| "Puing berserakan di segenap penjuru/bekas pertempuran/ bau amis darah
sisa asap mesiu/sesak napasmu/ mayat-mayat bergeletakan/tak terkubur dengan
layak/ dan burung-burung bangkai menatap liar/dan burung-burung bangkai berdansa
senang…”, begitulah ungkapan Bang Iwan Fals dalam lagunya,
Puing. Lagu ini berkisah tentang perang dan akibatnya. Sebuah pernyataan yang
masih bisa diterima. Maklum, perang yang dikobarkan hampir selalu memakan banyak
korban rakyat sipil. Mereka, yang ironinya justru tak mengerti kenapa musti
ada perang.
Sobat muda muslim, invasi AS dan sekutunya ke Irak sudah berjalan lebih dari
14 hari. Waktu yang cukup lama memang. Setidak-tidaknya dari perkiraan yang
dijanjikan Bush, bahwa perang tidak sampai memakan waktu seminggu. Nyatanya?
Tentara dan rakyat Irak lumayan sulit dikalahkan begitu saja. Perlawan pecah
di mana-mana. Bahkan rakyat sipil pun mulai melakukan aksi yang paling ditakuti
serdadu pasukan koalisi. Pejabat Pentagon menyebutnya, aksi “bom bunuh
diri”.
Karuan aja, ini membuat AS dan sekutunya seperti kehabisan cara dalam mengatasi
mereka. Maka, mereka selalu curiga dengan setiap pergerakan penduduk sipil.
Nggak boleh ngeliat warga sipil mendekat ke mereka, senjata langsung dikokang.
Pernah kejadian, mereka salah mengidentifikasi. Akibatnya, satu keluarga muslim
Irak yang mengendarai sebuah mobil tewas diujung peluru serdadu pasukan koalisi
yang tengah resah. Ketakutan yang diciptakan sendiri oleh serdadu AS dan sekutunya
juga berbuah ‘pengiriman’ rudal Tomahawk ke pasar rakyat an-Nasr
di daerah Syu’lah, Baghdad pada 28 Maret lalu. Hasilnya, 58 penduduk sipil
harus kehilangan nyawanya. Sebagian besar di antara mereka yang tewas, adalah
wanita dan anak-anak. Sampai hari ke-14 saja, jumlah korban tewas dari pihak
Irak adalah 677 orang (Tajuk Malam TV7, mengutip Reuters, 2 April 2003).
Sementara Republika (3 April 2003), menyebutkan, ada 550 korban tewas rakyat
sipil. Menyedihkan!
Perang terus berlangsung, entah sampai kapan. Yang pasti, korban terus berjatuhan.
Utamanya dari kalangan rakyat sipil. Mereka, umumnya nggak ngerti kenapa AS
dan sekutunya menyerang tanah kelahirannya. Mereka, yang kebanyakan nggak paham
tujuan AS menjajah negerinya. Invasi yang disebut-sebut secara sepihak oleh
pejabat Amerika sebagai “Aksi Pembebasan Rakyat Irak” itu sebenarnya
hanyalah omong kosong belaka. Logikanya, kalo memang berniat ‘baik’,
maka tak usah ada peluru untuk membunuh rakyat sipil Irak. Di lapangan, yang
terjadi justru sebaliknya. Pasukan gabungan gemar memuntahkan peluru untuk rakyat
sipil, karena dinilai membahayakan dengan aksi yang mereka sebut sebagai ‘bom
bunuh diri’ itu. Jadi, tentara AS dan Inggris di medan tempur merasa sah
untuk melakukan pembantaian. Inilah perang yang dikobarkan AS dan sekutunya,
tak kenal kompromi. Biadab!
Gelombang protes antiperang pun masih berlanjut di sejumlah negara. Sebagain
di antaranya berakhir dengan bentrokan dengan pihak keamanan setempat. Bagusnya,
sebagian kaum muslimin di sekitar Irak; Yordania, Yaman, Suriah, dan Iran ikut
membantu dengan menjadi relawan untuk jihad melawan pasukan agresor pimpinan
Amrik. Kenapa mereka yang masih muda dan tak terlatih yang datang ke medan tempur
itu? Selain (insya Allah) menunjukkan sikap peduli yang sungguh-sungguh, juga
karena pemerintah setempat tidak mengirimkan tentaranya. Tapi insya Allah dengan
kekuatan tambahan itu, meski miskin pengalaman bertempur, tapi pasukan Amrik
dan sekutunya bakal menghadapi aksi ‘pasukan berani mati’ dari para
pemuda Islam yang merindukan syahid.
Hidup mulia dan mati syahid
Sobat muda muslim, tak ada jalan lain bagi rakyat Irak kecuali menyambut pasukan
AS dan sekutunya dengan perlawanan hebat. Karena memang itulah yang bisa dilakukan
saat ini. Dalam kondisi kayak gitu, diam tak berjuang, juga punya peluang dibunuh
tentara koalisi. Apalagi yang berjuang, kemungkinannya sangat besar untuk terbunuh.
