Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Rasulullah menjelaskan, tatkala ditanya oleh seorang sahabat, 'Wahai Rasulullah, apakah itu ghibah?' Lalu jawab Baginda, 'Menyebut sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu di belakangnya!' Kemudian Baginda ditanya lagi, 'Bagaimana sekiranya apa yang disebutkan ltu benar?' jawab Baginda, 'Kalau sekiranya apa yang disebutkan itu benar, maka itulah ghibah, tetapi jika sekiranya perkara itu tidak benar, maka engkau telah melakukan buhtan (pembohongan besar)'." (Hadis riwayat Muslim, Abu Daud dan At-Tarmizi)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
14 September 2009 - 11:20
Battle of Songs    
gaulislam edisi 097/tahun ke-2 (10 Ramadhan 1430 H/31 Agustus 2009)
 

Dengerin lagu? Wah, hobi ane tuh! Makanya, pas gaulislam ngasih amanah buat nulis tentang lagu-lagu, ane oke-oke aja. Walopun lumayan pusing cos gejala-gejala flu berat udah mulai menghajar bodi ane. Fiewh…

Oya, saking hobi dengerin lagu nih--bahkan kalo musiknya ane suka, biasanya ane bela-belain untuk tahu dengan detail tentang syair lagunya. So, kalo suasana hati lagi down, bermuram durja or lagi hepi tralala, syair lagu sering mewakili suasana hati ane en dipasang buat status di facebook.   Hoho..segitunya? Rajin amat, Bu! Ya harus dong! Percuma kalo musiknya bagus, tapi ternyata syairnya nggak ada mutunya. Selain menghibur diri ane juga pengen menyelami filosofi dari syair lagu yang dinyanyiin (cieee…).  Jadi kalo syair lagunya cuma “Juice melon, I want to buy!” itu mah maksudnya lagi haus kali ya? Hehehe..

Tapi, sekarang kok banyak banget ya acara yang nayangin video klip lagu-lagu? Tiap stasiun tivi pasti ada. Mulai yang tampil live dan ngumpulin seabreg fans para penyanyi yang tampil sampe nayangin playlist topchart dari lagu-lagu beken di Indonesia. Jadi udah nggak perlu lagi nyetel MTV tuh. Belum lagi acara-acara semacem ‘missing lyrics’ gitu.  Itu tuh, acara lomba tebak sambungan dari syair-syair lagu.  Jadi nggak cuma nebak judul doang. Nah yang ane liat malah pesertanya membludak ngalahin acara pengajian. Dan mereka ho oh aja ama lagu-lagu yang dibawa’in ama penyanyi idola mereka. Kesannya nggak ada cek-ricek lebih dulu, tuh lagu layak didengerin, dinyanyiin or nggak. Bahkan semakin bangga kalo berhasil hapal banyak lagu dari taon jebot ampe yang lagi tren saat ini. Ckckck…  

Sempet ane ketohok banget neh waktu Mr.Xtract 1, temen maya ane asal Jepang yang demen banget bikin playlist lagu-lagu artis jebot sebangsa Aretha Franklin, Beach Boys tapi diremix ulang di imeem.com. Do’i bilang, “Emang elo ngerti arti dari syair lagu-lagu Jepang yang elo demenin? Elo tahu nggak? Bahasa Jepang kalo di-Inggris-kan malah jadi aneh en ekspresi yang sebenarnya dari tu syair malah nggak bisa tergambarkan”.  Nah, dari omongan doi yang seperti itu, akhirnya ane simpulin kudu ati-ati kalo dengerin lagu. Nggak sembarangan. Coz, bisa jadi musiknya asoy buat didenger  tapi syair lagunya malah ngedakwahin kita untuk ngelakuin kemaksiatan. Weew!

Nggak se-simple itu
Lagu sebenernya adalah paduan musik yang udah diaransir sedemikian rupa, lalu ditambah syair, kemudian dinyanyiin en diperdengarkan kepada publik. Jenis musik yang genrenya macem-macem dikolaborasi dengan syair lagu yang udah ditulis sebenarnya sebagai mediator demi menyampaikan pesan yang tersirat ataupun tersurat. Pesan kegembiraan, kesedihan, kemarahan, cinta, semangat perjuangan dan lain-lain. Nah, sekarang yang jadi masalah, apakah pesan-pesan yang disampaikan dalam lagu adalah pesan kebenaran? Makanya ane bilang: nggak sesimple itu dalam urusan  lagu. Kita semua kudu cerdas kalo dengerin, nyanyiin, juga nyiptain lagu. Sebab, syair lagu disusun dan ditulis tergantung ama pemikiran penulisnya. Kalo lagu yang dinyanyiin en didengerin ternyata mengandung ‘error message’ kan bisa berabe! Perlu bukti sejauh mana berabenya? Ayo!

Tak gendong kemana-mana/ mantep tho ? /enak tho ?! /Tak gendong kemana-mana.. “ Wew, Mbah Surip gitu loh!  Nggak lama kematian the king of pop, Jacko, ternyata penyanyi gaek dengan lagu hitnya “Tak Gendong“  ini menyusul dipanggil ilahi. Tapi lagunya tetep dan malah tambah ngetop.   Banyak orang bilang lagu “Tak Gendong” ini unik, easy listening dan pada latah nyanyiin nih lagu. Dibalut dengan musik reggae yang asoy abis. But udah pasti ada pesan tertentu yang ingin disampaikan oleh sang pembuat lagu. Mbah Surip sendiri bilangnya nih lagu bermakna ‘kebersamaan’/togetherness, tolong-menolong, gotong-royong.  Lagu hit yang laen adalah “Bangun Tidur”.  “Bangun tidur/tidur lagi/bangun lagi/tidur lagi/banguuun!!!/tidur lagi/bangun tidur terus mandi/ jangan lupa senam pagi/kalo lupa/tidur lagi”. Wadoooh… kapan salat, ngaji  ama skolahnya nih, Mbah?

Omong-omong soal reggae yang awalnya beken dipopulerkan oleh Bob Marley & The Wailers, ternyata menurut Steven (vokalis dari Steven & Coconut Tree) reggae konon mengajarkan perdamaian, keadilan dan anti kekerasan.  Tapi banyak orang salah kaprah dan justru nganggap Reggae dan Rastafari itu sama aja. Padahal Reggae itu ternyata genre musik, kalo Rastafari adalah way of life. Nah, menurut para musisi Reggae, nggak semua penggemar Reggae adalah Rastafari dan nggak semua Rastafari adalah penggemar Reggae. Tapi inti dari Reggae en Rastafari adalah cinta damai.

Nah, yang bikin shock nih, Rastafari yang dianggap sebagai way of life ternyata adalah sebuah gerakan agama baru yang mengakui Haile Selassie I, bekas kaisar Ethiopia, sebagai Raja diraja, Tuan dari segala Tuan dan Singa Yehuda sebagai Yah (nama Rastafari untuk Allah, yang merupakan bentuk singkat dari Yehovah yang ditemukan dalam Mazmur 68:4 dalam Alkitab versi Raja James), dan bagian dari Tritunggal Kudus. Nama Rastafari berasal dari Ras Täfäri, nama Haile Selassie I sebelum ia dinobatkan menjadi kaisar.

Gerakan ini muncul di Jamaika di antara kaum kulit hitam kelas pekerja dan petani pada awal tahun 1930-an, yang berasal dari suatu penafsiran terhadap nubuat Alkitab, aspirasi sosial dan politik kulit hitam, dan ajaran nabi mereka, seorang penerbit dan organisator Jamaika kulit hitam, Marcus Garvey, yang visi politik dan budayanya ikut menolong menciptakan suatu pandangan dunia yang baru. Nah, di tahun 1996, gerakan Rastafari di seluruh dunia dapet status konsultatif dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). 

Terus, kenapa kok antara Reggae en Rastafari sering dianggap beriringan, padahal para musisi Reggae kesannya ngasih statement nggak ada keterkaitan antara Reggae dan Rastafari. Ternyata, lahirnya Reggae dan Rastafari sama-sama dari bangsa Afrika yang ditindas oleh rasialisme dan tumbuh pesat di Jamaika. Bob Marley & The Wailers dedengkot Reggae asal Jamaika itu, juga termasuk orang-orang Rastafari yang selalu berpenampilan nyentrik plus dandanan khas: rambut gimbal, en akrab menyandang warna merah, kuning/emas, hijau-warna bendera Ethiopia/khas Jamaika.  Tapi, para penganut Rastafari ternyata nggak terima kalo Rastafari diidentikan akrab mengkonsumsi ganja, rambut gimbal dan hidup nggak teratur. Malah mereka berpedoman kalo Rastafari hidup kudu clean, no smoking and vegetarian. 

Memang kalo diliat (tapi nggak teliti), kesannya Rastafari  bermuatan positif , tapi jangan dikira muatan negatifnya nggak ada (kayak magnet aja). Toh, tuh ajaran nggak meyakini Allah Swt., Rasulullah saw., juga al-Quran dan as-Sunnah. Jadi ya ngapain ikut-ikutan latah pengen jadi Rasta Man? Ikutan dosa malah ada tuh. Fatalnya lagi, bisa-bisa, malah kita berganti keyakinan. Islam di KTP, tapi jadi penganut Rastafari. Waduh..cepetan tobat deh! Jangan sekalipun pernah bangga deh ngaku-ngaku jadi ‘Rasta Man’.  Yah, asal tahu aja pas ane intip di www.indoreggae.com, musisi Reggae di Indonesia yang saat ini khusyu menekuni filosofi Rastafari adalah Ras Muhammad. Fiewh…

Baidewei, pernah denger lagu “Jika Kami Bersama”? Ah, masa nggak tahu? S.I.D tuh! Yop, Superman is Dead. Grup punk asal Bali. Musiknya asyik didenger, memacu adrenalin en rasa bosan pun jadi musnah (ciee..).  Dan jika kami bersama/Nyalakan tanda bahaya/Musik akan menghentak/Anda akan tersentak/Dan kami tahu engkau bosan/Dijejali rasa yang sama/Kami adalah kamu/Muda beda dan berbahaya/ Lepaskan semua belenggu/Yang melingkari hidupmu/Berdiri tegak menantang di sana di garis depan/ Aku berteriak lantang untuk jiwa yang hilang/Untuk mereka yang selalu tersingkirkan.

Gimana pendapatmu setelah denger tuh lagu en mikirin filosofi dari syairnya ? Ngerasa ‘panas’? Pengen berontak? Itulah punk. Lagu-lagunya penuh nada menghentak plus syair lagu yang full kritik sosial. To the point aja yah, para punkers sebenarnya menganut pemikiran Anarkhi/Anarkis dan para penganut Anarkhi disebut Anarkho. Di www.anarchoi.gudbug.com secara jelas en konkrit dinyatain gimana filosofi punk plus pemikiran anarkhi yang mereka anut. Menurut situs ini, hampir semua punk percaya akan prinsip Anarkhi yaitu untuk sama sekali nggak menggunakan pemerintahan resmi atau pengatur tapi mereka menghargai kebebasan dan tanggung jawab individu. Anarkhi sendiri berarti tanpa pengatur/penguasa. Jadi, para anarkho, para punkers mereka menolak keberadaan negara. Lho, kok bisa?

Yup, karena mereka kecewa akan keberadaan negara yang dengan aturannya malah bikin orang tertindas. Walaupun ajarannya mengarah ke ‘kiri’, tapi mereka nggak mengakui adanya agama tapi mereka kecewa dengan adanya negara komunis karena ketertindasannya sangat terasa. Selain ke ‘kiri’ ternyata punk juga milih ‘zigzag’. Mabok dong? Soalnya, mereka juga kecewa dengan negara kapitalis. Mereka anggap negara-negara yang ada di dunia saat ini cuma penghasil demokrasi palsu kapitalisme yang menindas rakyat. Intinya nih, mereka nggak demen ama ide-ide komunis/sosialis apalagi kapitalis. Manifestonya? Pokoknya sebebas-bebasnya deh! Yang mereka pikir nggak bikin mereka terkekang dan tertindas. Fiewwh… capek deh.. Iya, emang capek.

Menurut ane nih, mau rastafari, mau anarkhi, yah sama aja. Ajaran mereka nggak ada yang mengakui apalagi mengimani Allah Swt., Rasulullah saw., al-Quran dan as-Sunnah. Iya kan? Kalo sekedar genre musik sih, menurut ane nggak masalah. Tapi syair lagunya nih, andilnya fatal kalo ternyata menyeret kita jadi jauh dari Islam. Nggak bener banget kan?

Apalagi kalo dengerin lagunya duo The Virgin “Cinta Terlarang”… Mengapa cinta ini terlarang/Saat ku yakini kaulah milikku/ Mengapa cinta kita tak bisa bersatu/Saat kuyakin tak ada cinta selain dirimu. Kalo yang ane pahamin sih, ni lagu mo ngungkapin kegelisahan yang amat sangat. Hmmm… mencintai siapa? Cinta sesama jenis? Mencintai istri/suami orang? Mencintai sodara kandung ke arah cinta yang nggak wajar? Hehehe… Kalo nih lagu mengisyaratkan cinta sesama jenis, wah, berarti pengen ada pengertian dari Tuhan nih supaya cintanya bisa kesampean gitu? Aduwhhh… tobat atuh, Neng!

Jadi puyeng sendiri ane nih, yang Rastafari, yang Anarkhi, yang cinta sesama jenis. Kok pada liberal-sekuler gini yah? Syair lagu mah jangan dianggap enteng. Sebab, ini pengaruhnya ke pemikiran dan gaya hidup. Hmm… menurut ane sih, ini udah saatnya nih untuk ‘angkat senjata’! The Battle of Songs begin ! Wezzz… Ha ha ha ha (Mbah Surip mode: ”on”.

Bahaya lagu
Bro en Sis, kalo kita ngelakuin sesuatu udah pasti kita ngerti sesadar-sadarnya kenapa kita ngelakuin hal tersebut.  Begitu juga soal dengerin lagu mah udah pasti juga kudu hati-hati. Sebab, gimana pun juga syair lagu bisa mempengaruhi pemikiran. Itu sebabnya, para seniman/musisi yang udah menganut pemikiran ideologi tertentu mereka ngelakuin syiar ideologi mereka lewat kekuatan produk seni mereka. 

Nah, yang bahaya banget kalo ideologi sang seniman/musisi ternyata ideologi kapitalis or sosialis-komunis juga sekuler. Biarpun misalnya syair lagunya full kritik sosial, tapi pastinya tetep nyodorin solusi dari ideologi yang mereka anut. Belum lagi lagu-lagu cinta yang ngedakwahin soal gaul bebas dan selingkuh, bener-bener bikin dunia tambah kisruh neh. Bukannya ngasih nasihat syiar lewat lagu, tentang gimana supaya nggak pacaran, gaul bebas, selingkuh dll, etc,dst. 

Terus gimana dong? Nah, berhubung dunia belum dinaungi Daulah Khilafah Islamiyah yang pastinya bakal bisa ngawasin dengan ketat peredaran lagu-lagu yang disiarkan ke publik, jadi solusi praktis dan jangka pendeknya adalah: ya udah, kita bikin lagu aja. Kita nulis lagu sendiri. Ajak temen yang bisa maen instrumen musik. Bikin demo musik mah sekarang gampang. Terus kalo mau nyiarin ke radio, bisa aja ngeaktifin link ke temen-temen penyiar. Biar aja nekat request duluan. Selain itu kalo pun nggak ada produser rekaman yang ngajak rekaman, bisa aja tuh pake cara D.I.Y (do it yourself).  Rekam sendiri, biaya sendiri en jual sendiri (asal jangan beli diri sendiri juga). Hehehe… . Bisa juga join bareng temen-temen lah. Iya nggak?

Bikin lagu yang kayak gimana nih? Soal genre musik itu terserah, tapi syair lagu kudu diperhatiin. Sebabnya, lagu di sini bukan cuma buat hiburan tapi buat syi’ar keislaman. Masih blank gimana lagu yang dimaksud? Coba deh klik situs youtube or imeem di browser internet kamu. Cari nama-nama munsyid or rapper sebangsa Zain Bhikha, Native Deen, Blakstone, Masikah Ali, Thufail al-Ghifari, Yusuf Islam, Sami Yusuf, The Fikr terus Soldiers of Allah yang situs resminya ditutup oleh pemerintah AS dan kini beberapa personelnya telah menikmati indahnya syahid di Afganistan. Syair-syair lagunya juga keren abis. Coba deh disimak !
Mencintai dicintai fitrah manusia/Setiap insan di dunia akan merasakannya/Indah ceria kadang merana itulah rasa cinta/Berlindunglah pada Allah dari cinta palsu/Melalaikan manusia hingga berpaling dariNya/Menipu daya dan melenakan sadarilah wahai kawan/Cinta pada Alloh cinta yang hakiki/Cinta pada Alloh cinta yang sejati/Bersihkan diri gapailah cinta Cinta Ilahi.  Nah, ini lagu dari The Fikr yang judulnya Cinta. Keren mana coba ama Cinta Terlarang-nya The Virgin? Jauh ya?

Mau yang keren lagi? “Terjagalah dari segala maksiat/Dari segala zina dan nafsu dunia yang sesat/Disatukan dalam karunia yang suci/Bersama jiwa-jiwa yang selalu haus akan ibadah/Dan penuh harga diri/Ini bukan cerita Cinderella/Bukan juga patah arang cinta buta Siti Nurbaya/Tak dapat diukur tapi bersama Allah semua pasti akan teratur.” Nah, yang ini penggalan syair rap-nya Thufail al-Ghifari:“Catatan Terakhir”.

Nah, kalo yang more keren mah ada . Ini nih, “1924 “ lagu rap dari Soldiers Of Allah (S.O.A) yang nohok banget ngasih kritik kok kaum Muslim pada cuek ama kewajiban memperjuangkan tegaknya Khilafah. The truth about the state/It wasn’t always like this/Let us look back in time/History reminds us/One army/One land/One central authority/Crushing the romans/persians put in fear/The Ummah like a Lion/No need to shed a tear/When the village was attacked by the kufar/The Khalife heard /The sister cry &Prepared for war/Attacking the city/Destroying it from existence/Lesson # 1/Don’t ever /Mess with Muslims/The Imam of the Ummah is a shield where he protects the Ummah and where the Ummah fights behind him /Where is this shield today to protect the Ummah?? What happen to this shield to honor and dignify the Ummah? Nah, para munsyid/rapper yang ngebawain lagu-lagu islami tuh pastinya gaya hidupnya nggak akan melenceng jauh dari Islam. Nggak ‘muna’ kayak para artis penyanyi lainnya yang setahun sekali bikin album religius (pas Ramadhan doang). Selain itu, lagu-lagu yang dinyanyiin para munsyid ini pastinya ngasih solusi dalam hidup. So, udah pasti insya Allah gaya hidup para munsyid ini clean en jadi teladan dalam hidup.  Nggak pengen tuh jadi kayak mereka?  So guys, hidup cuma sekali. Gunain waktu yang kamu miliki sebaik-baiknya. Nulis lagu yang ideologis terus ngebawain tuh lagu tentunya juga bakal ngebawa kamu dalam tampilan baru. Ya, tentunya kamu tampil lebih cool dengan keislamanmu. Ayo,kamu bisa nunjukin diri, kalo manut ama Islam dalam berkreativitas pastinya bakal jadi teladan dan anti mati gaya. Semangat! [anindita: facebook.com/anindita.chandra]
 
 
(Dibaca: 6309 kali | Dikirim: 0 kali | Print: 0 kali | Nilai: 0.00/0 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2017, Dudung Abdussomad Toha