| Acara Pemilihan Puteri Indonesia ke-7/2002 di Teater Tanah Airku kompleks Taman
Mini Indonesia Indah (TMII) Jumat malam (12/7) berlangsung meriah. Ajang yang
mengusung prinsip brain, behavior, and beauty seperti biasa digelar dengan kemasan
mewah. Para finalis biasanya dites macem-macem. Utamanya soal tiga kriteria
tadi; kecerdasan, tingkah laku, dan kecantikan.
Meski hampir semua orang TST, alias tahu sama tahu kalo ajang tersebut secara
tidak langsung cenderung 'hanya' menonjolkan unsur beauty-nya aja. Bahkan 'sinisme'
lebih tajam, menyebutkan bahwa ajang itu lebih mengarah kepada fetisme, alias
pemberhalaan penampilan. Ya, nggak ada salahnya juga sih protes tersebut. Karena,
kalo lihat faktanya emang begitu kok. Tul nggak?
Coba aja pelototin, yang ikutan bersaing untuk jadi "Puteri Indonesia"
biasanya punya tampang dan bodi yang oke menurut kesepakatan hampir semua orang.
Bener nggak? Jadi, yang 'setting' wajahnya rada-rada amburadul, harap tahu diri.
Atau yang penampilannya kagak full pressed body harap dengan sukarela minggir
dari ajang tersebut. Walhasil, emang itu udah hasil seleksi yang ketat banget.
Yang dipilih yang oke punya. Pokoknya menarik deh.
Sobat muda muslim, seperti disebutkan dalam harian Kompas, 14 Juli 2002, bahwa
dalam lomba kecantikan tersebut selalu saja ada kontroversi. Lucunya, pada puncak
acara Pemilihan Puteri Indonesia tahun ini sebagian besar penonton barangkali
tersenyum kecut. Kenapa? Katanya brain, behavior, and beauty tapi tak tahu chauvinisme?
Waduh!
Saat itu, ada pertanyaan "pengetahuan politik" yang disampaikan salah
seorang juri: Jean Louis Ripoche, Manajer Hotel Le Meridien, Jakarta, tentang
apakah peserta setuju padachauvinisme. Sebagaimana bisa disaksikan di layar
televisi oleh jutaan pemirsa, si peserta spontan bertanya balik kepada pembawa
acara Tantowi Yahya: apa itu chauvinisme.
Ketika Tantowi menjawab balik sekenanya bahwa itu artinya nasionalisme, peserta
sambil memasang senyum dengan antusias mendekatkan mikrofon ke mulutnya, lalu
menjawab, "Ya, saya setuju sekali dengan chauvinisme." Walah?
Kamu tahu istilah chauvinisme kan? Yup, chauvinisme adalah perasaan cinta yang
berlebihan kepada tanah airnya, dengan mengabaikan sifat-sifat baik dari bangsa
lain. Nah, tahu sendiri kan gimana orang yang lihat pada tersenyum kecut? Waduh!
Sobat muda muslim, emang sih, ini nggak menimpa semua peserta. Tapi kan paling
nggak bisa dijadiin sampel. Yang tembus ke final aja nggak tahu apa-apa. Gimana
yang nggak tembus. Barangkali lebih kacau lagi. Malah jadinya kita kepikiran;
jangan-jangan emang yang dinilai pertama kali adalah penampilannya. Bukan brain.
Bisa jadi kan?
Curhat mantan "Puteri Indonesia"
Oya, ada yang menarikdari kontes kecantikan tersebut. Biasanya, penyandang gelar
sebelumnya terlibat langsung sejak awal. Jadi dia yang keliling nyari pemenangnya
(tentu namanya sudah ia ketahui dari juri sebelumnya). Tahun ini, berubah format.
Angeline Patricia Pingkan Sondakh sebagai Puteri Indonesia sebelumnya (tahun
2001) tugasnya dipangkas. Jadi langsung melepas mahkotanya untuk diserahkan
ke pemenang baru.
Konon kabarnya, dari kabar yang belum tentu kabur juga, itu dikarenakan tulisannya
dalam sebuah bukunya yang baru diluncurkan, "Kecantikan bukan modal utama
saya". Itu merupakan kata-kata awal dalam bukunya yang konon kabarnya bikin
"sewot" beberapa kalangan di Yayasan Puteri Indonesia sebagai lembaga
penyelenggara ajang tersebut.
Sobat muda muslim, seperti dikutip Kompas, 14 Juli 2002, paling nggak buku
itu membuka informasi dari sudut pandang yang intim dari tidak saja pengalaman,
juga perenungan seorang Puteri Indonesia tentang bagaimana ia memahami posisinya.
Dengan begitu, pembaca dapat info jujur karena buku itu berasal dari catatan
harian, catatan pribadi Angie-nama panggilannya--kepada seorang teman khayali
bernama "Rasa"
Angie menuliskan curahan hatinya dalam bukunya tersebut, "Saya sangat
bersyukur pernah menyandang gelar Puteri Indonesia dan saya menjalankan semua
tugas saya selama ini dengan senang hati. Meskipun ada yang "disayangkan",
saya lebih banyak tampil untuk demo kecantikan dan berbicara tak jauh dari topik
kecantikan. Saya sama sekali tidak keberatan, asalkan diimbangi dengan kegiatan
yang menonjolkan kriteria yang lain, yaitu kecerdasan intelektual."
Nah, lho, kian jelas kalo ajang itu emang cuma 'memuja' penampilan. Khususnya
kecantikan.
Pada kesempatan lain, Angie mengeluh (catatan 13 Desember 2001): "Dan
memang tidak bisa dipungkiri selama masih di dunia entertainment, phisical appearance
will be top of the list. Kadang hal itu memberatkan. Harus memikirkan masalah
berat badan, jerawat, kehalusan kulit dan semua yang berhubungan dengan penampilan.
Oh…."
"Lewat tulisan ini, saya ingin mendidik calon peserta Puteri Indonesia
dan kebanyakan remaja puteri, bagaimana memahami makna kecantikan. Dan, bagaimana
nilai diri tidak semata ditentukan oleh kecantikan, tidak jadi hamba terhadap
usaha menjadi cantik," tutur Angie yang mengaku baru saja mendapat permintaan
terjemahan bukunya ke bahasa Inggris oleh dua lembaga di AS dan Australia (Kompas,
14 Juli 2002).
Sobat muda muslim, rasanya cukup memberikan gambaran yang jelas dan utuh tentang
sosok Puteri Indonesia. Paling nggak, karena yang melukiskan adalah penyandang
gelarnya langsung. Tak banyak memang yang berpikir seperti itu. Yang mau berpikir
lebih bijak dan dewasa. Sebab, yang kita saksikan sekarang, teman remaja puteri
sepertinya kenceng banget keinginannya untuk menjadi yang tercantik penampilannya.
Bahaya!
Pelecehan terhadap wanita
Sebetulnya, kalo mau merenung dalam-dalam, ajang tersebut, atau ajang sejenisnya,
secara tidak langsung merupakan pelecehan terhadap harga diri seorang wanita.
Gimana nggak, teman remaja puteri dituntut untuk tampil lebih pol-polan dalam
urusan penampilan tubuh. Sebab, konon kabarnya itu adalah daya tarik seorang
wanita di mata pria. Benarkah? Tak sepenuhnya salah memang. Tapi tentunya amat
rendah bila wanita hanya dinilai dari sudut penampilannya saja. Tul nggak?
Sayangnya, nggak banyak teman remaja puteri yang mau berpikir menggunakan akal
sehatnya. Celakanya, justru mereka kian berani untuk berlomba memamerkan apa
yang menjadi 'aset nasionalnya'. Gaswat!
Sobat muda muslim, terus terang kita prihatin melihat kondisi ini. Gimana nggak,
teman remaja puteri yang terjun ke dunia seperti itu lebih disebabkan karena
mereka mengejar karir dan juga popularitas, yang ujungnya memang urusan duit.
Tapi untuk itu mereka rela mengorbankan kehormatan dan kesucian dirinya. Ah,
nggak habis pikir memang.
Buktinya? Kamu bisa simak gimana penuturannya Angie di atas. Ia selama mengenakan
mahkota "Puteri Indonesia" seperti dibelenggu. Harus inilah, harus
itulah, yang intinya bagaimana kudu jaim, alias jaga imej. Iya dong, masak Puteri
Indonesia itu mukanya penuh dengan jerawat, kulitnya kagak halus, apalagi mungkin
bodinya gembrot. Pokoknya penampilannya nggak keurus deh. Waduh, menurut sudut
pandang penilaian 'pemuja' kecantikan hal itu udah masuk kategori out of spec.,
alias diluar spesifikasi yang diharapkan.
Catatan untuk remaja puteri Islam
Menarik banget untuk disimak dari kontes Puteri Indonesia adalah prinsip 3B;
brain, behavior, and beuaty. Nah, kudu ada standar yang pasti yang bisa menunjukkan
bahwa kepribadian seseorang bukan perkara penampilannya doang, tapi juga tingkah
lakunya, alias isi juga jadi ukuran.
Persoalannya, apakah dalam kriteria yang ditetapkan di ajang pemilihan Puteri
Indonesia sesuai dengan syariat Islam, rasanya semua orang pasti udah tahu jawabannya.
Yup, jauh banget dari ajaran Islam. Sebab, dalam masalah kepribadian aja, lebih
menitikberatkan kepada tingkah laku. Celakanya, tingkah laku yang diinginkan
kudu sesuai dengan kondisi yang ada di masyarakat sekarang. Jadi harus sesuai
dengan aturan kehidupan dari sistem sekular yang diterapkan selama ini. Bahaya!
Sobat muda muslim, khususnya remaja puteri, kecantikan dan kecerdasan bukanlah
segalanya. Sebab, rasanya percuma aja punya wajah cantik, penampilan tubuh aduhai,
dan memiliki tingkat kecerdasan yanglumayan, kalo nggak punya keimanan. Sia-sia
deh. Bener lho. Kita nggak bohong. Sebab, dalam pandangan Allah, manusia itu
dinilai dari ketakwaannya, bukan dari yang lain. Penampilan fisik bisa disulap.
Sangat boleh jadi orang-orang akan berdecak kagum melihat penampilan kita yang
nyaris sempurna. Kita bisa mempermak wajah asli kita menjadi sangat lain. Tepatnya,
bisa menipu pandangan orang lain tentang siapa kita. Itu bisa membuat kita menutupi
jati diri kita yang sesungguhnya. Tapi kalo soal ketakwaan, nggak bisa dinilai
hanya karena orang tersebut mengenakan embel-embel tertentu. Nggak bisa. Selintas
mungkin iya, tapi itu nggak hakiki. Tul nggak? Yang dia lihat adalah hasilnya,
yakni bagaimana ia wujudkan dalam kehidupan sehari-harinya sebagai seorang muslim
dan mukmin sejati. Firman Allah Swt.:Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(TQS al-Hujurât
[49]: 13)
Teman remaja puteri, bagi kamu sudah ada aturan mainnya dalam menutup aurat.
Artinya, kamu nggak bisa seenaknya ngobral tubuh kamu kepada siapapun yang bukan
mahram kamu. Lagi pula, udah jadi rahasia umum kalo ajang pemilihan 'ratu-ratuan'
atau sejenisnya itu seringkali kali dipake untuk ngejajal kemampuan yang mereka
miliki. Pamer aurat pun nggak masalah. Celaka! Firman Allah Swt: "Hai
Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbab-nya ke seluruh tubuh
mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena
itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang."(TQS.
al-Ahzab [33]: 59).
Sabda Rasulullah saw.:"Wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka
melenggak-lenggokkan tubuhnya dan kepalanya bagai punuk unta yang miring, mereka
tidak akan masuk surga dan tidak akan mendapatkan keharumannya, meskipun harum
surga itu dapat dicium dari jarak sekian dan sekian."(HR Muslim)
Sobat muda muslim, sayangnya ajang seperti ini sepertinya akan terus diadakan.
Salah satu alasannya karena masalah perbedaan persepsi. Maklum, dalam kehidupan
yang udah jauh banget dari nilai luhur ajaran Islam, masyarakat cenderung bebas
berbuat. Prinsipnya, selama hal itu menguntungkan dan mendatangkan manfaat,
maka akan dikejar terus. Nggak peduli halal atawa haram.
Itu sebabnya, mulai sekarang kita berupaya untuk mengubah kondisi ini. Apalagi
kalo bukan dengan Islam. Jadi, jangan ragu dan malu untuk mengkaji Islam, sobat.
Ngaji yuk!
___________________________________________
Edisi 107/Tahun ke-3 (22 Juli 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|