| Waktu itu memasuki bulan ke-3 thn 2002 tepatnya usia janin dlm perutku udah
genap 8 bulan…ini menandakan ntar lagi aku bakal punya "bocah kecil".
Mas Happy pun memberi support, 30 hari berpuasa akan dijalaninya nanti, sebagai
niatnya atas kelahiran bayi mungil kami, en…… s'perti banyak kubaca
dan kudengar dr orang2 kalo' di usia kehamilan inilah..perasaan seorang calon
ibu lagi peka2nya…sensitive banget….p'kok'e sering tdk menentu. Akhirnya
terbuktikan juga olehku..kalo' 'keadaan' itu bukan cuman teori atau 'hantu kata'
yg sering mencemaskan semua calon ibu di dunia ini, namun bener2 terjadi…berbagai
butir2 perasaan yg berlainan saling campur aduk..di hatiku… ada gundah,
senang, haru, cemas bahkan yg lebih parah ada perasaan "takut mati"…Subhanallah…
semuanya meronrong, bersarang bergantian. Akibat perasaan inilah aku memutuskan
u/ melahirkan di dekat Mama, sekalian bisa pulang kampung, maklum….kota
tempatku bekerja terpisah jauh puluhan ribu km dengan tempat asalku.
Tepat tgl 11 Maret 2002 aku bertolak menuju Makassar, sebelumnya..aku diantar
Mas Happy ke Bandara Frans Kaisiepo u/ check in tiket….dengan segala perasaan
ikhlas kutinggalkan suamiku…dan diapun janji akan menyusulku jika hari
"H" nya udah dekat….sesaat sebelum berangkat diciumnya keningku
…sejuk dan teduh…terselip dlm hati…kalau ciuman itu sekaligus
doa dan asa….sebagai seorang suami dan calon Ayah dr anakku kelak….
Bulan Maret udah mo' hampir abis…tapi mules2 di perutku plus flek2 sama
sekali belum muncul…perasaanku makin cemas..seharusnya sekarang-sekarang
ini aku udah bisa menimang mutiara kecilku. Dan spertinya ada yg tdk beres dgn
kandunganku, hatiku makin panik dan was-was….jangan…jangan…ah,
sudahlah..aku hanya bisa berserah diri dan banyak2 bersujud kepadaNYA, mengharap
belaian-NYA untuk memberi setiap kemudahan…sekaligus kusemangati diriku
u/ segera menamatkan bacaan Al-Qur'an…kebetulan nadzarku kemarin..pengen
Khatam Al-Qur'an 2 kali selama hamil.
MasyaAllah…. hari sudah melompat ke bulan April namun tanda2 bersalin
belum juga berkenan, Apakah ini pengaruh obat penahan kontraksi itu ???…yang
diinjeksikan ke tubuhku beberapa hari sebelum keberangkatanku ke Makassar ?
Setelah dirudung keraguan…. buntut2nya kukonsultasikan juga hal ini kepada
Dokter kandunganku….maklum ..sebagai calon ibu muda ..aku mesti pinter2
menyiasati diri kalau2 butuh nasehat seorang Dokter…dan akhirnya kuterima
juga keputusan di hari itu , bahwa usia kehamilanku sudah lewat hari, bahkan
5 hari kedepan tepatnya 6 April, Dokterku akan mengambil tindakan u/ segera
mengeluarkan bayiku…entah itu melalui Drips atau Caesar…
Subhanallah….aku semakin takut…pertanda apa lagi ini ???
Aku pun hanya bisa berbisik sambil bermunajat " Yaa..Allah…Engkaulah
yang lebih berhak atas diriku dan bayiku, bukan siapa-siapa …Engkaulah
yang memberi kehidupan dan sesudahnya….memberi segalanya…"
Hari Sabtu sore, 6 April 2002, saya ditemani Mama,Bapak, dan Mas Happy bergegas
ke Klinik Bersalin "SUCI", tempat dimana saya berencana u/ bersalin.
Setelah menunggu beberapa menit di Ruang Tunggu, akhirnya sayapun masuk ke Ruang
Dokter u/ pemeriksaan dengan ditemani Mas Happy.
Setelah melakukan beberapa tahap pemeriksaan, Dokterku segera membuat resume
bahwa hari itu yang sedianya akan diambil tindakan Drips/ alias Opname dgn Infus
terhadap saya, kembali diurungkan, Alhamdulillah ..ketakutanku sedikit terkurangi…namun
saya tetap direkomendasikan untuk segera memonitor kandungan saya melalui USG
sekali lagi, kata Dokter sih untuk memastikan kalau2 tdk ada gejala kelainan
baik itu pd bayiku maupun diri saya. Kesimpulannya, Dokter masih berharap dan
memberi jalan kepada saya untuk bersalin dengan normal.
