Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Di hariku yang mana aku dapat melarikan diri dari maut? Di hari yang tidak ditakdirkan? atau, di hari yang ditakdirkan? Hari yang tidak ditakdirkan, aku tidak kuatir terhadapnya. Dan dari hari yang ditakdirkan, sikap kuatir tidaklah menyelamatkan" (Ali bin Abi Thalib)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan

Yahoo Messenger
dudung_at@yahoo.com
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
23 Maret 2005 - 09:18
JINGGA HATI FAT       
 

Demi masa, sesungguhnya manusia kerugian
Melainkan yang beriman dan yang beramal soleh,nasihat-menasihati dalam kebenaran
Gunakan kesempatan yang masih diberi..


Fathiya masih sendiri dikamarnya. Dengan tumpukan buku bertebaran dimana-mana. Sementara jari-jari mungilnya mengutak-atik soal-soal simplex n dual yang dari tadi membuatnya garuk-garuk kepala,sedang telinganya sendiri asyik dengerin senandung nasyid dari RAIHAN. Bibirnya komat-kamit ngga jelas ngikuti lirik "demi masa" ato lagi ngitungin jawaban soal-soal tadi.

Ngga ada yang tau di seberang hatinya yang jingga ada setitik luka, duka yang masih menghimpit hatinya. Ngga ada yang peduli tangisnya pecah tadi pagi setelah mendengar makian, hujatan serta sumpah serapah dari seorang Rahman. Yang lebih menyakitkan pahlawan hatinya itu bilang kalo pasti bakal married sama Vio, cinta pertamanya. Waktu itu fathiya cuma bisa tersenyum kecut, lantunan "Ayo menikah" nya AR-ROYAN terdengar makin mendayu2, mengusik hati jingganya. Ach. kaset dari Rahman, batinnya.

Tak ada yang bisa fat lakukan. Gadis manis itu cuma diam. Mempersiapkan hatinya untuk sebuah luka baru. Bukan dengan rengekan ato keluhan seperti biasanya.

Detik itu juga fathiya mengakhiri semuanya. Seperti yang Glen bilang cintanya berakhir di januari. Begitu sakit setelah dia mulai percaya Rahman adalah pangeran hatinya. Senior yang baru dikenalnya setahun lalu. Saat acara penyambutan Maba di kampus.

Bagaimanapun hari-harinya kemaren sudah cukup menyesakkan, setelah putus sebulan lalu Rahman masih sering telpon n sms, masih sering bilang sayang,cinta yang ga jelas maksudnya. Dia terus meyakinkan fat untuk tetep percaya, padahal dah jelas cowok jangkung itu lebih milih gadis lamanya. Dan fat, hatinya masih juga dipersimpangan, hatinya sulit melepas satu-satunya cowok yang berhasil menerobos hati bajanya.

Seringkali fat mencoba membenahi hatinya tapi tetap saja ada setan menyusup diam-diam, memporak-porandakan niatnya. Menyisakan sebuah keraguan, keraguan yang mnyakitkan. Dan puncaknya adalah pagi tadi, tuduhan-tuduhan rahman membuatnya merasa kerdil, ga berarti, ga berharga. Hatinya terus bertanya lalu kenapa dulu rahman yang baek itu selalu bilang fat yang terindah, yang termegah dan terhebat? Seperti lirik "senandung lirih" iwan fals yang katanya sdh resmi jadi lagu wajibnya tiap pagi.

Pagi itu fat masih lemes,hati dan pikirannya kacau, hawa setan sedikit demi sedikit mulai membisiki telinga panasnya, hati dan pikiran kacaunya. Makian-makian rahman masih terus terngiang, sementara dia masih juga tidur2an di dipan single bednya. sayup-sayup fat merasa ada hawa kebaikan yang juga ikut membisikinya. Makin lama makin kuat hingga hatinya berontak, pikiran kacaunya berteriak memaksanya keluar dari kebisingan yang dibuatnya sendiri.

Dan tanpa babibu lagi gadis itu langsung terbang menyambar handuk dan perlengkapan mandinya. fat ingin cepet beranjak dari dukanya. Setelah mandi seperti biasa fat kembali pada rutinitasnya. Wudhu dan menyegerakan dhuhanya. Dhuha yang mungkin ga membekas pada tingkah lakunya, seperti biasa gerakan-gerakan tanpa makna.

Tapi pagi ini lain, dhuha kali ini serasa lebih bermakna, sujud fat makin panjang, dzikirnya mengalir lebih lama, hatinyapun mulai dingin. Masih teringat makian Rahman, tiba-tiba dadanya mulai sesak, kepalanya serasa berputar, matanya basah dan pecahlah tangisnya, istighfar terus mengalir dari bibir mungilnya yang kemaren masih seperti racun. Dialah satu-satunya tempat kembali, terlalu lama fat berpetualang, mencicipi dosa demi dosa, terlalu jauh dia melangkah menjauhi sang Pencinta Sejati hanya untuk mengejar cinta sesaat yang tentu satu-satunya sumber adalah nafsu. Begitu banyak dusta, begitu banyak aktivitas yang ga layak dilakukan seorang muslimah. ah Fat kemana dirimu kemaren.

