| Akhlaq bagus, berpendidikan tinggi, wawasan luas, berwajah tampan pula. Belum
lagi didukung dengan kemapanan ekonomi yang bisa terlihat dari kendaraan dan
rumah pribadinya. Meski demikian, kerendahan hatinya yang begitu menonjol menjadikannya
begitu bersahaja. Tidak sombong dan justru sangat dermawan, dekat dengan segala
golongan tidak memandang status dan membeda-bedakan orang berdasarkan kelas-kelas
ekonomi. Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mampu menunjukkan bakat kepemimpinan
yang mumpuni. Bermimpikah bila ada gadis muslimah yang mendambakan seorang pendamping
dengan kriteria diatas? Atau bolehkah memimpikannya?
Tentu saja, setiap orang -laki-laki maupun wanita- berhak menentukan kriteria
orang yang akan dijadikan calon pendampingnya kelak. Karena, seperti yang dicita-citakan
hampir semua wanita, cukup satu kali menikah untuk seumur hidup meski terkadang
ada sebagian yang harus menerima kenyataan menikah untuk kesekian kalinya karena
alasan-alasan tertentu. Terlebih bagi mereka yang memang diberikan kemurahan-Nya
memiliki kualitas lebih dari yang lain, entah karena paras cantiknya, jenjang
pendidikan, tingkat kemapanan ekonomi, lingkungan dan pergaulan, atau karena
kelebihan-kelebihan lainnya, mereka yang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki
itu tentu saja lebih merasa berhak untuk mematok kriteria tinggi untuk seorang
calon pendamping. Setidaknya, pikir mereka, "peluangnya lebih besar"
meski harus disadari bahwa segala sesuatu yang bakal berlaku dalam hidup ini,
tentu saja Allah penentu akhirnya.
Cantik, masih muda (dibawah 23 tahun atau masih berstatus mahasiswi), bukan
hal aneh jika dikala ini masih cenderung membanding-bandingkan satu dengan yang
lainnya untuk kemudian menentukan yang lebih baik. Bahkan bukan tidak mungkin
masih menantikan hadirnya calon lain disamping yang sedang dibandingkannya.
"Siapa tahu, yang datang kemudian lebih oke" pikirnya. Diusia seperti,
ini idealisme seorang masih sangat tinggi sehingga, tidaklah heran jika ada
orang yang membuat 'joke', salah satu kesibukan mereka adalah "sibuk nolak"
terlebih terhadap laki-laki yang memang dianggap bukan kelasnya. Padahal yang
ditolak itu sebenarnya juga "nggak rendah-rendah amat kualitasnya",
mungkin hanya kurang menarik, atau karena belum mempunyai pekerjaan mapan. Ada
juga, alasan-alasan yang tidak masuk akal semisal perbedaan suku. Namun sudah
pasti, ini tidak berlaku umum, karena buktinya, banyak juga mereka yang menikah
diusia ini dengan menafikan hal-hal seperti wajah atau kemapanan ekonomi.
Sedikit diatas mereka (usia sekitar 25 tahun), baik mereka yang melanjutkan
kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagian yang lain yang sudah mendapatkan
pekerjaan, mungkin saja kondisi tersebut mempertinggi 'daya tawar' mereka, namun
justru pada usia ini pola pikir mereka tentang masa depan sudah mulai terbentuk
dan punya arah yang lebih jelas. Pandangannya tentang calon pendamping tidak
mutlak pada sisi fisiologis (tampan, berduit). Kalaupun ada pandangan ke arah
tersebut, kadarnya pun tidak terlalu tinggi, setidaknya mereka juga lebih objektif
mengukur dengan kualitas diri untuk disesuaikan dengan kriteria calon yang diharapkan.
Lain halnya dengan mereka yang sudah mendekati 'kepala tiga'. Meski tidak bisa
dipukul rata, namun tidak sedikit yang 'banting harga' di usia ini. Mereka yang
ketika masih menjadi mahasiswi atau usia tidak lebih dari seperempat abad seringkali
menampik kesempatan, menepis yang datang karena tingginya 'idealisme' dan patokan
kriteria yang ditancapkan, mulai menurunkan kriteria calon, "Asal baik,
sholatnya bener okelah". Bahkan diusia kepala tiga, ada saja yang lebih
gila-gilaan soal jodoh yang bisa terlihat dari ungkapan-ungkapan seperti, "asal
ada yang mau", "nunggu yang sholeh bener nggak datang-datang, yang
ada ini juga bolehlah," atau yang lebih ekstrim, "syukur ada yang
mau".
Patutlah menaruh hormat kepada para muslimah yang diusia kepala tiga atau lebih,
tetap konsisten dengan mematok standar yang cukup realitis, Akhlak bagus (shaleh),
jujur, amanah dan bertanggungjawab, berpenghasilan, serta memiliki jiwa pemimpin.
Mereka tetap yakin bahwa Allah, dengan kerahasiaan-Nya sudah mengatur segala
hal yang berkenaan dengan dirinya. Dengan tetap berkeyakinan seperti itu, kepercayaan
dirinya mampu mengalahkan keresahan dan kegalauan yang terkadang muncul, "Hanya
soal waktu, disinilah diuji kesabaran", "Mungkin Allah mentakdirkan
untuk lebih lama hidup sendiri" hiburnya. Ada pula wanita-wanita yang karena
alasan tertentu sengaja menunda pernikahan. Mereka tidak pernah menyesal terlambat
menikah, atau menyesal telah menepis sekian banyak pemuda baik-baik yang datang
kepadanya. Mereka, tetap tegar menatap hidup merengkuh masa depan yang menanti.
Namun bagi yang 'masih muda dan belum terlambat', tiada salahnya juga untuk
tidak segera menepis datangnya calon pendamping hanya karena kriterianya sedikit
dibawah standar, karena siapa tahu -Maha Suci Allah dengan segala kerahasiaan-Nya-
dialah yang sengaja dikirimkan Allah untuk anda. Karena juga belum tentu, pujaan
hati dengan label tinggi yang selama ini dinanti segera datang, bahkan bisa
jadi masih jauh. Who knows? Wallahu a'lam bishshowaab (Bayu Gautama)
--------------------------
sumber : eramuslim.com
|