| Sesungguhnya Allah tidak merubah
keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. (QS. Ar Ra'd 13:11)
***** "A..ti..ka..?!." Sejenak Nisa tertegun melihat sosok yang ada di
hadapannya. Hampir saja ia tak percaya bahwa wanita itu adalah sahabat
lamanya. "Iya Nisa, aku Tika!." Mereka saling berpelukan melepas
rindu. Hampir 7 Tahun sudah perpisahan itu. Akibat sebuah pertengkaran yang
menorehkan luka di hati Atika!. Dan Nisalah orang yang patut dipersalahkan
dalam hal ini!. Dulunya mereka adalah sahabat karib, kemana
pergi selalu bersama. Tika dengan kekuatan fisiknya bak bodyguard yang
selalu melindungi Nisa. Ditambah kelebihannya dalam lomba lari, lengkaplah
sudah, namanya terkenal. Ia juga pintar mencari uang dengan berdagang
kecil-kecilan, sehingga tidaklah heran walau keluarganya tergolong sederhana
namun uang jajannya bisa sepuluh kali lipat dari anak-anak pejabat.
Suatu ketika, "Boleh aku menumpang di rumahmu Nisa?.. kakak ipar
mau memperkosaku!, alhamdulillah Allah melindungiku. Ini sudah kedua
kalinya!." Nisa terkejut setengah mati mendengar berita
itu, "Innalillaahi.. orangtuamu tahu hal ini?.." Wajah pucat di depannya
mengangguk, "Jalan terbaik Beliau menyarankan aku pergi!, karena jika
sebaliknya, kabar buruk ini akan tersebar dan keluarga kami akan
malu!." Nisa bertanya-tanya dalam hati, kenapa putusan orangtua
Atika tidak adil? kenapa Beliau memilih manusia tak bermoral itu daripada
anak kandungnya sendiri?!. Setelah menceritakan musibah yang menimpa
sahabatnya, Orangtua Nisa turut prihatin. Sejak saat itulah Atika menjadi
bagian dari keluarga Nisa. Setahun, dua tahun.. empat tahun berjalan,
kebersamaan mewarnai mereka. Namun menginjak tahun kelima.. saat sibuk
menghadapi ujian SMA, tanpa disengaja Nisa berkata dengan nada emosi pada
Atika, gadis itu hampir tak punya keinginan untuk lulus, ia hampir tak
pernah menyentuh bukunya. "Bagaimana mungkin kamu bisa jadi orang
sukses kalau tak punya usaha untuk itu Tika?!." Takk!, kata-kata Nisa
begitu pedas terdengar, ia sadar selama ini hanya menumpang, hidup dari belas
kasihan orang. Keretakan hubungan mereka dimanfaatkan Andini,
entah bagaimana keesokan harinya Atika pamit pada orangtua Nisa, walau
dengan alasan yang cukup kuat. Sementara Nisa dengan perasaan bersalah
menumpahkan kepedihannya dengan belajar mati-matian mengejar
kelulusan, akhirnya kedua sahabat itu semakin jauh, Nisa melanjutkan
studynya ke Yogya. Waktu yang lama membuat segalanya berubah. Melati
yang pernah dilukainya itu seakan tak pernah menyimpan dendam sedikitpun.
Nada bicaranya, tingkah lakunya, senyumannya, semua terasa tulus dan indah.
Nisa mendesak Atika untuk bercerita. "Usai pamit dari rumahmu Nisa,
aku betul-betul bingung!, Dini yang menyarankan aku pergi mau bertanggung
jawab, ia meminta ibunya mempekerjakanku. Alhamdulillah aku diterima menjadi
penjaga sekolah, walau gajinya kecil, aku bersyukur bisa mandiri.
Pekerjaanku setiap hari menimba air, mengisi wc guru dan murid sampai
penuh, jauhnya minta ampun.., aku juga harus menyapu sekolah dan memotong
rumput. Tenaga yang kukeluarkan tidak sesuai dengan makanan yang
kukonsumsi, bayangkan saja dengan uang segitu aku hanya mampu makan nasi
dengan ikan asin, kadang aku memetik kangkung liar untuk dijadikan sayur.
Mungkin Ayahmu tak tega melihat keadaanku, beberapa kali Beliau
memergokiku sedang menebas rumput. Suatu hari ia menawarkan bekerja di rumah
Wakil Gubernur dengan gaji lumayan tinggi, namun aku masih teringat akan
pertengkaran kita. Begitu polosnya kuminta Bu Mulyani (Ibu Andini) untuk
mengambil sikap dalam masalah ini. Beliau seakan tak ingin melepaskanku,
aku dimintanya membuat surat perjanjian, jika sudah bekerja selama
setahun, aku harus diangkat menjadi pegawai negeri!. Wajah ayahmu berubah
ketika mendengar permintaanku. Tak lama kemudian ayahmu memberi
khabar bahwa tempat yang ditawarkannya sudah terisi orang!. Aku
bisa membaca sirat kekhawatiran dimatanya melihat keadaanku. Beliau
meninggalkanku setelah memberi sejumlah uang. "Jaga dirimu baik-baik
Atika.." katanya. Aku nangis. Akhirnya aku kembali pada pekerjaan
semula, gajiku dinaikkan hampir 2 kali lipat atas prestasiku menangkap
maling yang ingin mencuri komputer sekolah. Satu lawan satu aku menang!. Aku
juga mulai meningkatkan penghasilan, berjualan kacang goreng, es dan
manisan, dari hasil keringat itulah aku bisa membeli kulkas. Suatu
ketika musibah dasyad menimpa lagi, sekolah dimasuki maling untuk kedua
kalinya!. Mereka ramai sekali Nisa.. sedangkan aku hanya sendiri.
Letak sekolah itu terlalu jauh dari tetangga yang akan mendengar
teriakanku untuk minta tolong, aku memilih diam. Esok harinya Bu
Mulyani marah besar, "Kamu ini bagaimana sich Atika! diserahi tangung
jawab tapi tak becus!, kamu kan perkasa kenapa tidak melawan?!. "
Semua Guru membelaku. Mereka bersyukur aku selamat. "Alhamdulillaah
Tika kamu tidak apa-apa, jika kamu keluar entah apa jadinya.." Kata-kata itu
membuat aku sedikit terhibur. Tapi Bu Mul! Beliau masih
terus menyalahkanku, bahkan polisi sendiri dimarahinya, ia menganggap
komputer-komputer itu lebih berharga daripadaku!. Telah habis rasa sabar ini,
tanpa bisa mengendalikan emosi aku melawan. "Saya memang wanita
perkasa Bu! saya bisa melawan pencuri jika satu lawan satu!. Ini pencurinya
ramai sedangkan saya sendiri. Apakah saya mesti menyerahkan diri?!, dan
jika saya diperkosa mereka, apa ibu bisa mengganti kesucian saya?!.. dan
menjamin masa depan saya yang sudah suram?!". Bu Mul terdiam!. Sejak
saat itu Beliau tak lagi memperdulikanku. Aku seakan hidup segan mati tak
mau berada di rumah itu, kuputuskan untuk pp (pulang pergi) dari rumah ke
sekolah. Ternyata musibah tak hanya sampai di sini, pencuri yang tahu rumah
itu kosong mengambil kulkasku. Aku stress Nisa.. ditambah kematian ayah,
seperti orang hilang ingatan, aku suka termenung-menung sendiri!. Ibu
tak tahan melihat keadaanku, Beliau mohon pada orangtuamu untuk menerimaku
lagi. Akhirnya aku kembali. Sampai suatu ketika, ada kenalan
orangtuamu dari Malaysia mengajakku bekerja pada putrinya. Aku menjadi TKW
di negeri orang dengan gaji lumayan. Alhamdulillaah.. sejak saat itulah
kehidupanku mulai berubah!. Aku bisa membantu merehab rumah
orangtua, memberi pinjaman modal saudara-saudaraku, menghadiahkan ponakan
mainan dan uang, membeli kebun, membiayai seorang yatim yang miskin untuk
melanjutkan sekolah sampai tamat SMA, dan.. aku punya tabungan untuk modal
usaha jika Allah mengizinkanku berumah tangga!." Nisa terharu
mendengar penuturan sahabatnya. Sebuah cerita panjang yang penuh duka, namun
berujung kebahagiaan. "Maafkan segala kesalahan Nisa ya Tika..!" Ucap
Nisa dengan butiran air mata. Atika memegang lembut jemari tangannya.
"Tidak Nisa, kamu tidak salah! lewat dirimu Allah menyadarkanku untuk
memperbaiki diri dan penghidupan!. Aku memang tidak suka membaca buku.. tapi
aku selalu membaca Firman Allah dan meresapinya dalam setiap
tarikan nafasku!." Nisa begitu bahagia atas perkembangan
pesat sahabatnya, keesokan hari ia minta Ayuning menemaninya mengantar
Atika ke Bandara. "Nisa sering memikirkanmu Tika!. Ia begitu
bahagia mendapatimu sebagai Melati yang berkedudukan tinggi!." Atika
tak mengerti apa yang dikatakan Ayuning, sementara Nisa hanya tersenyum
mendengarnya. Akhirnya.. perpisahanpun tiba. "Jaga dirimu baik-baik
sayang..!". Ucap Nisa lirih sambil memeluk dan menciumi Melatinya. Tika
tegar berusaha keras menyembunyikan tangis. Ia melambaikan tangan pada
keduanya sambil berucap, "Jangan khawatir!, insya Allah.. aku akan
pulang dengan sejuta kesuksesan!." Atika terlihat semakin mengecil,
dan akhirnya.. hilang!. Serasa mimpi, Nisa terjaga dan mengajak Ayu untuk
pulang. "Melati itu pernah terluka, Ayu.. rasa
sakit menyadarkannya untuk bangkit!, berusaha menjadi manusia yang lebih
baik!. Semoga Allah meridhai seluruh perjuangannya". Billaahi taufiq walhidayah
Wassalaamu'alaikum warahmatullaah wabarakaatuh Ratna Dewi (wiwi_praty,
Qalbu) |