But, tentu nilainya berbeda dong. Mereka yang nggak berjihad nggak dapat pahala,
tapi sudah jelas bagi mereka yang berjihad melawan agresor kapitalis ini insya
Allah dapat pahala. Terbunuh sekalipun, syuhada sebagai balasannya. Uenak tenaan…
Untuk masalah ini, dijelaskan dalam hadis Rasulullah saw. : “Barang
siapa mati karena ia membela dirinya, maka ia mati syahid. Dan barang siapa
yang mati disaat membela hartanya, maka ia syahid, dan barang siapa mati untuk
membela kehormatannya, maka mereka syahid” (HR Bukhari jilid
V hlm. 88, HR. Muslim No. 141)
Membela Islam, berarti membela kehormatan dan harga diri kaum muslimin. Kita
nggak rela dong kalo harus mengiba-iba di hadapan orang-orang kafir. Apalagi
mereka udah berani menumpahkan darah kaum muslimin. Wah, itu namanya menodai
kesucian dan merendahkan harga diri umat yang mulia ini. Pokoknya, jangan heran
kalo kemudian kaum muslimin di seluruh dunia marah dan rela menjadi relawan
untuk berjihad melawan pasukan Amrik dan sekutunya yang tengah menginvasi Irak.
Jangan heran pula, jika rakyat sipil Irak ambil bagian dalam perjuangan tersebut,
dengan cara semampu yang bisa mereka lakukan. Aksi ‘kamikaze’ pun
akan dilakukan demi membela kehormatan Islam dan kaum muslimin.
Sobat muda muslim, jangan dipandang bahwa aksi ‘bom bunuh diri’
itu sebagai perbuatan sia-sia. Justru itu adalah sebagai salah satu bentuk dari
upaya membela diri. Dan insya Allah itu bagian dari aktivitas jihad. Jadi, kita
lebih suka menyebutnya sebagai aksi “bom syahid”. Itu sebutan yang
enak didengar. Tul nggak? Sebab, definisi jihad sendiri menurut syara’
adalah “Mencurahkan seluruh tenaga untuk berperang di jalan Allah,
baik langsung maupun dengan cara membantunya dengan harta benda, pendapat, atau
mendukung logistik (perbekalan), dan lain-lain.” (Ibnu ‘Abidin,
Rad al-Muhtar, jilid III/336)
Sebutan “bom bunuh diri” itu kan muncul dari pers asing yang sinis
terhadap aksi berani matinya kaum muslimin. Lagian kalo dipiki-piki (ikutan
Project P he..he..he..), emang aneh kalo ada kaum muslimin yang mau bunuh diri.
Kenapa? Karena bunuh diri, selain tindakan konyol, juga berdosa euy! Suer. Rasulullah
saw. bersabda: “Barangsiapa bunuh diri dengan menggunakan besi yang
tajam, maka alat yang digunakannya itu akan dihunjamkan ke dalam perutnya kelak
di hari kiamat dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi. Barangsiapa bunuh
diri dengan meminum racun, maka kelak dalam api jahanam racun tersebut akan
diminum dengan tangannya; di dalamnya ia kekal abadi. Barangsiapa yang terjun
dari sebuah gunung (tempat yang tinggi) untuk bunuh diri, maka ia akan terjun
di dalam api neraka; di dalamnya ia kekal abadi.” (HR Ahmad,
Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra,
dalam al-Fath al-Kabir III/224)
Adapun aktivitas jihad, seperti aksi bom syahid yang dilakukan saudara kita
di Irak sekarang ini, yang di dalamnya mengandung aktivitas yang dapat menghantarkan
kepada kematian (secara pasti menurut sunatullah) atau berisiko kematian besar
bagi pelakunya, maka hal itu termasuk kekecualian dari keumuman dalil larangan
tentang bunuh diri. Firman Allah Swt:
“Hai Nabi, kobarkanlah semangat kaum mukminin untuk berperang”
(TQS al-Anfâl [8]: 65)
Sobat muda muslim, para ahli tafsir menghubungkan ayat ini dengan sebuah riwayat
yang mengisahkan bahwa sebelum meletus Perang Badar al-Kubra, Rasulullah saw.
telah bersabda:“Bersegeralah (ke suatu tempat) yang di situ kalian
(dapat) meraih surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” Maka Umair
bin al-Humam bertanya, ‘Apakah benar luasnya seluas langit dan bumi?’
