| edih! Terus terang sedih banget saat menyaksikan tayangan langsung TPI, 23
Juli 2002 kemarin. Operet Anak berjudul "Peluklah Daku" ikut memeriahkan
rangkaian dari puncak acara perayaan Hari Anak Nasional di Taman Mini Indonesia
Indah. Di situ banyak pula artis cilik top yang mengisi acara. Ada Joshua yang
tampil dengan Lonjak Lonjak. Juga ada Mega Utami, Cindy Cenora, bahkan Tina
"goyang leher' Toon yang tampil sebagai MC bersama Kang Izur Muhtar.
Kenapa sedih? Karena kita nggak ingin adik-adik kita merana dan menderita di
masa depan. Bukan apa-apa, masih banyak yang perlu dibenahi dalam mengurusi
adik-adik kita yang masih berlabel anak-anak itu. Memberikan kegembiraan kepada
adik-adik kita di Hari Anak Nasional nggak bakalan bisa mengangkat nasib mereka.
Suer, perayaan boleh dibilang cuma sebatas memberikan hiburan doang. Udah selesai
acara itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, adik-adik kita yang masih polos-polos
itu kembali dicampakkan.
Sobat muda muslim, kita pantas bersedih. Coba aja kamu lihat, bagaimana banyak
adik kita 'dididik' untuk jadi artis. Aduh, mana centil-centil lagi. Mereka
yang jadi penghibur, hidup dalam segala kecukupannya. Mereka punya banyak duit
dan sering keliling kota-bahkan dunia-nerima order manggung. Tawaran iklan dan
main sinetron pun antri. Masa kanak-kanaknya nyaris dihabiskan di berbagai pentas.
Joshua misalnya, mengaku biasa pulang pukul 12 malem. Itupun pagi harinya doi
harus sudah siap dengan seabrek jadwal rekaman, syuting sinetron dan iklan.
Sibuk banget ya?
Sayangnya, adik-adik kita yang 'dididik' oleh ortu dan lingkungannya tersebut
miskin dalam pendidikan kepribadiannya. Mereka boleh dibilang hanya dijadiin
mesin pencari uang yang menguntungkan, khususnya bagi ortunya. Kasihan sekaleeee.
Di sisi lain, ada banyak adik kita yang hidup di jalanan. Mereka berlomba mencari
dan mengejar materi, meski dengan susah payah. Pokoke, mereka 'dididik' untuk
kreatif sendiri dalam menghadapi segala rintangan dan hambatan dalam kehidupannya.
Hmm... sudahlah miskin dalam materi, miskin pula dalam kepribadiannya. Harta
tak punya, pendidikan pun sulit untuk mereka dapatkan. Mereka benar-benartumbuh
di jalanan dengan segala pesonanya. Memang benar, boleh jadi masih ada di antara
mereka yang terjun ke jalanan karena kemiskinan ortunya. Mereka mencoba memeras
keringat jadi penyemir sepatu, penjaja koran, sekadar jual suara, atau mungkin
jadi pengemis untuk menambal bolong-bolong ekonomi ortunya. Tapi jangan salah,
banyak juga di antara mereka yang entah siapa ortunya. Mereka tumbuh tanpa kasih
sayang dari ibu dan ayahnya. Duh…..
Sobat muda muslim, inilah masalah yang dihadapi adik-adik kita. Upsss, jangan-jangan,
adik kita di rumah juga udah ketularan dengan pesonanya 'adik-adik' kita yang
jadi artis. Walah, celaka juga ya? Bisa kebayang nggak sih, kalo tiba-tiba adik
kita di rumah kepengen beli baju yang diiklankan Joshua, atau kepingin produk
minuman dan makanan yang diklankan Sherina atau Cindy Cenora. Dan masih banyak
lagi keinginan yang kadang nggak masuk akal. Celaka dua belas!
Gemerlapnya artis cilik
Jaman dulu, yang jadi artis cilik kayaknya bisa dihitung dengan jari. Jaman
penulis kecil, cuma mengenal Adi Bing Slamet, Chicha Koeswoyo, Ira Maya Sopha,
Joan Tanamal, Dina Mariana, dan sedikit artis cilik lainnya. Tapi sekarang,
udah puluhan artis cilik yang rajin tayang di layar kaca. Ngetop-ngetop lagi.
Sobat muda muslim, mereka dibesarkan oleh media massa; televisi, radio, koran,
majalah, tabloid, bahkan sekarang adik-adik kita yang artis cilik itu rata-rata
udah pada punya website sendiri. Mereka punya 'rumah' maya yang bisa dikunjungi
oleh siapapun dan dari mana pun. Keren abis deh pokoknya. Bagi teman-teman yang
udah gape soal teknologi komunikasi yang satu ini, silakan untuk jalan-jalan
sekadar mampir ke rumah maya mereka. Di situ kamu bisa saksiin deh, gimana sebuah
industri hiburan telah menciptakan mereka menjadi jutawan cilik. Situsnya aja
dikelola dengan rapi dan baik. Maklum saja, sebab adik-adik kita itu adalah
tambang uang yang potensial. Jadi kudu dijaga. Ckckck..
