Home   • Profil   • Hubungi   • Testimonial   • RSS
"Sungguh sedikit mereka yang melihat dengan mata mereka sendiri dan merasakan dengan hati mereka sendiri". (Albert Einstein)
»
Photo Kebesaran Alloh SWT
»
Mesjid Penuh Mukjizat
»
Bila Aku Jatuh Cinta
»
Dikala Ragu Akan dirinya
»
Proposal Nikah
»
Doa Harian Ramadhan
 
 
Pencarian  
 
 
Buletin Gaul Islam
25 Juni 2005 - 14:00
Friends Are...       
STUDIA Edisi 250/Tahun ke-6 (27 Juni 2005)
 

Friends are the flowers in the garden of the heart . Saya pernah baca kalimat ini, di satu tempat. Dan saya langsung konek, wah…betul juga yah. Teman adalah bunga-bunga di taman hati, ciee…

Itu bagi saya. Tapi tidak semua setuju lho dengan apa yang saya yakini ini. Ada banyak versi bila saja kita mau bertanya ke orang-orang di sekeliling kita. Ada orang yang baik banget pada temannya, eh ternyata ada maunya. Buat nyontekkin kala ujian, misalnya. Ato buat ngutang saat gak punya duit? Hmm.. bisa juga buat jadi mak comblang waktu naksir incerannya. Kalo dah gak berguna? So , pasti bakal gak mau temenan lagi. Ada uang teman disayang,, gak ada uang teman ditendang. Weleh…weleh… ini nggak baik banget lho.

Orang-orang seperti ini ada banyak di sekeliling kamu. Coba kamu amati. Or , jangan-jangan orang oportunis alias tipe yang cuma cari enaknya aja ini adalah diri kamu sendiri. Waks….semoga bukan ya.

Tau gak gaya berteman kayak gimana yang lagi marak saat ini? Yang paling ngetren banget tuh style berteman yang bisa diajak gaul. Hmm…gaul definisi yang mana dulu neh? Diajak bolos oke? Diajak dugem, ayo aja? Nyoba ngedrugs, juga gak nolak? Pacaran, juga ho'oh aja? Wah, itu gak beres. Buat kamu yang gak mau ngelakuin model gaul yang kayak gitu, bakal dikasih stempel antigaul. Runyam banget kan?

Belum lagi mereka paling ogah temenan sama orang-orang yang bakal negur mereka bila salah. Bolos diingetin, pacaran dilarang, ngedrugs gak dibolehin, dugem paling ogah. Mereka sebel banget kalo diingetin ke arah kebenaran. Diajak sholat alasan lagi M alias Males. Diajak ngaji, bilang gak hobi. Udah deh, susyeh banget temen kayak gitu kalo diajak kepada kebaikan. Trus, gimana dong?

Nyari-nyari teman

Nyari teman emang gampang-gampang susah, apalagi yang baik. Ada teman saya yang tertutup banget orangnya. Usut punya usut ternyata doi kapok percaya sama teman. Karena dulunya doi pernah percaya dan curhat ke temannya itu, tapi malah bocor. Semua orang tahu rahasianya. Jadilah, dia gak mudah untuk mempercayai arti dan keberadaan seorang teman lagi. Putus dah!

Padahal, hidup tanpa teman ibarat bakso tanpa garam. Hambar. Gak ada rasanya. Lagi sedih, nangis sendiri. Giliran senang, ketawa sendiri. Ati-ati aja disangka gila ntar hehe, habisnya gak asyik banget ketawa dan nangis sendiri. Dada terasa sesak. Dunia terasa sempit. Gak ada siapa pun yang bisa kita bagi cerita, suka dan duka kita. Kecian banget kan?

Beda banget dengan mereka yang hidupnya gak pernah sepi dari teman. Ujian gambar gak punya rapido, eh ada yang baik hati minjemin. Istirahat bengong karena gak punya duit, ada yang baik hati nraktir. Saat sedih, ada a shoulder to cry on. Waktu lagi hepi (baca: happy) ada yang diajak berbagi tawa. Seneng banget. Dunia serasa luas dan penuh warna-warni. Iya apa iya? Coba aja!

Tapi ada juga orang yang begitu mudah mendapatkan teman. Di mana pun ia berada, maka dengan segera pula dikelilingi oleh teman-teman. Bagi tipe ini, mencari teman mudah saja seperti membalik telapak tangan. Kontras banget kan dengan tipe pertama tadi yang merasa sulit banget dapat teman, apalagi teman yang baik.

Nah, tipe yang manakah kamu? Pokoknya, tipe apa pun kamu, nyari teman bukan sekadar nyari aja. Tapi kudu benar-benar teman dalam arti sebenarnya, dalam suka maupun duka. Bukan ketika kamu lagi hepi aja teman-teman pada datang. Eh, giliran kena musibah or duka pada ngacir dah. Itu namanya bukan teman sejati, tapi mengkhianati. Males banget kan punya teman kayak gitu? Manyun terus deh!

Tips mencari teman

Mencari teman itu gampang-gampang susah. Kalo kamu salah memilih teman, bukan gak mungkin kamu pun salah dalam melangkah di kehidupan. Karena teman itu adalah cermin diri kita. Kata Rasulullah, bila kamu ingin tahu tentang seseorang, lihatlah siapa yang menjadi temannya. Berarti bagaimana orang lain menilai siapa kita sebenarnya, akan mudah dilihat siapa aja yang ada di sekeliling kita, teman-teman kita. Sabda Rasulullah saw.: “Orang itu mengikuti agama teman dekatnya; karena itu perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat.” (HR Tirmidzi)

Bila yang jadi teman kita adalah tipe suka nyontek, suka gak bayar di kantin sekolah waktu ibu penjual lengah, suka tawuran, malas sholat, sulit menerima nasihat dan kebenaran Islam, maka nilai diri kita juga gak jauh-jauh amat dari sikap-sikap di atas.

Begitu juga sebaliknya, bila yang jadi teman kita adalah mereka yang rajin belajar, jujur, aktivis rohis, hormat pada yang tua, mengayomi yang muda, patuh pada perintah Allah dan RasulNya, maka nilai diri kita juga gak jauh-jauh deh dari yang tersebut itu. Maka benarlah, ponakan saya yang remaja, paling malas berteman dengan tipe yang suka bolos, yang suka ngomong jorok dan gak berguna, urakan, gak patuh sama orang tua. Yup, doi selektif banget dalam memilih teman.

Karena memilih teman tuh ibarat deketan sama penjual minyak wangi or ikan asin. Kalo kamu banyak berteman dengan penjual minyak wangi, kamu bakal kecipratan wanginya. Tapi kalo kamu lebih demen main sama penjual ikan asin, secara otomatis bau kamu jadi amis bak ikan asin (ssttt.. ati-ati, kamu nanti dikejar-kejar ibu-ibu untuk digoreng!)

Kalo kata Aa Gym sih ada tiga tips untuk mencari teman yang baik. Pertama, cari teman yang aman buat kita. Ya iyalah, jangan sampe kamu punya teman tapi bawaannya was-was mulu. Jangan-jangan pas kamu lengah sedikit barang-barangmu langsung raib alias diembat doi. Ih…gak asyik banget.

Kedua, menyenangkan buat kita. Maksudnya teman kita tuh bawaannya asyik aja buat temenan. Jangan malah sebaliknya. Kalo bertemu doi kamunya bawaanya bete mulu dan pingin bertengkar. Ini teman apa musuh sih?

Lalu yang ketiga, bermanfaat buat kita. Maksudnya, yang bisa buat diutangin, dicontekin, dipalakin, gitu? Ya nggaklah, Non. Bermanfaat maksudnya ada efeknya kita temenan sama doi. Kita yang semula malas belajar jadi terpacu untuk rajin. Yang semula malas ke pengajian jadi saling berlomba dalam kebaikan. Pokoknya bermanfaat di dunia dan juga di akhirat deh. Mau kan?

Seperti kata Rasulullah, kita nanti akan dibangkitkan dengan orang-orang yang kita cintai. Sabda beliau, “Seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang dicintainya” (HR Bukhari dan Muslim dari Anas, Abu Musa, dan Ibnu Mas'ud)

Jadi siapa yang jadi teman kita di dunia, harapannya jadi teman pula di akhirat kelak. Bukankah ketika kita berteman, berarti pada saat yang sama kita mencintainya pula, karena Allah? So , karena cinta itulah kita pasti akan otomatis saling menasihati agar sama-sama bareng ketika dibangkitkan dan bareng pula ketika masuk surga. Asyik banget kan?

Berteman ala Rasulullah

Tau nggak kamu gimana style berteman teladan kita, Rasulullah saw.? Nih yah rahasianya, setiap temannya selalu merasa menjadi satu-satunya yang paling istimewa di depannya. Beliau hapal satu demi satu nama dan keberadaan sahabatnya. Ketika salah seorang sahabat beliau ada yang gak terlihat pas sholat berjamaah, beliau menanyakannya. Ternyata sakit. Maka dikunjunginya sahabatnya itu dan didoakannya agar cepat sembuh.

Karena kesetiaan Rasulullah yang sedemikian terhadap sahabat-sahabatnya, maka gak heran kalo sahabatnya sendiri juga begitu setia dan cintanya pada beliau. Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang jelas-jelas merupakan orang terpandang di kabilahnya, rela mengikuti Rasul hijrah dan memilih bersusah-payah dalam kesetiaannya berteman.

Ketika dalam perjalanan hijrah, Abu Bakar belum memperbolehkan Rasulullah masuk gua sebelum dibersihkannya tempat itu dan yakin tak ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan beliau dalam beristirahat.

Begitu juga Umar bin Khaththab. Kalo ada musuh yang mencari Muhammad untuk dibunuhnya, beliau yang maju lebih dulu untuk menghadapi. Jangankan musuh, alkisah setan pun sangat takut pada Umar bin Khaththab karena kekuatan dan keimannya.

Ada yang lebih hebat lagi neh. Ketika satu malam terdengar kabar bahwa Rasulullah akan dibunuh waktu tidur malam, Ali bin Abu Thalib, yang masuk Islam waktu umurnya masih sangat imut itu, malah meminta menggantikan untuk tidur di pembaringan Rasulullah dan meminta beliau untuk segera menyingkir. Bayangkan, menggantikan posisi seseorang yang sudah begitu matang dipersiapkan untuk dibunuh. Allah masih melindungi Ali sehingga sebelum pedang dihunuskan, musuh masih sempat membuka kain selimut yang menutupi tubuhnya. Ternyata Muhammad sudah tak ada dan digantikan Ali. Hmm... kamu sanggup gak berkorban kayak Ali?

Belum lagi sahabat-sahabat Rasulullah yang lainnya. Ketika jihad membela agama Allah, para sahabat-sahabat itu rela menjadi tameng hidup bagi Rasulullah. Mereka rela mati syahid asalkan Rasulullah, sahabat yang mereka cintai selamat. Bayangkan kalo persahabatan kamu bisa seindah ini. Oke bangat kan? Iya gak?

Nah, bagaimana dengan style pertemanan yang kamu jalani selama ini? Kadang, jangankan setia hingga titik darah penghabisan, ada teman sakit paling juga lupa untuk menjenguk. Ada teman yang gak masuk sekolah juga gak bakal tahu kalo gak mau nyontek PR-nya aja. Ehm, ngaku aja deh. (sori bukan nuduh lho, tapi siapa tahu emang faktanya ada)

Persiapkan dirimu jadi seorang teman

Setelah tahu bagaimana style Rasulullah dan beberapa sahabatnya dalam berteman, pengen gak sih kita mencontoh beliau-beliau itu? Mungkin sebagian dari kamu berpikir, “Kayak mimpi aja hari gini mo nyari model teman kayak gitu”.

Jangan pemisis dulu, ada kok orang-orang yang begitu setia dan baik sama temannya. Asal satu hal yang harus ada ketika kita menjalin pertemanan itu, yaitu untuk mencari RidhoNya. Berteman karena Allah menjadi jaminan bagi kita untuk mendapatkan teman berkualitas seperti jamannya Rasulullah saw. dan para sahabatnya. Insya Allah. Oke?

Tapi kamu jangan hanya berharap mendapat teman yang baik aja. Kamu sendiri juga harus memacu diri untuk bisa menjadi teman yang baik bagi semua teman-temanmu. Tempa diri kamu jadi sosok teladan agar pantas mendapat teman yang baik lagi setia. Bukankah siapa pun yang jadi teman kita adalah cermin diri kita? Bila kita baik dan setia maka yang jadi teman kita juga baik dan setia, begitu juga sebaliknya. Itu namanya kompak.

Intinya, mulailah dari diri kamu sendiri untuk menjadi seorang teman yang baik dan setia bagi teman-temanmu. Jadikan nilai dirimu selalu membawa kebahagiaan dan hikmah bagi teman-temanmu. Jangan hanya bisa menuntut, tapi beri contoh lebih dahulu bagaimana seharusnya kita berteman dan untuk apa gunanya. Bukan semata asas manfaat, tapi semata-mata karena Allah dan karena memang Islam memerintahkan demikian.

So , nggak usah pesimis ya. Yakin bahwa kualitas teman yang kamu punya berbanding lurus dengan kualitas diri kamu juga. Semakin oke kualitas kamu, semakin bagus juga teman yang menghampirimu. Tapi, teman yang kurang baik juga jangan ditinggalkan. Mereka inilah yang butuh sentuhan pertemanan kita. Butuh ketulusan kita untuk mendakwahi mereka agar sama-sama berjalan sesuai syariatNya.

Oya, berteman dengan mereka yang masih jauh dari nilai Islam memang kudu ati-ati. Kalo gak kuat prinsip dan mantep imannya, bisa kebawa lho. Suer . Itu sebabnya, memang kudu waspada. Gaul boleh, syukur-syukur bisa ngajak mereka untuk melakukan amal shaleh.

Nah, kalo udah begini, siapa bilang cari teman baik itu susah? Gak jaman lagi! Yuk ayuk cari teman sebanyak-banyaknya agar hidup jadi lebih berwarna. [riafariana]

 
 
(Dibaca: 8471 kali | Dikirim: 43 kali | Print: 122 kali | Nilai: 8.00/1 votes )
 

Baca juga :
 
Untuk berlangganan Buletin GAUL ISLAM edisi cetak atau ingin konsultasi dan kirim komentar silahkan hubungi 0812-8841181 (Redaksi).
  Network : dijual.net | tempatpromosi.com | cyberdakwah.net
Copyright © 2001 - 2018, Dudung Abdussomad Toha