| Tak ada lagi air mata ini tersisa, kini mengering.
Tak ada lagi tersisa diruang benakku rasa sedih
menyaksikan tumpang tindih dan bersilangnya masalah.
Kita jadi kebal rasa, banyak yang tak lagi tahu mana haram & halal
Kebal menyaksikan kemiskinan yang papa, anak anak dhuafa,
terhinakan dibarak barak pengungsian atau dipetak petak dijalanan,
terusir dari desa dan kampung halaman.Mereka terusir,
atau yang cacat terseok seok dijalanan, memelas asih, tak terpelihara.
Bukankah ini tugas dari anak negeri yang kami pilih.
Bocah bocah laki perempuan tak lagi mampu bertandang kekelas. Drop out.
Sepuluh lima belas tahun mendatang negri ini penuh dengan bocah bebal
karena tak terjangkau melunasi espepe, buku, sepatu, & seragam.
Sementara wabah materialistic, tamak, serakah, tipu-menipu, popularitas, kongkalikong, selingkuh, manipulasi, ka-ka-en jadi penganan harian.
Bau anyir tabloid dan cidi (CD) porno merambah dan merebak ditrotoar
para pelepas nafsu syahwat demi lembar lembar Sudirman terkumpul.
Juga liukan tubuh tubuh murah hampir tak berbusana mengundang,
terpampang di layar tv atau dihalaman dan panggung panggung.
Anehnya... yang protespun dikatakan kolot, kuno berlebihan, sok moralis
Bahkan jadi bahan selorohan.
Ohhh.. .Indonesiaku yang tengah tersaruk-saruk, menelusuri
jalanan panas beraspalkan bunga bungaa riba.
Sempoyongan.
Namun masih terlalu dinikah untuk menyadari semua ini
Tak tahu atau tak mau mencari tahu... apa salah diri ini
Desah desah doa dari segelintir yang hanief dan mu'min
dilarut tengah malam, dipojokan rumah bilik gedek remang
terevaporasi begitu saja oleh pengap dan panasnya udara
atau bising dari derunya mesin motor para pekerja
dan penyewa motor ojek untuk mengais rejeki mereka,
atau tersapu oleh debu debu keonaran, perpecahan.
Tak menyisakan perubahan. Rona itu bahkan tetap kelabu
Yang ma'ruf kalah tergilas.
Doa doa itu pupus tersapu oleh dosa dosa
Nan bergelimang dan bergelimpang melintang.
Dimana mana.
Aku lelah - aku penat dan jenuh.
Ya Rabb kami tahu Engkau tengah mendera kami
Atas dosa dosa dan ingkarnya kami. Kami lengah dan lalai
Kami yang terlena dan larut dengan nikmat nikmatMu
Kau manjakan kami oleh guyuran hujan hingga suburnya
bumiMu untuk kami tanami juga oleh sinar mentarimu.
Tak lupa isi perut bumi ini dengan kekayaan beragam
untuk jadi bahan jarahan anak negeri dan orang luar negeri
Lupakah kami bersyukur kepadaMu ya Rabb?
Atau telah ingkarkah kami atas nikmat Tauhidmu
hingga kami tercabik oleh torehan dan oretan lewat media
yang mulai mengikis kisi kisi hati agar terlahir rasa ragu,
dicelah relung hati kami, lalu terpecah, lalu dikotak & dikelompokan
bahkan oleh saudara saudara kami yang ber-Shahadah.
Ya Rabb tidak cukupkah dengan lima kali kami berlutut,
menyembahmu, bersaum, berzakah dan berumroh & berhaji.
Janganlah engkau angkat 'Tauhid dan nikmat iman kami'
dari qalbu qalbu kami yang dhaif ini. Biarkan ia bersemayam
pada relung rongga dada kami, kendati kami sesekali
digoyah dan diguncang.
Ya Allah hadirkan rasa welas asih pada mereka mereka
yang telah kebal rasa. Hadirkan rasa peka pada nurani mereka
yang diberi amanah untuk mengelola atau pada mereka
yang memiliki kesempatan, berikanlah itu...
sebelum datang hari penyesalan.
Mumpung masih ada matahari
Mumpung masih ada hari esok
Ya Allah air mata ini telah mengering,
Tak ada lagi yang tersisa
Lalu dari mana ku memulai
Aku
buntu
tak
tahu.................
al_shahida@yahoo.com
London, dipenghujung malam 26.8.04
|