| Remaja mana sih yang nggak kenal en suka dengan film remaja baru berjudul Meteor
Garden (Liu Xing Hua Yuan), yang ditayangkan Indosiar setiap Senin malam?
Hmm.. kayaknya kalo kamu diminta untuk nyebutin tokoh-tokohnya, nyaris semuanya
pada apal. Film adaptasi dari komik laris Jepang berjudul Hana Yori Dango
(Flower Boys) ini diubah jadi serial drama remaja. Hasilnya, ternyata jadi
fenomena baru untuk tayangan drama remaja di Taiwan, Cina dan Hong Kong. Uniknya
lagi, berkat serial 19 episode (awal) ini, muncul boys band bentukan baru, F4
(Flower Four) dengan popularitas di awang-awang.
Pastinya kamu udah pada akrab juga dong dengan nama-nama beken seperti Vic
Chou, Jerry Yan, Vaness Wu dan Ken Zhu. Yup, mereka adalah empat pemuda
yang merasakan nikmatnya disanjung, dipuji dan diidolakan remaja se-Asia. Mereka
telah menyisihkan sedikitnya 1.000 pesaing dalam audisi mencari bintang Meteor
Garden.
Meteor Garden bertutur tentang Shan Cai atau Sao Cai (Xu En Ai)
yang ngebet banget pengen masuk sekolah elit yang didirikan anak-anak orang
superkaya. Di antaranya adalah Dao Ming Shi (Jerry Yan), Hua Ze Lei (Vic
Chou), Xi Men (Ken Zhu) dan Mei Zuo (Vaness Wu).
Dalam satu kesempatan, Sao Cai bertemu dengan Dao Ming. Sayangnya,
Sao Cai menolak cinta Dao Ming. Ia lebih menyukai Hua Ze Lei.
Hua sendiri menyukai Teng Tang Jing. Lha, jadi bingung kan?
Nah, cinta segi empat inilah yang menjadikan jalinan cerita Meteor Garden
begitu disuka banyak remaja. Sukses di Taiwan, Meteor dilempar ke pasaran
Asia lainnya dan mendapat sambutan yang tak kalah hangat. Di Singapura, pada
jam tayang Meteor Garden gadis-gadis remaja sudah duduk anteng di depan
televisi untuk menyaksikan aksi Jerry, Vic, Ken dan Vanness versus San Chai.
Di Hongkong para penggemar berat Meteor Garden menyerbu kios-kios penjualan
asesoris bergambar tokoh-tokoh Meteor Garden. Tak heran pula jika kemudian
Meteor Garden dinobatkan sebagai drama terpopuler di Hongkong.
Hebohnya lagi, setelah Meteor Garden ikut ditayangkan di Indosiar, berarti
menambah daftar penggandrung film ini. Yup, remaja Indonesia pun kini begitu
gandrung dengan film mandarin yang satu ini, menyusul teman-temannya di Cina,
Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Bener-bener bikin heboh!
Tema percintaan dan pergaulan ini emang jadi senjata andalan dalam film ini.
Udah gitu, theme song-nya juga oke punya. Utamanya bagi teman-teman yang lagi
lengket sama yayangnya. Simak aja potongan lirik lagunya yang bikin gimanaaa...
gitu. Seperti lagu Qing Fei De Yi (Mengelak Cinta). Yang kayak gini nih,
nan yi wangji chu zhi jian ni (sulit melupakan jumpa pertama denganmu)/yi
shuang mi ren de yanjing (sepasang mata yang penuh misteri)/zai wo nao hai li
ni de shen ying (masih terlintas di benakku bayangan dirimu)/hui san bu qu (tak
bisa pupus)/mo ni de shuangshou (saat kusentuh kedua tanganmu)/ganjue ni de
wenrou (saat kurasakan hangatnya ciumanmu). Walah, rasakan degup jantungmu
yang berdetak dua kali lebih kenceng! Zwing, dak-dik-duk!
Meteor Garden emang sebuah fenomena baru film drama remaja, yang dikemas
amat apik dan jeli melihat pasar. Dan lucunya, di tengah popularitasnya yang
memuncak itu, ada saja pihak yang memanfaatkan kesuksesannya. Itu sebabnya,
nggak heran kalo ada yang bilang bahwa film ini udah dicontek abis sama sinetron
buatan Prima Entertainment yang tayang di SCTV, yakni Siapa Takut Jatuh Cinta.
Film ini, oleh banyak pemirsa ABG, disebut-sebut nyontek abis Meteor Garden.
Siapa Takut Jatuh Cinta, dengan bintang Leony, Indra, Bertrand, dan lain-lain
yang menjiplak habis-habisan serial asal Taiwan Meteor Garden. Mulai
dari cerita, pemain, bahkan gaya pakaian pun ditiru.
Sebenarnya meniru atau tidak memang masih belum jelas. Tapi bagi kita bukan
itu persoalan pentingnya. Sebab, terlepas dari itu semua, kita coba kritisi
dari sudut yang berbeda. Yakni, soal cinta dan pergaulan remaja yang ditampilkan
dalam film Meteor Garden, juga termasuk dalam sinetron Siapa Takut
Jatuh Cinta. Jadi kita menilai muatan gaya hidup yang ditampilkannya. Tul
nggak sobat?
Budaya pop
Bagi remaja, tampil gaul dan ngetren adalah fardhu. Nah, budaya pop yang lagi
ngetren saat ini adalah tentang pergaulan, cinta, dan fenomena bintang idola.
Maka nggak heran dong kalo film-film dan nyanyian bertema pergaulan remaja laris
manis diserbu penggemarnya.
Sekadar tahu saja, menurut laporan Tabloid Bintang Indonesia edisi online-nya,
boyband bentukan dari film Meteor Garden, F4 mampu menembus bursa musik
di Taiwan. Sebagai pendatang baru, grup boyband F4 yang beranggotakan empat
jejaka muda tegap ganteng ini, luar biasa fantastis. Cuma dalam tempo 6 bulan
kwartet ini sukses menyedot perhatian publik Taiwan dan "memaksa"
seluruh media hiburan mau tak mau menyajikan segala pemberitaan yang berkaitan
dengan mereka. Apa saja sajiannya pasti ditelan habis-habis. Bahkan model rambut
mereka yang gondrong pun jadi tren anak muda.
Bayangin aja, baru beredar tujuh jam, angka penjualan menembus 100 ribu kopi.
Belum lagi konser yang mengundang puluhan ribu penonton. Pernah juga acara jumpa
fans mendadak batal akibat massa membludak. Mereka yang gagal antre untuk minta
tanda tangan, berani membeli nomor urut seharga 6 ribu dolar Taiwan sekadar
bisa tatap muka.
Dalam waktu 6 bulan, grup ini sukses meraup omset 150 juta dolar Taiwan. Dagangan
seheboh ini di musim ekonomi paceklik, jelas bikin kaget para petinggi Sony
yang mengontraknya. Apalagi F4 bukan siapa-siapa dibanding Emil Chou, Richie
Ren, atau Jimmy Lin yang sudah beken. Dalam sekejap mereka jadi idola baru.
Kalau mengutip media sana, kehadiran F4 memberi angin segar bagi remaja sana
yang kehilangan idola selama 10 tahun terakhir. Bahkan, mereka menyebut F4 sebagai
SMAP-nya Taiwan. Tahu kan SMAP, itu band beken asal negeri Sakura. Heboh bener,
ya?
Apa sih yang jadi daya tarik empat pemuda tampan ini? Tentu saja, seperti personel
boyband lain di berbagai negara, penampilan jadi faktor utama. Wajah tampan,
tarian seragam dan balutan kostum yang cukup aduhai menutupi postur atletis
menjadi pemandangan yang sedap dipandang mata. Daya tarik inilah yang membuat
ribuan remaja penggemarnya rela berjejal-jejal untuk menyaksikan mereka dari
dekat dalam setiap acara konser ataupun jumpa penggemar.
Tragisnya, fenomena itu nggak cuma nyetel dengan remaja Taiwan aja, tapi udah
lengket masket ama gaya hidup sebagian besar remaja muslim di Indonesia. Yup,
budaya pop memang selalu begitu. Mengimbas siapa saja yang cenderung nggak punya
daya tawar. Artinya, main telen aja sesuai dengan selera masing-masing. Bagi
remaja model begitu, dunia ini adalah persoalan menjual dan membeli. Nggak peduli,
apakah yang dijajakannya rusak atau mulus. Yang penting, ngetren dan gemerlap.
Kalo nggak berusaha "tune in", bakalan ketinggalan kereta tuh. Walah?
Sobat muda muslim, terus terang aja kita prihatin dengan fenomena ini. Kita,
remaja muslim, yang seharusnya mewarnai kehidupan ini dengan Islam, ternyata
banyak di antara kita yang justru mewarnai kehidupannya dengan gaya hidup di
luar Islam. Pacaran, seks bebas, juga narkoba. Menyakitkan sekali. Sebab, kita
nyaris sudah tak punya lagi harga diri dan citra diri sebagai remaja muslim.
