Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Malaikat Jibril datang kepada Nabi Saw, lalu berkata, "Hai Muhammad, hiduplah sesukamu namun engkau pasti mati. Berbuatlah sesukamu namun engkau pasti akan diganjar, dan cintailah siapa yang engkau sukai namun pasti engkau akan berpisah dengannya. Ketahuilah, kemuliaan seorang mukmin tergantung shalat malamnya dan kehormatannya tergantung dari ketidakbutuhannya kepada orang lain." (HR. Ath-Thabrani)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
14 September 2009 - 11:46
Ramadhan dan Daulat Rakyat    
Oleh : Sumadi (Guru Pesantren Darussalam Ciamis Jawa Barat, alumnus East West Center USA).
 

Momentum Ramadhan 1430 tahun ini memiliki makna yang penting bagi kehidupan bangsa dan negara. Sebab setelah melalui dialektika yang panjang antar kandidat dan tim sukses pada Pilpres 2009 akhirnya sebelum Ramadhan perbedaan itu dapat berakhir. Walaupun masih ada sedikit ganjalan yaitu perdebatan kursi di DPR tetapi kita berharap ada jalan tengah yang menjadi kebersamaan untuk membangun bangsa lebih baik minimal lima tahun mendatang.

Rakyat Indonesia telah memberikan keteladanan pelaksanaan demokrasi dengan menyelamatkan dan menyukseskan Pemilu legislatif dan Pemilu presiden 2009. Betapa tidak, persiapan yang kurang maksimal dari penyelenggara Pemilu, prediksi banyaknya kekacauan, pertikaian dan sengketa,  rakyat menjawabnya dengan dukungan maksimal terhadap tegaknya demokrasi.

Dua bulan ke depan bangsa Indonesia akan memiliki jajaran pemerintahan baru. Persiden dan Wakil Presiden terpilih SBY Boediono mengatakan bahwa momentum Ramadhan menjadi saat untuk merenung dan memutuskan jajaran kabinet yang akan mendampinginya untuk pemerintahan periode 2009-2014. Dalam konteks kekuasaan ini Ramadhan dengan semesta rahmat yang diberikan oleh Allah SWT memiliki makna esensial bagaimana seharusnya kekuasaan dijalankan.  
Kekuasaan apapun bentuknya selalu menggoda dan diperebutkan manusia. Dalam sejarah peradaban manusia berbagai bentuk perebutan kekuasaan terjadi. Perang antar pribadi, kelompok, masyarakat, dan bahkan antar bangsa terjadi karena kekuasaan. Ramadhan memberikan garis bahwa kekuasaan adalah memberikan daulat hanya untuk rakyat.

Oleh karena itu berbagai hadits Nabi Muhammad SAW bahwa Ramadhan mengajarkan bagaimana kita menjadi manusia yang jujur dan bertanggung jawab sebab tidak ada yang mengawasi puasa yang dijalankan kecuali orang yang berpuasa sendiri dan Tuhan. Ramadhan juga sebagaimana diungkap Wahbah Juhaili merupakan madrasah untuk melahirkan sosok manusia yang steril dari sifat-sifat bahamiyah (binatang) seperti rakus, ingin menang sendiri, dan tidak peduli dengan yang lain.

Daulah Hanya Untuk Rakyat
Perjalanan kita selama satu bulan Ramadhan merupakan saat yang tepat bagaimana mewujudkan kekuasaan yang memiliki spirit Ramadhan dengan menerapkan bentuk kekuasaan yang menjadikan rakyat sebagai daulatnya. Plato dalam Republika mengatakan bahwa demokrasi adalah pemerintahan dalam masyarakat yang mementingkan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi warganya. Sehingga kekuasaan intinya memberikan kekuasaan pada rakyat. Aristoteles (350 SM) mengistilahkan dengan menjadikan perananan rakyat lebih penting dibanding dengan penguasa tunggal atau sekelompok orang. Ada beberapa teladan transendental yang patut direnungkan sebagai sikap dalam mengemban amanah kekuasaan sebagai bukti pemberian daulah kekuasaan hanya untuk rakyat sesuai dengan spirit Ramadhan, di antaranya:

Pertama, saya terpilih bukanlah orang terbaik di antara kalian. Bantulah saya jika di jalan yang benar, dan perbaiki jika berada di jalan yang salah. Kebenaran adalah keterpercayaan, kesalahan adalah penghianatan (Khalifah Abu Bakar Sidik). Ini adalah ungkapan seorang negarawan sejati bahwa ia terpilih bukan orang yang terbaik padahal dalam pandangan para sahabat dia adalah orang terbaik. Selain itu ungkapan ini juga merupakan bentuk pengakuan yang tulus dari seorang pemimpin bahwa saling mengingatkan adalah kunci keberhasilan dalam memimpin.   

Kedua, Agama dan bangsa dapat dipelihara dengan baik, kata Umar Bin Abdul Azis, Jika terdapat keadilan dan kebajikan. "Jangan coba mengurangi apa yang menjadi hak rakyat. Jangan paksa rakyat melakukan sesuatu di luar kemampuan mereka. Sebagai pejabat jangan terima hadiah. Indah sekali pesan Abdul Azis seorang khalifah yang teruji memberikan tahta pada masyarakatnya dengan menjadikan kebajikan dan keadilan sebagai dasar kepemimpinan yang ia jalankan. Serta pesan agar tidak KKN, sehingga bagi Khalifah Abdul Aziz menjadi pejabat menjadikan penurunan yang drastis pendapatannya dari 50.000 Dinar pertahun menjadi 200 Dinar setahun bukan sebaliknya.

Ketiga, pemimpin suatu kaum adalah pengabdi (pelayan) mereka (HR. Abu Na'im). Pesan Nabi Muhammad SAW yang mengingatkan, menjadi pemimpin adalah pelayan rakyat. Sementara ini ada yang terlupakan bahwa menjadi pejabat publik seakan menjadi manusia lebih di antara masyarakat yang segalanya ingin dilayani. Sehingga yang terjadi adalah dominasi dan eksploitasi rakyat. Pada situasi seperti ini Nicolo Machiavelli (1469-1527) pernah mengkritik ketika manusia memperoleh kekuasaan, yaitu manusia dengan kekuasaannya cenderung serakah, agresif, dan ingin menguasai (wanted to monopolize).

Keempat, Bagaimana orang baik merasa aman dan yang jahat merasa takut. Jika pemimpin menyimpang, kata Saidina Umar, rakyatpun akan menyimpang. Dan orang yang paling celaka adalah orang yang mencelakakan orang. Ini adalah sindiran dari Umar bahwa apa yang dilakukan oleh pejabat publik akan memiliki dampak yang luas terhadap budaya masyarakat. Baik performa pemimpin, baik juga masyarakatnya, sebaliknya buruk maka akan berdampak buruk terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Akhirnya kita berharap spirit Ramadhan 1430 H menjadi dasar revolusi keseluruhan kelemahan dan kekurangan kita dalam hidup berbangsa dan bernegara agar segera keluar dari krisis. Sehingga dari Ramadhan kita mendapat apa yang dijanjikan Nabi : orang yang berpuasa akan mendapat dua kebahagiaan yaitu tatkala berbuka (di dunia ini bangsa dan negara kita) dan kebahagiaan ketika kita dipanggil oleh yang Maha Kuasa.

 
 
(Dibaca: 7889 kali | Dikirim: 0 kali | Print: 0 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha