| Heboh! Kesan pertama yang bisa kita lihat saat berlangsungnya pagelaran akbar
sepakbola sejagat, yang bertitel World Cup 2002. Hajatan para penendang bola
itu digelar di Korea Selatan dan Jepang.
Sobat muda muslim, demam piala dunia ini udah nyebar kemana-mana. Nggak di
kampung, nggak di kota. Di warung kopi, di pangkalan ojek, di terminal, di kantor,
malah mungkin di masjid. Pokoknya, latah ikutan heboh. Lagu resmi World Cup,
BOOM, yang dibawakan Anastacia pun kayaknya udah akrab di telinga kita. Pokoke,
semua ngomongin sepakbola. Maklum, para penggila bola sejagat bakalan asyik
masyuk mantengin televisi. Dan bagi yang maniak banget dan kebetulan berkantong
tebel bisa langsung terbang ke Korea dan Jepang. Walah? Sebegitu serunya ajang
ini.
Bagi teman-teman yang nggak puas hanya ngikutin perkembangan piala dunia via
televisi, mereka juga ngelirik koran, tabloid, dan majalah yang mengupas abis
serba-serbi piala dunia lengkap dengan poster-poster pemain pujaannya yang keren-keren
itu.
Sobat muda muslim, seperti tahun-tahun sebelumnya, pesta sepakbola empat tahunan
ini kerap membawa "berkah" bagi penghuni dunia lainnya. Produsen makanan
dan minuman, pakaian, telekomunikasi, sampe media massa menuai hasil maksimal.
Sebut saja misalnya Extra Joss yang udah "ngerayu" Del Piero untuk
jadi bintang iklannya. Harapannya, tentu supaya para penikmat bola juga ikutan
mengkonsumsi energi drink tersebut. Siapa tahu penghasilannya melonjak tajam.
Nggak heran pula kalo pabrik-pabrik besar jadi sponsor utama di ajang piala
dunia ini. Sebut saja Coca Cola, Nike, dan Gillette. Bahkan kabarnya Nike udah
mengontrak 24 pemain top dunia untuk iklan sepatunya yang terbaru "Scorpion".
Menurut sejumlah sumber, Nike mengeluarkan duit 14,6 juta dollar AS untuk iklan
televisi "Scorpion". Dan tentunya pihak Nike berharap mengail pemasukan
yang lebih gede dari itu.
Pengusaha dan pelaku sepakbola sama-sama diuntungkan memang. Pemain, pelatih,
penyelenggara, dan juga para sponsor dalam ajang itu. Bagi para pemain yang
bermain cemerlang di ajang itu, nggak mustahil kalo sampe diburu banyak klub
kaya. Nggak heran kalo gaji pemain sepakbola dunia mampu mengalahkan gaji para
insinyur atawa profesor yang ngajar di universitas sekalipun. Ada yang mau nyaingi
Zinedine Zidane? :
Teman pembaca, bagi kita, remaja muslim, kondisi ini amat mengkhawatirkan.
Sangat boleh jadi, hajatan akbar sepakbola ini akan memalingkan kita dari persoalan-persoalan
penting dalam kehidupan ini. Itu sebabnya, kita mencoba mengajak kamu untuk
berpikir lebih bijak. Jangan sampe latah terbawa arus global. Sepakbola sekarang
sedang jadi mainstream (arus utama) dalam obrolan penduduk dunia. Dan bukan
tak mungkin akan memberikan dampak yang berbahaya bagi para penggilanya.
Menyuburkan perjudian
Ternyata sepakbola bukan hanya urusan menggocek, ngejar, nendang, dan nangkep
bola aja. Sekarang, atau mungkin sejak dulu, sepakbola juga bisa dipake sebagai
ajang judi. Boleh diilang jadi trademark kali yeee…. Soalnya, di ajang
tarkam (antar kampung) aja, "taruhan" seperti udah jadi tradisi. Pun
termasuk di ajang Ligina, atau kompetisi Eropa; Inggris, Perancis, Jerman, Spanyol,
Italia dan lainnya. Apalagi di ajang seheboh Piala Dunia, pastinya yang taruhan
bisa jor-joran banget.