Tangis fat makin pecah, dia ingin kembali. Ada sesal, malu, kenapa kemaren dengan entengnya dia bilang ingin kembali tapi kenyataanya ga pernah istiqomah. Bayangan rahman selalu menariknya.

Tapi tidak kali ini, mereka benar-benar memutuskan segalanya. Persahabatan sudah ga layak dijadikan alasan untuk terus menumpuk dosanya. Fat bener-bener ingin kembali. Kepada Sang Pecinta sejati. Ar-rahman, Ar-rohim. Maha pengasih dan Penyanyang.

Fat memang  bukan tipe gadis berandal, jilbab putihnya sudah nangkring di wajah manisnya sejak SMA, dulu dia selalu memegang kuat prinsipnya untuk terus berusaha menjalankan syariat islam, ga pacaran, and selalu menjaga pandangan, hal yg dulu sering dilanggarnya sebelum hijrah. Fat mulai sedikit bandel setelah masuk kuliah, dia merasa menemukan dunia baru yang seru, punya banyak temen yang baek n keliatan alim, meski dia ga terlalu mempermasalahkan definisi alim  yg sebenernya. tentu saja karena ternyata temen2 alimnya itu cowok-cowok beken papan atas di kampus, yang pinter n aktif diorganisasi. Bahkan ada yang menjabat ketua pergerakan mahasiswa muslim di kampusnya. Fat yang dulu selalu menjaga agar sebisanya ga bersinggungan kulit sama yg namanya makhluk adam yg bukan mahramnya, dikit-dikit dah mulai mau berjabat tangan sama mereka, tentu saja cowok yang dapat kesempatan n giliran pertama adalah rahman, sang pangeran hatinya. Bener-bener mengenaskan.

Fat makin tersiksa, hatinya makin pedih.perbuatan Dosa2nya begitu banyak, terus melintas satu-satu seperti meminta pertanggungjawaban. Fat merasa telah mendzolimi banyak orang, dan tentu saja yang paling parah dirinya sendiri. Dan Dia-lah satu-satunya tempat mengadu, memohon ampunan dan pertolongan.

Setelah beranjak dari sujud panjangnya, fat mulai berpikir apa-apa saja yang harus ia lakukan. Dan yang pertama adalah menyingkirkan semua foto yang berhubungan dengan cowok, kecuali foto Ayah tersayang hehe.. Semua yang berhubungan dengan rahman jg dibuang kecuali yang masih bisa dipake and diambil manfaatnya, ya seperti kaset2 nasyid kesukaanya tadi. Semoga ga terus mengingatkan pada sosok rahman, toh fat cukup rasional.

Setelah itu fat mulai membereskan kamarnya yang berantakan. Hingga semua rapi , dia juga masih sempat memasak. Buku-buku bahan ujian semester dikeluarkan. Dan seperti pemandangan yang sekarang bisa dilihat. Fat lagi asyik belajar Matematika ekonomi yang lumayan bikin pusing sambil dengerin lantunan "demi masa"nya raihan. Mencoba memaknai liriknya. Dia memang mesti menggunakan kesempatan yang telah dipercayakan Allah padanya, inget 5 perkara sebelum 5 perkara. Sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit dan hidup sebelum mati. Dan berusaha membuat hidunya lebih berarti. Memulai dan menapak hari barunya dengan senyum, dengan kerasionalan otak briliannya, dengan niat tulus ikhlas tuk bener2 kembali pada-Nya.

Duka dan lara di hati jingganya bukan lagi karena makian, hujatan, serta berita "gembira" marriednya rahman. Tapi karena dia takut, waktunya memanjangkan sujud, waktunya bercinta dengan-Nya, waktu merajut amal serta waktunya untuk memaknai dan memberi nilai pada hidupnya tiba-tiba habis, hilang, sementara dia baru memulai semuanya. Doanya hanya satu, memohon iman islam terus subur dalam dadanya, dan tentu saja terus istiqomah di jalan-Nya Seisi kamar fat ikut mengaminkan. Bahkan buku-buku mateknya yang sudah lecek dibolak-balik dari kemaren. 

---------
Pengirim : Ika Trisna
Email : cha_trisna@yahoo.com


 
 
(Dibaca: 7946 kali | Dikirim: 22 kali | Print: 197 kali | Nilai: 7.00/2 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2012, Dudung Abdussomad Toha