Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
Tiap-tiap amalan (perbuatan) ada balasannya. Karena itu, waspadalah terhadap akibat dari perbuatan anda. (Ulama)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
10 Desember 2003 - 15:38
Islam Harus Kaya       
sumber: Harian Duta Masyarakat
 

Faiz Manshur menulis di harian ini tentang bahaya pengangguran di Indonesia. Jumlah penganggur sekarang diperkirakan mencapai lebih dari 10 juta orang dari 200 juta jiwa lebih penduduk negeri ini. Dengan pertumbuhan ekonomi antara 3,5% hingga 4%, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) memperkirakan jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2010 diperkirakan 36% dari sekitar 210 juta jiwa penduduk.(Duta Masyarakat, 1/12).

Berbicara tentang orang-orang yang menganggur, mau tak mau kita juga berbicara tentang kemiskinan, tentang orang-orang miskin. Berbicara tentang orang-orang miskin, kita tentunya juga berbicara tentang orang-orang kaya. Dan ini mengingatkan penulis pada laporan Majalah Time edisi 10 Maret 2003 tentang Islam di Asia.

Ada hal-hal yang menarik dari laporan itu. Di salah satu halaman edisi itu terdapat angka-angka yang menunjukkan jumlah pemeluk agama-agama besar di dunia. Disebutkan, jumlah pemeluk Kristen terbesar (2 miliar jiwa), disusul Islam (1,3 miliar), Hindu (900 juta), Buddha (360 juta), Sikh (23 juta), Yahudi (14 juta), Tak Beragama (850 juta), dan Lain-lain (525 juta).

Dari data itu terlihat, jumlah orang Yahudi paling kecil, hanya 14 juta. Tetapi menurut penelitian internasional oleh Philip M. Parker, orang-orang Yahudi paling tinggi kesejahteraannya, juga tingkat melek hurufnya. Penghasilan per kapita orang Yahudi (rata-rata di dunia) adalah 16.100 dollar/tahun, disusul Kristen (8.230 dollar), Buddha (6.740 dollar), Muslim (1.720 dollar), Sikh (702 dollar), dan Hindu (392 dollar). Tingkat melek huruf orang Yahudi 97%, Kristen (87%), Buddha (85%), Muslim (51%), Sikh (53%) dan Hindu (51%). Sedang tingkat pengangguran terendah dipegang masyarakat Buddhis (5%), lalu Yahudi (8%), Kristen (10%), Muslim (15%), Sikh (20%) dan Hindu juga 20%.

Bagaimana kita mencermati angka-angka itu, masing-masing orang kiranya punya pandangan yang berbeda-beda. Tetapi dari data itu jelas terlihat adanya korelasi antara tingkat melek huruf dengan tingkat kesejahteraan. Orang-orang Yahudi, dengan tingkat melek huruf tertinggi, memiliki tingkat kesejahteraan paling tinggi. Kenyataannya memang bisa kita lihat di mana-mana. Selain terkenal dalam pemikiran-pemikiran filsafatnya, orang-orang Yahudi juga unggul dalam bisnis dan keuangan. Lebih dari 40% jutawan Amerika dalam daftar Majalah Forbes adalah keturunan Yahudi. Dan lebih dari 40% profesor di universitas-universitas top Amerika juga keturunan Yahudi.

Mengapa orang-orang Yahudi bisa menjadi begitu kaya? Mengapa mereka begitu pintar? Jawabannya, mengutip mantan Perdana Menteri Malaysia Dr Mahathir Mohamad, adalah karena mereka berpikir. Itu berarti, mereka belajar dan terus belajar.

Kaya Tapi Miskin
Dunia Islam sebenarnya memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Seperti dikutip pula oleh Mahathir, dunia Islam adalah pemilik sebagian besar sumber minyak bumi di dunia ini. Indonesia juga dikenal sebagai negeri "Jamrud Katulistiwa" yang indah dan kaya raya. Kekayaannya terlihat di mana-mana, dari ujung selatan Papua hingga ujung utara Sumatera. Tetapi negeri dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini kok terlihat begitu miskin sekarang. Terlilit utang yang luar biasa besar, negeri ini juga dibelit korupsi yang amat parah. Menteri Negara/Ketua Bappenas Drs Kwik Kian Gie menyebutkan, Rp 444 triliun dana dikorupsi tiap tahun. Ia juga menyebut, 50% dana pajak dikorup petugas pajak, sementara Depag disebut BPK sebagai departemen paling korup!

