
merengek manja pada Nisa, "Mba'.. Aku pingin hamil.. tapi
bagaimana mungkin.. akukan belum punya suami..., carikan aku dong
Mba'..." Ya Allah, mulanya Nisa kaget juga, ada apa dengan adikku?,
kecil-kecil pingin hamil, punya anak?, ah, mungkin cuma bercanda, "Nanti Mba'
carikan ya sayang.. ," Nisa coba menghibur hatinya. Sejak saat itu dia
rajin Qiyamullail, berdo'a siang malam agar diberikan Allah jodoh yang baik
dan anak yang shaleh, Ninipun rajin mengaji, Nisa sampai terharu
melihatnya. Tak lama kemudian Allah mengabulkan permintaannya,
ia diperkenalkan dengan seorang ikhwan yang kebetulan sedang mencari calon
istri, keluarganyapun sayang pada Nini, akhirnya mereka menikah. Nini
diboyong suaminya ke Jakarta. Alhamdulillah, tiga bulan kemudian
Allah mewujudkan impiannya untuk memperoleh anak. Suatu hari ia curhat
lagi, "Mba'.. ternyata hamil itu rasanya begini ya.. serba salah.
Seperti inilah dulu Bunda mengandungku ya..," katanya, dan kalau bicara sama
ibu, ia selalu menangis, "Bunda.. kalau Nini punya salah, mohon dimaafkan
ya..," katanya terisak. Alhamdulillah, akhirnya Nini melahirkan
dengan selamat, bayinya perempuan, namanya Mira, manis sekali. Sebulan,
dua bulan Nini begitu menikmati menjadi seorang ibu. Namun kemudian,
"Bunda.. kok Mira hidungnya pesek?, setiap pagi dipencet tapi nggak
mancung-mancung juga, sudah gitu matanya sipit lagi. Ada yang ngeledekin,
Mira nanti sudah besar, kalau tertawa, nanti teman-temannya sudah pada
ilang, Miranya baru sadar, Ninikan jadi sebel. Kok Mira nggak cantik kayak
ibunya sich?!." Mendengar keluhan Nini, ibu buru-buru
menasihatinya, alhamdulillah ia cepat istighfar dan kembali bersyukur pada
Allah. Kalau ingat Mira, Nisa jadi kangen sekali," Nisa berguman sambil
mengeluarkan sebuah foto dari dompetnya. "Coba lihat Yu.., lucukan?!," Ayu menatap
kagum foto yang ditunjukkan sahabatnya. "Mau tahu panggilan sayang Nisa
padanya?, "Boneka Jepang." Kata Nisa sembari tersenyum bahagia.
***** "Aduh.. belum sore begini kok jalanan sudah macet ya Yu?!,"
keluh Nisa. Sementara jauh di depan mereka banyak orang-orang mengerumuni
sebuah tong sampah yang berada di depan klinik bersalin. "Wanita tak
bermoral, dikasi rezeki sama Allah malah dibuang!, kalau nggak siap jadi ibu
ya jangan menikah!," umpat segerombolan ibu-ibu yang entah ditujukan pada
siapa, "Ada apa ya Yu?!," Nisa bertanya-tanya.
Jalanan kembali normal, kedua sahabat itu hampir tak merasakan kalau habis
terjebak kemacetan. Mereka tidak tahu ada peristiwa apa yang terjadi barusan.
Klinik tampak sepi, yang berbekas hanya tumpukan sampah-sampah yang berserakan.
***** Sesungguhnya
rugilah orang-orang yang membunuh anak-anak mereka karena kebodohan lagi tidak
mengetahui, dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezekikan kepada
mereka, (semata-mata) mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka itu
sesat dan mereka tidak mendapat petunjuk.
(QS.
Al An 'am 6:140) Janganlah kamu
membunuh anak-anakmu (karena takut) dari kemiskinan, Kami akan memberi rezeki
kepadamu dan kepada mereka. (QS. Al An 'am 6:151)
***** "Innalillaahi..," Ayu sedikit histeris saat membaca berita pagi
yang ada di genggamannya. Tubuhnya lemas saat mengetahui peristiwa
sesungguhnya yang terjadi kemarin. "Orok Bayi Ditemukan di Rumah Sakit
Bersalin X". "Ya Allah, kenapa bisa tega seorang ibu membunuh darah
dagingnya sendiri, bukankah Engkau titipkan ia rahim dan kelebihan rasa untuk
lebih peka akan kasih sayang dan pengorbanan?," ucap Ayu sambil
terus melanjutkan bacaannya, Sementara pasangan lain bertahun-tahun
mendamba buah hati, lain halnya dengan pasangan "TB", mereka berusaha keras
untuk menghindari kelahiran anak dengan alasan ekonomi, Namun Allah berkehendak
lain, ibu B dinyatakan positif, maka terjadilah peristiwa tragis ini.
***** Sore yang cerah, usai membahas kasus mengharukan, Ayu mengajak
Nisa ke tempat favorit keluarga, taman bunga. Ia mengambil peralatan menyiram
kembang-kembang kesayangan ibunya. Di tengah keasyikan bekerja,
Ayu mencurahkan isi hatinya pada Nisa. "Sa.. kalau difikir-fikir,
merawat anak itu sama seperti merawat tanaman-tanaman ini ya..,
harus telaten, disirami, dikasi pupuk, dibersihkan dari rumput-rumput,
lengah dikit aja, mereka tumbuh tak karu-karuan. Ayu teringat dulu
ketika kuliah, Ayu rajin mengurus tanaman penelitian, ditinggal bentar aja,
eh.. mereka pada layu, mungkin karena sering diperhatikan ya? jadi manja.
Sementara waktu mepet sekali. Menurut penelitian, tanaman senang
mendengar musik klasik, hal itu akan membuat pertumbuhan mereka
lebih baik, karena itu Ayu bawa radio dari rumah ke kebun untuk mutarin
mereka, ternyata benar, mereka subur kembali. Begitupula menurut
penelitian para ilmuwan dan musisi, bahwa musik klasik sangat baik untuk
pertumbuhan bayi, karena dalam musik itu terdapat lompatan-lompatan
nada yang bisa merangsang otaknya, pantaslah saja selama ini para kiyai
dan ustadz selalu menyarankan para ibu yang mengandung supaya lebih banyak
mengaji ya.. sebab alunan suara Qur'an membawa dampak yang sangat
luar biasa bagi anaknya. Oh ya Nisa, dulu Ayu pernah sampai nangis lho
ketika makan jagung, Ayu membayangkan pertama kali saat menanaminya, dari
biji, tumbuh tunas, daun dan tiba-tiba sebesar ini. Perasaanku sangat
bahagia sekali melihat perkembangan mereka, seperti ada ikatan bathin,
mungkin rasa inilah yang dimiliki orangtua kita pada anak-anaknya,
ya.. Ucap Ayu, sejenak ia menghentikan kalimatnya, "Sa, kini Ayu
mulai menyadari kenapa Allah belum mengizinkan Ayu menikah, Ia ingin Ayu
mengabdi dulu pada orangtua. Ayu juga mulai memahami kenapa
Allah menghendaki Ayu masih sendiri, agar Ayu lebih menempa diri untuk
menjadi seorang ibu di bumi ini!.." Subhanallah. (Nisa membathin), ia
kagum pada kecerdasan sahabatnya membaca Firman Allah dan rahasia cobaan
Allah. Tiba-tiba matanya tertegun melihat serumpun Melati yang tumbuh subur
di taman itu, dalam hati ia berkata, Melati itu semakin harum mewangi,
Ya Allah.. aku memohon pada-Mu, berikanlah yang terbaik bagi-Mu untuknya,
Aamiin. Sejenak Ayu dan Nisa tertegun mendengar syair lagu dari
balik jendela kamar Ayu yang persis menghadap taman, lagu di radio itu, lagu
yang punya arti tersendiri bagi keduanya. "Kau bunga di
tamanku, di lubuk hati ini, Mekar dan harum mewangi, Melati
suntingan hati. Bersemilah di tamanku, di lubuk hati ini, Agar dapat ku
resapi, hadirmu bagiku. Kau Melati, Putih nan bersih, kau tumbuh di
antara belukar berduri, Seakan tak perduli lagi, meski dalam hidupmu kau
hanya memberi, Kau sebar harum s'bagai tanda, cinta yang t'lah kau
hadapi, Di sepanjang waktu. |