| Bismillaahirrahmaanirrahiim Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua
orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya
dengan susah paya (pula).(QS. Al AhQaaf 46:15) Ibunya telah
mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya
dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Ku lah kembalimu. (QS. Luqman 31:14) Jika salah seorang
di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut
dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada
keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah
kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra' 17:23) Dan
rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan
ucapkanlah; Wahai Tuhanku, kasihilah orangtuaku, sebagaimana mereka berdua
telah mendidik aku di waktu kecil. (QS. Al Isra' 17:24) Jika keduanya
memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada
pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,
dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang
yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka
Kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS. Luqman 31:15)
***** "Puspa Thea, dimana dikau Mba'?, kenapa tak ada
khabar beritanya?". Nisa bertanya-tanya dalam hati seraya mencermati
surat-surat sahabatnya. Sudah hampir tiga bulan ini Mba' Pupu tak pernah lagi
mengiriminya e-mail. Perlahan dibacanya surat terakhir wanita lembut itu
sebagai pelepas rindu. Date: Sat, 13 Oct
2001 Assalamu'alaikum Wr. Wb. Pa khabar Sa? Mba' kangen banget
dech. Semoga Allah yang Maha Penyayang selalu melimpahkan kasih sayang-Nya
buat Nisa. Sa.. pedih.. perih.. sakit.. rasanya kalau Mba' baca berita
tentang saudara-saudara kita di Afghan, rasanya Mba' ingin sekali berbuat
sesuatu untuk mereka, tapi.. Mba' cuma bisa berdo'a agar Allah yang Maha
Kuasa menolong saudara-saudara kita itu. Usaha lain yang bisa Mba'
lakukan sekarang mempersiapkan putra-putri Mba' jadi hamba Allah yang di
hati mereka nggak ada cinta kecuali cinta pada Allah, do'akan Mba' yach..,
biar Mba' bisa jadi ibu yang baik, dan Allah berkenan menitipkan
anak-anak yang kelak jadi mujahid / mujahidah. Sa sehat, kan?. Salam
sayang Mba' selalu buat Nisa. Semoga rasa saling menyayangi ini mengantarkan
kita jadi hamba yang dicintai Allah, amin. Wassalaamu'alaikum Wr.
Wb. Mba'mu.. yang selalu kangen padamu, kapan yach Allah mempertemukan
kita?.. Nisa menatap lekat e-mail tersebut, terbayang dalam benaknya
hanya menjawab singkat surat itu. Ia bermaksud hendak mereplay kembali, namun
tiba-tiba Ayu datang menjemputnya. Mereka janjian ke rumah Cathy pagi ini.
***** "Ayah.. Ibu.. jangan bertengkar dooong! aku jadi pusiiing..."
Teriak Cathy berusaha menghentikan pertikaian orangtuanya, namun mereka tak
juga mau berhenti. Pertengkaran itu terjadi karena Ibunya
tidak memperkenankannya berjilbab. "Kamu masih muda nak.., belum
pantas mengenakan jilbab!, rambut bagus kok ditutupi, mana ada
pemuda zaman sekarang melirik wanita yang hanya kelihatan wajah dan
tangannya? kalau Cathy nggak laku bagaimana? mau jadi perawan tua?!. Wanita
berjilbab itu harus baik prilakunya, eh..Cathy tingkahnya masih
begini begitu.. jangan kasi malu Ibu..!" Cathy tidak
terima disuruh melepas jilbabnya, namun Ibunya terus mendesak,
buntut-buntutnya ia berkata, "Ibu jahat...," Ayah datang membela, "Biarlah
Bu.., seharusnya kita bangga punya anak yang mau
menutupi auratnya.." Ibu merasa terpojok dan balik memarahi Ayah,
maka terjadilah pertengkaran itu. Hal ini berulangkali terjadi sejak Cathy
mengenakan pakaian yang disyariatkan Allah. "Kita ngobrol di luar aja
yuk?..," Cathy mengajak Ayu dan Nisa ke halaman rumahnya yang luas, mirip
taman bermain kanak-kanak. Sejenak wajah manis itu terdiam, ia tampak jauh
lebih cantik dengan gaun muslimahnya. "Kenapa Allah memberikan Ibu
seperti itu pada Cathy ya? yang Beliau fikirkan hanyalah dunia, beda
jauh dengan Ayah, yang selalu berorientasi ke akhirat. Seandainya Ibuku
seperti Ibumu Nisa.. Ayu.. alangkah bahagianya aku!. Cathy jadi menyesal
punya Ibu.." Sebelum sempat menghabiskan kalimatnya, Ayu
buru-buru menceramahinya, "Jangan begitu, Cathy.. walau bagaimanapun ia
adalah Ibu yang mengandung dan membesarkanmu.." Cathy membela diri,
"Siapa suruh mengandung dan membesarkanku? kenapa nggak dibiarkan mati
aja sekalian?.., Beliau lebih senang anaknya diazab Allah daripada
selamat. Apakah Itu Ibu namanya?!." Nisa berusaha melerai kedua
sahabatnya. "Daripada bertengkar, kita pergi aja yuk?, belanja, baca
buku." Setelah pamit pada orangtua Cathy, merekapun
pergi.
***** Di toko buku, mereka bertiga tampak asyik memilih bacaan
kesukaan masing-masing. Nisa dan Ayu ke rak buku Islami, dan Cathy ke rak
majalah. Setelah agak lama terbuai dalam lautan pena, Cathy mendekati
Nisa, ia geleng-geleng kepala melihat buku yang dibaca sahabatnya, Tafsir
Qur'an, wuih.. mengerikan, baginya jangankan membaca, membayangkan isinya
saja sudah membuatnya pusing. Sejenak mata bundar itu terpendar pada
sebuah buku, "Derita Nanda, Apa Salahku Hingga Ibu Tega Membunuhku?!"
Hatinya berdebar membaca judulnya, secepat kilat jemari kecil itu menangkap,
ingin tahu isinya. Setelah beberapa saat, buru-buru ia menutupnya kembali.
Jantung Cathy berdetak lebih cepat, ia mengurut dada, "Astaghfirullaah.."
Buku itu berisi kekejaman seorang Ibu yang tega membunuh anaknya sendiri
karena takut miskin, sejenak ia ingat Ibunya, "Makasih Ya Allah, Engkau
memberiku Ibu yang jauh lebih baik," bathinnya. Tiba-tiba Nisa dan
Ayu mengagetkan dari belakang. Sampai di sini, mereka berpisah, Ayu
ada acara keluarga. Sementara Cathy ikut Nisa ke supermarket. Gadis manis
itu tampak bingung hendak membeli apa, karena semua kebutuhan sudah dibeli
Ibu. Iseng diambilnya saja makanan kecil, coklat, kacang, kue-kue. Tanpa
sengaja ia melihat isi keranjang belanjaan Nisa, susu tanpa lemak, gula
rendah kalori, buah-buahan, ia terheran-heran. "Kurus-kurus kok diet
sich Nisa?, nggak takut kekurangan gizi?!," Nisa tersenyum. "Susu dan gula
ini untuk Ibu, Beliau dapat gejala kencing manis". Cathy terbelalak,
"Untuk Ibu?, Beliaukan bisa beli sendiri?!." Pertanyaannya tak digubris Nisa,
iapun tak memerlukan jawaban. Sesaat ingatan Cathy melayang pada buku yang
dibacanya barusan, sejenak ia termenung, mulai mengingat-ingat kesukaan
Ibunya. Minuman serat yang kerap dipromosikan TV
diambilnya.
***** Ada seribu satu macam rasa yang sulit diungkap Cathy saat berada di
rumah Nisa. Rumah itu tidak semewah rumahnya, malah cenderung sederhana,
tapi.. mengapa hatinya begitu tenang? tidak ada sesuatupun yang istimewa,
tetapi.. mengapa begitu menyenangkan?, apakah karena ada seorang wanita teduh
yang layak di sebut ibu?. "Malam ini aku bobok sini ya?," kata Cathy
memelas. "Boleh.. tapi harus ijin orangtua dulu..", ucap Nisa seraya
tersenyum padanya. Wajah manis itu terlihat bahagia sekali mendengar jawaban
Nisa. "Bentar ya.. Cathy.." Nisa berlalu meninggalkannya sendiri. Di
kamar sohibnya yang kecil, kembali ia merasakan sesuatu yang sulit diungkap,
Cathy menatap lekat ke sekeliling ruangan. Ada seperangkat pakaian
shalat, tasbih, Al Qur'an, tergeletak rapi di atas tikar permadani. Meja
kerja dan deretan buku-buku Islami. Sementara dinding putih itu dibiarkan
kosong, hanya dihias kaligragi Allah dan Muhammad. Perlahan ia
merebahkan diri, capek seharian berjalan. Ketika hendak mengambil bantal, ia
melihat secarik kertas terlipat rapi, rasa ingin tahu
mengalahkan segalanya, cepat dibukanya lipatan kertas itu, ternyata e-mail
dari seorang wanita. Isi surat itu biasa-biasa saja, namun.. ketika ia sampai
pada baris ke limabelas. Dulu.. aku sempat berprasangka buruk pada
Allah, Nisa... Aku merasa Allah nggak sayang padaku, aku merasa Allah
nggak pernah memberiku kebahagiaan dalam hidup. Sejak umur 5 tahun,
kedua orangtuaku bercerai.. kami 4 bersaudara terpencar, ada yang diambil
orang lain. Aku dan adikku yang bungsu (perempuan) tinggal dengan ayah dan
ibu tiri, sedang adik yang nomor 2 ikut ibu kandung. Aku tinggal dan dididik
Ibu tiri yang subhanallah.. baik dan sayang sekali padaku.
(Beliau sekarang sudah almarhum) Ayah nggak kerja lagi, untuk biaya
hidup sehari-hari, ibu tiriku berjualan sayur mayur gendongan. Aku
tak ingin membebani mereka, sehingga kuputuskan untuk tinggal dengan ibu
kandungku, Beliaulah yang membiayai aku sekolah. SMA kelas tiga,
tahun 1987, aku dan 2 adik perempuanku diusir dari rumah (waktu itu aku baru
pulang dari bimbingan belajar kira-kira jam 19.30), buku-buku pelajaranku
habis disobek-sobek ibu, bahkan pada saat itu Beliau marah sambil
mengacung-acungkan sebilah kapak mengancam kami. "Keluar kamu
anak-anak!, kalau tidak.. ibu bunuh kamu satu-satu!," Malam itu juga
aku dan adik-adikku menginap di rumah tetangga depan rumah. Aku bingung saat
itu, Sa.. kemana aku dan adik-adik harus pergi? kalau ke rumah ayah..
pasti kami akan jadi beban mereka. Ku coba tinggal di rumah Om (adik Ibu
kandung), tapi.. istrinya keberatan kami tinggal di rumahnya dengan alasan
ekonomi, padahal saat itu aku sudah bilang bahwa hanya butuh tempat berteduh
pada saat malam saja, sedangkan masalah makan, kami akan berusaha
cari sendiri, tapi istrinya tetap tak peduli. Akhirnya aku ke rumah
tetangga yang tidak jauh dari rumah Omku, Beliau mau menerima kami, sebagai
imbalan aku bekerja untuk mereka, dari mulai ngurus rumah sampai mengurus
anaknya, pokoknya sebelum mereka bangun, aku sudah masak dan nyuci. Aku
diberi upah tiap hari Rp. 3000,- untuk ongkos sekolah, makan dikasi oleh
yang punya rumah. Yang terfikir di benakku cuma satu, aku harus sekolah terus
bagaimanapun caranya, asal aku tetap di jalan yang Allah perbolehkan.
