Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Orang mukmin itu pemimpin atas dirinya. Sesungguhnya ringanlah hisab atas suatu kaum yang menghisab dirinya di dunia.Dan sesungguhnya sukarlah hisab pada hari kiamat atas suatu kaum yang mengambil persoalan ini tanpa hisab" (Hasan Al Bashri)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
06 Oktober 2008 - 14:52
Mungkinkah tanggal 1 Syawal 1429 H lebih dari satu?    
 

Assalaamu’alaikum wr wb

Tulisan saya ini sekadar melengkapi dari angle yang lain atas tulisan sahabat saya, Abu Fikri, di blog saya sebelumnya yang saya posting pada hari Senin, 29 Ramadhan 1429 H, atau bertepatan dengan 29 September 2008 yang memaparkan tentang kemungkinan-kemungkinan datangnya 1 Syawal 1429 H. Saya tak akan membahas lebih lanjut soal postingan beliau, karena bisa dibaca pada postingan itu saja. Pada postingan kali ini saya sekadar ingin memberikan sedikit “alasan” saja mengapa kita kemudian masih berbeda dalam menentukan tanggal 1 Syawal. Ketika ada sekelompok kaum muslimin yang melakukan shalat Idul Fitri hari Senin, 29 September 2008, pikiran kita langsung nyambung bahwa saat itu sudah tanggal 1 Syawal 1429 H. Ketika ada berita tentang kemungkinan Idul Fitri (1 Syawal 1429 H) jatuh pada tanggal 30 September 2008, berarti ada lagi tanggal 1 Syawal menurut versi kaum muslimin yang merayakannya di tanggal tersebut. Ditambah, ada juga yang kemudian menetapkan bahwa 1 Syawal 1429 H justru bertepatan dengan 1 Oktober 2008. Wah, jadi ada tiga tanggal 1 Syawal pada 1429 H ini?

Fenomena ini memang membingungkan bagi sebagian kalangan. Apalagi kalangan awam yang tidak memiliki akses informasi—apalagi ilmu, mereka cenderung ‘taat’ saja kepada apa yang ditetapkan pemerintah di negara masing-masing (termasuk pemimpin organisasi keislaman yang diikutinya) karena masih memegang keyakinan dan prinsip bahwa pastilah mereka tak mengada-ada dan sudah diputuskan melalui kesepakatan dan disertai dengan ilmunya masing-masing yang mendukung keputusan tersebut. Sehingga, tentu saja mereka memilih hari 1 Syawal 1429 sesuai ketetapan dan keputusan pemerintah atau pemimpin organisasi yang diikutinya.

Namun, bagi sebagian kalangan kaum muslimin yang mulai peduli dengan masalah ini secara serius, mereka mencarinya dengan lebih maju ketimbang nerimo saja apa kata pemerintah di negara masing-masing (termasuk pemimpin organisasi yang diikutinya). Banyak lembaga yang peduli dengan masalah ini menurunkan berbagai informasi penting berkaitan dengan hisab dan rukyat untuk menentukan tanggal 1 Syawal 1429 H. Adanya teknologi internet memberikan tambahan ‘tenaga’ kepada para penggali dan pencari informasi untuk lebih kreatif dalam mengembangkan wawasan dan ilmu pengetahuannya tentang masalah tersebut. Kondisi ini jelas memberikan pengalaman baru bagi sebagian besar kaum muslimin yang ingin mencari kepastian waktu ibadah itu dengan mengetahui ilmu dan informasi yang jelas. Tidak asal menerima informasi, tidak asal percaya begitu saja kepada organisasi, lembaga atau pemimpin negara tertentu.

Perlu diingat bahwa saat ini kondisi kaum muslimin terbagi dua kelompok yang terlibat dalam masalah ini. Kelompok pertama adalah mereka yang memiliki kapasitas keilmuan dan keahlian di bidang ilmu hisab dan keterampilan mengamati pergerakan bulan, sehingga mereka terlatih untuk merukyat (melihat) bulan baru sebagai penanda datanganya penanggalan bulan baru yang menjadikan informasi yang disampaikannya insya Allah benar (atau mendekati kebenaran) sesuai fakta. Tapi, mereka dengan kapasitas keilmuan dan keahlian seperti ini jumlahnya terbatas jika tidak mau dikatakan sedikit.

Sementara kelompok kedua adalah para penerima kabar saja. Ini pun dibagi dua lagi. Ada yang benar-benar murni sebagai penerima kabar, dan yang kedua adalah penerima kabar tapi  berusaha mengikutinya dengan keilmuan yang dimilikinya meskipun tak banyak. Kelompok penerima kabar jenis kedua ini biasanya akan berusaha mencari sebanyak dan selengkap mungkin berbagai informasi untuk dibandingkan dan menguji kebenarannya sehingga bisa menyimpulkan mana informasi yang layak dijadikan pegangan untuk mengambil keputusan dan mana yang tidak.

Ok, kita persempit kepada pembahasan tentang “kelompok penerima kabar”. Saya sendiri jujur saja bukan pelaku rukyat hilal, tentang perhitungan alias metoda hisab pun tak banyak tahu. Hanya sedikit saja. Masih sangat jauh ketimbang para ulama ahli rukyat dan ahli hisab. Tapi saya dan beberapa kawan berusaha untuk belajar, semampu kekuatan diri untuk mengenal dan bila mampu adalah mempelajari ilmu yang berkaitan dengan rukyat dan hisab. Minimal, tradisi “nerima tanpa reserve” saya sejak bertahun-tahun mulai bisa saya lepaskan. Sehingga apa yang saya lakukan ada dalilnya, ada faktanya. Dibanding “jaman baheula” yang membuat saya speechless ketika diminta banyak pihak tentang alasan mengapa memilih “berbeda” tanggal dalam Idul Fitri. Saya waktu itu hanya menjawab “saya percaya saja dengan informasi yang disampaikan seseorang yang sudah tidak diragukan lagi keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Swt. meskipun memang tak ada bukti tertulis yang menyertainya berkaitan dengan keputusan informasi tersebut.”

Sebagai sama-sama penerima kabar, saya sendiri ingin berusaha mendapatkan kabar yang mendekati kebenaran dan kabar terbaik sehingga bisa meyakinkan saya dalam beribadah. Sebab, bagaimana pun juga masalah ibadah ini harus memenuhi salah satunya adalah waktunya (selain dari tempat dan caranya, tentu). Sehingga ibadah kita berharap diterima oleh Allah Swt. Jujur dalam hati kecil saya sering bertanya, mengapa ada banyak tanggal 1 Syawal atau 1 Ramadhan dan 10 Dzulhijjah karena berbedanya cara penghitungan dan penglihatan terhadap bulan yang menjadi ukuran penanggalan dalam Islam?

Saya insya Allah termasuk penganut madzhab “rukyat”, bukan “hisab”. Meski demikian, metoda hisab tidak sama sekali ditinggalkan. Sebab, hisab pun bisa kita “manfaatkan” untuk mencari waktu yang pas untuk “rukyatul hilal” (melihat bulan sabit yang menandakan datangnya bulan baru—yakni, penanggalan bulan baru). Setidak-tidaknya, rukyatul hilal tetap harus dilakukan sekaligus untuk “menguji” hasil perhitungan yang dibuat dengan metoda hisab. Apalagi dengan makin berkembangnya teknologi saat ini, khususnya di bidang astronomi, insya Allah akan menjadi pelengkap untuk mendukung pengambilan keputusan oleh pihak-pihak yang berkompeten di bidangnya.

Itulah alasannya mengapa saya dan beberapa kawan memilih mencari berbagai informasi yang disertai banyak fakta. Untuk meyakinkan apa yang saya ambil dan yakini dari kabar tersebut agar tak setengah hati dalam menjalankan ibadahnya. Paling nggak, ketika ditanya saya punya dalil dan bukti. Tidak blank apalagi berdalil cukup dengan “kata ustad ini dan kata ustad itu” sembari tak bisa membuktikan informasinya.

Untuk kasus 1 Syawal 1429 H ini, saya sendiri akhirnya memilih menerima kabar yang menetapkan bahwa 1 Syawal 1429 H bertepatan dengan 1 Oktober 2008. Meski banyak juga berseliweran SMS masuk ke nomor handphone saya bahwa berdasarkan rukyat di negara ini dan itu, bahkan menyebutkan ada sekitar 20 negara di dunia ini yang sudah menjatuhkan keputusan bahwa 1 Syawal 1429 H bertepatan dengan tanggal 30 September 2008. Tapi, saya bergeming karena mereka tak bisa memberikan bukti otentik secara tertulis dan menjelaskan fakta-faktanya. Ketimbang yang saya telusuri bersama sejumlah kawan “pemburu kabar hilal” (catat: bukan pemburu hilal). Maklum, ilmu saya dan kawan-kawan belum sampe ke tingkat pemburu hilal, baru sebatas pemburu berita hilal. Informasi dari para pelaku rukyatul hilal yang memaparkan laporan mereka di berbagai website yang dikelolanya macam “ICOP”, “MOONSIGHTING”, “RUKYATULHILALINDONESIA” dan lainnya.

Menurut saya pribadi, informasi mereka sangat berharga bagi siapa pun pencari dan penerima kabar tentang rukyatul hilal, karena mereka insya Allah memaparkan sesuai kapasitas ilmu yang dimilikinya di bidang yang mereka kuasai. Bahkan mungkin sangat dikuasainya ketimbang kita-kita yang awam ini.

Memang, kesaksian satu orang muslim dan bersahadat ketika memberikan kabar bahwa dirinya melihat hilal harus diterima, saya setuju. Tapi, tentu ada syaratnya, yakni menyeleksi kapasitas keilmuan yang dimilikinya di bidang tersebut, keterampilan yang dikuasainya selama ini dalam melihat bulan, kapan pengamatannya, di mana, cocok atau tidak dengan fakta astronomi untuk kawasan yang dilihatnya tersebut (misalnya, mengaku melihat hilal, padahal secara fakta tidak mungkin karena bulan masih di bawah ufuk). Sehingga kabar itu tidak salah. Insya Allah yang memberikan kabar tersebut tidak berbohong, tapi kita juga harus menyadari bahwa orang shalih pun bisa salah menjawab soal ujian. Ia tidak berbohong bahwa telah melihat hilal, tapi mungkin yang dilihatnya sebenarnya bukan hilal, tapi ia menganggapnya itu hilal. Perlu diketahui juga bahwa faktor cuaca, kesehatan mata, stamina fisik, ilmu, dan pengalaman turut menjadi variabel yang bisa membawa pengamatan si perukyat hilal bisa benar atau salah. Apalagi sepertinya, bagi saya agak kurang meyakinkan jika hanya menyatakan sudah melihat tapi buktinya kurang tergali dan tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Berbeda halnya ketika informasi itu disampaikan dengan detil, bahkan ada foto bulan sabit (hilal), ada peta langit, ada perhitungan umur bulan, ada software pendukung aktivitas pengamatanya, ada nama si perukyat di POB (Pos Obervasi Bulan) mana saja yang melihat hilal, sehingga bisa meyakinkan meskipun belum 100 persen benar. Tapi setidakya ada pegangan untuk keyakinan informasi. Dibanding, yang hanya mengandalkan “informasi tak jelas asal-usulnya, apalagi tak ada bukti yang menyertai dilahirkannya keputusan tersebut.”

