| F4 bakal manggung di Jakarta. Tepatnya tanggal 10 dan 11 Januari 2003. Karuan
aja, bagi para penggemar setia empat cowok asal Taiwan ini bagai bisul pecah.
Lega. Keinginan yang tersimpan sejak lama untuk ngelihat aksi cowok-cowok good
looking itu di atas panggung nyaris terpenuhi sudah. Para F4-mania udah
ngebayangin berhadapan dengan Vic Chou Cs. Bila mungkin minta tanda tangannya
yang nantinya dipamerin ke orang sekampung. Wuih, rasanya suara mereka yang
konon kabarnya bikin hati kita bebunga-bunga seperti udah dekat dengan telinga
F4-mania. Jadi jelas, anak puteri mana yang nggak kesengsem abis sama grup band
yang ngetop lewat serial Meteor Garden itu. Ayo, ngaku aja Non! Bukan maksud
nuduh neh. Tapi interogasi! (Glodaks!) he..he..he..
Yup, rencananya Vic Chou, Jerry Yan, Vanness Wu dan Ken akan menghibur anak
muda negeri ini di bulan Januari. Meski F4 mau manggung sekitar seminggu-an
lagi, tapi tiketnya udah abis kejual. Bahkan empat bulan sebelum konser itu
digelar udah bejibun yang mesen tiket. Maka, konser mereka dijadiin dua hari
sama penyelenggaranya. Harapannya, biar penggemar yang nggak kebagian nonton di
hari pertama bisa jumpa cowok-cowok gondrong itu di pertunjukan hari kedua. Hmm…
F4 memang jadi idola baru remaja kita. Ckckck…
Ngelihat antusiasme penggemar F4, naga-naganya nih konser bakalan dijejali
para ABG. Asli. Jangankan yang ABG, yang udah jalannya ‘ngesot’ aja ikutan antri
(tapi tidak termasuk suster ngesot di film Jelangkung ya? He..he..he..). Iya,
tante-tante yang udah bukan ABG lagi (lha iya dong, gimana sih?) ikutan heboh
beli tiket. Padahal sobat, harga tiket itu bisa bikin kantong bolong bagi yang
keuangannya pas-pasan mah. Gimana nggak, harganya mulai 200 ribu perak sampe 2
jt. rupiah. Gedubrak! Apa ada remaja yang punya penghasilan segini gede? Ya,
paling-paling nodong sama ortunya. Weleh weleh…
F4 memang fenomenal. Di Singapura saja, waktu beliau-beliau kongres, eh,
konser, banyak ABG puteri yang histeris ngelihat tampang good looking-nya empat
cowok asal Taiwan ini. Malah, saking hebohnya F4, saat mereka konser di
Singapura itu, ada sekitar seratus ABG nggak kebagian karcis. Seratus yang
lainnya nekat membeli tiket seharga S$300 (dua kali harga resmi) untuk menonton
aksi F4. Aduh biyung, sebegitu ngetopkah F4?
F4, sepertinya jadi ‘dewa’ baru yang dipuja banyak remaja. Khususnya remaja
puteri. Sangat boleh jadi dalam gaul remaja sekarang, kalo ada yang nggak kenal
F4, berarti tuh anak kuno bin kuper, tambahan lagi, norak! Aduh, memangnya F4
seberapa pantas sih untuk kita idolakan? Pikir-pikir lagi deh!
Hmm.. pertanyaan seperti ini tentu akan berbeda jawabannya jika diajukan
kepada dua model remaja. Mereka yang menganggap F4 idola, dan tentunya dengan
catatan nggak menggunakan akal sehat lagi, akan menjawab bahwa F4 layak jadi
panutan. Tapi tentunya akan lain, jika pertanyaan itu diajukan kepada mereka
yang nggak ngefans sama F4. Nah, itu nggak menyelesaikan masalah. Karena
masing-masing bakalan ngotot. Kadang-kadang mah tanpa dasar yang jelas. Namun,
kita coba, baik yang ngefans maupun nggak kepada beliau-beliau itu, pikirkan
dengan bijak. Jangan cuma mengandalkan perasaan doang; pantaskah F4, atau
selebriti lain jadi idola dan panutan hidup? Mari kita membahasnya…
Awas kena sihir! Sobat muda muslim, pernahkah kita
berpikir jernih ketika menyikapi suatu masalah? Pernahkah kita menggunakan akal
sehat saat menilai suatu kasus? Sayangnya, banyak di antara kita menyingkirkan
akal sehat, dan memilih meggunakan perasaan belaka.
Memang aneh bin ajaib. Ada anak puteri yang emosinya hanyut bersama sinetron
yang ditontonnya. Misalnya aja, kalo tokoh idolanya kalah dalam duel. Eh, doi
langsung kecewa dan meringis. Sebaliknya, kalo ‘jagoannya’ menang duel atau
berhasil lolos dari penderitaan, eh, ikutan heboh, sampe tepuk tangan segala
bo..!
Jelas saja, untuk kasus ini berarti emosi doi udah nggak stabil. Perasaannya
hanyut bersama plot dan alur cerita yang ditontonnya. Nah, itulah hebatnya kaum
seleb. Mereka mudah untuk ‘dikultuskan’ penggemarnya. Maka jangan heran,
acara-acara infotaiment di televisi dan berita di media cetak yang membahas
kehidupan kaum seleb dari A sampe Z laku keras bak kacang goreng. Logikanya,
manusia memang memiliki rasa penasaran. Utamanya pengen tahu ‘rahasia’ orang
lain. Lebih heboh lagi jika yang dipreteli luar-dalam adalah masalah kehidupan
kalangan seleb. Maka, tahu soal kehidupan mereka aja serasa kita udah jadi
sodaranya. Maklum orang terkenal. Itu sebabnya, ‘jajanan’ seputar gosip kalangan
seleb dijamin laris manis! Ini memang sulit diterima akal sehat. It’s hard to
understand!
Coba deh tengok acara “Mimpi Kali Yee..”, bagi kita yang menganggap bahwa
artis adalah manusia biasa seperti kita. Pokoknya, nggak beda dengan kita deh
(kecuali nasibnya.. he..he..), kagak bakalan ngefek apa-apa. Bener. Malah
mungkin bisa bilang ‘gendheng’ kepada mereka yang mengelu-elukan kaum seleb.
Sobat muda muslim, kaum seleb seperti memiliki sihir untuk bisa mempengaruhi
akal sehat kita. Gimana nggak, berita seputar hal yang remeh-remeh aja jadi
heboh dan bikin kita penasaran untuk wara-wiri nyari tahu. Itu kan aneh. Lagian
apa untungnya buat kita? Apa kalo kita tahu urusan kehidupannya, lalu kita
dikasih uang, diajak mentas bareng? Duh, boro-boro kali ye. Mereka mungkin sibuk
nyari cara bagaimana menghindari cubitan, ciuman, sampe timpukan dari para
penggemarnya. Nggak bebas, euy! Jadi boro-boro mikirin kamu yang katanya jadi
idola mereka. Merana amat ya dikacangin? Kasihaaan.. deh luh…!
Oya, kenapa kita menggunakan pilihan kata ‘sihir’ untuk kasus ini? Bisa kamu
bayangkan jika ada orang kena sihir. Kamu tahu lagu Mbah Dukun-nya Alam Sang
Pangeran Dangdut? Konon kabarnya sang dukun bisa mengubah A jadi B. Bisa membuat
orang yang benci jadi suka. Begitupun sebaliknya. Ini pake jasa jin memang. Dan
itu termasuk sihir, sobat. Nah, kira-kira, orang yang kena sihir itu akal
sehatnya udah nggak bisa dipake mikir lagi. Jadinya, orang yang mengidolakan
kaum seleb bisa disebut kena sejenis sihir. Wah, wah, wah… Pertanyaannya, kok
bisa seperti itu sih?
Memanipulasi naluri Manusia secara fitrah memiliki naluri
untuk mensucikan sesuatu. Naluri ini diwujudkan dengan mengagumi sesuatu atau
meyakini hal-hal yang dia anggap bisa memenuhi perasaannya untuk mengagungkan
sesuatu itu. Jaman nenek moyang kita dulu, untuk memenuhi naluri mensucikan
sesuatu itu, mereka menjadikan pohon, batu, atau binatang tertentu sebagai
‘tuhan’. ‘Tuhan’ yang mereka anggap mampu mengobati kekeringan dalam dirinya.
Orang-orang Arab di masa jahiliyah juga gemar membuat ‘tuhan’ (baca:
berhala). Hal itu mereka lakukan sebagai wujud pemenuhan terhadap naluri
mensucikan sesuatu itu. Sayangnya, mereka tidak bisa menemukan siapa yang
seharusnya kudu diagungkan, disucikan dan disembah. Tentu, karena mereka cuma
mengandalkan perasaannya doang, tanpa menggunakan akalnya dengan benar.
Akibatnya, apa yang ‘disembahnya’ itu bukan atas dasar pilihan akal sehat.
Celaka memang. Mereka yang atheis alias nggak percaya Tuhan itu ada,
sebenarnya masih memiliki naluri untuk mengagungkan sesuatu. Hanya saja,
adakalanya naluri itu dimanipulasi. Lihat deh orang-orang Soviet dulu. Soviet
yang mengusung ideologi sosialisme—termasuk komunisme—secara struktural
memberlakukan doktrin bahwa Tuhan tidak ada. Nyatanya apa? Mereka malah
mengagungkan pahlawan-pahlawan mereka. Itu bisa dilihat dari banyak lukisan or
patung Lenin dan Stalin yang ‘disembah’ para pengusung ideologi anti-Tuhan ini.
Dua tokoh tadi, adalah negarawan terkenal Soviet. Nah, itu juga adalah
penampakan dari naluri untuk mensucikan sesuatu. Cuma, dimanipulasi aja tuh.
Itu sebabnya, kalo banyak di antara kamu yang kesengsem sama kaum seleb,
personel F4 misalnya. Hati-hati, jangan sampe kamu menganggapnya sebagai Tuhan.
Gaswat. Kamu yang ngefans dengan kaum seleb, adalah bukti bahwa kamu ingin dekat
dengan mereka. Juga sebagai bukti bahwa kamu ingin mengenal mereka lebih jauh.
Termasuk jadi bukti bahwa kamu merasa ada penyaluran untuk mensucikan dan
mengagungkan mereka. Dengan begitu, naluri mensucikan sesuatu yang ada dalam
dirimu jadi terpenuhi. Gawat!
Mengapa harus F4? Sobat muda muslim, kita kaum muslimin,
memiliki ‘segudang’ teladan yang bikin hidup kita jadi indah. Benar. Sejarah
kita mencatat banyak pribadi-pribadi yang amboi memikat hati. Cerdas, sholeh,
gagah berani, pembela Islam. Simak deh bagaimana keteladan para sahabat
Rasulullah, para tabi’in, tabiut tabiin, salafus shaleh dan para ulama, termasuk
tentunya junjungan kita semua, Nabi Muhammad saw. Jika tujuannya untuk
menjadikan idola, kenapa harus kalangan seleb? Kenapa harus F4?
Kita mungkin lupa, atau bahkan banyak di antara kita yang nggak kenal mereka.
Kalo dengan Rasulullah mah udah pasti kenal dong? Kebangetan kalo nggak ngeh
(itu sih jangan-jangan belum pernah baca sahadat, he..he..he..). Sobat, nggak
kenal or melupakan sahabat Rasulullah bukan berarti mereka kelelep pamornya.
Nggak. Bahkan kitalah yang sebenarnya sedang menenggelamkan diri dalam kehidupan
yang serba memabukkan ini. Duh, jangan sampe deh kita melupakan Rasulullah saw.
Beliau adalah manusia pilihan Allah.
Firman Allah Swt.: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu
suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah
dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (TQS
al-Ahzab [33] :21)
Rasulullah saw. juga bersabda: “Aku tinggalkan bagi kalian dua
perkara yang kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada keduanya;
Kitabullah dan Sunnah nabiNya,” (HR. Imam Malik)
Jadi jelas, kita nggak bakalan nyasar dan tersesat berjalan di peta dunia
ini. Tentu jika kita memegang teguh al-Quran dan mengikuti sunnah Nabi.
Sobat muda muslim, mengapa harus F4 yang jadi idola, bukan Rasulullah saw.,
para sahabat, atau para ulama salafus shaleh? Mengapa? Ini yang kudu kita
renungkan. Betapa kita sudah begitu jauh melangkah. Hingga melupakan siapa
sebenarnya yang harus kita teladani.
Sekadar tahu saja, Arthur Glyn Leonard menuliskan dalam bukunya bahwa
Muhammad saw. adalah: “Seorang laki-laki yang bukan saja besar, tapi salah
seorang yang terbesar … yang paling besar … yang dihasilkan kemanusiaan.
Pembangunan material dan spiritual yang membangun suatu bangsa yang besar, suatu
empirium besar, dan bahkan lebih dari segalanya ini, suatu agama yang lebih
besar lagi.” (Major Arthur Glyn Leonard, Islam, Her Moral and Spiritual
Value)
Tokoh lain, sebut saja Boyd Carpenter menuliskan, “Muhammad, oleh banyak
orang dilihat dari balik kabut hitam dan dengan penuh ketololan yang ditutupkan
pada dirinya. Bagi dia hanya ada ketakutan dan kengerian serta
perkataan-perkataan keji yang dapat diberikan… Tetapi kini kabut ketidakadilan
ini sudah mulai menghilang, yang memungkinkan kita melihat pembangunan Islam ini
dengan cahaya yang adil.” (Bishop Boyd Carpenter, The Permanent Element In
Religion) Nah, jadi jelas siapa yang kudu kita idolakan dan siapa yang
nggak pantas kita jadikan panutan. Rasulullah saw. dan para sahabatnya yang
pantas dan layak untuk dijadikan idola dan panutan. Bukan F4 atau seleb lain!
Titik.?
____________________________________________ Edisi
126/Tahun ke-3 (6 Januari 2003) Untuk berlangganan Offline kirim email ke studia@dudung.net Atau telpon ke
08129565470 ( Oleh Sholihin ) Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|