Bagaimana Pemerintah akan menangani korupsi, kita lihat saja nanti. Kita persilahkan juga NU dan Muhammadiyah untuk menjalankan kerjasamanya dalam upaya memberantas korupsi. Kita tentu harapkan kelompok-kelompok lain juga membantu, karena semua tentu tahu bahwa memberantas korupsi membutuhkan langkah dan dukungan serempak dari semua unsur di masyarakat.

Salah satu upaya yang kiranya pantas dilakukan kiranya adalah mendorong masyarakat untuk mandiri dengan menjalankan bisnis sendiri. Ini rasanya juga bisa dilakukan oleh NU dan Muhammadiyah melalui pesan-pesannya dalam khotbah yang dirancang untuk dibacakan di masjid-masjid. Dari upaya itu kita harapkan akan muncul kesadaran baru di kalangan masyarakat tentang peluang besar meraih kesejahteraan yang jauh lebih besar daripada bila mereka menjadi pegawai negeri atau buruh pabrik. Peluang untuk menjadi kaya raya sehingga bisa membantu banyak orang miskin juga terbuka lebar.

Sejarah dan juga ajaran-ajaran Islam sebenarnya penuh dengan pelajaran yang berharga bagi mereka yang ingin meraih kesejahteraan dan kekayaan dengan benar. Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya nabi yang jadi pedagang. Prinsip beliau adalah berdagang dengan jujur. Menurut KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), mubaligh yang kaya dan terkenal itu, para sahabat rasul itu juga makmur hidupnya. "Rasul sendiri orang yang berlimpah harta. Dan sebaik-baiknya harta adalah kalau dimiliki oleh orang yang saleh," kata Aa Gym.

Dari kenyataan itu, bukan sesuatu yang diluarkewajaran bila tokoh-tokoh Islam menyerukan bahwa dunia Islam harus kaya, orang-orang Islam atau kaum muslim harus kaya. Tidak sekedar kaya karena negerinya diberkahi kekayaan alam yang luar biasa, tetapi kaum muslim juga bisa menjadi kaya karena bekerja keras dan cerdas. Sekarang ini kesannya tidak demikian. Negeri-negeri Islam di Jazirah Arab memang kaya alamnya, tetapi yang mengelola adalah orang-orang asing. Demikian juga di Indonesia, yang sumber-sumber alamnya dieksploitasi oleh perusahaan-perusahaan asing.

Orang-orang yang paling berhasil dalam berbisnis/berdagang di negeri ini juga bukan kaum muslim. Hal ini memang salah satu masalah yang sangat peka untuk dibicarakan secara terbuka. Tetapi semua pihak kiranya sepakat bahwa negeri ini membutuhkan keseimbangan dalam perekonomian untuk menjaga kestabilan dan harmoni dalam kehidupan masyarakat yang terdiri dari berbagai macam ras dan agama. Mungkin tidak berlebihan jika ada yang memimpikan adanya kebijakan Affirmative Action seperti di Malaysia, yang memberikan kemudahan kepada puak Melayu yang notabene muslim sehingga bisa mengejar ketertinggalannya dari kelompok lain.

Namun memang, kebijakan di Malaysia itu tidak seluruhnya positif. Ada sisi buruknya yakni sebagian kaum muslim Melayu itu bahkan menjadi malas karena kemudahan yang diperoleh. Ini bisa menjadi pelajaran bagi negeri-negeri Islam ketika mereka mencoba mencermati negeri Asia Tenggara tersebut.

Meskipun perlu bantuan eksternal, penentu sukses tidaknya usahawan muslim dalam berbisnis tentu yang bersangkutan sendiri. Mereka yang tekun, ulet dan mau terus-menerus belajar dari orang-orang lain yang sukseslah yang akan memperoleh hasil yang baik. Mereka dapat belajar pula dari berbagai buku, dan yang paling berharga tentu saja adalah Al Quran.

"Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Pemurah! Yang mengajar dengan kalam." (Q.S. 96 Surat Al'Alaq [Segumpal Darah] Ayat 3-4).

Tak ada janji Allah yang meleset.

-----------------
Djoko Pitono, Penulis adalah pengarang buku, pegiat bisnis perbukuan

 
 
(Dibaca: 19641 kali | Dikirim: 21 kali | Print: 245 kali | Nilai: 6.50/2 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha