Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Orang-orang yang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi". (Ernest Newman)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Artikel Islami
21 April 2003 - 13:42
TAKDIR       
By : Muhammad Alidin
 

Meski perdebatan tentang takdir bisa dikatakan hampir seusia pikiran manusia, dan ratusan bahkan mungkin lebih dari sejumlah itu para ahli telah membahasnya, namun saya pikir tak ada salahnya untuk ikut urun rembug dalam topik yang senantiasa selalu actual ini.

Sampai hari ini dari berbagai macam pendapat mengenai takdir, secara garis besar ada dua mainstream yang utama, yang pertama yang berada pada posisi bahwa seluruh aspek kehidupan manusia telah ditentukan oleh Tuhan dan disisi lainnya mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang super bebas dan dapat merancang serta menentukan nasibnya sendiri.

Saya sendiri berpendapat lain (mungkin pendapat ini juga sudah pernah dikemukanakan orang lain, karena saya yakin tak ada yang baru di bawah langit). Anyway…pendapat saya mengenai takdir ini dipicu oleh sebuah buku cerita anak-anak yang saya baca. Jangan salah, yang memicu pikiran ini bukan isi buku itu tetapi bentuk buku itu. Apa yang saya maksud adalah buku yang saya baca itu menawarkan kepada pembaca untuk memilih sendiri jalan ceritanya. Secara singkat, jika anda telah berada pada kalimat terakhir di setiap halaman, maka berbeda dari buku biasanya dimana anda tinggal melanjutkan ke halaman berikutnya, buku ini pada kalimat terakhir di tiap halaman memberikan anda opsi atau pilihan untuk memilih lanjutan cerita pada halaman-halaman tertentu. Untuk lebih jelas saya beri contoh berikut :

“….dan akhirnya sang Ksatria sampailah di depan sebuah gua yang nampak begitu misterius.” Jika anda ingin masuk ke dalam gua tersebut silakan buka halaman 12, jika anda memutuskan untuk menunggu di luar gua bukan halaman 42.

Demikian format atau bentuk buku yang saya maksud. Dan ketika anda memiilih halaman 12 atau 42, pada akhir masing-masing halaman tersebut anda pun akan diberi opsi atau pilihan lagi untuk melanjutkan cerita tersebut. Dari bentuk buku itulah pikiran saya terinspirasi untuk memahami takdir paling tidak untuk diri saya sendiri.

Jadi, menurut saya takdir atau ketentuan Tuhan hanya berada pada sisi akibat dari suatu pilihan atau perbuatan, sebagaimana buku cerita diatas, takdir adalah akhir cerita yang telah ditentukan pada tiap-tiap halaman dan kita tidak tahu serta tidak bisa merubahnya. Sementara ruang kebebasan kita berada pada saat atau momen pilihan.

Tentu saja kebebasan kita untuk memilih dalam kehidupan nyata hampir tidak ada batasnya dibandingkan pilihan yang disediakan oleh buku cerita tersebut yang masing-masing hanya ada dua pilihan di akhir setiap halaman. Dalam hidup yang nyata pilihan itu sungguh tidak terhingga sehingga tidak salah jika ada yang terjebak dengan mengatakan bahwa manusia super bebas dalam menentukan nasibnya sendiri. Coba kita ambil semua contoh kecil betapa tak terhingganya pilihan dalam hidup manusia : Ketika anda bangun tidur di pagi hari anda langsung berhadapan dengan pilihan yang tak terhingga jumlahnya : mulai dari apakah anda mau tidur lagi, tidur lagi sebentar, mau malas-malasan saja di tempat tidur, mau malas-malasan sambil baca buku, atau mau “ngusilin” istri anda yang masih tertidur disamping anda, mau sholat subuh, mau bangkit dari sisi kiri, atau dari sisi kanan, mau bangkit pelan-pelan atau langsung loncat, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya…dan sebagainya, pokoknya anda punya unlimited option.

Namun satu hal yang anda tidak boleh lupa, bahwa apapun pilihan yang anda ambil anda tidak bebas menentukan akibat dari pilihan anda tersebut, atau dapat dikatakan anda tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol, mengendalikan atau memilih (atau anda tidak tahu dengan pasti) akibat dari setiap pilihan yang anda ambil atau anda lakukan. Sisi akibat dari pilihan-pilihan anda itulah yang merupakan wilayah takdir atau wilayah yang telah ditentukan olehNya, yang tanpa anda ketahui telah anda pilih dengan memilih secara bebas sebab-sebabnya. Dalam bahasa Stephen Covey dikatakan bahwa anda bebas untuk memilih dan mengangkat ujung tongkat yang manapun namun anda tidak bisa menolak jika ujung yang lain dari tongkat tersebut ikut terangkat juga.

Sekarang, dengan pemahaman semacam ini sikap apa yang paling yang seharusnya kita lakukan. Sebenarnya mudah dan simple saja. Dalam salah satu firmannya Allah telah mengatakan yang artinya kira-kira “setiap perbuatan baik sekecil apapun pasti akan memperoleh balasan kebaikan dan sebaliknya setiap perbuatan jahat sekecil apapun pasti akan berbuah (berkibat) kejahatan” dan stu hal yang anda mesti ingat pula bahwa janji Allah itu pasti.

Dengan demikian, sebenarnya tidak ada yang perlu kita pusing-kan lagi. Jika anda ingin hidup dan kehidupan anda senantiasa berakibat dan berbuah baik, simple, pilih saja semua sebab-sebab yang baik. Meski anda tidak tahu apa bentuk konkrit dari kebaikan yang akan anda peroleh, dijamin pasti aman karena Allah tahu bentuk kebaikan yang terbaik bagi anda atas sebab kebaikan yang anda pilih. Sebaliknya jangan coba-coba anda ambil risiko dengan memilih sebab kejahatan, sebab meski anda tidak tahu bentuk konkret dari buah kejahatan yang akan menimpa anda, ia pasti datang kepada anda. There is no way to escape ! cepat atau lambat, sekarang ata nanti anda pasti akan menikmati buah dari setiap bibit yang anda pilih dan anda tanam.

Kemudian, sulitkah mengenali dan memilih sebab-sebab kebaikan tersebut untuk memanen akibat-akibat yang baik pula ? no way, ia lebih mudah dan lebih simple dari memilih akibat kebaikan yang kita inginkan, karena pilihan sebab kebaikan itu ada dihadapan “mata” kita dan dalam lingkaran pengaruh kita. Jika memang demikian mudahnya kenapa banyak orang yang kesulitan memilihnya ? yang sulit sebenarnya bukan memilih sebab kebaikan tersebut – karena ia begitu jelas dan nyata -, yang sulit sebenarnya adalah menundukkan hawa nafsu yang selalu mendorong kita untuk memilih sebab kejahatan, itu yang bikin sulit. Tidak percaya ? coba tanya hati nurani anda sendiri, tentu saja kalau anda yakin masih punya hati nurani.

 
 
(Dibaca: 19599 kali | Dikirim: 23 kali | Print: 249 kali | Nilai: 9.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha