Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
Jika engkau menaklukkan dirimu dalam hal-hal kecil, sesungguhnya engkau melatih kemauanmu untuk menjadi batu karang yang kukuh dan menjadi tuan atasmu.
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
15 Juni 2008 - 17:05
Pilih lebaran tanggal berapa (Idul Fitri 1428 H)?       
 

Ada 3 besar metode yang digunakan untuk menentukan 1 Syawal (juga 1 Ramadhan dan 1 Dzulhijah, serta bulan-bulan Hijriah yang lainnya).

Hisab

Metode ini mengandalkan ilmu hitung astronomi sehingga bisa diketahui posisi benda-benda langit (terutama bulan dan matahari) setiap saatnya. Dengan bantuan teknologi komputer seperti sekarang ini akurasi dari perhitungannya semakin tinggi. Salah satu software yang mudah untuk digunakan adalah MoonC. Linknya ada di menu Download.

Karena kita mulai Ramadhan pada tanggal 13 September 2007, “mengintip” bulan dilakukan pada tanggal 11 Oktober 2007 (29 Ramadhan 1428H). Kalau bulan baru sudah muncul pada sore hari itu, berarti 1 Syawal 1428 H jatuh pada 12 Oktober 2007 (di tempat kita “mengintip” bulan). Kalau bulan baru belum muncul, berarti 1 Syawal 1428 H jatuh pada 13 Oktober 2007. Coba kita “mengintip” untuk wilayah Jakarta.

Hasil dari MoonC, di Jakarta pada tanggal 11 Oktober 2007:

  1. Matahari terbenam pada pukul 17:46:13
  2. Bulan terbenam pada pukul 17:48:43
  3. Matahari terbenam lebih dahulu daripada bulan 2 menit 30 detik.

Artinya, bulan baru telah muncul, dan 1 Syawal 1428 H jatuh pada 12 Oktober 2007.

Rukyah

Para petugas rukyah akan melihat hilal di tempat-tempat strategis pada tanggal 11 Oktober 2007, sore hari.

  1. Jika ada laporan hilal terlihat, 1 Syawal 1428 H ditetapkan jatuh pada tanggal 12 Oktober 2007.
  2. Kalau tidak ada laporan hilal terlihat, 1 Syawal 1428 H ditetapkan jatuh pada tanggal 13 Oktober 2007.

Melihat hasil MoonC, kecil kemungkinannya (kalau tidak mau dikatakan mustahil) hilal terlihat dengan mata telanjang.

Imkanur Rukyat

Metode ini telah disepakati oleh Menteri Agama dari Indonesia, Brunei, Malaysia, dan Singapura. Menurut metode ini, bulan baru dikatakan lahir jika memenuhi salah satu dari kriteria berikut ini

  1. Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas cakrawala tidak kurang dari 2 derajat.
  2. Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3 derajat.
  3. Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam.

Syarat 1 dan 2 agak rumit menjelaskannya. Kita gunakan saja syarat 3. Menurut MoonC, bulan baru lahir pada tanggal 11 Oktober 2007 pukul 05:01:50 GMT atau 12:01:50 WIB. Artinya pada waktu bulan tenggelam pukul 17:48:43, umur bulan baru 05:46:53. Ini masih kurang dari 8 jam. Dengan demikian, 1 Syawal 1428 H ditetapkan pada tanggal 13 Oktober 2007.

Persoalan lain

Dengan metode hisab dan penggunaan MoonC, di Jakarta, Matahari terbenam lebih dahulu daripada Bulan 2 menit 30 detik. Tapi tidak demikian dengan sebagian wilayah Indonesia Timur. Bisa disebutkan di sini kota-kota besar seperti Manado dan Jayapura, pada tanggal 11 Oktober 2007 sore hari, Bulan terbenam lebih dahulu daripada Matahari. Artinya, di wilayah tersebut, bulan baru belum lahir. Lalu, bagaimanakah para “penganut” metode hisab di wilayah ini? Apakah akan ikut hasil hisab di wilayahnya (1 Syawal 1428 H pada 13 Oktober 2007) atau ikut hasil hisab ibukota negara (Jakarta) yang menetapkan 1 Syawal 1428 H bertepatan pada 12 Oktober 2007?

Arab Saudi

Ada juga kaum muslimin di Indonesia yang menjadikan Arab Saudi sebagai patokan penetapan tanggal Hijriah. Dengan menggunakan MoonC, data untuk kota Mekkah pada tanggal 11 Oktober 2007 adalah sebagai berikut.

  1. Matahari terbenam pada pukul 18:00:03
  2. Bulan terbenam pada pukul 17:59:02
  3. Bulan terbenam lebih dahulu daripada Matahari 1 menit 1 detik.

Dengan kondisi ini, 1 Syawal 1428 H seharusnya jatuh pada 13 Oktober 2007. Tapi, seperti sering terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, pemerintah Arab Saudi dengan mudah menerima pengakuan seseorang yang melihat hilal (walaupun secara perhitungan, hilal mustahil muncul). Kalau terjadi lagi seperti ini, tidak tertutup kemungkinan Arab Saudi berlebaran pada tanggal 12 Oktober 2007.

Dengan demikian di Indonesia ( khusunya Jakarta) kemungkinan ada 2 versi lebaran 1428 H ini

  1. Tanggal 12 Oktober 2007
    • pengguna metode hisab
    • pengikut Arab Saudi (jika pemerintah Arab Saudi dengan mudahnya menerima pengakuan penglihat hilal)
  2. Tanggal 13 Oktober 2007
    • pengguna metode Imkanur Rukyat
    • pengguna metode rukyat (jika mengacu pada hasil hisab, hilal pada tanggal 11 Oktober 2007 kecil kemungkinan terlihat di Jakarta)
    • pengikut Arab Saudi (jika mengacu pada hasil hisab, hilal pada tanggal 11 Oktober 2007 mustahil terlihat di Mekah)

Setelah tahu alasan-alasannya, selanjutnya terserah Anda. Yang penting, jangan jadi “kambing congek” yang asal ikut-ikutan.

------
dikutip dari http://rasalfa.wordpress.com

 
 
(Dibaca: 15491 kali | Dikirim: 16 kali | Print: 0 kali | Nilai: 0.33/3 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2014, Dudung Abdussomad Toha