Untuk judi dalam bentuk "taruhan" ini, ada yang dikelola bandar, ada
juga yang masing-masing antar kawan aja. Misalnya kamu jagoin Perancis pas ngelawan
Denmark di Grup A. Kamu dan temanmu masang taruhan dengan uang lima rebu perak
misalnya. Begitu Perancis menang, kamu yang ambil uangnya, dan teman kamu yang
gigit jari. Nah, itu namanya judi. Bayangkan bila yang "taruhan" seperti
itu minimal jumlahnya seratus juta orang di seluruh dunia. Anggap masangnya
sama, Rp 5000. Udah berapa uang yang berputar di perjudian itu? Kalo boleh menghitung,
jumlahnya adalah 500 miliar rupiah. Itu satu pertandingan lho. Belum model judi
lainnya yang digelar televisi, radio, koran, majalah, dan tabloid. Apalagi dilakukan
oleh lebih dari 100 juta orang dengan jumlah "taruhan" yang lebih
gede dari itu. Wow, yang jelas, duitnya nggak bakalan bisa ditampung di celengan
bagong kamu.:
Sobat muda muslim, itu sebabnya, kita wanti-wanti banget, jangan sampe kamu
pun ikutan nggak bener. Nonton ya nonton aja. Nggak usah pake "taruhan"
duit atau barang lainnya segala. Selain bikin ludes harta benda, aktivitas judi
jelas haram. Allah Swt, berfiman: "...sesungguhnya (meminum) khamar,
berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan
keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar
kamu mendapat keberuntungan." [TQS al-Mâidah [5]: 90]
Memicu permusuhan
Gaswat memang. Sebab, nggak sedikit yang kejadian. Orang yang kalah judi dan
nggak terima, bisa jadi dendam banget. Jangan heran kalo doi berani tarung lawan
temannya sendiri. Awalnya sih duduk bareng sambil nonton televisi. Bercanda
ketawa-ketiwi, begitu salah satu tim favoritnya kalah, mulai deh muncul benih-benih
dendam. Apalagi kalo yang menang judinya heboh banget merayakannya. Bisa-bisa
yang kalah taruhan langsung naik darah. Nggak heran kalo urusannya langsung
"tahlilan".:
Rasanya, kasus Andreas Escobar, yang melakukan gol bunuh diri di ajang Piala
Dunia 1994 di AS kudu jadi pelajaran. Sangat boleh jadi, gembong mafia Kolombia
udah bertaruh besar dan menjagokan Kolombia, eh, gara-gara gol bunuh diri Escobar,
mereka rugi berat karena tim favoritnya tersingkir. Nggak menunggu lama, sehari
setelah main, Escobar tewas ditembus timah panas "penggemarnya" sendiri.
Itu kasus yang kalah judi bisa bermusuhan gara-gara sepakbola. Tapi urusan
dukung-mendukung pun bisa jadi pertumpahan darah. Sebab, nonton sepakbola kan
nggak kayak nonton permainan catur yang sepi teriakan suporternya. Di sepakbola,
tifosi (pendukungnya) bisa berbuat sesukanya. Dari sekadar memakai kostum kebanggaan
timnya, mengecat wajah dan rambut, tampil 'aneh', sampe jejingkrakan. Pokoknya
siap "gagah-gagahan", bila perlu berjuang sampai titik darah yang
penghabisan dalam 2 kali 15 menit perpanjangan baku hantam dengan kesebelasan
dan pendukung lawan. Wah, wah, wah..
Sobat muda muslim, udah saatnya deh budaya jahiliyah tersebut kamu tinggalkan.
Jangan sampe ngebelain yang nggak jelas juntrungannya. Sepakbola kan sekadar
main-main. Ngapain capek-capek ngedukung tim favorit kamu sampe rela berdarah-darah.
Percuma, nggak dapet pahala. Kalo kamu belain Islam sampe berdarah-darah dan
bahkan rela melepas nyawa kamu, insya Allah akan dapat pahala.
Hmm… kian jelas bahwa sepakbola juga bisa jadi pemicu permusuhan. Berarti
bohong besar dong omongan Bill Clinton saat membuka Wolrd Cup 1994 USA, "Sepakbola
adalah bahasa universal untuk mempersatukan manusia". Buktinya? Andreas
Escobar koit di ajang bal-balan ASU, eh, USA 1994.
Mengalahkan pesona ajaran agama
Yup, selain menyuburkan perjudian dan nggak jarang memicu permusuhan, sepakbola
juga bisa melalaikan orang, baik pemain, pelatih, maupun penontonnya. Di Italia
aja, kalo digelar Lega Calcio Serie A setiap pekannya banyak orang nongkrong
di stadion dan di depan televisi ketimbang kebaktian di gereja.
Di negeri kita juga nggak kalah serem. Pertandingan di ajang Ligina (Liga Indonesia)
aja, rasanya masih ragu ada pelatih, pemain, dan penonton muslim yang inget
dan melakukan sholat. Padahal, rata-rata pertandingan itu digelar pas jam empat
sore. Dan barangkali sebagian besar tentunya udah stand by sejak jam dua siang.
Sholat Ashar sih kayaknya lewat deh. Maghrib, kemungkinan udah capek teriak-teriak,
jadi lewat juga. Isya? Wah, udah kecapean di jalan, pas datang ke rumah langsung
nyungsep. Shubuh? Walllahualam. Tapi yang pasti kita prihatin, ternyata sepakbola,
bagi teman-teman yang nggak bisa ngendaliin diri, bisa mengalahkan kewajiban
agamanya. Celaka!
Sobat muda muslim, di luar negeri, sepakbola malah udah jadi agama. Klub berjuluk
"Setan Merah", Manchester United, oleh sebagian penggilanya dinobatkan
sebagai "agama". Itu sebabnya, mereka rela menjadi pembelanya di setiap
pertandingan kandang maupun tandang klub terkaya di dunia itu. Waduh, Keterlaluan
banget emang. Semoga saja di kita nggak ada yang sampe sejauh itu tersesatnya.
Sebab, kalo udah jadi "agama", kita seperti kembali ke jaman nenek
moyang manusia di dunia ini yang menyembah pohon, batu, kuburan dan sejenisnya.
Itu memang jaman jahiliyah. Jaman kebodohan. Apa bagusnya sepakbola hingga rela
"disembah"? Jangan-jangan kitanya yang udah nggak waras? :
Lihat aja sekarang lagi musim World Cup, yang diobrolin nggak jauh dari sepakbola.
Si mamang tukang sayur, si mas tukang Bakso, abang supir angkot, guru, pegawai
kantoran, buruh pabrik, mungkin juga pemulung, mahasiswa, pelajar, sampe ibu-ibu
rumah tangga jadi heboh ikutan ngomongin aksinya Alesandro Del Piero, David
Trezeguet, David Beckham, Ronaldo, Zinedine Zidane, Michael Owen, Michael Ballack,
dan seabrek pemain bintang lainnya. Dari sekadar ngikutin perkembangan tim favoritnya,
sampe nyari info seputar kehidupan pribadi para pemainnya. Hmm… kita khawatir
banget, kalo bulan Juni ini bakalan jadi bulan bola. Jangan-jangan, bulan ini
pada lupa ngaji, sholat, baca al-Quran, dan dakwah. Aduh, jangan sampe deh ikutan
gokil.
Nonton boleh, asal…
Teman pembaca, emang nggak dilarang nonton bola via televisi atau main bola
itu sendiri. Asal jangan kemudian melalaikan kewajiban yang telah dibebankan
oleh agama kita.
Imam Asy Syathibi menyatakan: "Hiburan, permainan, dan bersantai adalah
mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang." Selanjutnya
beliau menambahkan, "Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai
oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang
tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya
di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam
kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi". Sebagaimana
sabda Rasulullah saw. dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim dengan
sanad shahih: Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal;
memanah, menjinakan kuda, dan bermain dengan istri... Yang dimaksud bathil di
sini, adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan tidak menghasilkan
buah yang dapat dipetik (Al Muwaafaqaat, Jilid I, hlm 84).
Nah, apalagi kayak ajang World Cup, jelas ini permainan yang terorganisir.
Ini udah dirancang oleh orang-orang kafir (Zionis) untuk melenakan kaum muslimin.
Ini bisa disimak Protocol of Zion poin ke-13 yang diterbitkan Prof. Sergyei
Nilus di Rusia pada 1902. Intinya, "Zionisme merencanakan hendak mengundang
masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba
yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara
perlahan akan melenakan kaum muslimin dari konflik-konflik kaum muslimin dengan
bangsa Yahudi." Nah lho, apa kita rela ditipu oleh mereka? Jangan mau!
Makanya kita khawatir banget, kalo kemudian kita, remaja muslim, malah dibuat
sibuk dengan urusan sepakbola, ketimbang ngurusin umat. Tragisnya lagi kalo
sampe kaum muslimin di Palestina juga ikutan heboh dengan World Cup 2002, dan
bahkan melupakan perjuangannya untuk melawan Israel. Celaka!
Sobat muda muslim, bentengi diri kamu dengan akidah Islam yang kuat. Jangan
lupa tetap aktif ngaji dan dakwah. Jangan sampe pesona World Cup ini mengalahkan
ajaran agama kita. Hati-hati ya…
_______________________________________
Edisi 100/Tahun ke-3 (3 Juni 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|