| Tragedi pendidikan kembali terjadi. Dunia pendidikan kita berlumur
darah. Yup, kejadian di awal bulan September 2003 ini telah merenggut nyawa
seorang mahasiswa yang ‘dipermak’ seniornya. Seperti yang udah rame
diberitain, Wahyu Hidayat, praja (mahasiswa) tingkat II Sekolah Tinggi Pemerintahan
Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor, Sumedang tewas dianiaya seniornya.
Wahyu meninggal dunia setelah disebut-sebut mendapat tindak kekerasan
dari para seniornya. Ada beberapa versi tentang penyebab kematiannya. Di antaranya
korban dianggap telah melecehkan seniornya karena tidak hadir saat upacara 17
Agustus lalu, mewakili kontingen Jabar. Anak Bogor itu kemudian ‘dibina’
hingga tewas oleh para seniornya yang tergabung dalam kontingen tersebut (suaramerdeka.com,
6 September 2003).
Menurut sumber resmi Pikiran Rakyat, menyebutkan bahwa Wahyu Hidayat dianiaya
para seniornya setelah Wahyu tidak ikut serta dalam acara sowan ke gubernur
di Gedung Sate, Bandung. Rupanya ketidak-hadirannya itu dianggap pelecehan oleh
praja lainnya.
Maka pada Selasa (2/9) malam, berbarengan dengan pengumuman praja
baru (angkatan 2003), rupanya ada tindakan ‘hukuman’ untuk Wahyu
Hidayat. “Pemberian hukuman itu berlangsung cukup lama sekitar tiga jam
dari pukul 11 malam sampai 2 dini hari (3/9). Waktu itu yang memberikan hukuman
cukup banyak, mungkin 50 orang. Kejadian itu berlangsung di sebelah timur balairung.
Entah apa yang berlangsung, yang jelas pada dini hari itu ada ambulans dari
sini yang berangkat ke RS Al-Islam," ucap sumber tersebut (pikiran-rakyat.com,
7 September 2003).
Oke deh, terlepas dari versi mana yang benar, yang jelas Wahyu Hidayat udah
‘pensiun’ dari dunia ini. Tentu menyisakan luka yang dalam bagi
keluarganya di Citeureup, Bogor ini.
Sobat muda muslim, Kang Wahyu ini emang bukan korban pertama
akibat tindak sewenang-wenang seniornya di STPDN. Tiga tahun yang lalu kasus
serupa terjadi di kampus yang sama. Tanggal 3 Maret 2000, Erie Rakhman (21),
tewas di RS Al Islam Bandung menyusul hukuman fisik dari tujuh seniornya. Hukuman
fisik berlangsung tanggal 3 Februari 2000, lantaran praja angkatan tahun 1999
itu telat masuk kampus setelah pesiar. Ada tradisi di lingkungan STPDN bahwa
prajamuda yang tak disiplin akan diberi ‘pelajaran’ oleh prajamadya,
atau praja angkatan terdahulu (kompas.com, 12 Juli 2000)
Duh, gawat juga ya? Maksud hati ngasih pelajaran, ternyata malah kebablasan.
Sangat boleh jadi, kalo nafsu udah di ubun-ubun, akal sehat jadi tertimbun.
Hasilnya, main kemplang dan main tendang. Udah gitu pake keroyokan lagi. Idih,
praktik premanisme ternyata berlaku juga di lingkungan kampus ya? Apalagi ini
STPDN, di mana lulusannya hampir bisa dipastikan akan menjadi pemimpin masyarakat.
Entah jadi camat or bupati. Walah, masih jadi praja (mahasiswa) aja udah belagu,
gimana kalo udah jadi pejabat? Kagak pake dah!
Oya, sebenarnya kasus terakhir ini ibarat puncak gunung es aja
dari sebuah kekerasan di dunia pendidikan (masih ada puncaknya lagi nggak ya?
Moga-moga sih ini yang paling puncak). Kalo kamu mau ngebongkar file lama, bisa
ditemukan tuh kasus-kasus serupa ketika masa perploncoan atau istilah kerennya
ospek. Sebut aja kasus tewasnya mahasiswa jurusan Fisika ITB, Zaki Tiffani Lazuardian,
yang tewas akibat perpeloncoan awal Januari 1996. Waduh, mengerikan banget!
Sobat muda muslim, pasti deh semua orangtua punya cita-cita dan
impian ketika anaknya menempuh pendidikan. Apalagi pendidikan tinggi. Mungkin
kamu sering denger nasihat dari ortu kamu ketika kamu akan sekolah, “Sing
jadi jelema!” (artinya: supaya jadi orang). Kita udah ngeh dengan
apa yang dimaksud ortu. Iya dong, karena nggak ada satu pun ortu yang ingin
anaknya jadi preman, bandit, garong, dan maling. Makanya disekolahin tuh. Eh,
nggak tahunya, ke kampus cuma menjemput maut. Tragis banget ya? Ckckckck....
Hapuskan tradisi barbar!
Tradisi plonco, kata Cak Nur, adalah tradisi kolonial. “Asalnya dari Eropa.
Dulu itu sebetulnya plonco digunakan untuk menghilangkan kesombongan kaum bangsawan
yang ketika itu mendominasi institusi pendidikan. Untuk melunturkan egosentrisme
mereka, para profesor itu mencukur rambut calon mahasiswa hingga plontos. Ini
sebagai bentuk menghilangkan egosentrisme itu. Yang penting itu menghancurkan
ego, karena orang yang sombong tidak bisa belajar,” ujarnya.
Di Indonesia, hal ini tecampur dengan semangat kolonial dan feodal.
"Sehingga praktiknya menjadi excessive (berlebihan), malah menjadi perbuatan
kriminal. Jadi, praktik kekerasan yang berlebihan itu sudah kriminal,"
ujar Cak Nur (pikiran-rakyat.com, 7 September 2003)
Jangankan anak kuliahan, anak SMU dan SMP aja yang baru masuk suka dikerjain
ama seniornya. Meski tentu nggak seheboh mahasiswa ketika ngerjain juniornya.
Hubungan senior-junior yang nggak harmonis sejak awal ini bisa memicu acara
‘balas dendam’. Lucunya, yang terajdi justru bukan membalas perlakuan
seniornya yang telah menggojlok dirinya, tapi dilampiaskan kepada juniornya
lagi. Biasanya kalo ada anak baru. Aneh kan? Itu sih namanya melestarikan budaya
kekerasan atuh ya?
Para senior yang sok jagoan dan sok berkuasa ini memasang tampang
sangar di hadapan anak baru. Ada yang wajahnya dibuat serem, tapi nggak sedikit
yang memang serem beneran. Mereka tampil beda dengan model wajah Primus
alias Pria Muka Setan kayak gerombolannya Slipknot
atawa pendahulunya macam personelnya KISS. Nggak sedikit pula yang maksa-maksain
bertampang Romusa, alias Roman Muka Sadis.
Ya, kalo yang begitu mah, serem kagak malah diketawain anak baru tuh!
Nah, yang bikin nggak enak ati itu adalah tindakan fisik waktu menghukum junior.
Kalo sekadar ditakut-takutin tampang begituan mah no problem. Anggap aja montir
mobil yang cemongan kena oli. Kayak ‘setan-setanan’ di acara Takeshi
Castle yang nakutin peserta itu. Ih..ih..ih.. kagak takut!
Yang bikin keder dan ngeri banget justru kalo udah diberikan
hukuman fisik. Kalo cuma diminta lari satu keliling lapangan sepakbola sih it’s
OK. Tapi kalo dihukum kudu lari mengelilingi lapangan basket nanti dulu, bro.
Lho itu kan lebih kecil luasnya? Iya, tapi kalo 2000 keliling gempor juga euy!
Udah gitu nggak boleh ngelawan. Merana banget jadi junior ya? Adakalanya kudu
pasrah. Lagu yang diajarin senior aja bikin gondok ati. Dan itu kudu diamalkan
para junior ketika mendapat hukuman senior. Nyanyinya begini, “Oh, senior-ku
yang baik hati. Di sini kami siap menanti. Buat terima you punya maki. Kalo
melawan digojlok lagi.” Wacks? (backsound: kasihan deh eluh)
Sebenarnya ‘tradisi’ kekerasan nggak cuma terjadi pada masa plonco
aja. Masa plonco mah ibarat kekerasan yang dilegalkan kali ya. Sebab, banyak
juga kejadian begitu justru dalam kondisi ‘normal’. Misalnya aja
kita sering denger ada guru yang melayangkan tinjunya kepada muridnya sebagai
hukuman ketika sang murid nggak ngerjain tugas sekolah atau karena dinilai bandel.
Ada pula guru di beberapa sekolah lebih suka memilih hukuman fisik (push up,
dijemur, lari, squat jump) kepada siswa yang terlambat datang ke sekolah. Padahal,
hukuman tersebut tidak berkaitan langsung dengan mata pelajaran yang ditekuni
para murid kecuali mungkin pelajaran olah raga. Payah banget kan?
Sobat muda muslim, tradisi barbar yang udah turun temurun ini seperti menjadi
wajar. Makanya, meski udah banyak orban jiwa tapi terus dilakukan. Aneh memang.
Apa nggak cukup kasus-kasus sebelumnya menjadi peringatan? Waduh, ciloko tenan
euy!
Berikan hukuman yang mendidik
Memang sih dalam proses belajar-mengajar perlu juga dibudayakan punishment
and reward (hukuman dan penghargaan). Ya, mirip-mirip di dunia kerja. Tapi
kayaknya udah nggak jamannya deh kalo hukuman itu dalam bentuk fisik. Udah basi
tuh!
H. Yoyo S. Adiredja dalam tulisannya di Pikiran Rakyat (7/9), menyebutkan
dengan gamblang bahwa punishment and reward adalah bagian yang nggak bisa dipisahin
dalam proses pendidikan. Sebab, pendidikan emang tidak hanya mempelajari dan
mengamati berbagai bidang ilmu, tetapi juga pengembangan individu secara utuh
yang menyangkut masalah intelektual, sikap mental, kematangan kejiwaan, interaksi
sosial, dll. Reward and punishment ini merupakan salah satu tahapan dan konsekuensi
langsung dalam proses penanaman nilai-nilai positif yang diajarkan.
Hukuman hendaknya digunakan sebagai bagian dari perencanaan yang
teliti dalam mencapai tujuan pendidikan, dan bukan dilakukan karena spontanitas,
emosi, frustrasi balas dendam, jalan pintas, apalagi ‘balas dendam’.
Oya, beliau juga mencontohkan bahwa pemberian hukuman kepada
siswa yang terlambat hadir misalnya, bisa dilakukan dengan memberikan tugas-tugas
yang lebih memacu intelektualitas. Mungkin membuat karya ilmiah, resensi, atau
sekadar sebuah karangan pendek, atau tugas intelektual lain sehingga siswa atau
mahasiswa mendapat makna lebih baik dalam menjalani setiap proses pendidikan.
Pemberian hukuman dengan cara yang lebih bijak dan mendidik nggak bakalan ngilangin
kewibawaan yang memberi hukuman. Malah sangat boleh jadi akan menumbuhkan rasa
percaya diri bagi siswa dan mahasiswa yang mendapakan hukuman.
Hukuman dalam bentuk fisik selain bikin siswa opr mahasiswa trauma,
juga rentan banget terhadap kondisi kesehatan. Maklumlah, namanya juga yang
digeber adalah fisik. Arsene Wenger aja, sang pelatih klub The Gunners, Arsenal
keberatan atas ketatnya jadwal pertandingan kualifikasi Euro 2004. Sebab, ia
harus mempertimbangkan kondisi fisik para pemainnya yang harus digenjot untuk
beberapa pertandingan dengan tim nasionalnya di beberapa tempat yang jauhnya
ribuan kilometer. Pokoknya, atas alasan apun hukuman fisik, apalagi di dunia
pendidikan, kudu dikubur alias nggak boleh dilakukan lagi (emangnya kita
sapi perahan apa? Upss.. nanti dipake karapan lho..)
Sobat muda muslim, lagian dalam Islam kita nggak dibeda-bedain karena kita
senior atau junior. Semua sama kok. Bahkan di hadapan Allah cuma yang punya
ketakwaan yang tinggi aja yang dinilai mulia. Soal badannya kecil apa gede nggak
bisa jadi ukuran untuk menilai mulia-tidaknya seseorang. Begitupun senior tidak
lebih mulai dari junior kalo emang nggak bertakwa. Apa karena kakak kelas lalu
berhak untuk menginjak adik kelas? Kagak lha yauw!
Mungkin senior berlagak sok jagoan biar ditakuti juniornya. Tapi
inget lho, Rasulullah saw. bersabda: “Bukanlah orang yang kuat yang
menang dalam bergulat. Mereka yang kuat adalah yang bisa menahan hawa nafusnya
ketika marah” (HR Bukhari)
Jadi buat para seniornya, jang belagu dah. Terus, yang junior
juga jangan kolokan dong. Justru harusnya kompakan dalam kebenaran. Iya nggak?
Udah deh nggak usah ada lagi acara yang bikin ilang nyawa manusia dengan sia-sia.
Setuju? Kudu euy!
Allah Swt berfirman :“...barangsiapa yang membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan
di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya...”
(QS al-Maaidah [5]: 32)
Udah saatnya kita semua berpikir lebih bijak dan dewasa. Emang sih, kalo menurut
ukuran hawa nafsu, ngerjain orang, apalagi itu junior kita kayaknya enak banget.
Kita bisa menuntaskan dendam lama yang nggak berbalas sama senior kita. Nggak
ada senior, junior pun jadi sasaran amukan kita. Apa itu pantes?
Sobat, seharusnya dunia pendidikan melahirkan orang yang nggak saja kuat ilmunya,
tapi juga kuat iman dan takwanya. Bukan kuat kesombongan dan ototnya untuk jadi
tukang kepruk. Tapi sayangnya, dalam sistem pendidikan yang sekular kayak gini,
justru malah melahirkan orang yang lemah iman, payah takwanya, bahkan buruk
kualitas ilmunya. Gimana nggak, menerapkan disiplin kok gaya preman. Ih, kagak
mutu!
Oke deh, mari kita berjuang untuk tegaknya Islam yang tidak saja mengatur dunia
pendidikan, tapi bakalan mengubah semua kondisi kehidupan yang rusak ini. Satu-satunya
cara, kita terapkan Islam sebagai ideologi negara. Cuma itu kok. Gejlig. [solihin]
|