| Allah SWT berfirman : " maa taraa fii khalqirrahmaani
min tafaawut ". Coba kita perhatikan secara teliti bagaimana Allah
menciptakan alam ini di atas dasar keseimbangan. Para ahli ilmu pengetahuan
sepakat tentang hakekat keseimbangan ini. Coba kita perhatikan, seandainya jarak
antara matahari dan bumi bergeser, dan keluar dari orbit keseimbangannya, niscaya
akan terjadi bencana kosmic yang luar biasa. Di dalam tubuh kita sendiri, hakikat
keseimbangan ini kita rasakan, jika suatu saat metabolisme dalam tubuh kita
tidak berfungsi secara seimbang, dan penyebaran darah hanya berjalan pada bagian-bagian
tertentu saja, pasti di bagian yang tak kebagian darah itu akan terjadi kemacetan.
Akibatnya kita tidak bisa lagi menikmati tubuh kita secara normal.
Al-Qur'an demikian tegas menyingkap hakikat keseimbangan ini.
Salah satu ayatnya berbunyi : "wafii anfusikum afalaa tubshiruun",
Ayat tersbut seakan menyindir kita agar selalu merenungi bukti-bukti kebesaran
dari apa yang paling dekat dengan kita. Dari apa yang kita rasakan dan kita
nikmati. Dan sebagian dari sisi kebesaran Allah yang kita temukan dalam tubuh
kita adalah adanya titik keseimbangan ini.
Mengapa hakikat keseimbangan ini demikian penting untuk kita
pahami? Pertama : Karena mengikuti keseimbangan adalah fitrah manusia, dan fitrah
segala eksistensi kehidupan ini. Bila kita keluar dari titik keseimbangan ini,
pasti kita akan terpencilkan dari alam ini. Allah memutar zaman, atas dasar
keseimbangan antara siang dan malam. Dan jika seandainya zaman ini berjalan
hanya dengan waktu siang saja, atau malam saja, niscaya - kata Imam Syafi'ie
dalam salah satu saya'irnya -, manusia akan bosan. Akibatnya tidak ada perkembangan.
Sebab dari kebosanan itu akan terjadi tekanan psikologis secara total, dimana
pada gilirannya akan membuntukan segala kemungkinan untuk berkembang dan produktif.
Begitu juga Allah mempertahankan wujud manusia atas dasar keseimbangan antara
laki dan perempuan. Seandainya di dunia ini hanya terdiri dari kaum hawa saja,
atau kaum adam saja, pasti tidak ada lagi kontinuitas kehidupan ini. Satu hal
lagi, burung-burung yang beterbangan di angkasa itu, pasti akan jatuh jika salah
satu sayapnya tiba-tiba tidak berfungsi.
Kedua : Al-Qur'an yang Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia di muka
bumi ini, bercirikhaskan keseimbangan. Para Ulama menegaskan bahwa di antara
sisi yang paling menonjol dari mukjizat Al-Qur'an adalah karena keseimbangan
bangunan Al-Qur'an itu sendiri. Tidak ada - sekali lagi kata Ulama - huruf,
kalimat, ayat, dan surat dalam Al-Qur'an kecuali terletak pada tempatnya. Tidak
ada satu kalimat pun yang dianggap sinonim, bisa menggantikan kalimat yang semisalnya
dalam sebuah ayat. Dan bila kita mencoba - lagi-lagi menurut penegasan Ulama
- untuk mengganti salah satu kalimat Al-Qur'an dengan kalimat yang kita miliki,
sungguh akan terjadi ketidak seimbangan dalam ungkapan Al-Qur'an. Tidak hanya
itu, Al-Qur'an memaparkan "hidayahnya " dengan penuh keseimbangan.
Siapapun yang membaca Al-Qur'an, bakal menemukan betapa semua permasalahan ditampilkan
secara bergendengan. Hal-hal yang berkenaan dengan masalah ibadah dituturkan
secara bergandengan dengan masalah akidah, sosial, ekonomi dan seterusnya, tanpa
ada jarak dan keterputusan. Dari sini kita melihat bahwa Al-Qur'an tidak membedakan
antara hal-hal yang bersifat ruhani dan yang bersifat fisik, antara yang duniawi
dan yang ukhrawi, antara yang berkenaan dengan masalah sosial, ekonomi dan yang
masalah ibadah, antara agama dan negara. Semuanya di mata Al-Qur'an harus dijalankan
secara seimbang di atas petunjuk Allah, tanpa ada keterpisahan.
Ketiga : Di dalam Islam, kita juga dituntut untuk menyikapi segala dimensi
Islam secara seimbang. Ketidakseimbangan kita dalam mengamalkan dimensi-dimensi
tersebut bakal melahirkan kesalahpahaman, yang pada gilirannya akan diikuti
oleh kesesatan. Karenanya Sayed Qutub (dalam bukunya "khashaisuttasawwur
al Islami") dan Al Qardhawi (dalam bukunya "alkhashais ala aamah lil
Islam") menegaskan hakikat keseimabangan ini sebagai ciri utama Islam.
Sebut saja misalnya beberapa dimensi Islam yang paling pokok, seperti : akidah,
ibadah, ilmu, dakwah dan jihad. Bila kita mengambil akidahnya saja, tanpa menghiraukan
dimensi lainnya, kita akan terlalu mudah mengkafirkan orang lain. Atau ibadahnya
saja kita ambil, kita akan mudah masuk dalam dunia khurafat, yakni menambah-nambah
ibadah yang yang tidak ada dasarnya. Atau ilmunya saja, kita akan selalu menjadikan
Islam sebagai objek kajian, dari diskusi ke diskusi dan seminar ke seminar.
Atau dakwahnya saja, kita akan merasa harus berdakwah terus sekalipun tanpa
ilmu. Akibatnya, kita berdakwah kepada kesesatan dengan tanpa kita rasakan.
Atau jihadnya saja, kita akan tidak sistematis dalam menentukan kapan harus
berjihad dan kapan tidak. Dengan siapa harus berjihad?. Di mana jihad itu harus
digelar? Sungguh saya melihat bahwa timbulnya konflik internal Umat Islam yang
demikian berkepanjangan ini, adalah karena banyak di antara umat Islam sendiri
yang masih memandang Islam secara parsial, tidak seimbang dan utuh. Sepenggal-sepenggal
dan tidak komprehensif.
Keempat : Jika memang keseimbangan adalah fitrah manusia dan fitrah segala
wujud, sungguh tidak mustahil, paradaban manapun -Barat maupun Timur –
yang tidak berjalan di atas garis keseimbangan ini, pasti bakal runtuh cepat
atau lambat.
_______________
Amir Faishol Fath,
Tafsir Al-Qur'an, International Islamic University Islamabad
|