Dua hari kemudian tepatnya 8 April 2002, saya pun menjalani pemeriksaan USG
di Rumah Sakit Umum Polewali. Hampir sejam saya berada dalam Ruang Lab. USG.
Akhirnya kuterima juga pernyataan yg tdk mengenakkan tentang kandunganku, dinding
kantung makanan plus plasenta bayiku sudah memutih karena lapisan kapur, cairan
amnion atau yg lebih dikenal dgn air ketuban juga makin berkurang di dlm rahimku,
dan dengan keadaan ini Dokter pun menyarankan agar saya berhati-hati, karena
bisa-bisa bayiku tidak terselamatkan…MasyaAllah…..dadaku sesak dan
bergemuruh, "Ya, Allah apa yang mesti saya lakukan ??" Dokter pun
coba meyakinkan…bahwa satu-satunya jalan adalah segera mengeluarkan bayiku,
beliau menyarankan agar saya tetap di Drips untuk melunakkan tulang panggulku,
tempat jalan lahir bayi. Beliau tidak memberi tenggang waktu, lebih cepat jauh
lebih aman, katanya. MasyaAllah…saya semakin takut…Akhirnya tanpa
berpikir panjang, hari itu juga saya menyatakan bersedia Opname di Klinik Bersalin,
sekalipun waktu itu saya sudah tidak sempat lagi koordinasi dengan Mas Happy,
menanyakan persetujuannya, mengingat Mas Happy sedang berada di Makassar untuk
Pelatihan. Pikirku, Mas Happy tetap merestui apapun keputusan yang saya ambil,
asalkan itu baik buat saya dan keluarga kami.
Di rumah, selepas Sholat Ashar, kutenangkan diriku sambil membaca Ayat Kursi
dan Surah Yaasin. Tepat jam 5 sore, saya bergegas membersihkan diri, maklum
Orang Tua alias Orang dulu menganjurkan bahwa sebelum bersalin kita mesti mandi
layaknya mandi wajib selepas haid, nifas, dsb. Setelah segalanya siap, termasuk
pakaianku dan perlengkapan bayiku, saya dengan ditemani Mama dan Bapak segera
menuju ke Klinik, tempat dimana saya akan melahirkan. Kebetulan jarak rumah
dan Klinik Bersalin cukup jauh, dengan menggunakan Panther, Bapakku menyetir
mobil cukup kencang.
Sesampainya di Klinik, saya langsung disambut beberapa Perawat, Bidan, dan
seorang Dokter Umum. Bidan yang akan menangani proses persalinanku segera menuntun
saya masuk ke Kamar Pemeriksaan untuk dilakukan pemeriksaan dalam. Tidak dalam
hitungan jam, alat-alat dan perlengkapan Infus sudah disiapkan. Sewaktu melihat
Jarum Infus dan Botol Cairan, hatiku makin berdegup kencang. Maklum perasaan
takut senantiasa menyertai, apalagi sebelumnya, saya sama sekali belum pernah
merasakan jarum infus ditusukkan masuk ke pergelangan tangan saya. Sambil Dokter
meraba-raba pergelangan tangan saya untuk mencari denyut nadi yang pas tempat
jarum infus ditusukkan, saya meminta izin untuk mendengar Nasyid Raihan melalui
walkman yang saya bawa dan persiapkan dari rumah. Saya berharap, alunan melodi
Raihan yang khas dan cantik itu dapat meredam rasa sakit saya apabila mata infus
ditusukkan.
Kupejamkan mataku, "Srrrrttt.." darahku muncrat keluar akibat tusukan
jarum, perih rasanya. Cepat-cepat perawat mengganti pangkal jarum dengan pipa
infus, katanya agar darahku tidak banyak yg terbuang, sehingga cairan infus
pun akan mudah masuk melalui pembuluh nadiku. Alhamdulillah…prosesnya cepat
usai, sambil berdzikir tak berhenti kunikmati acapella Raihan.
Tidak beberapa lama kemudian, Adzan Magrib pun terdengar, saya pun bangkit dari
pembaringan, dengan dibantu Mama, saya sedikit dibopong ke Kamar Mandi u/ Wudlu.
Seusai Sholat Maghrib, saya tetap berdzikir sambil menunggu waktu Isya'. Setelah
menjalankan kewajibanku untuk menunaikan Sholat Isya', kembali kubenahi tempat
tidurku yang agak sedikit berantakan.