Alhamdulillah Sa.., aku diterima di D III-FMIPA UI jurusan matematika
(beasiswa dengan ikatan dinas dari Depdikbud). Waktu aku baca pengumuman
UMPTN di Kompas dan tahu diterima di UI, aku coba hubungi Ibu untuk minta
bantuan Beliau mengenai biaya buku, kost, dan makanku, tetapi.. sampai di
rumahnya, pintu pagar itu tak pernah dibukanya. Beliau hanya mengintip
dari celah gorden, dan menyuruh pembantunya menyerahkan secarik
kertas, Segeralah menjauh dari pintu gerbang rumah ini, anak-anak!,
aku tidak mau kalian kunjungi! Kami kapok??? nggak Nisa.. aku dan adik
perempuanku tetap sering nengokin Ibu meskipun akhirnya kami cuma bisa
berdiri saja di depan pintu gerbang sambil kehujanan dan
kepanasan. Dalam hati, aku suka menyalahkan Allah, kenapa
Dia memberikan kami ibu seperti ini? kenapa Dia membiarkan keluarga kami
berantakan seperti itu? yach.. pokoknya segala ketidakpuasan kutumpahkan
pada-Nya. Kesulitan hidup terus berlanjut selama aku kuliah, tapi
aku yakin, selama aku tidak melanggar larangan-Nya, Allah pasti
membantuku. Alhamdulillah, aku selesai kuliah tepat waktu dan langsung
diangkat jadi pegawai negeri di lingkungan SMAN 39 Jakarta. Tahun 1994 aku
menikah, dan masya Allah Sa.. penderitaanku ternyata tak sampai di
sini.. Mertuaku termasuk orang yang meterialistik, setiap sesuatu
selalu diukur dengan uang, tuntutannya agar aku dan suami yang menanggung
semua kebutuhan rumah tangganya. Masya Allah Sa.. ibunya minta
kami membiayai adik-adiknya sekolah, sementara gajiku saat itu baru Rp.
114.900,- dan suamiku Rp. 85.000,-/bulan dengan uang makan Rp. 2.500,-/hari
kerja, tapi.. aku bilang pada suami bahwa aku nggak keberatan,
kita berikan apa yang masih bisa kita berikan. Bagiku yang terpenting,
suamiku punya tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya. Ibu dan
ayah mertuaku masih belum puas juga.. sampai-sampai Beliau seperti penjajah
dalam bahtera kami. Beliau ingin mengatur segalanya, bahkan anak-anak
diajarinya berkata-kata kasar pada orangtua, diajarinya berpola hidup
konsumtif, tapi alhamdulillah.. dengan pendekatan ke anak-anak, aku coba
mengarahkan mereka pada kehidupan yang Allah suka, sederhana, nggak
berlebihan, membeli sesuatu kalau emang sangat dibutuhkan.
Lama-kelamaan sikap mertuaku sangat menganggu fikiranku, Sa..
omongannya ke setiap tetangga yang ditemuinya bikin telingaku panas, aku
nggak betah lagi tinggal serumah dengan mereka. Beliau selalu bercerita ke
tetangga bahwa ibuku bekas pelacur, dan akupun kalau tidak dinikahi anaknya,
sudah jadi pelacur seperti ibuku.. masya Allah.. aku bisa tahan kalau cuma
aku yang mereka hina dan caci maki, tapi kalau mereka menghina ibuku, aku
nggak rela! meskipun ibuku kasar sama aku. Akhirnya, aku kompromi sama
suami untuk pindah saja. Ternyata... suamikupun sudah lama ingin
mengajakku pindah, tapi.. karena dulu aku yang menyarankan tinggal di situ
(dengan pertimbangan daripada uangnya untuk bayar kontrakan, lebih baik untuk
adiknya sekolah). Kami pindahpun ekspansi mereka nggak berhenti,
Sa.. yach.. pokoknya hal itu berlangsung terus sampai akhirnya Allah
menghendaki sesuatu perubahan pada kami. Aku diberinya kesempatan kuliah
lagi, aku kenal milis Islam ini, dan aku sadar ternyata Allah
sayang padaku, Sa.. diberikan-Nya aku ladang amal yang sangat banyak,
dengan hadirnya ibuku dan mertuaku yang sikapnya masya Allah dalam hidupku.
