| Tepat setelah persiapan 20 hari,
Senin, 29 Oktober 2001 MER-C berangkat bersama rombongan Menko Kesra, Wakil MUI,
dan sejumlah wartawan menuju Islamabad, Pakistan. Dengan menumpang pesawat
Hercules MER-C berangkat membawa sejumlah obat dan alat bedah.Dana masyarakat
yang terkumpul sampai tanggal keberangkatan berjumlah sekitar Rp 600 juta belum
termasuk sejumlah perhiasan yang diberikan masyarakat secara spontan saat
penggalangan dana.
Setelah melalui perjalanan selama 20 jam, Tim Medis
MER-C berhasil mendarat dengan selamat di Islamabad, Pakistan. Sejumlah
acara kenegaraan pun dilakukan pemerintah setempat untuk menyambut rombongan
Menko Kesra dan wakil dari MUI yang membawa sumbangan atas nama masyarakat
Indonesia untuk korban perang dan pengungsi asal Afghanistan.
Keesokan harinya (30/10) MER-C mengadakan pertemuan dengan pihak
KBRI, Ketua PMI, UNHCR, dan ICRC. Inti pertemuan
tersebut adalah mereka menginginkan MER-C masuk melalui UNHCR. Namun
karena ada informasi yang menyatakan bahwa UNHCR kurang dapat diterima di
Afghanistan, maka MER-C memilih untuk tidak berada dalam payung UNHCR.
Malamnya MER-C bertemu
dengan wakil dari PIMA (Pakistan Islamic Medical Association) untuk
membicarakan rencana pembuatan kamar operasi keliling berbentuk kontainer
yang dapat membantu gerak MER-C untuk operasi di lapangan dan dapat mobile
kemana saja. Rencana ini ternyata telah pula dipikirkan oleh PIMA, maka
tinggal pelaksanaanya saja yang belum karena masih menunggu bantuan dana
sebesar US$ 10.000 untuk membeli kendaraanya.
Selama di Pakistan, MER-C
berjumpa pula dengan beberapa LSM Indonesia termasuk dengan Dompet Dhuafa
Republika yang telah pula sampai di Pakistan. Pertemuan ini berencana
membentuk posko dan forum bersama di Pakistan yang dapat berfungsi
sebagai sumber informasi dan pusat koordinasi antar LSM yang akan ke
Afghanistan. Forum ini diberi nama Indonesia Moslems Brothers. Dana yang
masuk melalui forum ini akan dialokasikan sesuai dengan
peruntukkannya misalnya untuk kesehatan akan dipercayakan melalui
MER-C.
Kamis (1/11), MER-C sampai di Rawalpindi untuk bertemu dengan dubes
Taliban di Pakistan untuk dibuatkan surat rekomendasi bagi MER-C agar dapat
masuk ke Afghanistan. Sementara itu dukungan dari mahasiswa kedokteran
setempat semakin besar dan siap membantu MER-C secara
reguler. Alhamdulillah, Senin (5/11) MER-C dapat bertemu dengan Deputi Duta
Besar Taliban di Pakistan Moh. Suhail Shahnen. Dalam pertemuan tersebut
MER-C menyampaikan maksud untuk membantu masyarakat Afghanistan
dalam mengusahakan mobile operating theatre (kerja sama dengan PIMA),
mobil ambulance, dan bekerja di camp pengungsi, selain meminta izin untuk
pindah dari satu kota ke kota / desa ke desa lain sesuai dengan kebutuhan
medis.
Deputi Dubes Taliban tersebut menyambut gembira melihat besarnya
perhatian masyarakat dan pemerintah Indonesia terhadap rakyat Afghanistan.
Walaupun dalam keadaan sulit diberbagai bidang terutama ekonomi tetapi
masih memberikan bantuan dari rakyat Indonesia melalui LSM dan
pemerintahnya. Mereka memuji rakyat Indonesia atas gerakan solidaritas untuk
Afghanistan melalui demonstrasi-demonstrasinya. Mereka berharap hal ini juga
dapat dilakukan oleh negara-negara Arab dan juga saudara muslim lainnya di
seluruh dunia.
Terhadap LSM-LSM barat yang datang ke Afghanistan, pihak
Taliban menyatakan bahwa mereka membawa "agenda tertentu". Menurut Taliban
rakyat Afghanistan hampir seluruhnya menolak bantuan yang diberikan Amerika.
Mereka lebih memilih kelaparan daripada harus menerima bantuan AS.
Dalam
pertemuan tersebut juga dilakukan konferensi pers oleh Duta Besar Taliban di
Pakistan. Dalam konferensi persnya dinyatakan bahwa beliau menyampaikan
penghargaan salah satunya pada Indonesia atas peran rakyat Indonesia membantu
Afghanistan. Beliau juga menyatakan bahwa tim medis Indonesia dapat
memberikan bantuan medis di wilayah Afghanistan.
Selangkah lagi MER-C tiba di kancah perang....
Jakarta, 6 Oktober 2001
Humas MER-C |