Kini, jam dinding menunjukkan pukul 8 malam tepat, mules-mules diperutku sudah
mulai muncul. Pikirku, obat peransang melalui cairan infus ini sudah bereaksi.
Bawaannya pengen buang air melulu, berkali-kali saya keluar masuk kamar mandi.
Memang prosesnya lumayan repot, abis…. botol infus dan tiang penyangganya
harus setia kubawa-bawa hingga ke kamar mandi. Setelah mondar-mandirnya lumayan
lama, akhirnya Bidan dan Dokter masuk ke ruanganku, ditanyakannya keadaanku,
cepat-cepat saja kujawab kalau sakitnya sudah sedikit terasa. Merekapun menyuruhku
agar segera beristirahat, mengingat sebentar lagi saya bakal membutuhkan banyak
tenaga untuk proses bersalin.
Tepat jam 10 malam lewat 20 menit, Mama pamit untuk pulang ke rumah, maklum
Mama takut nungguin saya melahirkan, katanya Beliau tidak tega jika nanti melihat
saya, anaknya mengerang kesakitan. Sebenarnya, saya sedikit kecewa, mana Mas
Happy juga tidak ada. Tapi, itu hak Mama, saya pun tidak ingin menyusahkannya,
kasian Mama yang selama ini sudah cukup berkorban, toh…kalau ada Mama atau
Mas Happy mungkin juga, saya semakin cengeng menghadapi semua ini. Akhirnya,
dengan ditemani Elis dan Agus, adik saya yang nomer 3 dan 4, kulewati detik
demi detik dengan sabar dan tetap ingat kepada-NYA.
MasyaAllah….Subhanallah…sakitnya makin menjadi-jadi, tadinya hanya
berinterval 15-15 menit sekarang sudah 5 menit-an, sedangkan waktu masih menunjukkan
pukul 11 malam. Tulang panggul dan bokongku serasa pengen lepas, perasaan buang
airpun juga semakin sering muncul. Sakitnya begitu nyeri, melilit-lilit dari
panggul menusuk ke rahim bagian dalam. Setiap 5 menit, kurasakan sakit yang
sama, dibawah perut terasa teriris-iris, bagai disayat sebilah pisau. "Allahu
Akbar"….sakitnya benar-benar sakit. Tidak pernah kurasakan sakit seperti
ini sebelumnya, keringat dingin dan peluhku begitu cepat membasahi sekujur tubuh.
Setiap sakitnya datang, saya hanya bisa meringis dan menggigit ujung bantalku
untuk menahan sakit. Tidak henti-hentinya, kusebut Asma Allah "Subhanallah..walhamdulillahi
..walaa Ilaahaillallah..walahaula walaquwwata Illahbillah Wallahu Akbar"
Sekali-kali kulirik jam di dinding, waktu begitu lambat terasa. Hatiku membatin,
sampai kapan Allah mengujiku dengan sakit seperti ini ???..apakah sampai pagi
nanti..atau siang esok..atau bahkan sampai esoknya lagi…MasyaAllah..pasti
saya semakin tidak sanggup.
Jam 12 malam lewat sedikit, saya sudah agak bosan berada di pembaringan terus,
coba kutegakkan tubuhku, saya beranjak meninggalkan tempat tidur, dengan ditemani
Agus, adikku, kuajak dia berjalan-jalan keliling komplek Klinik. Memang sakitnya
tetap ada, tapi saya coba menahannya, bahkan dengan berjalan sakitnya sedikit
tekurangi. Tanpa saya sadari, darahku terisap keluar melalui pipa infus, adikku
panik, mulanya saya tidak melihat kejadian ini, tapi setelah adikku teriak histeris
kalau-kalau darahku makin banyak keluar bahkan sudah mendekati botol cairan
yang dipegangnya, sayapun ikut-ikutan panik dan was-was. Segera adikku memanggil
seorang perawat, dituntunnya saya untuk kembali ke kamar. Sambil rebahan, pipa
infusku dibenahi, syukur saja darahku belum mengalir sampai ke botol cairan,
kalau itu terjadi, injeksi ulang akan dilakukan. Namun, perawat itu hanya menyuntikkan
jarum ke pipa infus untuk menyedot semua darah yang mengganjal cairan infus.
Dengan sedikit menasihati, perawat itu mengingatkan agar saya tidak meletakkan
tangan saya lebih tinggi dari botol cairan, atau kontrol pipanya diatur supaya
terkunci sehingga cairannya tidak bisa keluar. Alhamdulillah..pelan-pelan semuanya
teratasi.
