| Meski perdebatan tentang takdir bisa dikatakan hampir seusia pikiran manusia,
dan ratusan bahkan mungkin lebih dari sejumlah itu para ahli telah membahasnya,
namun saya pikir tak ada salahnya untuk ikut urun rembug dalam topik yang senantiasa
selalu actual ini.
Sampai hari ini dari berbagai macam pendapat mengenai takdir, secara garis
besar ada dua mainstream yang utama, yang pertama yang berada pada posisi bahwa
seluruh aspek kehidupan manusia telah ditentukan oleh Tuhan dan disisi lainnya
mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang super bebas dan dapat merancang
serta menentukan nasibnya sendiri.
Saya sendiri berpendapat lain (mungkin pendapat ini juga sudah pernah dikemukanakan
orang lain, karena saya yakin tak ada yang baru di bawah langit). Anyway…pendapat
saya mengenai takdir ini dipicu oleh sebuah buku cerita anak-anak yang saya
baca. Jangan salah, yang memicu pikiran ini bukan isi buku itu tetapi bentuk
buku itu. Apa yang saya maksud adalah buku yang saya baca itu menawarkan kepada
pembaca untuk memilih sendiri jalan ceritanya. Secara singkat, jika anda telah
berada pada kalimat terakhir di setiap halaman, maka berbeda dari buku biasanya
dimana anda tinggal melanjutkan ke halaman berikutnya, buku ini pada kalimat
terakhir di tiap halaman memberikan anda opsi atau pilihan untuk memilih lanjutan
cerita pada halaman-halaman tertentu. Untuk lebih jelas saya beri contoh berikut
:
“….dan akhirnya sang Ksatria sampailah di depan sebuah gua yang
nampak begitu misterius.” Jika anda ingin masuk ke dalam gua tersebut
silakan buka halaman 12, jika anda memutuskan untuk menunggu di luar gua bukan
halaman 42.
Demikian format atau bentuk buku yang saya maksud. Dan ketika anda memiilih
halaman 12 atau 42, pada akhir masing-masing halaman tersebut anda pun akan
diberi opsi atau pilihan lagi untuk melanjutkan cerita tersebut. Dari bentuk
buku itulah pikiran saya terinspirasi untuk memahami takdir paling tidak untuk
diri saya sendiri.
Jadi, menurut saya takdir atau ketentuan Tuhan hanya berada pada sisi akibat
dari suatu pilihan atau perbuatan, sebagaimana buku cerita diatas, takdir adalah
akhir cerita yang telah ditentukan pada tiap-tiap halaman dan kita tidak tahu
serta tidak bisa merubahnya. Sementara ruang kebebasan kita berada pada saat
atau momen pilihan.
Tentu saja kebebasan kita untuk memilih dalam kehidupan nyata hampir tidak
ada batasnya dibandingkan pilihan yang disediakan oleh buku cerita tersebut
yang masing-masing hanya ada dua pilihan di akhir setiap halaman. Dalam hidup
yang nyata pilihan itu sungguh tidak terhingga sehingga tidak salah jika ada
yang terjebak dengan mengatakan bahwa manusia super bebas dalam menentukan nasibnya
sendiri. Coba kita ambil semua contoh kecil betapa tak terhingganya pilihan
dalam hidup manusia : Ketika anda bangun tidur di pagi hari anda langsung berhadapan
dengan pilihan yang tak terhingga jumlahnya : mulai dari apakah anda mau tidur
lagi, tidur lagi sebentar, mau malas-malasan saja di tempat tidur, mau malas-malasan
sambil baca buku, atau mau “ngusilin” istri anda yang masih tertidur
disamping anda, mau sholat subuh, mau bangkit dari sisi kiri, atau dari sisi
kanan, mau bangkit pelan-pelan atau langsung loncat, dan sebagainya dan sebagainya
dan sebagainya…dan sebagainya, pokoknya anda punya unlimited option.
Namun satu hal yang anda tidak boleh lupa, bahwa apapun pilihan yang anda
ambil anda tidak bebas menentukan akibat dari pilihan anda tersebut, atau dapat
dikatakan anda tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol, mengendalikan atau
memilih (atau anda tidak tahu dengan pasti) akibat dari setiap pilihan yang
anda ambil atau anda lakukan. Sisi akibat dari pilihan-pilihan anda itulah yang
merupakan wilayah takdir atau wilayah yang telah ditentukan olehNya, yang tanpa
anda ketahui telah anda pilih dengan memilih secara bebas sebab-sebabnya. Dalam
bahasa Stephen Covey dikatakan bahwa anda bebas untuk memilih dan mengangkat
ujung tongkat yang manapun namun anda tidak bisa menolak jika ujung yang lain
dari tongkat tersebut ikut terangkat juga.
Sekarang, dengan pemahaman semacam ini sikap apa yang paling
yang seharusnya kita lakukan. Sebenarnya mudah dan simple saja. Dalam salah
satu firmannya Allah telah mengatakan yang artinya kira-kira “setiap
perbuatan baik sekecil apapun pasti akan memperoleh balasan kebaikan dan sebaliknya
setiap perbuatan jahat sekecil apapun pasti akan berbuah (berkibat) kejahatan”
dan stu hal yang anda mesti ingat pula bahwa janji Allah itu pasti.
Dengan demikian, sebenarnya tidak ada yang perlu kita pusing-kan
lagi. Jika anda ingin hidup dan kehidupan anda senantiasa berakibat dan berbuah
baik, simple, pilih saja semua sebab-sebab yang baik. Meski anda tidak tahu
apa bentuk konkrit dari kebaikan yang akan anda peroleh, dijamin pasti aman
karena Allah tahu bentuk kebaikan yang terbaik bagi anda atas sebab kebaikan
yang anda pilih. Sebaliknya jangan coba-coba anda ambil risiko dengan memilih
sebab kejahatan, sebab meski anda tidak tahu bentuk konkret dari buah kejahatan
yang akan menimpa anda, ia pasti datang kepada anda. There is no way to
escape ! cepat atau lambat, sekarang ata nanti anda pasti akan menikmati
buah dari setiap bibit yang anda pilih dan anda tanam.
Kemudian, sulitkah mengenali dan memilih sebab-sebab kebaikan tersebut untuk
memanen akibat-akibat yang baik pula ? no way, ia lebih mudah dan lebih simple
dari memilih akibat kebaikan yang kita inginkan, karena pilihan sebab kebaikan
itu ada dihadapan “mata” kita dan dalam lingkaran pengaruh kita.
Jika memang demikian mudahnya kenapa banyak orang yang kesulitan memilihnya
? yang sulit sebenarnya bukan memilih sebab kebaikan tersebut – karena
ia begitu jelas dan nyata -, yang sulit sebenarnya adalah menundukkan hawa nafsu
yang selalu mendorong kita untuk memilih sebab kejahatan, itu yang bikin sulit.
Tidak percaya ? coba tanya hati nurani anda sendiri, tentu saja kalau anda yakin
masih punya hati nurani.
|