Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
Aku mengumpulkan perkataan sahabat dan aku mendapati jumlah dosa besar anggota badan sebagai berikut. Empat dalam hati: syirik, bertahan dalam kemaksiatan, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari makar Allah. Empat di lidah: kesaksian dusta, menuduh muslim/ah yang baik, sumpah palsu dan sihir. Tiga dalam perut: minum minuman keras, memakan harta anak yatim, dan memakan riba. Dua di kemaluan: zina dan homoseks. Dua di tangan: membunuh dan mencuri. Satu di kaki: lari dari medan pertempuran. Satu di seluruh anggota badan: durhaka kepada kedua orangtua. (Abu Thalib Al Makky)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan

Yahoo Messenger
dudung_at@yahoo.com
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
30 Mei 2005 - 14:19
LELAKI KECIL ITU       
 

Lelaki kecil itu, ya aku ingat, dia yang menyerobotku tadi ketika aku antri wudhu di musholla kecil kantor Jasa Marga Kebon Jeruk. Biasanya memang aku menyempatkan untuk shalat maghrib dulu sebelum melanjutkan perjalanan ke rumahku di Tangerang. Maklum Jakarta selalu macet di hari kerja, terlebih lagi pada jam pulang kerja begini, jadi ini siasatku agar tetap bisa shalat maghrib tepat waktu dan berjamaah.

Bocah kecil umur sembilan tahunan itu sudah langsung mengikuti barisan jamaah sebelumnya, dia menjadi masbuk*. Aku mau langsung bergabung, namun karena ukuran musholla ini cukup mini, hanya cukup untuk empat shaf saja setiap kali shalat berjamaah, itupun satu shafnya hanya cukup untuk 5 orang.

" Kasihan juga kalau ada muslimah yang mau shalat berjamaah," gumamku melihat kondisi tempat ini.

Ah Jakarta, rupamu elok nian, gedung pencakar langit, mall besar, perkantoran mewah, namun untuk ibadah kadang kau hanya beri tempat "sisa". Hati ini hanya bisa miris.

Selesai shalat berjamaah, aku langsung pergi ke tempat menunggu bis seperti biasa. Ah, sebuah bus AC jurusan tempat tinggalku sudah datang, dan aku langsung naik tanpa menunggu komando lagi. Walaupun lelah, karena biasanya aku harus berdiri lagi, aku paksakan saja. Terekam jelas wajah Rasyid, anak pertama kami yang sudah menunggu ayahnya dan juga Bunda yang siap menjemput dengan seulas senyum tulus di wajahnya.

Benar saja, aku harus berdiri, namun sosok lelaki kecil itu kulihat lagi, yang kini menerobos barisan penumpang yang sedang berdiri membagikan amplop – amplopnya. Masya Allah, dia seorang pengamen cilik.

Kudengar suara paraunya yang lemah ditemani dengan kecrekan bekas tutup botol yang dipipihkan melantunkan lagi-lagu milik band yang kini sedang digandrungi oleh anak muda, bahkan anak-anak. Wah, liriknya yang bercerita tentang cinta itu tidak cocok untuk usianya.

Apa daya, lantunannya pun tertutup oleh suara sound yang keluar dari tape deck milik bus ini yang distel cukup keras. Dan lagu yang diputar si pengemudi juga kebetulan adalah lagu-lagu milik band yang dilantunkan oleh pengamen cilik itu. Alhasil, kemungkinan besar dia kurang diperhatikan oleh penumpang yang sekedar ingin memberikan uang recehan kepadanya.

Ah, aku hanya bisa berkaca-kaca lagi seperti biasa. Terbayang satu, dua, tiga, bahkan jutaan bocah kecil yang harus menggadaikan masa belajar dan bermain mereka untuk bekerja di negeri tercinta ini.

" Ya, Allah, he could be my son, he could be my daughter, he could be everyone that I know..."

Bocah kecil itu bisa saja anak lelakiku, bisa saja anak perempuanku, bisa saja siapa saja yang aku kenal.

Sambil menyeka bulir-bulir kaca yang jatuh menggumpal dari mata ini, aku berdoa, " Kuatkan kami dalam mendidik anak-anak kami, Ya Rabb..,"

Wallahu'alam

Cece YS
ceceys@gmail.com

 
 
(Dibaca: 9675 kali | Dikirim: 8 kali | Print: 123 kali | Nilai: 9.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2012, Dudung Abdussomad Toha