Oke deh, saya tidak hendak melebarkan jarak perbedaan dengan siapa pun. Karena tentu saja saya pun tidak akan pernah memaksa siapa saja untuk ikut dengan pendapat saya. Saya juga tetap sampai sekarang menghargai pendapat teman-teman yang meyakini penentuan 1 Syawal 1429 H berbeda dengan yang saya yakini. It’s ok. Silakan saja. Saya tak akan memaksa, dan saya pikir siapa pun dari Anda juga tidak bisa memaksa saya untuk sama dengan pendapat Anda. Kalo soal argumentasi bolehlah diadu, tapi jika tak bertemu di satu titik yang sama dan kemudian memilih jalan masing-masing, bukan berarti ukhuwah kita putus karenanya. Tidak. Lagi pula kita masih sama-sama tak punya jaminan paling benar. Iya nggak sih? So, silakan aja milih di antara banyak informasi berbeda, yang penting jangan ragu. Pastikan keyakinan memilihnya berdasarkan seleksi berita yang ketat bukan asal percaya kepada seseorang atau lembaga saja tanpa disertai bukti yang bisa menguatkan keputusan tersebut.

Ini persoalan yang kerap (dan mungkin akan terus) terjadi selama Khilafah Islamiyah belum tegak di muka bumi ini. Insya Allah, jika kita memiliki khalifah, perbedaan ini akan bisa diatasi, karena sesuai kaidah ushul: “amrul imam yarfa’ul khilaf” (perintah imam akan menghilangkan perbedaan). Terserah khalifah memilih pendapat yang mana ketika ada banyak pendapat tentang masalah itu. Tapi, satu keputusan yang telah diadopsinya atas pertimbangan keilmuan para ahlinya, akan menjadi keputusan hukum yang mengikat semua warga negara khilafah. Sehingga bisa bersama merayakan Idul Fitri pada tanggal yang sama, 1 Syawal. Bukan berbeda-beda seperti saat ini. Insya Allah. Jadi, ayo kembali bekerja dan berdakwah untuk menegakkan kembali berdirinya Daulah Khilafah Islamiyah yang akan menerapkan syariat Islam secara total.

Salam perjuangan dan kemenangan ideologi Islam,
O. Solihin
[www.osolihin.wordpress.com]

PS:

  1. Bagi temen-teman yang sempat meragukan sumber-sumber informasi yang saya ambil, saya perlu perjelas bahwa sumber informasi yang meyakinkan saya untuk memutuskan penetapan 1 Syawal 1429 H bukan satu sumber saja. Apalagi mengatakan bahwa sumber-sumber informasi itu cenderung menggunakan metoda hisab. Andai saja teman-teman berselancar, tentu sebenarnya akan tahu bahwa di situ tersebar pilihan informasi, ada yang menggunakan hisab, ada yang menggunakan rukyat, tinggal kita pilih saja sesuai keyakinan pendapat kita.
  2. Saya juga jika tanggal 29 September 2008 (29 Ramadhan 1429 H) ketinggan hilal di atas 0” atau bahkan sekian angka di atas ufuk saja, ketika ada seorang muslim yang mengaku melihat hilal, insya Allah saya akan ikuti, karena secara fakta astronomi yang dihitung memang harusnya terlihat. Meskipun pada faktanya ada yang melihat ada yang tidak. Tapi karena sudah diatas ufuk maka seharusnya bisa terlihat, perbedaan yang ada tidak membuat saya memilih tidak mempercayai, tapi insya Allah mempercayainya karena secara fakta astronomi bisa terlihat.
  3. Saya menuliskan hal ini, semata karena ingin sekadar mengajak teman-teman untuk selangkah lebih maju agar tak selamanya menjadi penerima kabar pasif (hanya dari orang yang kita anggap lebih baik karena sebagai pimpinan organisasi atau jamaah dakwah tertentu yang tidak mungkin salah atau berbohong). Tapi, jadilah pencari dan penggali kabar tentang masalah ini, syukur-syukur kalo kemudian lebih meningkat menjadi ahli rukyatul hilal. Asik banget tuh!
 
 
(Dibaca: 9201 kali | Dikirim: 0 kali | Print: 0 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha