| Pemilihan "Gadis Sunsilk 2001" baru saja usai 23 Januari 2002 lalu
di Plenary Hall Jakarta Convention Center. Ada rasa suka, bangga, dan juga haru
dari mereka yang berhasil meraih kemenangan. Lima dari sekian puluh, ratus,
bahkan mungkin ribu ABG putri yang "melamar" untuk menjadi "Gadis
Sunsilk 2001" berhasil menjadi pemenangnya. Hmm… kalo kamu kebetulan
nonton siaran tunda ajang itu di salah satu televisi swasta, mungkin kamu bisa
ngeliat gimana senengnya teman kita yang jadi pemenang kontes itu. Bukan tak
mungkin bila kemudian ada juga di antara kamu yang terlibat secara emosi. Misalnya,
ikut merasakan kesenangan itu. Ujungnya, boleh jadi kamu pengen nyoba tahun
depan untuk ikutan lomba itu. Siapa tahu kan?
Sobat muda muslim, setiap orang butuh yang namanya penghargaan. Siapapun ia.
Sebab, seperti yang udah kita ketahui, bahwa manusia punya potensi hidup berupa
naluri. Salah satunya adalah naluri mempertahankan diri. Wujudnya bisa berupa
ingin dihargai, ingin dianggap eksis dalam kehidupan ini. Pokoknya, nggak mau
cuma dianggap sebagai bilangan doang, tapi sekaligus pengen diperhitungkan juga.
Tul nggak? Rasanya nggak ada deh di dunia ini, orang yang pengen direndahkan
atawa dipandang sebelah mata oleh orang lain. Hampir semua orang ingin dihormati,
dihargai, bila perlu disanjung dan dipuja.
Itu wajar dan manusiawi. Kamu suka marah nggak kalo kebetulan temen sekolah
kamu tiba-tiba menjitak kepala kamu? Pasti deh kamu bakalan murka bin sewot
besar. Bisa-bisa urusannya "tahlilan" nih. Soalnya itu udah menyangkut
harga diri kamu. Beralasan dong kalo kemudian kamu mau ngajak duel sampe titik
darah yang penghabisan sama orang or temen yang menjitak kepala kamu itu. Harga
diri emang di atas segalanya. Itu sebabnya pula, sampe-sampe orang Jepang terkenal
dengan aksi "harakiri"-nya. Dalam tradisi mereka, pantang untuk mengalah.
Harakiri adalah sebuah kehormatan dalam pandangan mereka. Hmm, memang mahal!
Nah, dalam kasus ini juga hampir sama alias mirip. Kamu bisa lihat dan mungkin
merasakan kalo sampe dipuja dan dikagumi banyak orang. Senang kan? So pasti,
perasaan mereka juga nggak jauh bedalah sama kamu. Seneng kalo sampe dirinya
dikagumi, dihormati, dihargai, dan yang pasti, diberikan tempat khusus dan menyandang
gelar, "Gadis Sunsilk 2001". Wuih, siapa yang nggak seneng?
Pasti deh seneng banget. Maklum, untuk meraih predikat itu, udah berapa banyak
waktu yang ia habiskan, entah sudah berapa harga pengorbanan materi dan juga
tenaga yang dikeluarkan untuk itu. Jadi emang, untuk menyandang gelar seperti
itu bukan perkara mudah. Wajar aja kalo kemudian rasa senang langsung memenuhi
seluruh ruang dalam jiwanya begitu diumumkan bahwa dirinya dinobatkan sebagai
pemenang.
Apalagi kemudian diimingi-imingi dengan begitu banyak peluang yang bisa dicoba
untuk mengembangkan karir dalam hidup kamu. Peluang jadi presenter, model, bintang
iklan, praktisi event organizer, sampe tawaran untuk main sinetron atawa main
film, dan tentu, berjuta peluang lainnya. Pokoknya, dibikin seheboh mungkin.
Cara pintar jadi bintang?
Hmm, sebelum acara pemilihan "Gadis Sunsilk 2001" digelar, iklannya
bener-bener heboh. Misalnya aja ada klip iklan yang menayangkan para mantan
pemenang pemilihan ajang tersebut dari tahun sebelumnya. Tentunya yang udah
sukses meniti karir, dong. Misalnya aja iklan yang menampilkan profile Mbak
Yulia. Apalagi komentar-komentarnya bikin penasaran yang denger. Seperti, "Sunsilk
imagenya bagus, membuat kita lebih percaya diri. Setelah ikutan pemilihan, banyak
terbuka peluang, misalnya ditawarin main sinetron. Aku dapat memilih peran,
tapi tetap perannya disesuaikan dengan image SunSilk" kata presenter infotaiment
"Otista" itu.
Walah, siapa yang nggak tergiur dikasih peluang begitu. Itu sekadar contoh
bagaimana orang kemudian memanfaatkan jalan ini untuk menjadi bintang terkenal.
Pokoknya banyak yang bilang, inilah cara pintar jadi bintang. Paling nggak inilah
kenyataannya. Dan itu banyak diungkap oleh para mantan kontes tersebut. Mbak
Yulia salah satunya.
Sobat muda muslim, jadi bintang boleh jadi memang merupakan tujuan 'mulia' para
kontestan pemilihan "Gadis Sunsilk 2001" dan juga ajang sejenis. Tentu
bintang yang dimaksud adalah yang berhubungan erat dengan dunia selebriti. Sebab,
saat ini rasanya sulit banget nyari orang yang ingin tampil sebagai ilmuwan
misalnya.
Oya, karena tujuannya jelas untuk menjadi bintang, maka tentu saja syarat pertama
agar bisa ikut diseleksi adalah yang punya wajah cantik dan fotogenik. Tahu
kan fotogenik? Ya, oke untuk dipotret. Itu artinya pula bagi yang wajahnya PPD
alias Pas Pas Deh, harap minggir. Apalagi bagi yang punya tampang fotogeuneuk
alias kalo difoto deket sumur, ya, mirip sumur gitu (huahaha). Uppss, sori.
Jadi, kalo kamu kebetulan punya tampang yang masih boleh dibilang kurang menarik,
dalam aturan dunia model harap mengundurkan diri saja dari persaingan. Kejam
amat ya? L L
Sobat muda muslim, kontes atawa ajang beginian, sebetulnya memang udah diciptakan
sebagai sarana untuk menuju tangga popularitas. Dengan kata lain, bagi mereka
yang menang kudu siap mental untuk tenar. Tapi pertanyaannya, bahagia dan puaskah
kita dengan ketenaran seperti itu? Rasanya, kalopun puas atawa bahagia, itu
hanya sesaat dan tentunya semu. Ini kalo menurut kacamata Islam, lho. Dan memang
hanya inilah standar penilaian yang kudu kita gunakan. Bukan yang lain. Dalam
pandangan Islam, makna kebahagiaan adalah tercapainya ridho Allah. Bukan banyaknya
materi atau pujian dari orang atas ketenaran kita. Bukan, bukan itu. Lagipula,
kegiatan seperti itu hanya menumbuhkan semangat konsumtif dan kehidupan yang
salah arah. Salah arah? Iya, soalnya melenceng dari dari tujuan hidup seorang
muslim. Udah gitu…
Nggak produktif!
Acara semisal dengan pemilihan "Gadis Sunsilk" sebetulnya udah banyak
digelar. Sebut saja misalnya kontes pemilihan "Gadis Sampul" sebuah
majalah. Atau yang lebih keren dikit, pemilihan Abang-None atawa Mojang-Jajaka.
Mau yang lebih tinggi juga ada, sebut saja misalnya pemilihan "Putri Indonesia",
"Miss Asia", bahkan "Miss Universe". Namun, ada pertanyaan
besar dari kita, produktifkah kegiatan itu? Misalnya jika dibandingkan dengan
kontes untuk pemilihan remaja kreatif dan inovatif di bidang iptek. Wow, tentunya
kamu bisa jawab sendiri dong.
Sayangnya, di negeri ini ternyata masih banyak orang yang suka untuk berleha-leha.
Masih banyak orang yang doyan untuk nyantai, dan juga banyak yang tetep getol
untuk hidup seadanya. "Seadanya" dalam pengertian merasa puas dengan
yang sudah diraih. Padahal adakalanya hal itu belum bisa disebut maksimal. Lucunya
lagi, kadang kita suka foya-foya untuk kegiatan yang miskin manfaat. Tapi suka
seret banget kalo harus mengeluarkan dana dan tenaga untuk kegiatan yang full
manfaat. Coba aja kamu perhatiin deh. Apakah selama ini ada sebuah ajang besar
dan diekspos gede-gedean, tentang LKIR (Lomba Karya Ilmiah Remaja) misalnya,
belum pernah kan? Padahal itu salah satu kegiatan yang produktif dan inovatif.
Kita juga heran. Suer. Kenapa ajang yang sebetulnya nggak ada manfaatnya buat
kemajuan bangsa kok digelar dan diekspos besar-besaran. Dan tentunya pula untuk
semua itu kudu pake uang, bukan daun. Sekali lagi, uang. Bayangkan bila uang
yang digunakan untuk mendanai kegiatan itu disalurkan untuk pengembangan iptek.
Rasanya bangsa ini tidak harus terus menyandang gelar "abadi" sebagai
sebuah negara terbelakang.
Di Jepang saudara-saudara, anak-anak dan remajanya sudah dirangsang untuk berpikir
produktif. Misalnya, pernah ada kontes untuk membuat robot. Nah, yang seperti
ini jelas akan bisa membangkitkan daya imajinasi dan fantasi anak-anak dan remaja.
Tentu saja hal itu adalah jenis kegiatan yang tidak saja produktif, tapi juga
tepat guna dalam menyalurkan atau membelanjakan uang.
Yuk, berlomba dalam kebaikan!
Setiap orang biasanya menginginkan begitu banyak yang bisa ia raih. Malah,
adakalanya harus mengorbankan segalanya; waktu, tenaga, uang, dan mungkin nyawa.
Ia berharap itulah kemuliaannya. Namun jangan salah, standar "kemuliaan"
seseorang dengan yang lainnya bisa berbeda hanya karena berbeda cara pandang.
Seorang maling rela mempertaruhkan nyawanya demi sebuah "profesi"
yang ditekuninya. Mungkin ada sebuah kebanggaan pula jika bisa lolos dari kejaran
massa atawa polisi. Seorang pengemban dakwah pun rela menukarkan tenaga dan
nyawanya demi berjuang di jalan Allah. Bahkan ada rasa puas dan bangga bisa
menyampaikan ajaran Islam ini kepada orang lain. Meski acapkali kudu berhadapan
dengan orang yang tidak suka kepadanya. Bisa dengan membencinya, karena ia dianggap
oleh orang tersebut telah membawa ajaran yang membuat hidup nggak bisa bebas.
Ini jelas sudut pandang tentang "kemuliaan" yang berbeda. Tapi mana
yang mulia? Kita butuh standar penilaian yang pasti. Yakni Islam. Menurut Islam,
yang mulia itu tentunya yang sesuai dengan ajaran Islam. Bukan penilaian atas
dasar hawa nafsu.
Nah, berkaitan dengan amal perbuatan kita ini, tentu kita kudu berupaya agar
amal kita adalah amal yang baik. Dan jangan lupa, berlombalah dalam kebaikan.
Firman Allah Swt.:
Maka berlomba-lombalah kamu (dalam) menger-jakan kebaikan; (TQS al-Baqarah
[2]: 148)
Rasulullah saw. juga bersabda: "Bersegeralah menunaikan amal-amal kebajikan.
Karena, saatnya nanti akan datang banyak fitnah, bagaikan penggalan malam yang
gelap gulita. Betapa bakal terjadi seseorang yang di pagi hari dalam keadaan
beriman, di sore harinya ia menjadi kafir. Dan seseorang yang di waktu sore
masih beriman, keesokan harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya dengan komoditas
dunia." (HR Bukhari dan Muslim)
Sobat muda muslim, sungguh kasihan, ternyata banyak remaja putri lebih tertarik
untuk ikut kontes atawa ajang pemilihan semacam "Gadis Tiara Sunsilk 2001"
ketim-bang berlomba dalam amal kebaikan. Terus terang sedih banget, sebab ternyata
banyak teman remaja putri kita justru berlomba dalam amal yang nggak ada manfaatnya
sama sekali untuk perkembangan syiar Islam. Sebaliknya malah mengembangkan syiar-syiar
kemaksiatan. Gaswat bener. Bener-bener gaswat! J
Kita hidup di dunia ini sementara kawan. Dan itu kita udah yakin, bahwa kamu
tahu soal ini. Itu sebabnya, kita cuma ngingetin, bahwa jangan sampe membiarkan
hidup di dunia ini penuh dengan amalan yang nggak ada gunanya, apalagi selalu
bermaksiat. Ih, naudzubillahi min dzalik. Allah Swt. berfirman:
Barangsiapa berbuat kebajikan seberat zarah, niscaya akan dilihatnya (dalam
catatan amalnya) Dan barangsiapa berbuat kejahatan seberat zarah, niscaya akan
dilihatnya (dalam catatan amalnya) (TQS az-Zalzalah [99]: 7-8)
Oke, khusus buat temen remaja putri, kita berharap semoga kamu nggak tergoda
untuk ikut kontes seperti itu dan yang yang sejenisnya. Nggak bermanfaat, nggak
produktif, dan yang pasti hanya memberikan peluang untuk berbuat kemaksiatan.
Prestasi hidup ini tak bisa hanya diukur dengan ketenaran, pekerjaan mapan,
juga keindahan tubuh. Nggak. Lagipula, kita nggak harus punya rasa memiliki
model kehidupan seperti itu. Sebab, tradisi kehidupan kaum mulimin adalah belajar,
berdak-wah, dan berjuang untuk kemuliaan Islam.
Akhirnya, kita berharap juga semoga aparat dan pejabat di negeri ini lebih
banyak memberikan perhatiannya kepada peningkatan SDM yang benar dan baik, bukan
kepada sesuatu yang justru merendahkan martabat manusia itu sendiri. Wallahu'alam
____________________
Buletin Studia Bogor Edisi 083/Tahun ke-3
|