Sebagai contoh, adik kita yang bernama Joshua Suherman. Nah, Jojo, panggilan
akrab penyanyi cilik yang ngetop dengan Cit Cit Cuit dan Diobok-obok ini sekali
show satu jam saja di Jakarta, honor manggungnya Rp 9 juta. Di situ Jojo menyanyikan
enam lagu, jadi setiap lagu dihargai Rp 1,5 juta. Show di luar kota lain lagi.
Bisa menyentuh bandrol Rp 11 juta. (GATRA, 24 Juli 1999)
Masih menurut laporan GATRA, Joshua Inc udah menghasilkan pendapatan dari Iklan
sekitar Rp 525 juta, dari show bisa menembus angka Rp 220 juta, penjualan topi
'kupluk' Joshua mampu menyumbang pundi-pundi usahanya sekitar Rp 900 juta. Angka
itu masih ditambah dengan penjualan berbagai merchandise yang bisa menghasilkan
Rp 180 juta. Totalnya, Joshua Inc. bisa meraup untung bersih senilai Rp 1,825
milyar. (GATRA, 24 Juli 1999)
Mau tahu pendapatan artis cilik yang lainnya? Sebut saja Geofanny. Masih menurut
laporan GATRA, untuk iklan doi berbandrol Rp 35 juta per tahun. Kalo main sinetron,
Geofanny dibayar Rp 1,5 juta per episode. Chikita Meidy sekali show di luar
amal, bisa dihargai Rp 5 juta. Trio Kwek Kwek sekali manggung di luar kota Rp
9 juta, dalam kota Rp 6 juta. Untuk model iklan bisa menyentuh angka Rp 50 juta.
Gilbert Boboho, untuk menyanyi tarifnya antara Rp 5 juta-Rp 7 juta. Dan, Cindy
Cenora, artis cilik yang melambungkan produsen sepatu New Era hingga penjualannya
membengkak 200 persen, sekali nyanyi di panggung dihargai sekitar Rp 8 juta.
Wah, wah, gimana nggak bikin ortu mereka menelan ludah menyaksikan anak-anaknya
pinter nyari duit.
Sobat muda muslim, kita sih mengkhawatirkan banget masa depan mereka. Suer,
apalagi dalam dunia serba gemerlap itu, mereka hanya dijadikan sebagai mesin
pencari uang yang kudu digeber habis-habisan. Soal pembinaan kepribadian adalah
nomor sekian dari daftar perhatian ortu mereka yang lagi getol menambang uang.
Kasihan.
Jangan sampe tertular
Kalo melihat dari gampangnya nyari duit sebagai artis, jangan heran kalo ada
orang tua muslim yang kesengsem berat ingin menjadikan anaknya artis cilik seperti
Joshua dkk. Banyak ortu muslim yang mencoba memasukkan anak-anak mereka ke sanggar
atau sekolah vokal atau musik. Harapannya, tentu mereka bisa dijadiin tambang
uang yang mucekil.
Sobat muda muslim, rasanya pengen muntah juga kalo dengerin adik-adik kita
yang tampil di televisi nyanyiin lagu-lagu mereka. Yang suaranya emang bagus
bisa dihitung dengan jari. Selebihnya, enak banget didengar kalo mereka diem.
Suer, adakalanya suara mereka nggak bagus-bagus amat. Malah pernah suatu kali
si Kiki "gundul" yang nanyiin "Jaranan" bareng Oky Lukman
itu dikritik habis-habisan oleh seorang pengamat karena suaranya yang ngepas
banget. "Berhentilah bernyanyi Kiki!" Wackss…
Tapi, show must be go on. Barangkali yang penting ada duit. Soal kemampuan
bisa ditutupi dengan mixing saat rekaman. Lah, pokoknya banyak ortu yang maksain
supaya anaknya jadi artis cilik. Selain ngetop, mereka juga tajir. Kalo udah
gitu, yang kebagian 'berkah' bukan cuma anaknya, tapi ortunya juga.
Kasihan memang, adik-adik kita itu tengah dibuai mimpi indah tentang kekayaan
dan ketenaran. Bahkan boleh jadi banyak artis cilik yang secara tidak langsung
adalah korban keinginan ortunya.
Padahal, kebahagiaan tidaklah dapat diukur dengan banyaknya harta atau ketenaran.
Percuma saja ngetop dan tajir, tapi mengorbankan keimanan dan ketakwaan. Apalagi
ini kudu mengorbankan masa depan anak-anak. Bisa dibayangkan sepuluh atau dua
puluh tahun ke depan masa depan negeri ini bakalan buram. Barangkali akan diisi
oleh anak-anak yang nggak siap menghadapi kehidupan yang sesungguhnya. Iya dong,
bisa apa generasi pesinden, penari, pemain sinetron, dan model iklan dalam memberikan
kemajuan bagi sebuah bangsa. Yang pasti ancuran-ancuran deh.
Allah swt berfirman: "Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang
yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah (iman,
ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab
itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan
perkataan yang benar." (TQS an-Nisâ' [4]: 9).
Bukanlah orang tua yang baik yang meninggalkan anak-anak mereka dalam keadaan
lemah. Baik iman, ilmu dan harta. Anak-anak membutuhkan semuanya.
Suatu ketika Luqmanul Hakim bercakap-cakap dengan anaknya. "Wahai ayah,
apa yang terbaik bagi manusia?"
"Agama," jawab Luqman.
"Kalau dua?"
"Agama dan harta."
"Kalau tiga?"
"Agama, harta dan rasa malu."
"Bila empat?"
"Agama, harta, rasa malu dan akhlak yang mulia."
"Jika lima?"
Agama, harta, rasa malu, dan akhlak yang mulia dan dermawan."
Anaknya bertanya lagi, "Jika enam?"
Luqman menjawab, "Anakku, jika yang lima itu berkumpul pada diri seorang
hamba maka dia adalah orang yang bertakwa, dan Allah akan menolong orang yang
menjauhi syetan."
Jadi buat para ortu, sudah selayaknya tidak tergoda untuk menjerumuskan anak-anak
balitanya menjadi sampah. Kasihan. Anak-anak adalah sumber alam yang paling
berbahagia, begitulah pepatah Herbert Hoover. Jadi, jangan disia-siakan.
Tanggung jawab kita
Memang tak gampang mengubah kondisi yang kini tengah berlangsung. Tapi juga
bukan berarti itu sulit diwujudkan. Asal ada kemauan, insya Allah bisa tercapai.
Soalnya kita udah males banget ngeliat tingkah centil adik-adik kita itu. Kita
udah bosen nyaksiin gaya 'dewasa' mereka di layar kaca. Maklum, yang bikin video
klipnya senewen juga. Anak kecil aja didandanin kayak orang dewasa. Terus disuruh
joget-joget mirip penari goyang dombret. Si "Bolo-Bolo" Tina Toon
kayaknya udah rela memposisikan diri sebagai spesialis goyang leher dan goyang
perut. Maklum saja, meski adik kita yang satu ini bodinya gembrot tapi tak menghalanginya
untuk tetap goyang. Dahsyat!
Rasanya, bila tak ada perhatian serius dari kita-kita nih, khususnya para orangtua,
masyarakat dan bapak-bapak pejabat kita, mereka akan terus betah nyari duit
dan ketenaran dengan caranya selama ini. Sayang, kalo kita harus mengorbankan
potensi mereka yang masih seger dan imut-imut seperti itu. Kayaknya terlalu
nekat menjual masa depan mereka untuk kesenangan semu sesaat. Bayangin, udah
semu, sesaat lagi. Waduh!
Sobat muda muslim, kita meminta kepada bapak-bapak pejabat yang punya kekuatan
dan kemampuan untuk membereskan persoalan ini. Tanpa peran serta bapak-bapak
aparat dan pejabat dalam kasus ini, rasanya protes apapun nggak bakalan mempan.
Kasus perjudian dan pelacuran aja sampe sekarang nggak kelar-kelar. Karena emang
'dipelihara'. Kenapa dipelihara? Karena banyak duit beredar di sana. Nah, kasus
maraknya artis cilik ini juga nggak jauh dari persoalan duit.
Sekarang pilih mana, banyak duit atau kita bakalan kehilangan generasi yang
baik? Rasanya, bagi kita yang masih punya akal sehat, tentunya bakalan membela
masa depan anak-anak dan adik-adik kita dari kehancuran. Kasihan mereka. Tegakah
kita membenamkannya di kubangan lumpur dunia? Lagipula anak yang sholeh adalah
satu dari tiga perkara yang dapat terus menerus mengalirkan pahala kepada kita.
Rasulullah saw bersabda:"Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah
amal perbuatannya, kecuali tiga hal: shadaqah jariah, ilmu yang dimanfaatkan
dan anak shaleh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya." (HR. Muslim)
Adikku sayang, adikku malang. Kamu juga segera sadar dong!
___________________________________________
Edisi 108/Tahun ke-3 (29 Juli 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|