Apa sekarang harga diri dan citra diri islami bukan lagi kebanggaan setiap remaja
muslim? Rasanya nyesek banget kalo jawabannya "iya". Itu artinya kita
udah kalah perang. Meski masih hidup, tapi seperti kata Bung Ebiet G. Ade, kita
itu seperti mati dalam hidup. Kebayang nggak sih, walah?
Iya dong. Sebab, udah nggak punya lagi identitas diri yang bisa dijadiin sebagai
ukuran keberadaan dan kebanggaan seorang muslim. Celaka banget kan? Itu dia,
yang bikin kita-kita ketar-ketir nyaksiin tingkah sebagai besar teman-teman
remaja muslim. Kalo dibiarkan, bisa tambah ruwet sayang. Suer, apa nggak ada
teladan Islam yang bisa dijadikan contoh?
Padahal, kita adalah umat yang mulia. Bahkan Allah telah meridhoi Islam sebagai
agama kita. Nggak layak dong kalo berbuat seperti mereka-mereka yang telah dihinakan
oleh Allah Swt. Firman Allah Swt.:
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu." (TQS
al-Mâidah [5]: 3)
Jangan latah!
Derasnya arus informasi yang datang silih berganti bagai gelombang ini, bukan
tak mungkin bakal menghadirkan petaka. Akibat yang sudah jelas kentara adalah
sebagian dari kita hanyut terbawa budaya yang mendominasi kehidupan kita. Seluruh
aktivitas yang kita lakukan, adalah wujud dari perilaku pembawa budaya tersebut.
Raga boleh berbeda, tapi pikiran bisa sama dengan pikiran para pengusung budaya
pop Barat. Nama bisa islami, tapi sayang jiwanya udah sesuai dengan gaya hidup
yang dijajakan Barat. Jangan sampe deh. Naudzu billahi min dzalik!
Bener sobat, meski dalam contoh kasus adalah film Taiwan, Meteor Garden,
pun sinetron lokal Siapa Takut Jatuh Cinta, tapi nggak ada bedanya dengan
film-film buatan Hollywood. Yakni menjajakan gaya hidup sekularisme, khas ideologi
kapitalisme. Bertentangan dengan Islam? Jelas dong.
Budaya yang dibangun dari sebuah kerusakan, maka hasilnya juga nggak jauh-jauh
amat dari kerusakan. Budaya percintaan dan pergaulan bebas remaja yang ditampilkan
dalam Meteor Garden dan juga termasuk dalam Siapa Takut Jatuh Cinta
adalah jiplakan asli dari gaya hidup Amrik. Bener lho. Dan yang menggandrunginya
saat ini adalah remaja Islam. Menyedihkan banget, sobat.
Sobat muda muslim, agak aneh memang. Kita ini suka latah ikut-ikutan dengan
gaya yang lagi tren. Celakanya, adakalanya nggak ngerti dengan apa yang sedang
dilakoninya. Wah, itu sih kayak kerbau dicocok hidungnya dong? Bener. Sebagian
teman remaja ada juga yang tampil bak idola mereka (baca: njiplak abis).
Sebagai sebuah hiburan, Meteor Garden emang punya pesona. Tapi hati-hati
sobat, sebab tidak semua yang indah dan gemerlap itu menghadirkan kebaikan.
Bukan tak mungkin justru malah menghadirkan bencana. Emang sih, nggak langsung
terasa akibatnya. Tapi kan, lambat laun, kamu pun akan bersikap seperti tokoh
idola kamu dalam film tersebut. Sebab, kalo pemahaman udah nyetel dalam diri
kamu, maka tingkah lakumu pun akan match banget dengan pemahaman kamu tentang
sesuatu. Bahaya kan?
Inilah yang kita khawatirkan. Memang, itu hanyalah tontonan, tapi bukan berarti
boleh ditelan mentah-mentah setiap gaya hidup yang ditampilkan di sana. Tepatnya,
kita kudu punya filter (cieee...). Iya, jadi kita bisa memilih dan memilah.
Mana yang baik, dan mana yang buruk. Yang baik kita ambil, yang buruknya kita
tendang jauh-jauh. Gampang kan?
Jadi mulai sekarang bentengi diri kamu dengan ajaran Islam. Kalo belum? Mari
kita benahi bersama. Nggak ada alasan untuk malas mengkaji Islam. So, semarakkan
masjid-masjid dan sekolah dengan kajian Islam. Masuk akal kan? Mari berjuang
sobat! Tinggalkan maksiat!
_____________________________
Edisi 097/Tahun ke-3 (13 Mei 2002)
Untuk berlangganan Offline kirim email ke redaksi@studia.i-p.com
Atau telpon ke 08129565470 ( Oleh Sholihin )
Milis : buletin-studia@yahoogroups.com
|