Aku merasa malu Sa.. selama ini aku selalu berburuk sangka
pada-Nya, apalagi kalau aku baca terjemahan surat Ar Rahman, masya Allah
Sa.. aku bener-bener malu.. yach, nikmat mana lagi yang mau aku
dustakan?.. Wassalamu'alaikum Wr. Wb. Salam sayang selalu Puspa
Thea Sehabis membaca surat itu, ada getar kerinduan di hati Cathy pada
sosok yang akhir-akhir ini dimusuhinya. Betapa sayangnya Allah telah
menganugerahinya seorang ibu yang tak pernah mau membunuhnya, mengusirnya
dari rumah, ataupun membiarkannya kehujanan dan kepanasan. Nikmat Allah
yang mana lagi yang harus aku dustakan?, desir hatinya. Sesaat
kemudian ia tertegun melihat sosok penuh keibuan di balik lipatan terakhir
surat, Subhanallah.. mata itu bening seperti kaca, Qalbunya yang
bersih memancarkan cahaya keseluruh wajahnya. Puspa Thea, itukah
namanya? Sayup-sayup Cathy mendengar telapak kaki melangkah, secepat
kilat ia merapikan segala sesuatu. "Silahkan di minum Non Cathy.., maaf ya
kelamaan, tadi Nisa masak air dulu..," Cathy menyentuh cangkir hangat
yang disuguhkan Nisa, Ya Allah.. ibu selalu membuatkan coklat susu
untukku, katanya lirih. "Nisa.. a ku ma u pu lang..," Ucapnya terpatah,
Nisa terheran-heran. "Lho.. katanya mau bobok sini?!". Nisa mengiringi
kepergian sahabatnya. Ia tak habis fikir kenapa secepat itu Cathy
berubah.
***** Dalam perjalanan menuju tempat kerja, Nisa hampir tak percaya
dengan penglihatannya. Ia melihat Cathy begitu mesra dengan Ibunya di pasar
tradisional. Jari-jari tangan mungil itu tampak penuh menenteng
belanjaan, sesekali sang ibu berusaha menolongnya, tapi Cathy tidak mau,
ia terus mengelak dan tersenyum. Sesampai di kantor ia menelpon Cathy. Gadis
itu terdengar ceria sekali, tak sepatah katapun bernada keluh
kesah mengenai ibu yang dulu selalu keluar dari mulutnya. Apakah gerangan
yang
terjadi?
*****
"Masuk, Nisa..", sapa Ibu Cathy ramah setelah menjawab salamnya.
Kali ini, suasana rumah itu begitu berbeda dari sebelumnya. Di pekarangan
terlihat Ayah Cathy membaca koran dengan asyiknya, "Langsung ke dalam
aja, ya.. Cathy sedang istirahat, kasihan dia.. dari pagi bantuin Tante
kerja" Ujar wanita itu dengan senyum merekah, Beliau tampak
begitu bahagia. Nisa melangkahkan satu-satu kakinya supaya Cathy tak
terusik, sayup-sayup terdengar merdu suara gadis itu, Ya Allah
Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah
Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan (anugerahi pula aku
kemampuan) untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikanlah
kebajikan bersinambung untukku pada anak keturunanku. Sesungguhnya
aku bertaubat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri. (QS. Al AhQaaf 46:15) "Eh, Nisa.. ". Ia tersipu malu, tak
berapa lama kemudian mereka larut dalam perbincangan panjang mengenai
perubahan yang terjadi. "Sebening kaca.. Nisa, bisakah aku memilikinya?"
Nisa terkesima mendengar penuturan sahabatnya, ternyata Cathy telah
membanya surat Mba' Puspa Thea, Melati yang berhati sebening kaca. Melalui
goresan pena wanita itu, Allah menitipkannya
hidayah.
*****
Nisa mencek inboxnya, banyak surat bertebaran di sana, beberapa
Melati baru bermunculan menyapanya ramah. Tetapi, mengapa tak ada satupun
surat dari Mba' Pupu?. Kerinduan Nisa semakin menyesak dada. Perlahan
ia mulai menggerakkan jemari tangannya menekan tut-tuts komputer, menulis
sepucuk surat. Assalaamu'alaikum Warahmatullaah
Wabarakaatuh Bagaimana khabarmu, Mba'? si kecil dan suami
tercinta? Nisa do'akan semoga kalian semua sehat, senantiasa dalam
lindungan Allah Swt. Maafkan aku Mba', tanpa sengaja salah satu
suratmu terbaca sahabatku. Tapi.. tanpa sengaja pula engkau telah
berdakwah, melalui bahasa Qalbumu yang terukir indah di atas pena itu..
Mba'.. Nisa rindu sekali, rindu
cerita-ceritamu.. rindu kekayaan bathinmu. kapan ya.. Allah mempertemukan kita?
Wassalaamu'alaikum Warahmatullaah Wabarakaatuh Salam manis
dan sayang Adikmu,
Nisa.
18 Januari 2002 Ratna Dewi (wiwi_praty,
Qalbu) |