| Ada satu kepastian diantara ketidakpastian dalam kehidupan manusia.
Dimana secara sadar atau tidak, manusia sesungguhnya menuju
kepadanya. Tidak perduli apakah ia siap atau tidak, tua atau muda,
cepat atau lambat. Bagi sebagian manusia, ia hanyalah proses alamiah
dalam sebuah kehidupan. Menjadi akhir peristirahatan dari segala
kegalauan. Bagi sebagian lain ia adalah awal dari sebuah kehidupan.
Itulah kematian.
Ibarat sebuah sungai, muaranya merupakan merupakan pintu gerbang
samudra. Begitu pula dengan kematian, ia adalah muara bagi pintu
gerbang samudra kehidupan yang luas dan kekal. Tiada hal yang membuat
Basuki (30) curiga bahwa pada awal November 2002 di Jalan Gatot
Subroto, Jakarta lalu merupakan hari terakhirnya merasakan kehidupan
setelah sedan yang ditumpanginya ditabrak Panther. Begitu pula dengan
seorang jama'ah haji yang pada saat itu bersama penulis sedang
menempuh perjalan menuju Madinah. Iapun tidak menyangka bahwa itulah
perjalanannya yang terakhir setelah menyelesaikan prosesi haji dan
sholat dzuhur hari itu.
Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir kehidupannya. Dan
pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya. Sebagaimana
ia menjalani kehidupannya seperti itulah kemungkinan besar ia akan
menghadapi kematiannya. Karena sesungguhnya dengan menjalani
kehidupan berarti kita sedang berjalan menuju kematian kita.
Katakanlah sesungguhnya kematian yang kamu semua melarikan
diri darinya itu, pasti akan menemui kamu, kemudian kamu semua akan dikembalikan
ke Dzat yang Maha Mengetahui segala yang ghaib serta yang nyata.' (QS.
Jum'ah:8).
Orang-orang yang berfikir secara kerdil dan menjatuhkan diri kepada
keduniawian akan berlari dengan segala kemampuan yang ada dari
kematian. Kematian merupakan momok yang menakutkan yang akan
mengambil segala yang telah diusahakan selama hidupnya. Padahal jauh
berabad-abad dahulu Rasulullahpun telah mengingakan akan kematian
dalam sebuah sabdanya :
Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala
macam kelezatan (kematian). (HR. Tirmidzi)
Sementara manusia-manusia yang cerdas menjadikan kehidupannya bukan
hanya sebagai sarana menghadapi dan mempersiapkan kematian namun
menjemput kematian melalui seni kematian. Paradigma seni kematian
memang masih aneh dalam fikiran masyarakat saat ini. Kematian
hanyalah kematian. Bagaimana mungkin sesuatu yang nafsu membenci
bertemu dengannya menjadi sesuatu yang jiwa bergairah berjumpa
dengannya ? Inilah salah satu ajaran Islam yang agung, mengatur dari
hal-hal kecil kehidupan sampai kenegaraan, dari awal memulai
kehidupan sampai bagaimana menjemput kematian dalam koridor-Nya.
Bagi orang-orang cerdas ini, kematian adalah panglima nasihat dan
guru kehidupan. Sedikit saja ia lengah dari memikirkan kematian maka
ia telah kehilangan guru terbaik dalam hidupnya. Inilah yang membuat
seorang Sayyid Qutb berkata di tiang gantungan Rezim Pemerintah Gamal
Abdun Naser berkata, ''Hiduplah Anda dalam keadaan mulia, atau
matilah dalam keadaan mati syahid''.
Seni kematian yang paling indah juga dicontohkan para sahabat dalam
membela risalah Islam dalam sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Cukuplah kematian itu sebagai penasehat. (HR.
Thabrani dan Baihaqi)
Secerdas-cerdasnya manusia ialah yang terbanyak ingatannya
kepada kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian.
Mereka itulah orang yang benar-benar cerdas dan mereka akan pergi ke alam baka
dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat. (HR. Ibnu
Majah)
Sekarang adakah dalam hati kita kematian itu sebagai penasihat
terbaik kita dan memulai menata hati, jiwa dan raga untuk menjemput
kematian dengan seni kematian yang begitu indah dalam Islam. Semoga,
selagi masih ada waktu.
Wallohu a'alam.
-----------------------
Sumber: Menjemput Kematian oleh Abu Saifulhaq Asaduddin - Alhikmah
|