Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Manusia sejati adalah manusia yang selalu menyadari kelemahan dan kerapuhan dirinya sehingga ia selalu berusaha trus menerus memperbaiki diri, sampai ia datang ke hadapan penguasa kehidupan ini dengan penuh ketenangan"(Anonymous)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
17 Maret 2004 - 09:40
Kenduri Cinta Kaum Susah       
Author: Abu Aufa
 

Uuugh...

Siang memang selalu membuat debu-debu bergolak. Berbaur dengan angin kering dan panas, serta membawa aroma busuk dari got yang penuh jejalan sampah. Namun kaki kecil itu tetap melangkah dengan gembira, karena baginya jalanan bagaikan sebuah taman yang indah dan menyenangkan. Sesekali kaki telanjangnya menendang kerikil kecil. Mata menatap awas ke bawah, berharap ada uang koin yang terjatuh di jalanan.

Kulitnya hitam legam karena selalu bermandikan panas yang menyengat. Wajah dekil, dihiasi ingus yang meleleh dari hidungnya. Terkadang disekanya ingus itu dengan tangan, lalu digosokkan di celana pendek bulukan yang membungkus pahanya. Baju kaosnya compang-camping, tak mampu menyembunyikan tubuh yang penuh bekas korengan.

Sayup didengarnya hiruk-pikuk dari kejauhan, semakin dekat semakin jelas terdengar. Suara terompet, deru suara motor dan mobil, klakson yang bersahut-sahutan, gegap gempita memekakkan telinga. Laki-laki kecil itu kaget bukan kepalang, namun rasa ingin tahu membuatnya juga ikut berjubelan di pinggir jalan.

Dikucek-kucek matanya yang masih ada belekan, tak percaya dengan apa yang terpampang. Mobil dihiasi bunga-bunga, puluhan motor bersileweran, hingga becak-becak yang dipasang hiasan indah. Semua terlihat begitu semarak dan meriah, ditimpali suara dari beberapa megaphone yang meneriakkan yel-yel dukungan. Tampak pula banyak poster bergambar seseorang, serta spanduk beragam ukuran yang diusung mereka.

Peserta karnaval lalu melemparkan banyak bungkusan ke pinggir jalan, sambil mengajak penonton untuk ikut menirukan yel-yel mereka. Tak lama tubuh kecilnya gesit bergerak di sela keramaian, seraya tangan mengambil beberapa bungkusan yang tak sempat ditangkap orang dewasa.

Ia menjerit kegirangan, di tangannya tergenggam bungkusan-bungkusan kecil gula, teh dan kopi bergambar seseorang serta lambang sebuah partai. Begitu senangnya, hingga dengan suaranya yang jernih ia pun ikut-ikutan meneriakkan yel-yel dukungan, walaupun tak mengerti apa maksudnya.

Peserta karnaval perlahan-lahan menjauh dari pandangannya. Anak kecil itu meneruskan langkah, kembali berjalan dengan wajah yang semakin ceria karena di kantong celana penuh berisi bungkusan. Matanya tak lagi memandang ke bawah, tapi asyik melihat aneka bendera dan baleho yang dipasang di mana-mana. Kertas-kertas beraneka warna juga tak kalah banyaknya, di tempel di tiang listrik, kotak telepon umum, bahkan di pepohonan.

Ia benar-benar tak mengerti, ada apa hari ini. Tiba-tiba telinganya menangkap suara musik dangdut yang dibawa oleh angin. Laki-laki kecil itu pun berlari sekuat tenaga menuju sumber suara. Ia terperangah. Dilihatnya sebuah panggung besar di lapangan terbuka dan beberapa tenda yang dipasangi umbul-umbul dengan warna yang sama.

Suara musik yang berdentam-dentam menggoda dirinya untuk bergerak, menyempil di antara kerumunan orang hingga tiba di bagian depan. Kepalanya mendongak, dan di atas panggung terlihat seorang wanita yang berpakaian menyala, senada dengan warna umbul-umbul yang menghiasi tenda. Wanita itu meliuk-liukkan pinggulnya sambil bernyanyi, asyik berjoget ditemani beberapa orang laki-laki. Bahkan seseorang di antara mereka, laki-laki umuran dengan perut gendut, sesekali merangkul wanita yang terlihat genit itu.

Anak laki-laki itu pun berjoget bersama yang lain mengikuti irama dangdut. Ia begitu semangat, bertelanjang dada hingga tampak tulang rusuknya. Keringat bercucuran membasahi tubuh, membuat dirinya bertambah dekil dan lusuh.

Tak lama musikpun berhenti. Di atas panggung bapak yang berperut gendut itu terlihat berpidato, sambil melempar-lemparkan aneka rupa bungkusan yang bergambar dirinya dan sebuah partai. Orang ramai pun saling berebutan, tak lupa memuji dan menirukan yel-yel dukungan.

Tiba-tiba ia terkesiap, bapak itu menunjuk sambil memerintahkan beberapa satgas yang berpakaian ala tentara untuk membawanya ke atas panggung. Ia menurut saja, apalagi orang-orang bertepuk tangan dan berteriak-teriak membuat suasana seperti ada pesta. Bapak itu lalu menggendong tubuhnya yang kecil sambil berpidato dengan lantang bahwa partainya akan selalu membela kaum susah.

Ia meronta. Bau bapak itu busuk sekali, bahkan lebih busuk dari tumpukan sampah tempatnya bermain sehari-hari. Namun gendongan tak dilepaskan, bahkan dikeluarkannya beberapa lembar uang kertas bergambar Soekarno-Hatta, lalu diselipkan di kantong celana anak kecil itu seraya memamerkannya kepada orang ramai. Walaupun hatinya senang dikasih uang, tapi bau busuk tersebut membuatnya tak tahan. Syukurlah, tak lama bapak itu pun melepaskan gendongannya.

Anak kecil itu senang sekali, ia tertawa-tawa dengan gembira sambil melangkah pergi. Di kantongnya kini tidak hanya ada banyak bungkusan, tapi juga sejumlah uang. Baju kaosnya pun baru, walaupun tampak kebesaran. Di sebuah rumah makan ia berhenti, dan memesan beberapa bungkus nasi.

Malam itu, di sebuah rumah kardus yang bersebelahan dengan rel kereta api tampak ada kenduri. Mereka bahagia, makan dengan lauk daging dan ayam yang selama ini hanya pernah di angan-angan. Laki-laki kecil itu juga tak habis-habisnya bercerita, ia bangga bisa membelikan nasi bungkus untuk kenduri di keluarganya yang tercinta. Lalu mereka pun tertidur pulas dengan perut kenyang.

*****

Wuah...!!!

Suara ribut tetangga kiri kanan membuatnya terbangun, dan tampak mereka berhamburan ke jalan. Anak kecil itu pun tak tahan sehingga juga ikut berjubelan. Matanya kembali berbinar senang, ada karnaval, pikirnya. Dilihatnya peserta karnaval banyak yang berbaju putih, bersih dan rapih. Tak ada lemparan rokok, gula, teh atau kopi, namun mereka terlihat tersenyum tulus menawan hati. Wajah mereka terlihat cerah bercahaya, bersemangat membawa perubahan.

Ia senang sekali, walaupun tahu malam ini mungkin di rumahnya tidak ada kenduri lagi. Langkah kakinya turut berlari kecil dengan mereka, lalu tak kalah lantang meneriakkan ALLAHU AKBAR, sambil sesekali ikut bernyanyi.

Jagalah hati, jangan kau kotori / Bersihkan hati, mari kita peduli

Jagalah hati, jangan kau nodai / Pemimpin adil, rakyat sejahtera pasti .....

Dan dilihatnya begitu banyak anak-anak, orang dewasa, laki-laki, dan perempuan turut mengelu-elukan. Mereka juga berteriak dengan penuh semangat, membahana membelah angkasa. Bagi mereka inipun kenduri juga, kenduri cinta dalam jalinan ukhuwah Islamiyah.

Selamat berjuang Ar Ruhul Jadid Fi Jasadil Ummah. Panggilan suci telah bergema, sambut dan raihlah kemenangan. Jadikan dirimu sebagai saksi akan sebuah kebangkitan dan kerinduan. Kebangkitan generasi baru yang bersih dan lebih peduli. Kerinduan akan pemimpin adil sejati, yang cintakan Allah, rakyat dan negeri ini. ALLAHU AKBAR!!!

WaLlahua'lam bi shawab.

*MERENGKUH CINTA DALAM BUAIAN PENA*
Al-Hubb FiLlah wa LiLlah,

Abu Aufa
(Selamat kenduri Indonesiaku tercinta, dari anak bangsa di Negeri Sakura)

 
 
(Dibaca: 15182 kali | Dikirim: 11 kali | Print: 236 kali | Nilai: 8.67/6 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha