| Phuuuh! Lilin berbentuk angka 17 itu menyisakan asap tipis setelah ditiup Meta,
sejurus kemudian terdengar gemuruh tepuk tangan tanda bahagia dari keluarga
dan teman-temannya. Hari itu Meta genap berusia 17 tahun. Lagi lucu-lucunya,
lagi lincah-lincahnya (kelinci kali…). Lagu "Happy Birthday"
pun mengalun dengan jenis suara yang caur banget dari hadirin yang ikut menyaksikan
pesta ultah Meta.
Terlihat mata Meta berbinar tanda suka. Dengan mengenakan gaun putih kayak
Putri Salju, Meta menerima ucapan selamat dan kado dari teman-teman sekelasnya.
Pestanya sendiri diadain di sebuah gedung pertemuan yang luasnya setengah lapangan
sepakbola standar internasional. Walah, heboh bener ya? 
Ultah, bagi Meta memiliki makna yang cukup dalam. Bukan saja karena berhasil
menghirup udara sampai usia 17. Tapi sekaligus ingin menunjukkan bahwa dirinya
pantas untuk dihargai dan dihormati. Maklum, penampilan dan gaya adalah nomor
wahid bagi Meta. Dengan mengadakan pesta ultah, berarti emang doi pantas diperhitungkan.
Siapa dulu dong bapaknya, ibunya, kakeknya, neneknya, lho….?
Sobat muda muslim, Meta dan juga teman remaja lainnya, rasanya udah biasa ngadain
pesta ultah. Bahkan mungkin semacam "kewajiban" yang kudu dibayar
tunai. Itu sebabnya, kadang ada remaja yang maksain kudu ngadain pesta ultah,
meski isi koceknya terbilang cekak abis. Biar tekor asal kesohor. Begitu kira-kira
prinsipnya.
Ngeliat faktanya begitu, nggak salah-salah amat dong kalo kita bilang bahwa
pesta ultah udah jadi semacam gaya hidup. Budaya tersebut telah menjadi trademark
kehidupan remaja gaul. Pokoknya, remaja yang nggak ngadain pesta ultah, siap
dicap sebagai remaja kuper dalam komunitas seperti itu. Sayangnya, ternyata
banyak remaja yang tak siap dibilang kuper dan kampungan. Walhasil, banyak banget
yang tergoda untuk melangsungkan pesta ultah.
Acaranya bisa beragam memang. Tentu bergantung kepada isi kocek yang punya
hajat. Bagi yang cekak atau boleh dibilang mau ngirit, cukup bikin tumpeng dan
ngundang teman seperlunya. Berdoa, dan makan-makan.
Selain itu, tradisi yang nggak kalah heboh, yakni suka ada yang jail. Biasanya,
kalo kebetulan tahu ada teman yang ulang tahun pada hari tersebut, mereka biasanya
bikin kejutan. Apalagi kejutannya kalo bukan ngejailin yang berultah. Misalnya
dengan melemparkan telor ke kepalanya, pake telor busuk lagi. Udah gitu, masih
ditambah dengan taburan tepung terigu. Jadinya? Kayak mau manggung di Ketoprak
Humor-nya Mas Timbul. 
Hmm.. begitulah gaya sebagian teman remaja. Mereka menjadikan hari kelahirannya
diperingati dengan amat istimewa. Meski pada praktiknya lebih ke arah hura-hura
belaka. Oke deh, terlepas dari itu semua, kamu nyadar nggak sih dengan apa yang
telah kamu lakukan dengan menjadikan budaya tersebut sebagai tradisi? Yup, baru
kepikiran deh. Nah, pertanyaannya begini, "dari mana asal mulanya budaya
ulang tahun itu?" Kamu perlu tahu sobat.
Impor dari Eropa
Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi perayaan
ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman
itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya.
Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga
dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian
bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan
menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika
hendak mendatangi orang yang berulang tahun. Hmm.. ini memang warisan zaman
kegelapan Eropa.
Sobat muda muslim, berdasarkan catatan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun
hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di
negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang
yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun
juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang
tahun. Utamanya yang punya duit. 
Kalo begitu, pesta ulang tahun itu bukan berasal dari ajaran Islam? Tepat sekali.
Sebab, dalam Islam, tak pernah diajarkan untuk itu. Kalo pun kemudian ada teman
remaja yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi
dalil kalo ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Wah, kamu jangan gegabah
dulu dong. Hati-hati lho, jangan sampe apa yang kita lakukan justru dimurkai
oleh Allah Swt. Naudzubillahi min dzalik.
Begini, mungkin sekilas kita coba ngejelasin kepada teman remaja yang berdalil
demikian. Kamu tahu nggak sejarahnya perayaan Maulid Nabi? Well, yang pasti
Rasulullah saw. sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya.
Nggak, nggak pernah. Dan jangan salah, Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati,
tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya? Kalo kamu baca buku tarikh Islam,
di situ ada catatan bahwa Sultan Sholahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi
umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib
Eropa. Sultan Sholahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan
kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena
mereka udah kena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Mereka bisa begitu
karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara
mereka yang nggak ngeh dengan perjuangan Rasulullah saw. dan para sahabatnya.
Nah, untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan
Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian
disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai maulid nabi. Tujuan intinya mengenalkan
kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia. Singkat
cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit.