‘Ya’, jawab Rasulullah, seraya ‘Umair berkata, ‘wah,
wah, wah (hebat sekali).’ Maka Rasulullah saw. Kemudian berkata, ‘Apa
yang mendorongmu berkata ‘wah, wah, wah’? Jawabnya, ‘Karena
aku berharap menjadi penghuninya’. Maka Rasulullah bersabda, ‘Kamu
pasti menjadi penghuninya.’ Kemudian laki-laki itu memecahkan sarung pedang
lalu mengeluarkan beberapa butir kurma. Memakannya sebagian dan membuang sisanya
seraya berkata, ‘Apabila aku masih hidup sampai aku menghabiskan kurma
tersebut maka kehidupan ini terlalu lama’. Bergegas ia maju ke baris depan,
memerangi musuh (agama) hingga ia mati syahid.” (Shahih Muslim
No. 1901, dan Tafsir Ibnu Katsir II/325)
Yup, kita kudu ngasih semangat kepada rakyat Irak untuk terus berjuang. Pantang
menyerah di hadapan negara-negara kafir imperialis macam Amerika dan Inggris.
Hidup mulia dan mati syahid. Allahu Akbar!
Di sini senang?
Wah, itu namanya aneh bin ajaib kalo kita ngelihat saudara or teman kita digebukin
orang, tapi kita di sini senang-senang. Parahnya, kalo sampe ikut-ikutan nimpukin
saudara kita itu. Wah, maaf-maaf aja ya, kayaknya kudu dirujuk ke rumah sakit
jiwa tuh. Hih!
Sobat muda muslim, aksi protes di negeri kita menyikapi invasi AS ke Irak juga
marak. Hampir tiap hari unjuk rasa berlangsung di sejumlah kota di Indonesia
sejak genderang perang ditabuh Bush dan Tony Blair pada 20 Maret lalu. Namun
yang menyedihkan, di negeri dengan jumlah umat Islam terbanyak di dunia ini,
malah nggak sedikit yang masih cuek bebek aja menyikapi masalah ini. Aneh kan?
Coba aja kamu lihat kondisi masyarakat kita di sini. Aduh, memalukan deh. Para
pengunjuk rasa itu kebanyakan dari mereka yang udah sadar, yang tergabung dalam
ormas atau partai tertentu. Itu pun jumlahnya nggak banyak. Kemana kaum muslimin
lainnya? Adem-ayem aja tuh. Sangat boleh jadi sebetulnya mereka tahu dan sadar
akan masalah ini, tapi yang belum tumbuh adalah keberaniannya. Wah, menyedihkan
dan memalukan banget deh.
Padahal seharusnya, kaum muslimin itu ibarat satu tubuh. Saling merasakan jika
anggota tubuhnya terluka. Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan kaum
mukmin dalam hal kasih sayang, cinta kasih dan pembelaannya bagaikan satu tubuh.
Apabila salah satu anggota tubuhnya merasa sakit (menderita), maka (hal itu)
akan menjalar ke anggota-anggota tubuh lainnya dengan rasa demam dan panas.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Tapi sayangnya, masih banyak kaum muslimin yang merasa tak begitu penting memikirkan
nasib saudaranya di Irak. Kenapa? Karena perasaan itu sudah dihalangi oleh tapal
batas negara. Kita seolah-olah terpisah satu sama lain. Persis sebuah tubuh
yang udah nggak menyatu lagi. Misalnya saja tangan kita lepas dari badan kita.
Maka ketika jempol tangan kita yang lepas itu diinjak orang, dibakar, atau digilas,
pasti bagian tubuh kita yang lainnya nggak bakalan merasakan sakit. Tul nggak?
Nah, perasaan kita itu sudah ‘diceraikan’ oleh sebuah paham bernama
nasionalisme. Memang berbahaya banget ide ini. Sanggup memisahkan kebersamaan
kaum muslimin. Akibatnya, di Irak sana kaum muslimin mengerahkan tenaganya untuk
berlomba mempertahankan negerinya dari seruan agresor AS, di sini malah ada
yang asyik mandi peluh bergoyang Asereje yang sengaja
didatangkan dari negeri asalnya. Masyarakat Jakarta pun larut dalam tarian ngepop
itu di Istora Senayan 2 April lalu. Konon, malah diadu dengan goyang
ngebor Inul. Waduh!
Belum lagi temen-teman remajanya. Banyak yang cuek. Bukan tak mungkin kalo
ditanya, tanggal berapa invasi AS ke Irak dilancarkan pada tahun ini mereka
kagak ngeh. Kelewatan banget kan?
Sekarang aja, di saat rakyat Irak sibuk berjuang, di sini masih banyak yang
nyantai. Bahkan kesannya seperti nggak mau tahu dengan nasib saudaranya sendiri.
Coba, apa iya kamu tega? Hih, bener-benar mengherankan.
Sobat muda muslim, rasanya nggak adil dong kalo kita nggak peduli sama sekali
dengan saudara kita di Irak. Paling minimal dari kepedulian kita itu adalah
dengan mengirimkan doa untuk keselamatan mereka. Syukur-syukur kalo kamu bisa
juga berdakwah menyerukan kepada pemerintah di sini supaya mengirimkan tentaranya
atau memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika. Yup, intinya jangan sampe
kita cuek dengan nasib saudara kita di Irak. Betul??
|