Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Rasulullah senantiasa berwajah ceria, beliau pernah besabda, "Janganlah terlalu membebani jiwamu dengan segala kesungguhan hati. Hiburlah dirimu dengan hal-hal yang ringan dan lucu, sebab bila hati terus dipaksakan memikul beban-beban yang berat, ia akan menjadi buta"
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
04 Juni 2007 - 10:48
Berpisah Kok Pesta?       
STUDIA Edisi 344/Tahun ke-8 (4 Juni 2007)
 

Pertemuan adalah awal dari sebuah perpisahan”. Begitu pepatah mengatakan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di halaman sekolah, tak terbayangkan kalo suatu hari nanti, kita pun kudu rela angkat kaki darinya. Ketika pertama kali berkenalan dengan teman sekolah saat masa orientasi siswa, nggak kebayang kalo suatu saat kita pun mesti ikhlas melepas kepergian mereka. Ketika pertama kali mengenal guru yang mengajar dan membimbing kita layaknya orangtua, nggak kepikiran kalo tiga tahun akan datang, dengan berat hati kita lambaikan tangan pada mereka. Memang, nggak akan ada acara perpisahan kalo sebelumnya nggak pernah ketemuan. (hiks...hiks...hiks.... jadi bernostalgia).

Perpisahan sekolah, sebuah tradisi
Menjelang berakhirnya tahun ajaran, tiap sekolah tidak hanya disibukkan dengan persiapan penerimaan siswa baru, tapi juga acara perpisahan yang nggak boleh kelewatan. Mulai dari jenjang pendidikan TK, SD, SMP, atau SMA, semuanya ikut melestarikan momen spesial ini. Maklum, sudah tradisi!

Seperti penuturan Pak Hilman, salah staf pengajar di SMP PGRI 1 Ciawi Bogor, beliau menuturkan, acara perpisahan sekolah selalu ada di akhir tahun ajaran. Biasanya digelar di halaman sekolah pada pagi hingga siang hari yang diisi dengan pentas seni antar kelas atau angkatan serta pengumuman siswa berprestasi. Tujuannya, semata-mata untuk mendekatkan hubungan antar siswa sekaligus penyerahan kembali tanggung jawab pendidikan dari pihak sekolah pada orang tua.

Namun bagi Anindy, muslimah alumnus SMA Ibnu Aqil di Bogor tahun 2006, acara perpisahan di masanya cukup bikin bete. Lantaran acara bebas, nggak ada batasan antara siswa dan siswi. Jadinya campur baur deh alias ikhtilat. Padahal aturan Islam yang mulia udah ngatur tata cara pergaulan dengan lawan jenis. Nah, ikhtilat kan termasuk yang dilarang. Kondisi yang sama juga dihadapi Fida, muslimah alumnus SMAN 4 Kendari, Sulawesi Tengara, tahun 2000. Nggak heran kalo mereka nggak ikut ambil bagian dalam acara itu.

Tak hanya dalam negeri, acara perpisahan sekolah juga hadir di setiap negara dengan kekhasan budayanya. Seperti cerita Norhafidzah, siswi Kolej Matrikulasi Pahang, Malaysia, kepada penulis. Di negeri jiran, acara perpisahan sekolah lazimnya diisi dengan jamuan makan dengan tempat duduk terpisah antara putra en putri. Kadang ada juga yang meramaikannya dengan permainan cabutan bertuah atau kotak beracun alias kotak undian. Waduh! Apa yang dapet undian disuruh minum racun? “terpulang (tergantung).. suruh menyanyi.. melakonkan.. atau terkadang ada juga buat perkara2 yang tidak senonoh macam cium dinding (nyium tembok), cium kasut (nyium sepatu)” nah lho, nggak sekalian disuruh nyium aspal! Hehehe....

Terjebak budaya pesta
Derasnya arus informasi budaya sekular yang menyapa remaja kita, menginspirasi mayoritas pelajar muslim untuk lebih maksimal dalam menikmati hidup dengan bersenang-senang. Tak heran kalo gaya hidup yang berorientasi pada fun (hiburan/kesenangan), food (makanan—termasuk minuman), serta fashion (pakaian/penampilan) kian banyak digandrungi. Kondisi ini melekat sekali dalam budaya pesta remaja saat ini.

Jika budaya pesta udah ngecengin remaja, kondisi apapun bisa dijadikan alasan kuat untuk berhura-hura. Dapet kecengan baru, makan-makan. Mau merit, ngadain bachelor party alias pesta bujang. Putus cinta juga bisa jadi alasan untuk berpesta sebagai simbol kemerdekaan dari sebuah komitmen. Malah bisa jadi, pesta juga digelar demi merayakan keberhasilan mencabut gigi sakit yang udah berminggu-minggu menyiksa batin. Sampe segitunya. Ya iyalah, namanya juga maniak pesta!

Apalagi momen perpisahan sekolah, tentu nggak perlu ditanyain lagi kelayakannya sebagai alasan untuk bersenang-senang. Mulai dari aksi corat-coret pylox di baju seragam, hangout ke tempat wisata, hingga ngadain hajatan malam pesta dansa alias prom night. Parahnya nih ye, di Balikpapan, 13 pelajar merayakan perpisahan dengan teman-teman sekolahnya sambil berpesta miras sebelum diciduk polisi. (Pos metro Balikpapan, 15/05/07).

Sebagai pelajar muslim, tentu budaya pesta yang nggak ada manfaatnya (hura-hura dan maksiat) nggak layak mengisi hari-hari kita. Apalagi prom night yang jelas-jelas datang dari budaya Barat, bisa dipastiin steril dari aturan agama, apalagi aturan Islam. Mulai dari campur baur cewek-cowok, pamer aurat, hingga gaul bebas yang menjurus pada freesex. Budaya pesta hanya akan membuat hati kita membatu, egois bin individualis. Iya dong, coba tengok sekeliling kita. Tega bener kita berpesta-pora dengan menghambur-hamburkan uang sementara teman sekolah kita, tetangga, atau bahkan sodara kita kudu berjuang mati-matian demi mempertahankan hidup. Mana empati kita?

Perjalanan belum berakhir
Sobat, wajar aja kalo kita merasa senang bin gembira karena berhasil menyelesaikan masa pendidikan di tingkat menengah. Meski nilainya pas-pasan banget. Tapi bukan berarti boleh euphoria alias berlebih-lebihan dong. Apalagi sampe terjerumus dalam kegiatan pesta-pora. Nggak deh.

Inget Bro, lulus sekolah bukan berarti akhir dari perjalanan hidup kita. Lulus sekolah cuma sebagian kecil dari penggalan kisah kehidupan kita. Coba deh tarik napas dalam-dalam, keluarkan sedikit-sedikit dari mulut (bukan dari bawah), tenangkan hati, dan coba pikirkan hari esok. Di sana udah nunggu episode kehidupan baru yang bakal kita jalani lagi dari nol.

Yup, dari SMP kita akan masuk ke masa SMA dengan gejolak jiwa muda yang membara dan bisa membakar kita jika salah mensikapinya. Lulus SMA, kita pun disodorkan pilihan untuk melanjutkan pendidikan kita ke perguruan tinggi atau terjun ke dunia kerja. Kedua-duanya menuntut kesiapan mental dan jiwa kita selain materi. Lantaran kita akan berhadapan dengan wajah-wajah baru dengan berbagai karakter. Nah, yang jadi pertanyaan apa yang sudah kita persiapkan?

Setelah tamat perguruan tinggi, masyarakat pun telah menunggu kontribusi positif kita. Usai titel sarjana kita raih, apa yang akan kita perbuat? Menjadi bagian dari komunitas pencari kerja? Atau malah menambah deretan jumlah pengangguran intelek?

Sobat, mau dibingkai seperti apa masa depan kita jika budaya pesta-pora tanpa yang berbalut maksiat lebih kita minati dibanding belajar, berpikir, berdakwah, dan memberikan manfaat bagi semua? Tak tergiurkah kita dengan sabda Rasul: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain “ (HR Bukhari)

Kemuliaan dalam kesederhanaan
Sobat, kalo kita nyadar bahwa potret masa depan telah kita bingkai sejak saat ini, tentu hidup sederhana dalam keseharian lebih keren dibanding terjebak dalam hingar-bingar kesenangan dunia belaka. Hidup sederhana yang kita maksud adalah membelanjakan harta dengan tidak berlebihan untuk memuaskan nafsunya serta nggak pelit dalam berbuat kebaikan. Allah Swt. berfirman:

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya”(QS al-Isrâ [17]: 26-27)

Jadi, kalo punya harta berapa pun, kita ikhlas membaginya untuk berbuat kebaikan, nggak semuanya dilalap untuk memenuh hasrat belanja kita yang nggak ketulungan. Oya, kalo pun mo beli barang untuk memenuhi keperluan, ya disesuaikan dengan kebutuhan kita. Bukan dipaksa memenuhi keinginan kita yang gampang tergoda oleh iklan yang bombastis. Tetep kalem, Bro! Nggak usah tergesa untuk tergoda.

Untuk itu, kita bisa menauladani kehidupan Rasulullah saw. Umar Ibnu Khattab bercerita: “Aku pernah minta izin menemui Rasulullah, aku mendapatkan beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar, sebagian tubuh beliau berada di atas tanah, beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya, aku tidak sanggup menahan tangisku.

“Mengapa engkau menangis, hai putra Khaththab?” Rasulullah bertanya. Aku berkata, “Bagaimana aku tidak menangis, tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini nabi Allah, kekasihNya, kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kastil emas, berbantalkan sutra”.

Nabi yang mulia berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga, kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang bepergian pada musim panas, ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya”. (Hayat al- Shahabah 2: 352)

Untuk mewujudkan pola hidup sederhana dalam keseharian, bisa kita mulai dengan: Pertama, jinakkan perasaan tidak puas terhadap kenikmatan yang udah Allah kasih buat kita. Hidup kita bakal dibikin tekor dunia dan akhirat kalo pikiran selalu terfokus pada apa yang belum kita miliki, bukan mensyukuri apa yang sudah kita punya.

Kedua, lejitkan rasa percaya diri dalam diri kita. Orang psikologi bilang, Orang yang punya merasa rendah diri akan mudah terjebak dalam pola hidup yang tidak sederhana dengan cara menipu diri -self deception (Hamacheck: 1987). Dia takut memunculkan identitas aslinya sehingga menipu dirinya dengan menghadirkan jati diri orang lain yang dipercaya bisa diterima oleh lingkungan dibanding dirinya. Maka, sebagai remaja muslim, kudu tetep confident dengan kesederhanaan hidup kita yang terbalut ridho ilahi. Nggak mesti jadi bebek kan? Nggak usah semangat ikut yang salah.

Nah sobat, alangkah indahnya jika kita bisa menghiasi hidup kita dengan kesederhanaan. Kita bisa ngasih nilai tambah pada momen perpisahan sekolah tanpa harus menyeretnya dalam budaya pesta berbalut maksiat. Kegiatan bakti sosial, foto bareng temen-temen sekelas di halaman sekolah, atau bikin buku angkatan yang berisi biodata singkat semua sohib satu angkatan dengan catatan dan harapan masing-masing, bisa jadi alternatif agenda di akhir tahun ajaran.

So, yang penting mari kita sama-sama belajar mencontoh kehidupan Rasulullah saw. maupun para sahabat yang sederhana dalam penampilan namun berlimpah dalam kebaikan serta memberikan manfaat bagi semua orang. Itu baru cool, calm, en confident as a moslem![hafidz: hafidz341@telkom.net]

 
 
(Dibaca: 7818 kali | Dikirim: 2 kali | Print: 0 kali | Nilai: 6.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2018, Dudung Abdussomad Toha