Karuan aja, berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina
pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mempecundangi Pasukan Salib
Eropa. Begitu, sobat. Jadi Maulid nabi bukan dalil dbolehkannya pesta ultah.
Keliru itu.
Yup, kita kembali ke soal pesta ultah ini. Jadi tahu dong sekarang bahwa pesta
ultah itu bukan warisan Islam. Tapi warisan asing, alias ajaran di luar Islam.
Lalu gimana kalo kita melakukannya? Berdosakah?
Hati-hati!
Nah, karena tradisi itu adalah tradisi orang-orang Eropa, yang saat itu berkembang
ajaran Kristen, maka pesta ultah tentu saja merupakan tradisi kaum non-muslim.
Kalo kita melakukannya? Dosa dong. Rasulullah saw. bersabda:"Barangsiapa
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka" [HR.
Abu Dawud]
Dalam riwayat lain. Rasulullah saw. bersabda:"Kamu telah mengikuti
sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.
Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka.
Kami bertanya: Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang
Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa
lagi?" (HR. Bukhari Muslim).
Waduh, berarti selama ini kita… Tepat, kita melakukan tradisi yang bukan
berasal dari Islam. Dan tentu saja haram. Berdosa. Aduh, jangan sampe deh dilakukan
lagi. Sadar dong sadar. Bukan kita sok suci nasihatin kamu, tapi ini demi kebaikan
kita semua, kaum muslimin.
Oya, mungkin ada pertanyaan begini, "bolehkah merayakan ulang tahun dalam
arti berdoa atau mendoakan agar yang berulang tahun selamat, sehat, takwa, panjang
umur, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan cara dan isi doa yang syar'i,
tanpa upacara tiup lilin dan sebagainya seperti cara Barat, lalu dilanjutkan
acara makan-makan. Bolehkah?"
Begini sobat, berdoa dan makan-makan adalah halal. Tetapi bila dilakukan pada
hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasayabbuh
bil kuffar. Jadi di sini akan bertemu hukum haram dan halal. Dalam kondisi seperti
ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara' menyebutkan:
"Idza ijtama'a al halaalu wal haraamu, ghalaba al haramu al halaala".
Artinya, "jika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang
haram mengalahkan yang halal (Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim)
Dengan demikian, jika merayakan ultah diartikan sebagai "berdoa dan makan-makan",
dan dilaksanakan pada hari ultah, hukumnya haram, sesuai kaidah syar'i di atas.
Akan tetapi jika dilaksanakan bukan pada hari ultah, maka hukumnya--wallahu
a'lam bi ash shawab-- menurut pemahaman kami adalah mubah secara syar'i.
Sebab hal itu tidak termasuk tasyabbuh bil kuffar karena yang dilakukan pada
faktanya adalah "berdoa plus makan-makan", yang mana keduanya adalah
boleh secara syar'i. Lagi pula hal itu dilakukan tidak pada hari ultah sehingga
di sini tidak terjadi pertemuan halal dan haram sebagaimana kalau acara tersebut
dilaksanakan pada hari ultah. Wallahu a'lam.
Oke deh, kalo kamu udah ngeh soal yang satu ini, maka kamu kudu menghentikan
kebiasaan dan mengubah pandangan kamu tentang perayaan ulang tahun. Sebab, udah
jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Padahal, kita kudu berpegang hanya kepada
Islam. Bukan kepada ajaran yang lain. Allah Swt. Berfirman: "Barangsiapa
mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama
itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (TQS
ali Imrân [3]: 85)
Terus yang terpenting, kamu juga jangan asal gabres aja, alias main seruduk.
Mentang-mentang sesuai hawa nafsu kamu, sesuai selera nafsu kamu, main ikuti
aja tradisi itu. Apalagi dengan anggapan biar disebut gaul dan modern. Nggak
boleh sayang. Allah Swt. berfirman: "Dan janganlah kamu mengikuti apa
yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan,
dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya." (TQS al-Isrâ'
[17] : 36).
Rasullah saw. juga bersabda: Belum sempurna keimanan salah seorang di antara
kalian, sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (al-Quran) (Hadis
ke-41 dalam Hadits al-Arba'in karya Imam Nawawi)
Sobat muda muslim, sekarang tentu kamu jadi paham tentang masalah ultah ini.
Udah jelas kan persoalannya? Yup, boleh dibilang, udah kentara perbedaan antara
yang hitam dan yang putih. Nggak abu-abu lagi. Semoga saja kamu bener-bener
paham.
Selain itu, apa cukup pantas kita menari di atas penderitaan orang lain. Masih
banyak lho, saudara kita yang didera kemiskinan, jangan sampe kita menghamburkan
duit. Untuk yang haram lagi. Wah, celaka dua belas ini mah!
Sobat muda muslim, ternyata kita selama ini terbiasa melakukan aktivitas yang
justru bertentangan dengan Islam. Gaswat!
Mari jadikan hidup ini lebih hidup. So, hanya dengan mengenal, mencintai, dan
mengamalkan Islam dalam kehidupan, kita bisa menikmati hidup ini dengan benar
dan baik. Insya Allah. Mulai sekarang, lho. Jangan ditunda-tunda lagi. Jadi,
ngaji yuk?! 
_____________________________
Edisi 096/Tahun ke-3 (6 Mei 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|