Jam 01.00 dinihari, sakit di perut saya makin tidak bisa ditolerir, rasa melilit
dan ditusuk-tusuk masih bersarang, saya hanya bisa sedikit mengerang sambil
terus mengucap kata Tahmid, Tahlil, dan Takbir. Semua kemungkinan terburuk mulai
terbayang, menari-nari di ruang benak saya. Dadaku pun semakin sesak, tidak
ada tempat untuk berbagi, hanya kepada Allah, saya adukan semuanya. Mama tidak
ada mendampingi, begitupun Mas Happy, hanya kepadaNYA kupasrahkan semuanya,
karena kuyakin DIA Maha Menyaksikan.
Hatiku begitu giris, jiwaku guncang, teramat takut, " Akankah maut menjemput
?"…MasyaAllah …kenapa saya begitu takut akan mati, padahal saya
pasti akan mati…suatu saat…nanti, dan jika kematian itu datang, tidak
ada tawar-menawar….Subhanallah.
Setiap detik…..,setiap erangan kesakitan….setiap denyut nadi…
kulalui dengan usaha untuk selalu mengingat akan kebesaranNYA, akan kejaibanNYA,
akan kasihsayangNYA….tanpa pernah menduga-duga takdirNYA, tanpa pernah
sangsi akan Ke-maha adil-anNYA. "Saya yakin Allah sayang kepada semua hamba-hambaNYA".
Pukul 3 dini hari, saya kembali dijenguk oleh Bidan. Beliau
mempertanyakan keadaanku, sambil mengelus-ngelus perutku, dia seolah-olah mengatur
posisi dan letak bayiku, dan sebagai prediksi, bidan itu memperkirakan bahwa
tidak lama lagi saya akan mengeluarkan bayiku, mengingat sakit yang saya rasakan
telah beruntun. Namun, Bidan belum bisa bertindak apa-apa karena diwaktu yang
bersamaan, Beliau juga sedang menangani seorang Ibu yang juga akan bersalin,
dan kebetulan lagi Ibu tersebut sudah mencapai pembukaan delapan.
Tepat jam 04.30 pagi, sakit di rahim saya mencapai klimaksnya, beribu-ribu
peluh terus keluar dari setiap pori-pori kulitku, penglihatanku semakin kabur,
bahkan airmata pun tak terbendung. Rasa sakit itu terus menghujani, sebagai
pertanda bayi mungilku tidak sabar lagi untuk melihat dunia.
Kuelus perutku, sambil bergumam, "InsyaAllah, jika Allah mengizinkan, sebentar
lagi…Mama… akan memelukmu…"
Akhirnya, saat yang kutunggu-tunggu telah datang, Bidan beserta 2 orang perawat
datang menghampiriku, dengan sigap Bidan mamakai sarung tangan steril, tujuannya
tidak lain tidak bukan untuk melakukan pemeriksaan dalam terhadap leher dan
muara rahimku. "Alhamdulillah!!"…pekik Bidan itu, "pembukaannya
sudah lengkap, mari…saya tuntun ibu menuju Kamar Bersalin".
"DUG"….hatiku tersentak kaget, seluruh tubuhku gemetar. Allahu
Akbar…sebentar lagi ke-perempuan-anku hampir lengkap. Saya akan melahirkan,
saya akan menjadi Ibu dari seorang bayi. Alhamdulillah…..
Dengan dibantu 2 orang perawat, saya beranjak dari tempat tidur, bahkan tanpa
bantuan kursi roda saya bisa berjalan sendiri menuju Kamar bersalin yang letaknya
agak dibelakang dari Komplek Klinik Bersalin ini. Sengaja saya memilih ini,
mengingat ..nasehat medis..bahwa…untuk mempercepat proses kelahiran dengan
masuknya kepala bayi di tulang panggul, Si Ibu harus banyak-banyak berjalan.
Setibanya di Kamar bersalin, kembali saya dihimpit rasa takut, "Alat-alat
itu…jarum..gunting, mangkok stainless, lampu bersalin, tabung Oksigen"
Membuat nyali saya kiyut. Subhanallah….kuatkan saya ….
Dengan dihimpit beribu rasa takut dan was-was, pelan-pelan ku rebahkan tubuhku
di atas matras bersalin, sambil membenahi jarum infusku yang hampir terlepas.
Selang beberapa menit kemudian Ibu Bidan menghampiriku, "Nak, saya tinggal
sebentar…saya Sholat dulu…. …setidaknya kita sama-sama berdoa…semoga
Allah meridhoi proses persalinan ini, …InsyaAllah..setelah Sholat…..Ibu
akan bimbing….dan sebaiknya…jangan berkuat dulu."….MasyaAllah….
Hatiku begitu giris, melewati setiap detik ini yang terasa begitu lama, bahkan
sakit di rahimku pun semakin sakit. Kantung ketubanpun sudah pecah, airnya menghambur
keluar, membasahi hampir seluruh permukaan matras."Astagfirullah…astagfirullah…"..tak
henti-hentinya saya beristighfar. Tidak lama, sekitar 10 menit kemudian, Ibu
Bidan pun datang mendekatiku, sambil tersenyum diusapnya kepalaku "Kita
bisa mulai sekarang…" sambil memberi isyarat kepada 2 orang perawat
untuk segera menyiapkan segala sesuatunya.
Dengan posisi setengah duduk- setengah berbaring, kurenggangkan kedua kakiku,
kuletakkan kedua tanganku dibelakang kepala untuk membentuk daya dorong. Ibu
Bidan pun memberi instruksi, agar saya bersiap-siap mengejan…."Satu..dua…tiga…"….."Akkkkkhhhhh……"…kutahan
nafasku sambil kupejamkan mataku…perih rasanya….."AllahuAkbar..!!"….sakitnya
begitu perih apalagi di sekitar leher rahim. Terus kucoba untuk berkuat…..,
setiap kali sakitnya datang membahana, kususul dengan tindakan mengejan. Suara
Ibu Bidan…perawat… terus terdengar untuk memberi sugesti terhadapku
agar saya terus berkuat. Hampir setiap 5 detik kurasakan hal yang sama..teramat
perih..nyeri ….…menusuk dari tulang panggul hingga ke ulu hati…peluhku
pun sekonyong-konyong membasahi semua permukaan kulitku, kedua tangan dan kakiku
terasa amat dingin, …MasyaAllah…ampun Ya…Allah….sakit nian
sakit ini. Begitulah seterusnya, hampir 40 menit, saya merasakan sakit yang
sama.
"MasyaAllah!!!"..pekikku dalam hati…sambil melirik jam dinding
yang berada tepat dihadapanku…jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.05,
namun proses bersalin belum kunjung usai. Hatiku pun semakin takut, kembali
dihinggapi rasa cemas, belum lagi tenagaku hampir habis, hampir mendekati titik
nol. "Subhanallah.." saya mesti berbuat apa…akankah saya dioperasi?…akankah
bayi saya terselamatkan…akankah saya diberi kesempatan untuk menatap kembali
wajah-wajah orang yang kukasihi ?….Allahu Akbar…saya pasrah kepadamu…Yaa..Rabb…
Air mataku pun mulai berjatuhan satu persatu….syahdu hati ini..tak ada
lagi kekuatan…kedua tanganku lunglai …tidak mampu menopang kepalaku…penglihatanku
semakin gelap…sekujur tubuhku gemetar, mulutku kaku, tenggorokanku kering….Inikah
maut yang menjemput…."Subhanallah…..aku siap Yaaa…Allah…namun
…anakku…"…..tiba-tiba sayup kudengar suara Ibu Bidan .."Nak…sedikit
lagi….kepala bayi sudah di pintu….Sekali lagi!!!"…..dengan
kekuatan…..yang saya yakin datangnya dari Allah…...saya mengejan sekuat-kuatnya….."Prooottthhh…!!"…"Oeeee…ooooeeeeeeeee….oeeeee………"…..Alhamdulillah.."..pekik
Ibu Bidan…"Anak yang cantik….!!…
MasyaAllah….itu …..itu….bayiku… bisikku….kupaksa untuk
membuka kedua mataku walau terasa amat berat…Ya, bayi merah itu anakku…tidak
salah lagi…Alhamdulillah…AllahuAkbar….berpuluh-puluh pujian keluar
dari tenggorokanku yang kering, Allahu Akbar…. air mataku pun semakin mengalir
deras….jatuh …membuat telaga….terbayang di pelupuk mata…
segala keindahan…terasa begitu berarti setiap tarikan nafas…., terasa
begitu nikmat hidup ini…terasa…begitu luasnya sayang Allah kepada
kita…CINTA yang tidak bertepi. "Saya bisa…Yaa..Allah..saya mampu…sebagai
seorang perempuan.."…..Inginku berlari…menghampiri setiap orang
yang selalu hadir dalam kehidupanku…..untuk membisikkan…" Kini..kupunya
anak yang cantik …karena keajaibanNYA…"
|